I Got Blessed (Testimonials)

||I Got Blessed (Testimonials)
I Got Blessed (Testimonials) 2019-05-14T15:33:43+07:00

What they’ve said

 

 

MURID KELAS 101, KCC-HQ

Shallom ibu Maq,

Malam ini saya lagi baca2 artikel2 rohani di internet, lalu liat tulisan kotbah Pak Niko Njotorahardjo di berjagajaga.wordpress.com. Beliau ada sebutkan tentang kebangunan rohani di Indonesia, di Soe, Kupang tahun 1965, dan ngomong tentang buku The Revival In Indonesia yang ditulis oleh Dr. Kurt Koch. Beliau juga mengutip tulisan Dr. Koch yang bilang mujizat2 yang terjadi saat itu di Soe adalah yang paling lengkap setelah Kisah Para Rasul. Beberapa kali Ibu Iin Tjipto dalam kotbahnya yang saya hadiri juga cerita tentang KKR terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu di Soe itu. Jadi saya searching buku itu dan ketemu dan baca, walaupun hanya sedikit, yang tentang Indonesia.

TIba-tiba dihati saya, saya jadi percaya bahwa Indonesia dipilih Tuhan secara khusus. Beberapa tahun yang lalu saya sempat dengar tentang ini, yang katanya Indonesia ada dinubuatkan di alkitab yaitu di Yes 66:19, walaupun saya melihatnya dengan positif, tapi saya ga terlalu percaya (bahwa yang di yesaya itu ttg Indonesia). Saya pikir cuma di cocok-cocokin aja. Dan malam ini tiba2 saya percaya Indonesia secara khusus ada dalam rencana Tuhan. Lalu tiba-tiba saya ingat Ibu 

Saya ingat Ibu, lalu saya berpikir: Pantes Tuhan secara khusus nyuruh Ibu balik ke Indonesia. Karena Indonesia ada dalam rencana Tuhan, dan Indonesia butuh orang seperti Ibu untuk rencana Tuhan digenapi. Dan saya bersyukur sekali untuk hal ini .

Lalu di hati saya tiba-tiba tergerak untuk menyampaikan secara khusus, rasa terimakasih saya sama ibu. Trimakasih untuk ketaatan Ibu sama Tuhan, untuk balik ke Indonesia.

Saya bersyukur saya ada dalam wadah didikan ibu. Saya mau saksikan perjalanan saya di KCC selama empat tahun ini. Lewat satu tahun pertama saya sudah sempat pamitan sama K Irene untuk selesai (keluar) dari pemuridan, karena saya waktu itu tidak merasa dapat sesuatu, kecuali ngomongin kegiatan hari2 yang buat saya sepele, padahal saya sudah cape pulang kerja, penginnya dapet sesuatu yang lebih “berat”, jadi worth it gitu. Tapi ternyata Tuhan menahan saya, jadi saya ga jadi berhenti.

Waktu di Ancol baru2 ini, Ibu sempat ngomong sama saya “Herni dulu jutek sama saya”. Saya sempat dalam hati: “hah? Masa iya saya jutek sama ibu Maq….” (karena saya tidak merasa bersikap jutek sama ibu, apa lagi sebagai pucuk pimpinan). Tapi trus saya mendapat hikmat: perkataan ibu itu suara nabi. Roh ibu yang kuat bisa merasakan situasi hati/pikiran saya (waktu dulu). Saya melihatnya begini: Waktu awal-awal saya memang belum sepenuhnya percaya sama pelayanan KCC. Saya tidak memberikan sepenuhnya diri saya dalam pemuridan ini. Dan saya pikir, itu lah yang dirasakan roh Ibu, sehingga ibu melihat saya jutek (waktu dulu) :D.

Dalam empat tahun saya belajar di KCC, saya bisa bilang saya babak belur. Ternyata banyak banget di diri saya (karakter) yang harus dikikis. Cara pandang/ pengertian yang salah yang diluruskan. Kesombongan2 saya yang harus di habisin.

Pun setelah hampir 5 tahun ini, saya masih merasa masih jauh untuk sampai ke standar yang di ajarkan KCC. Excellency, best service, bahasa ratu, saya merasa masih jauh banget dari situ. Saya beneran belum merasa pantes jadi fastor/cofas. Apalagi kalau saya lihat sikap, dan cara bicara fastor lain yang standarnya sudah keren2, dibanding dengan saya :D. Anyway, saya tahu bukan ibu yang mempercayakan saya pelayanan ini, tapi Tuhan sendiri, dalam proses bentukanNya untuk saya. Dan saya berterimakasih untuk ibu sebagai alatNya.

Tadi saya ikut ibadah, Ibu Iin Tjipto mengajarkan tentang kedewasaan rohani, yang bisa saya simpulkan, itu adalah tentang apa yang saya sudah dapat di KCC. Dan saya bersyukur saya sudah dapat dengan lebih lengkap dan detail di KCC. Lalu Pak Petrus Agung melanjutkan kotbah, beliau ada bilang: pekerjaan banyak, waktunya sudah tinggal sedikit, jadi bekerjalah dengan kuat, kerja dengan keras, kerja dengan effective. Dalam doa pengurapan saya bilang “I am ready Lord. Send me out”.

Yang mau saya sampaikan sama ibu: Saya adalah produk ibu. Saya merasakan, saat karakter saya diubahkan (walaupun masih tetap dalam proses), Tuhan menambahkan karunia2 dan kapasitas saya, sehingga saya mampu bilang (karena RK yang didalam saya), “I am ready Lord. Send me out”. Walaupun mungkin pertumbuhan saya tidak secepat yang ibu harapkan, tapi saya mau bilang, grafik saya naik, ibu. Dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan telah menempatkan ibu dalam proses pertumbuhan rohani saya.

Sekali lagi, beribu terimakasih ibu, atas didikannya selama ini lewat KCC. Saya ingin menyampaikan ini, supaya kiranya menjadi sesuatu yang menyukakan dan menyegarkan buat jiwa dan roh ibu.

Love and hug,
Herni

 

 

“Shalom,

Saya mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena penyertaanNya saya boleh mengirimkan kesaksian ini. Praise the Lord..
Terima kasih buat Ibu Maq dan semua saudara-saudara yang berada di KCC pusat untuk dukungan dan doa-doanya buat kami murid-murid. Tuhan melimpahkan senantiasa kasihNya buat Ibu dan saudara semua.

With love,
Devi
Almere-The Netherlands”

 

 

Kesaksian Grace dan Arief, Murid 101 dan Fasilitator KCC-HQ Jakarta

Saya belajar untuk tunduk terhadap suami setelah saya dimuridkan di KCC.

Sebelum menikah, saya punya gambaran yang buruk tentang pria. Saya melihat mami saya sering disakiti oleh papi. Papi yang dulu cukup sukses dipekerjaannya dan punya cukup banyak uang, tetapi karena lingkungan pergaulan yang kurang baik maka papi seringkali tidak pulang, tetapi berkumpul dengan teman-temannya untuk main judi. Bertahun-tahun hal itu ditutupi oleh mami, namun di suatu waktu saya pun tahu. Image seorang ayah yang hebat dan saya banggakan pun runtuh,  dan membuat saya berpikir bahwa pria hanya menyusahkan hidup wanita.

Sampai kemudian saya menikah dan menjalani kehidupan pernikahan.

Image buruk tentang pria juga saya bawa masuk ke pernikahan kami. Saya tidak mempunyai figur laki2 lain selain papi saya. Saya dan suami juga tidak mengerti bagaimana harus membangun suatu rumah tangga sesuai standar Firman Tuhan.

Kami hanya menggunakan sudut pandang sendiri2 untuk melakukan atau memutuskan sesuatu, dimana sudut pandang tersebut terbentuk dari pengalaman hidup masing2 yang sering bertentangan satu dengan yang lain. Jika ada masalah saya akan cenderung untuk menyalahkan suami sampai suami merasa terpojok dan pada akhirnya kami bertengkar. Saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap suami sehingga saya menuntut suami untuk mengerti dan memenuhi ekspektasi saya. Hal itu menyebabkan saya kurang menghargai apa yang dikerjakan oleh suami.

Di pemuridan, kami belajar banyak hal (saya bersyukur kami berdua ikut pemuridan, sehingga kami dapat bertumbuh bersama), diantaranya kami belajar standar untuk membangun rumah tangga. Dimana salah satu hal standar yang diajarkan adalah supaya istri bisa tunduk kepada suami. Pada awalnya hal ini tidak masuk di akal saya. Mana mungkin saya bisa tunduk kepada suami, kalau suaminya bener sih gapapa, lha wong suami juga banyak salahnya.  Walaupun demikian, di satu sisi saya sadar, saya harus berubah, tapi di sisi lain sungguh saya merasa tidak bisa berubah. Saya buat goal untuk tunduk kepada suami namun sering kali gagal menjalankan goal yang satu ini.

Kemudian saya mendengarkan salah satu CD Ibu Maqdalene (Karakter Seorang Ratu) tentang pengajaran istri tunduk terhadap suami, bagaimana Sara tunduk kepada Abraham, walaupun Sara diminta untuk berbohong pada saat mereka bertemu dengan Firaun. Sara diminta untuk mengaku bahwa ia adalah adik dari Abraham.

Setiap hari selama menyetir mobil saat pulang pergi kantor, CD tsb saya putar berulang-ulang. Di awal-awal mendengarkan pengajaran tersebut, dalam hati saya selalu berkata, “enak banget jadi laki-laki, walaupun salah tetap aja istri harus tunduk”. Penolakan itu berkali-kali muncul dipikiran dan saya sulit sekali untuk memahami kebenaran Firman Tuhan.

Ternyata banyak benteng-benteng dipikiran saya yang harus diruntuhkan, benteng-benteng pikiran dan kubu-kubu pertahanan yang sudah saya bangun bertahun-tahun yang berdiri sangat kokoh yang menutup  saya untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan. Sehingga CD itupun harus saya putar berulang-ulang saat pergi dan pulang kantor selama kurang lebih sebulan, sampai benteng-benteng pikiran yang saya bangun karena kemarahan, kekecewaan, dan trauma masa lalu tersebut mulai diruntuhkan satu persatu.

Saya membuat goal lagi untuk tunduk kepada suami. Saya belajar berbicara dengan bahasa ratu, menghargai suami dan tidak mendominasi keputusan-keputusannya. Saya belajar untuk menjadi penolong bagi suami. Dengan benteng-benteng dan kubu-kubu pertahanan yang telah diruntuhkan, walaupun ada jatuh bangunnya, saya tetap berkomitmen untuk tunduk kepada suami.

Di salah satu kelas, ketika kami membahas setia dalam perkara kecil, saya membagikan kepada para murid pengalaman saya ini. Tunduk kepada suami adalah perkara kecil istri, perkara sehari-hari yang dihadapi istri. Dengan tunduk kepada suami maka unity di keluarga akan bisa terjadi. Kami bisa membagikan ini karena kami saat ini menikmati unity dalam keluarga dan terus bertumbuh mengerjakan goal keluarga.

Ternyata para istri di kelas tsb, rata-rata mempunyai masalah seperti saya dulu. Para istri belum memahami standard membangun keluarga dimana istri harus tunduk kepada suami. Maka para istri pun memesan CD Ibu Maq yang mengajarkan hal tsb agar para istri belajar untuk merubah ‘perkara besar’ tunduk kepada suami, sesuatu yang dianggap sulit bahkan tidak mungkin menjadi perkara kecil yang sanggup ditaklukkan di kehidupan sehari-hari. Kalau saya bisa diubahkan, maka setiap istri yang punya masalah yang sama dengan saya juga bisa diubahkan.. Karena Allah yang kita sembah, Tuhan Yesus yang adalah Firman yang hidup, sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng, mematahkan setiap siasat manusia dan merubuhkan setiap kubu, sehingga kita boleh menang dan berdiri diatas situasi! Bagian kita adalah selalu cari kebenaran Firman Tuhan, buat goal dan menjalankannya, dan Tuhan yang akan memampukan kita untuk menang dalam perkara kecil ini. Tuhan memberkati.

 

2 Kor 10:4-5

(4) karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.

(5) Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,

Untuk memperoleh DVD KARAKTER SEORANG RATU, silakan klik disini. 

 MP3 Khotbah “Karakter Seorang Ratu”

 

 

Lya Stockdale, Phoenix-Arizona

Saya bersyukur atas kemurahan Tuhan yang begitu besar dalam hidup saya khususnya di dalam 3 1/2 tahun terakhir ini setelah saya mengikuti pemuridan kelas reguler di Arizona, USA tahun 2012 dan IDTC (Intensive Discipleship Training Course) di Bogor tahun 2014 yang lalu.

Awal mula saya mengikuti pemuridan juga saya percaya itu oleh karena tuntunan Tuhan.
Waktu saya berangkat untuk pindah ke Amerika Febuari 2007, saya membawa 1 buku rohani yang saya cari di Gramedia, buku itu berjudul Berhasil Karena Iman karangan DR. Maqdalene Kawotjo. Setelah membaca buku itu, hati saya benar- benar ingin sekali bertemu dengan penulis buku tsb. Iman saya benar-benar seperti dibangkitkan oleh tulisan yang ada di buku itu. Khususnya pada saat awal pernikahan saya dan Carlos di San Diego, CA begitu banyak terjadi gejolak financial yang akhirnya pernah membuat kami hampir diusir dari apartemen karena tidak bisa membayar sewa dan akhirnya membuat kami pindah ke Arizona dekat dengan tempat ayah mertua saya. Tetapi pindah ke AZ juga awalnya tidak mudah karena Carlos tidak langsung mendapat pekerjaan dan membuat mobil kami yang satu-satunya diambil oleh pihak bank karena kami sudah telat bayar beberapa bulan. Tetapi lewat pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari penulis buku yaitu DR. Maqdalene, saya menjadi begitu sangat percaya bahwa Tuhan punya banyak cara untuk menolong kehidupan kami. Dan memang kami alami begitu banyaknya pertolongan Tuhan dan mujizatNya dari hari ke hari yang kami alami yang membuat kami terkagum-kagum akan pekerjaan Tuhan yang dahsyat. Sampai akhirnya Carlos mengambil beasiswa dari military yang mana dia pernah tergabung dalam US Navy (Angkatan Udara Amerika Serikat) untuk bersekolah supaya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Carlos mengambil IT (Information Technology) dan ternyata jika mengambil program beasiswa itu ada tambahan lagi yang diberikan yaitu biaya untuk keperluan rumah tangga. Itu semua di luar perkiraan Carlos. Ya, itulah cara-cara Tuhan membuka jalan bagi kami.

kesaksian_lya_stockdale

Saya sempat mencari tahu tentang penulis buku BKI bertahun-tahun, searching di internet tapi tidak menemukan informasi apa pun tentang penulis sampai akhirnya tahun 2011 saya searching lagi dan menemukan website-nya. Dan disitu ada informasi mengenai pemuridan tapi dalam hati saya berkata jauh sekali di Jakarta, sementara saya sudah pindah ke Amerika. Sebenarnya saya hanya mau berterima kasih kepada penulis yang sudah banyak mengajarkan saya bagaimana bertindak dengan IMAN dan sampai saya melihat kuasa Tuhan itu nyata lewat setiap apa yang saya imankan.

Singkat cerita, di awal tahun 2012 Gembala kami Ps. Luther Bolung mengatakan bahwa beliau akan mengikuti kelas pemuridan di Jakarta dengan DR. Maqdalene Kawotjo. Saat itu saya benar-benar merasa seperti sedang dituntun Tuhan untuk benar-benar mencapai kerinduan saya bertemu dengan sang penulis buku yang sudah begitu banyak mengajarkan hal-hal besar dalam hidup saya. Saya benar-benar rindu untuk dimuridkan dengan beliau dan dengan cara ini saya bisa mengikuti pemuridan di bawah bimbingan DR. Maqdalene tanpa harus ke Jakarta.

Akhirnya saya mengikuti pemuridan reguler di Phoenix, AZ yang difasilitasi oleh Ps. Luther Bolung sebagai Gembala kami di gereja City Harvest International, Phoenix. Di pemuridan ini kami benar-benar belajar sesuatu yang baru yang standardnya adalah standard Kerajaan. Kami diajarkan untuk mengerat carang-carang yang menghambat pertumbuhan kami selama ini, kami belajar bagaimana menyangkal diri kami dan memikul salib, kami belajar untuk menang dalam segala keadaan, kami belajar bagaimana menjadi excellent, kami belajar mengenai tujuan hidup kami diciptakan, kami belajar membuat goal- goal yang mana tidak pernah saya lakukan dikarenakan saya punya prinsip hidup ini mengalir saja, kami belajar bagaimana mengikuti plan-Nya Tuhan, kami belajar untuk tidak kompromi, kami belajar untuk menjadi orang yang berintegritas dan bisa dipercaya, kami belajar banyak sekali hal-hal yang kami tidak pernah dapatkan sebelumnya.

Selama dimuridkan hampir 1 tahun lebih saya disuruh membuat goal driving (menyetir mobil). Sementara itu adalah satu hal yang paling saya takutkan dikarenakan saya dan adik saya pernah kecelakaan besar sampai mobil kami hancur pada tahun 2000 (adik saya yang menyetir).

Tetapi di pemuridan ini saya mau mengalami breakthrough, apa yang saya takutkan selama ini harus bisa saya kalahkan. Akhirnya selama 3 bulan belajar saya mendapatkan surat ijin mengemudi. Dan ternyata setelah saya menyetir selama 1 tahun, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja kembali di pre-school sebagai asisten guru. Saya bersyukur bahwa saya sudah bisa menyetir, jadi pada saat kesempatan datang saya bisa langsung mendapatkannya.

Kalau saat itu saya tidak pernah dimuridkan, saya tidak pernah belajar untuk bikin goal, saya masih dikuasai ketakutan berlebihan untuk menyetir… Saya akan kehilangan kesempatan untuk bekerja. Karena jarak tempat kerja dan rumah saya 20 menit dengan kendaraan pribadi, jika saya naik kendaraan umum bisa berjam-jam dan membuang banyak waktu saya setiap hari.

Saya dan suami juga sama-sama membuat goal untuk bisa makan Sushi karena kami berdua paling jijik makan sushi. Hehehehee.. Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, kami berdua ketagihan sama sushi..hahahaha.. Sejak itu sushi menjadi makanan favorit kami 😉

Begitu juga dengan suami saya yang katanya alergi makan udang. Tetapi dia bikin goal untuk menang dalam segala keadaan dan dia sekarang jadi doyan makan udang.

Demikian juga dengan mencium bau ikan asin. Jika saya masak ikan asin, dia selalu marah karena rumah jadi berbau ikan asin. Tetapi sejak dia belajar untuk menang dalam segala keadaan, jika kami ke Chinese Restoran, dia minta order nasi goreng ikan asin. Amazing! Hehehe

Itu adalah contoh-contoh kecil kami mengalami banyak breakthrough lewat goal- goal yang kami buat.

Dan selama 2 tahun lebih menjadi murid reguler, tiba saatnya DR. Maqdalene meminta saya untuk mengikuti IDTC di Indonesia Oktober tahun 2014 yang lalu. Akhirnya saya berangkat ke IDTC dan pada hari ke-3 sehabis kami belajar mengenai PESTA, suami saya memberi kabar bahwa dia mau dipecat dari perusahaan tempat dia bekerja dan hari terakhirnya adalah 4 Desember. Saat itu suami saya katakan “time to party!” Dan saat itu juga saya sampaikan kepada DR. Maqdalene dan dr. Atha dan kedua hambaNya yang luar biasa ini mengatakan bahwa suami saya mau dapat yang lebih baik dan lebih besar lagi.

Saya aminkan perkataan itu. Dan kami berpesta di IDTC.

Akhirnya pada tanggal 1 Desember atasan suami saya memanggil suami dan mengatakan jika suami saya tetap dipakai dan gajinya akan dinaikkan hampir 15%. Luar biasa Tuhan itu!!!!! Apa yang kami imani dengan tindakan pesta itu, di alam roh Tuhan bekerja.

Kami sangat sangat bersyukur saat ini kami berada di komunitas yang benar dan dimuridkan & dibimbing para Hamba-Hamba Tuhan yang luar biasa.

Doa kami selalu menyertai DR. Maqdalene, dr.Atha dan para faculty yang ada di Mabes KCC. Biarlah Tuhan terus memakai dan memberkati pelayanan KCC untuk menjadikan semua bangsa murid.

Kemuliaan hanya bagi Raja di atas segala raja, Yesus Kristus Tuhan. Amin.
Terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati.

 

Calvin, murid kelas anak VISIONER

 

Sebelum aku ikut KCC aku sangat malas untuk pergi memuji Tuhan dan aku anak yang sangat berbeda dari sekarang dan dulu. Setelah mengikuti KCC aku tidak seperti orang yang aku sekarang dan aku seperti memakai topeng dulu, dan KCC menghancurkannya. Di sana aku mempelajari banyak hal dan aku lebih mengerti bagaimana untuk manage my life. Aku juga mengerti bagaimana untuk membuat goal dan untuk membuat hidup yang tidak amburadul. Sebelum aku ikut KCC aku suka ngomong kotor dan jorok. Aku tidak merasa kalau ngomong jorok itu salah dan ngomong jorok itu keren. Tapi setelah aku ikut KCC aku tidak ngomong jorok lagi karena aku harus membuat gol. Gol itu aku harus bikin setiap hari dan kirim ke fastor aku jadi aku bisa ingat apa yang aku tulis. Nanti problema yang kita sedang melalui akan dibahas tetapi kalau problema yang kita tidak mau dibahas fastornya akan ngomong privately bersama. Aku dulu marah karena aku ikut KCC, aku tidak suka KCC karena KCC di sabtu jadi kalau ada ulang tahun yang dsabtu aku tidak bisa mengikut party itu. Aku sangat sebel dengan KCC aku tadinya mau quit dari KCC. Tetapi fastorku bilang bahwa kita harus memikir kalau lebih penting teman kita atau Tuhan. Jadi dengan lama memikir aku akhirnya menyadar kalau Tuhan yang membuat temanku dan aku jadi aku harus respek Tuhan. Jadi setelah itu aku tidak marah dengan KCC lagi dan aku sekarang mengerti. KCC sudah mengubah hidup saya yang tadinya tidak dekat Tuhan sekarang lebih dekat dengan Tuhan.

Before I joined KCC I’m very lazy to go praise God, and I am a child who is very different from now and then. Before following KCC, I am not like the person I am now, and I like to wear a mask and KCC had destroyed it. There I learned many things and I better understand how to manage my life. I also understand how to make goals and to create a life that is not a mixed up life. Before I joined KCC I love to talk dirty and nasty. I do not feel that it is wrong to talk squalid and sordid ways but I feel that it’s cool. But after I joined KCC I did not say a slob again because I had to make a goal. The goals help me because I had to make them every day and send to my teacher so I can remember what I wrote. Later in class we are going to go through the problem and will be discussed. However if the problems that you wrote are private the teacher will talk privately together. I used to get angry because I joined KCC, because I do not like KCC on a Saturday, so if there was a birthday party I could not join. I was very annoyed with KCC I was willing to quit from KCC. But my teacher says that we should think more important that our friends or God. I thought it through so long and know I finally acknowledge that God is the one that made my friend and me, so I had to respect God. So after that I was not angry with KCC again and I now understand. KCC has changed my life that was not close to God now closer to God.

 

Saya bersyukur pada Tuhan Kita Jesus Kristus, oleh Roh Kudus telah membawa Saya bertemu Ibu Maqdalene Kawotjo. Saya sukacita dan senang saat Ibu menyetujui Saya mengikuti KEF. Ini merupakan mukjizat. Saya mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan Tuhan Jesus Kristus dalam pribadi Ibu Maqdalene pada malam tgl 15 Agustus. Saat itu Ibu memeluk dan mencium Saya. Saya merasakan sukacita dan damai sejahtera luarbiasa. Ternyata Ibu Maqdalene lebih cantik dari yang Saya lihat di layar selama ini. Dan Saya merasakan kelembutan hati Ibu Maqdalene. Terimakasih ya bu. Mohon dukungan dan doanya slalu buat Sidoarjo. Puji Tuhan ?

Theresia Erni