Meet Maqdalene

|Meet Maqdalene
Meet Maqdalene 2020-03-30T21:36:34+07:00

Some of my highlights

WHO IS MAQ

Saya adalah campuran simplicit dan glamour. The inner Maqdalene is so simple, hanya casingnya kata orang Nampak glamorous. Dalam keseharian, saya yang berasal dari keluarga simple, masih tetap mempertahankan dan membiasakan diri dalam “tradisi” simplicity, itu sebabnya hati saya selalu sederhana dan gak nek-neko. Saya bisa makan makanan kemarin-kemarin, atau beberapa hari yang ada di kulkas, dibanding dengan rekan kerja dan staff yang makanan kemarin sudah gak mau jamah. Kesederhanaan ini juga membuat saya mempunyai sahabat yang bisa mengandalkan saya selama bertahun-tahun. Saya gak suka cari gara-gara, gak suka “berantem,” gak macem-macem – jadi jika saya gak dimacem-macemin, saya juga gak akan cari gara-gara. Begitulah sekilas mengenai simplicity hati. Tapi jangan salah, jika ada setan macem-macem nongol lewat manusia, saya ngaum dan gak bisa diajak main-main untuk sesuatu yang serius. Saya yang nature-nya tenang, bisa menggertak dan membungkam, jika diperlukan. Nah, moment ini hanyalah 8:92 perbandingannya, jarang sekali. Tapi kalau berurusan dengan roh-roh jahat, saya sering mengaum, lah. Karena roh jahat gak bisa diajak lelucon, dia gak fair.

Jika orang belum mengenal saya dari dekat, saya nampak glamour, agak sukar didekati, rasa sungkan untuk mendekati, tetapi jika sudah duduk dengan saya di luar setting panggung/mimbar/gereja, maka saya biasa saja, like the girl next door. Gak ada glamour-glamour-nya acan, biasa aja – hanya saja urapan yang membedakan, sehingga jika orang “sungkan” itu akhirnya saya terbiasa melihatnya, bukan karena saya sulit didekati, tetapi karena ada urapan ilahinya.

Pembawaan saya sebagai hamba Tuhan sudah tidak bisa disamakan dengan “sipil” – jadi saya gak bisa sembarangan terbahak atau kaki ngangkang, saya harus modest, bisa membawa diri, sekaligus friendly. Nah, bagian friendly ini butuh pengembangan lumayan lama, karena nature-nya saya pendiam dan dulunya gak suka dekat orang. Berhubung Tuhan menambah banyaknya murid dan jiwa-jiwa di mana-mana, saya harus friendly, ber-sok akrab in purity, mendekati duluan, menyapa duluan, memeluk dengan erat, membiasakan yang tidak terbiasa, duduk dengan orang yang gak dikenal, selalu senyum, mudah iba, empati, berbelas kasih, merangkul dan mengasihi.

(Apalagi/berhubung) Tahun ini usia saya sudah muateng, lebih matang dari sebelumnya, maka saya menyadari rupanya ada keuntungan being seasoned.

  1. Orang (bahkan yang di atas 60) lebih memandang dengan percaya, karena makin berpengalaman dalam handling spiritual problems.
  2. Makin mudah untuk menyayangi orang-orang muda yang datang kepada saya, mudah berlaku sebagai ibu dan memperlakukan mereka sebagai anak. Bahkan memeluk pria muda dan tua yang adalah titipan ilahi kepada saya, sebagian menjadi anak rohani,… dengan tidak sungkan.
  3. Ada wibawa ilahi dari beberapa perkataan wejangan di konseling dan pelayanan doa.

KEHIDUPAN/KEGIATAN/PELAYANAN/PERLOMBAAN IMAN

Kehidupan saya bisa disimpulkan dengan 2 hal: berdoa dan melayani jiwa-jiwa. Di luar itu, nampaknya saya kurang begitu tertarik dengan kehidupan dunia luar dan ektiviti manusia pada umumnya. Walaupun saya bisa bersosialisasi, bisa bertemu orang, bisa duduk ngafe, bisa jalan-jalan, bisa shopping, tapi itu sudah jauhhh sekali, makin sangat kecil prosentasenya di (pilihan) hidup saya. Memasuki tahun 2020, pedal saya ke arah vertical agaknya lebih lagi, setelah tersungkur lama-lama di akhir tahun 2019 setiap harinya. Rasanya kalau saya gak ada kerjaan pelayanan hari-hari, maunya gak pernah ninggalin “hadirat.” Gak ada yang saya sukai lebih dari duduk di kaki Tuhan. Dulu saya kalau nyanyi itu cuman omdo (lebih baik 1 hari di pelataran-Mu), buktinya saya lebih banyak ngerjain ini-itu yang kurang gitu penting. Tapi tahun 2019 saya ngejar dan balas untuk gak peduli jam dan rutinitas hidup, tapi swinging on the Master’s feet.

Dalam hal pelayanan, sejak tahun lalu saya sudah berserah untuk dipimpin Roh Kudus sepenuhnya. Emangnya tahun-tahun sebelumnya enggak? Bukan begitu, tahun sebelumnya juga dipimpin Roh. Namun tahun ini, karena ada panggilan untuk bertemu Tuhan (yang memberikan kerinduan ini hanyalah Tuhan juga), saya jadi gak mau pakai jadwal rutin bin program. Saya udah gak peduli kata orang, ditungguin orang,…it doesn’t really matter at all.

Walaupun it doesn’t matter, saya juga terus nunggu jawaban Tuhan, ada guindance sebelumnya, tapi didrop semua sementara hanya nunggu Tuhan ngomong. Kalau Tuhan gak ngomong apa-apa gimana? Gak mungkin begitu! Sebab jika Tuhan memanggil kita masuk dalam hadirat-Nya, tentu Dia punya sesuatu yang mau dibagikan. Seperti waktu Tuhan menyuruh Musa naik ke atas gunung, Musa menanti 6 hari, tapi di hari ke 6 barulah Tuhan menyuruhnya naik. Jika Musa mogok di hari ke 5, karena Tuhan gak ngomong apa-apa, maka batallah rencana Tuhan untuk menyampaikan isi hati-Nya.

Secara manusia, gimana?

Saya gak mau mikir lagi dengan cara manusia (Galatia 1:10), karena Tuhan mengajarkan agar kita memakai pikiran dan perasaan Kristus (Filipi 2:5-8). Bagi orang kebanyakan ini gak masuk akal, sebab kita harus bikin planning, bikin goal dan visi. True, module kami juga mengajarkan hal itu, tetapi ada di tahap tertentu Tuhan mau agar hamba-hamba-Nya percaya “buta” – jika visi harus diserahkan kembali kepada Sang Pemberi visi itu, tetaplah percaya. Seperti Abraham yang diberi “visi” (Ishak) setelah menanti 25 tahun, tetapi diminta kembali untuk diserahkan. Tuhan hanya mau tahu isi hati seseorang, dengan cara diuji seperti itu.

Di akhir tahun 2019, saya nanya Tuhan, “Tahun 2020 ada proyek apa, Lord?” Jawabannya datang ketika saya sedang baca Firman, di Kisah Rasul, pas baca perjalanan misi sang rasul, saya buka-buka peta perjalanan misinya, ada 3x, lalu hati saya bisa pinginnn banget bermisi, untuk memuridkan. Saya pikir apakah harus ke Tesalonika, Korintus, dan lain-lain, ke tempat nama-nama Kitab yang belum saya kunjungi? Ehh, jawaban Tuhan cepat sekali! Malamnya saya dihubungi rekan yang katanya ada pendeta asal Papua yang mau bertemu saya. Tahulah saya, sebelum diminta pun, saya siap ke Papua! Lalu, besoknya waktu saya sedang berada di luar rumah, seorang pendeta meminta saya untuk ke Timor Leste! Aha… apa lagi kalau bukan “Panggilan Makedonia”? Yes, saya harus berangkat ke sana bermisi seperti rasul Paulus. Di negara sendiri aja masih banyak pulau-pulau yang belum dimuridkan…

Akhirnya, kami merencanakan secepatnya, di bulan Februari, saya dan team harus sudah mendarat di Papua dan Timor Leste. Timor Leste ini adalah negara baru bagi saya, seperti di negeri sendiri sih, karena memang dulu termasuk Indonesia. Dari sana, saya rindu ke Soe, ini satu daerah yang saya rindukan selama 20 tahun, setelah saya membaca buku Mel Tari yang berjudul “Like a mighty wind” dan “The gentle breeze of Jesus” waktu saya bekerja di perpustakaan seminary, di USA.

Kisahnya menakjubkan, saya akan pasang di halaman EVENTS di web ini. Berikut adalah foto-fotonya.

Ilugwa – Papua
Ilugwa – Papua
Ilugwa – Papua
Ilugwa – Papua
Ilugwa – Papua
SOE – NTT
SOE – NTT
Kampung AMAN SOE – NTT
Kampung AMAN SOE – NTT
Timor – Leste
Timor – Lest

DAILY SIMPLE ACTIVITIES

Hari-hari masih jalan sore di kompleks dengan Joy dan Praise. Itu sukacita mereka, dan juga sukacita saya sekalian bisa olah raga sederhana dengan santai. Saya sudah jarang masak seperti lalu-lalu, karena ketatnya waktu yang saya pakai untuk doa dan bekerja (nulis, baca notulen kelas-kelas dari seluruh dunia, emails, memuridkan beberapa kelas, dan pelayanan lainnya yang ada aja). Rasanya hidup saya so fulfilling dari segi kacamata saya saat ini, tapi saya tetap nunggu Tuhan yang sedang siap menaikkan level roh saya di stage selanjutnya. Saya sangat excited, untuk tahun MISI 2020 ini, dengan Thema besar Perfect Vision 20/20, bersama dengan para Facilitators dan murid-murid di seluruh dunia, kami terus menajamkan penglihatan rohani kami.

Selebihnya, gak ada yang istimewa dari kegiatan saya yang kerohanian dan vertical ini jika dipandang dari sudut mata dunia. Sesungguhnya, berada di rumah bersama keluarga Kingdom dan diam di kaki Tuhan di kamar saya merupakan luxury tiada tara. Orang yang menebak bahwa saya suka jalan-jalan atau ke luar negeri sampai kaget, bahwa saya tidak lagi suka ke luar negeri jika bukan karena untuk jiwa-jiwa, menguatkan hati murid lewat seminar-seminar dan pertemuan kelas.

DOA/PUASA/AYAT/FIRMAN

Karena saya sering berdoa, saat berdoa saya sering puasa. Saat berdoa saya juga sering menghafal ayat, berdoa Firman sebagai pedang roh. Doa saya seringnya repetation, juga doa dalam roh, doa pujian, doa penyembahan, doa peperangan, doa kekuatan dan iman. Saya juga berdoa secara rutin untuk Partner pelayanan kami yang disebut Participant, juga berdoa untuk murid-murid seluruh dunia, untuk alumni IDTC, gereja Tuhan, hamba-hamba Tuhan, bangsa-negara, Subscribers channel youtube KCC-From Maq’s Heart kami. Oh iya, memasuki tahun 2020, saya didorong beberapa orang untuk bikin akun Instagram. Berawal dengan kemalasan, karena saya harus “kerja” lagi, malas sekali ngikutin perkembangan tekhnologi dan zaman. Tapi, saya juga membuka telinga saya terhadap saran, jadi mereka bikin akun IG untuk saya, dan selanjutnya saya dibantu untuk pengisiannya. Sekarang malah udah agak nyantai dan bisa memberkati kalangan lainnya lagi. Apalagi, dengan adanya COVID 19, saya bisa menggalang doa bersama lewat Zoom, dan diumumkan lewat IG, selain lewat KWF (Kingdom World Facilitators) kami. Saya menjadi penggerak doa bagi para murid dan alumni di seluruh dunia, dari waktu ke waktu Tuhan akan menggerakkan di hati saya cara-cara doa yang berbeda dan luar biasa. Saya bersyukur menjadi pendoa lebih dari pelayanan mimbar yang nampak. Dan saya bukan orang yang senang berdiri di mimbar; tetapi saya diurapi, dipersiapkan, diperlengkapi, dipakai, dan diutus untuk saat-saat seperti ini untuk menjadi wakil Tuhan untuk berdiri di mimbar. Hanya saja jika ada pilihan, saya suka di tempat tersembunyi – tetapi saya tahu bahwa saya harus maju di depan, dan dengan anugerah saya menerima tantangan Sorga itu. Tentunya tidak ada pilihan, saya hanyalah hamba yang sudah menyerahkan diri, terjual untuk Salib Kristus. Dia yang sudah mati bagi saya, hidup saya adalah suatu persembahan yang paling layak untuk dikembalikan kepada-Nya sebagai ucapan cinta kepada Sang Cinta Sejati.

MY ON-GOING PROCCESS

Masih saja, saya sedang berjalan mencapai kepada kesempurnaan menyerupai Kristus. Jadi jika ada perkataan yang keliru, gesture-gesture yang tidak berkenan, atau olahan Firman yang secara teological tidak tepat, dianggap sesat, melenceng, dan negatif-negatif lainnya, saya meminta maaf, minta didoakan, minta diberi saran dan masukan, karena saya secuil ini mana bisa belajar Kristus yang selebar-luas-tinggi-dalam pengetahuan-Nya. Saya masih terus belajar dari orang lain, pendahulu saya, bapa-bapa rohani saya, rekan-rekan pelayanan saya, murid-murid, dan siapa pun yang Tuhan lewatkan. Untuk itu, bantulah saya dalam doa, jagai saya di alam roh, sehingga kita bersama semua orang percaya dapat saling menguatkan dalam gelanggang perlombaan iman ini.

Dengan kasih dan kesetiaan, saya berdoa dan mengawal para murid-murid, anak-anak rohani dan semua orang yang secara sengaja maupun tidak berada di kawasan pelayanan dan covering pelayanan The Kingdom ini agar kita semua sampai kepada kesempurnaan, tidak bercacat cela atau berkerut di hari kedatangan Anak Manusia. I love you with the everlasting love. The Lord Jesus blesses you.

Servant of the Cross,
Maqdalene Kawotjo
Maret 2020

Profile Picture

Maqdalene Kawotjo
Maqdalene KawotjoAuthor, Writer, Teacher.
Maq lahir di tengah-tengah keluarga besar hamba Tuhan di suatu kota kecil di Jawa Timur, Bondowoso. Ayah ibunya sudah melayani waktu Maq lahir di tengah-tengah keluarga. Mereka merintis gereja kecil dan membuka beberapa cabang gereja di Sumber Ringin dan kota-kota yang berdekatan dengan Bondowoso. Pada waktu kecil, sekitar umur 4 tahun, Maq dibawa oleh neneknya ke Tegal dan kemudian pindah ke Slawi-Jawa Tengah untuk dididik dalam kehidupan doa, diajar membaca Alkitab, diajak ikut koor, diajak berjualan gambir dari kota ke kota, dan terlebih dilatih untuk bergaul karib dengan Tuhannya. Neneknya adalah seorang pejuang iman, pendoa syafaat, seorang yang cinta Tuhan dan hidup penuh pengabdian sampai hari terakhirnya di dunia.

Pada usia 11 tahun, Maq dijemput ayahnya untuk bergabung dengan kakak adiknya di Solo (Yudi, Paul, Dani, Diana, Moses). Tumbuh dengan latar belakang yang sangat sederhana, tinggal di rumah yang kecil, dan dari sana Maq mulai memasuki dunia pelayanan. Dari murid sekolah minggu, sampai menjadi guru sekolah minggu. Dari murid remaja menjadi guru ketua remaja, kemudian berkhotbah di Kaum Muda, Kaum Wanita, dan ibadah umum. Melayani dari satu cabang gereja ke cabang lainnya, di bawah pengawasan ayahnya Pendeta Benny Kawotjo – sebelum Maq mulai petualangannya untuk masuk dalam pendidikan-pendidikan khusus sebagaimana kisah lengkapnya tertuang dalam buku pertamanya yang berjudul BERHASIL KARENA IMAN.

Pada tahun 1991, Tuhan memanggil secara pribadi untuk menyerahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi hamba-Nya secara full time. Seumpama seseorang yang menemukan harta terpendam di ladang, ia memendamnya lagi lalu pergi menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Demikianlah Maq menemukan harta terbesar dalam hidupnya; ditinggalkannya seluruh kesenangan duniawinya dan menggadaikan seluruh hidupnya untuk memperoleh harta terpendam itu. Sejak saat itu Maq mempersiapkan diri untuk terjun dalam dunia pelayanan sepenuh waktu. Hidupnya, waktunya, masa mudanya, masa depannya, hak-hak pribadinya – seluruhnya dengan sukacita ia relakan terjual supaya ia memperoleh Kristus. Ayat-ayat di bawah ini menegaskan panggilan Maq bahwa tujuan Tuhan dalam hidupnya adalah untuk melayani jiwa-jiwa dan mengabdi kepada Tuhannya.

Efesus 2:10 yang mengatakan:
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

2 Korintus 5:15
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Luke 14:33
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Galatia 2:20
namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Filipi 3:7-8
Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.

Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

  • Tahun 1996 memperoleh gelar Master of Divinity dari Asian Center for Theological Studies and Mission (ACTS) Yang Pyong, Korea Selatan
  • Tahun 2001 memperoleh gelar Doctor of Ministry dari Ashland Theological Seminary (ATS) Ashland, Ohio, USA
  • Tahun 2003 meluncurkan buku perdananya dengan judul BERHASIL KARENA IMAN
  • Tahun 2004 meluncurkan buku keduanya dengan judul MENIKMATI KEMUSTAHILAN
  • Tahun 2004 membina discipleship RAJAWALI RADIKAL dengan Tim pelayanan (yang kemudian pada tahun 2007 diganti dengan nama Kingdom Community Center)
  • Tahun 2005 mendapatkan Award dari Ashland Theological Seminary, di Ashland, Ohio, USA sebagai “Ashland Theological Seminary Alumna of the Year 2005”
  • Tahun 2005 meluncurkan buku ketiga dengan judul MARIA MAGDALENA: “TELADAN IMAN DAN DOA”
  • Tahun 2005 meluncurkan 2 buku saku sekaligus berjudul BAHAGIA MENURUT STANDAR SORGA dan KUATKAN DAN TEGUHKAN HATIMU
  • Tahun 2006 mulai pelayanan keliling pulau-pulau dan kota-kota baik dalam negeri maupun luar negeri dalam bentuk Seminar BERHASIL KARENA IMAN khususnya untuk kalangan Hamba-hamba Tuhan, bersama dengan pengusaha-pengusaha sebagai kesatuan Team pelayanan
  • Tahun 2007 meluncurkan buku ke empat berjudul TRUE COLORS
    (Seri From Maq’s Heart-1)
  • Tahun 2007 menggelar Pemuridan di berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri dan berjejaring dengan gereja-gereja Tuhan – dengan suatu wadah bernama Kingdom Community Center (KCC)
  • Tahun 2009 meluncurkan buku ke lima berjudul INSANITY
  • Tahun 2010 meluncurkan buku ke enam berjudul NOT WITHOUT TEMPTATION
    (Seri From Maq’s Heart-2)
  • Tahun 2010 memulai Intensive Discipleship Training Course (IDTC atau PPPI-Program Pelatihan Pemuridan Intensif) di bawah naungan Kingdom Training Center (KTC) yang bertempat di kantor pusat KCC Jakarta. Training yang didesain untuk para pemimpin-pemimpin dan pendeta-pendeta dari dalam dan luar negeri ini merupakan program padat dari Pemuridan Kelas 101 berjudul “Mengembangkan Manusia Roh” yang ditempuh selama 2 minggu. Pada tahun 2010 telah melepaskan 5 angkatan dengan jumlah total alumni 34 orang dari dalam dan luar negeri dan dari berbagai denominasi.
  • Tahun 2012 memperlebar divisi pelayanan The Kingdom Ministries dengan divisi KMC (Kingdom Medical Center) dan KBC (Kingdom Business Community).
  • Tahun 2012 meluncurkan buku ke-tujuh berjudul VISION.
  • Tahun 2013 bersama dengan Youth Team memulai Y-I (Youth IDTC) pada tanggal 26-30 Desember 2013.
  • Tahun 2014 (14 Februari 2014 atau 14022014) atas prakarsa rekan kerja Simon, di bawah naungan The Kingdom Ministries, meluncurkan Album Perdana Musik Jazz bersama TorchLighter di bawah divisi KMAC (Kingdom Music & Art Community). Album perdana berjudul IN LOVE WITH YOU ini menampilkan 8 buah karya lagu ciptaan Maqdalene Kawotjo yang dinyanyikan oleh murid-murid yang tergabung dalam KCC dari berbagai tempat. Seluruh personil adalah murid KCC dan alumni IDTC dan Y-I.
  • Tahun 2015 – Tuhan memanggil tahun ini sepenuhnya untuk melakukan Sabbath yang kedua kalinya (setelah yang pertama tahun 2004-2005 (lengkapnya tertulis dalam buku INSANITY). Off dari semua pelayanan, termasuk IDTC, pelayanan mimbar, traveling seluruh dunia. Sepenuhnya tahun ini didedikasikan kepada Tuhan dalam doa dan empowering straight from heaven. Ternyata tahun ini juga merupakan tahun Shabbat besar bangsa Yahudi perhitungan usainya 7×7 tahun atau tahun Jubilee (Im 25:1-8). Dikatakan bahwa Shemitah/Shabbat adalah “God’s sacred year” dan “a test of religious faith” bagi kita.
  • Tahun 2016 – Memulai IDTC dan Youth IDTC dengan dua bahasa, Indonesian dan English, dengan peserta dari berbagai bangsa: dari Eropa, Amerika, (peserta bangsa Yahudi), dan dari Afrika-Kenya.
    Menggalang Doa-Puasa Laser 21 dan Perling (Perang Keliling) Movements untuk semua murid-murid KCC, Alumni IDTC, dan Pembaca web dan FMH di seluruh dunia. Menggerakkan mereka untuk berperang bagi kotanya, mengalahkan kuasa-kuasa kegelapan, berperang menahan kekuatan penguasa teritorial. Berdoa dan berpuasa seperti Daniel dengan sistem “laser” selama 21 hari dan seterusnya untuk memenangkan setiap pertarungan dengan musuh yang tidak kelihatan.
  • Tahun 2017 memulai pelayanan video clip seri From Maq’s Heart di Youtube. Baik dalam bentuk clip, interview, maupun khotbah, dan seminar-seminar. Bermula dari dorongan murid-murid, akhirnya Maq memberanikan diri untuk tampil mendunia, walaupun ini bukan ‘passionnya’ untuk tampil, tetapi jika berarti Firman bisa menjangkau lebih banyak lagi jiwa-jiwa lewat dunia maya, itupun dilakukan.
  • Tahun 2017 di akhir tahun ini, Training Youth IDTC bertambah umur dari 13-21. Makin mendesak kebutuhan anak-anak muda untuk diperlengkapi memasuki bahayanya games dan perusakan lewat Gadget android mereka. Serving SELFIE Generation menjadi thema Y-I ke 5 tahun ini.

Join Us

Kingdom Community Center

KCC adalah komunitas orang-orang yang menyadari keberadaannya sebagai Agen Sorga untuk hidup dengan Standar Kerajaan.
Join Us