Kita adalah orang-orang Kerajaan, dan yang jadi ciri orang Kerajaan adalah hidupnya mencerminkan sifat dan cara Kristus. Kita harus sedemikian berbeda sehingga menggarami dunia, menerangi kegelapan. Banyak orang Kristen tidak hidup dengan cara Kerajaan sehingga menjadi cemooh dunia. Kuasa yang disediakan oleh Kerajaan yang mengirim kita tidak teraktivasi sebab kita cenderung hidup dengan cara dunia, malah ‘terbeli oleh dunia.’ Anak Tuhan jadi cemoohan iblis, jadi alatnya iblis, jadi antek-anteknya musuh. Ini mengenaskan, tetapi kenyataannya demikian, anak Tuhan kalah oleh nafsu daging dan nafsu dunia, sehingga bukan hidup dalam pembaharuan dari hari ke hari tetapi hidupnya masih mencerminkan manusia lama.
Di bawah ini ada kisah seorang imam dan keluarganya – mereka dipilih Tuhan untuk melayani, disisihkan untuk menjadi imam, tetapi tidak menjadi contoh dan hidup dalam kedagingan. Bangsa itu berseru kepada Tuhan dan bahkan membawa tabut Tuhan, bumi bergetar, musuh kuatir, tetapi toch Tuhan dan perangkat suci tidak menolong orang yang hidup dengan cara daging. Anak-anak imam Eli berlaku busuk, mereka mengambil daging persembahan sebelum waktunya dengan paksa, mereka tidur dengan perempuan-perempuan penjaga bait suci. Mari kita baca perlahan:
1 Samuel 4:2-22 (TB)
Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.
Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.”
Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.
Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.
Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu,
ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.
Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.
Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”
Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki.
Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.
Seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya.
Ketika ia sampai, Eli sedang duduk di kursi di tepi jalan menunggu-nunggu, sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah itu. Ketika orang itu masuk ke kota dan menceritakan kabar itu, berteriaklah seluruh kota itu.
Ketika Eli mendengar bunyi teriakan itu, bertanyalah ia: “Keributan apakah itu?” Lalu bersegeralah orang itu mendapatkan Eli dan memberitahukannya kepadanya.
Eli sudah sembilan puluh delapan tahun umurnya dan matanya sudah bular, sehingga ia tidak dapat melihat lagi.
Kata orang itu kepada Eli: “Aku datang dari medan pertempuran; baru hari ini aku melarikan diri dari medan pertempuran.” Kata Eli: “Bagaimana keadaannya, anakku?”
Jawab pembawa kabar itu: “Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas.”
Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.
Adapun menantunya perempuan, isteri Pinehas, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak.
Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: “Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki.” Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya.
Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: “Telah lenyap kemuliaan dari Israel” — karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya.
Katanya: “Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas.”
Kisah ini mengingatkan kita mengenai peristiwa Akhan, yang mengambil barang-barang jarahan yang dilarang Tuhan, dan bangsa Israel kalah waktu maju berperang sebelum Akhan dimusnahkan. Juga kisah mengenai Ananias dan Safira yang mempersembahkan uang penjualan setengah hasil tanah dengan tipu daya yang akhirnya drop dead di depan hamba Tuhan. Banyak kisah-kisah jaman sekarang yang mirip, menggunakan nama Tuhan dan memberikan persembahan kepada Tuhan, namun hidup dengan cara yang keliru, uang haram dari pekerjaan ilegal.
Banyak hamba Tuhan juga berkhotbah dengan cara keliru, uang uang uang terus… hatinya tidak murni, berdiri di mimbar dan menggunakan platform untuk keuntungan pribadi… Saya banyak mengikuti dan membaca untuk belajar, juga untuk mengingatkan kita bersama, agar jangan sampai kita hidup seperti anak-anak imam Eli, seperti orang dunia, dengan cara dunia, kedagingan, nafsu-nafsu jahat, hidup hanya sebatas uang dan kepentingan daging. Apalagi pemimpin, dosa pemimpin sangatlah besar sekali, sebab dosanya menyebabkan kematian bangsa yang tak bersalah! Bangsa Israel kehilangan pasukannya sebanyak 4000 orang pada pertempuran pertama, kemudian saat mereka berpikir bisa ‘membawa Tuhan dalam tabut-Nya’ 30.000 orang justru mati dalam pertempuran! Ini sangat mengenaskan. Pemimpin yang egois sangatlah besar ukuran dosanya, sebab ia mengangkut kesalahan yang terjadi pada jemaat yang dipimpinnya.
Kita adalah warga Kerajaan, duta Kerajaan, hidupnya dengan standar Kerajaan. Semua kebutuhan dipenuhi, jika mendahulukan Kerajaan Sorga dan Kebenarannya. Kuasa diberikan, sebagai diplomat Kerajaan, tidak mungkin kekurangan. Kita mendapatkan kehormatan tinggi, fasilitas-fasilitas, penyertaan yang besar oleh malaikat dan bala tentara Sorga.
Jika hal-hal tersebut tidak teraktifasi, mungkin ada yang salah. Ini bisa diselidiki, evaluasi diri, mananya yang kurang sinkron, agar jangan sampai kita kehilangan upah penuh waktu masuk/kembali ke negara asal yang mengutus kita.
Sekalipun kita mendapatkan semua anugerah, hidup dalam anugerah, tetapi jika tidak menghargai anugerah itu, maka kita tidak bisa menjadi saksi Sorga. Dan jika terus menerus membohongi anugerah yang Tuhan berikan, maka iblislah yang mendapatkan keuntungan dan pada akhirnya Tuhan tidak membiarkan Diri-Nya dipermainkan, apa yang ditabur orang, itulah yang akan dituainya.
Betapa kasihnya Tuhan kepada kita, betapa percayanya Dia terhadap kita, sampai kuasa yang besar diberikan kepada orang percaya secara unlimited. Marilah kita mempergunakan kepercayaan itu dengan takut dan gentar, dengan sungguh hati, dengan hormat dan kasih kepada Dia. Jangan untuk kepentingan diri, nafsu, daging keuntungan, uang, posisi, tetapi sebaliknya.
Kiranya pelajaran keluarga Imam Eli menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa kedudukan, kepercayaan, hanyalah dipakai untuk melayani dengan kasih.
Lama setelah tabut Tuhan diambil bangsa Filistin dan Israel ditaklukkan oleh bangsa asing karena perbuatan dosa mereka, maka mereka berseru kepada Tuhan. Samuel yang dibesarkan di rumah Tuhan mulai mengambil inisiatif, mengajak Israel untuk menyingkirkan berhalanya yang selama pemerintahan Imam Eli dibiarkan, dan dosa inilah juga yang menjadi jerat bangsa itu sehingga kalah dalam peperangan:
1 Samuel 7:2-6, 9-10 (TB)
Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN.
Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: “Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.”
Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.
Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.”
Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.
Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia.
Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.
Saat bangkit seorang pemimpin yang adil, yang takut Tuhan, yang berani memimpin bangsa itu dalam kebenaran, maka Tuhan membela mereka. Perhatikan, bagaimana Samuel mengambil anak domba sebagai persembahan bagi Tuhan: berarti ia bukan seorang hamba Tuhan yang kaya raya, ia terbilang miskin. Ia tidak mengambil keuntungan dari rakyat, ia melayani dengan pengabdian, dan ia disanggupkan untuk memimpin umat yang besar sehingga mereka percaya kepada perintahnya, berbalik kepada Tuhan, dan dibela dari tindasan musuh.
Nabi Samuel, menjalani hidupnya dengan cara Kerajaan, ia sebagai duta Sorga, dapat dipercaya dengan kuasa, berjalan dalam kuasa dan dalam kekekalan. Namanya besar, pada saat sebelum matinya ia berani declare bahwa jika ada seorang pun yang ia rampas hartanya atau lembu sapinya, mereka dapat menggugatnya – ia sama sekali tidak mengambil apapun dari harta mereka walaupun ia berkeliling melayani mereka suku demi suku, berjalan di bawah terik matahari dan kedinginan serta kaki yang penat.
1 Samuel 7:15-17
Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya. Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu, lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN.
1 Samuel 12:3-5 (TB)
Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu.”
Jawab mereka: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun.”
Lalu berkatalah ia kepada mereka: “TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku.” Jawab mereka: “Dia menjadi saksi.
Inilah contoh pemimpin dan hamba Tuhan yang sungguh dan benar. Ia menampilkan ciri Kerajaan yang tidak egois tetapi sangat rendah hati dan mulia. Kiranya ia menjadi teladan bagi Saudara dan saya sebagai hamba Tuhan yang melayani di akhir jaman.
Dear Doktor Magdalene,
Apa yang dimaksud dengan “…. dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun.”
Apa Pekerjaan Samuel selain menjadi Nabi ? Karena untuk memenuhi kebutuhan hidup nya sehari2… ?! Saya kurang paham.
Banyak hamba TUHAN yg pandai berdiplomasi menyampaikan kebutuhan2an hidupnya kepada siapapun sehingga terlihat TUHAN menggerakkan hati orang2 untuk melakukkan sesuatu bagi hamba TUHAN tersebut.
Saya tidak berani berkomentar karena takut ROH KUDUS marah kepada saya, saya ingin bertanya tapi tidak tahu kepada siapa…?!
Saya belajar untuk mengerti namun tetap saja saya belum mengerti….
TUHAN sepertinya sedang “memaksa” saya kesituasi yang saya belum mengerti apa yang Sebenarnya rencana karena saya sedang meminta untuk kebutuhan hidup justru yakobus 1: 2-6 bahkan ayat 26 disuruh minta hikmat…
Yang saya dapat :
Saya adalah buatan NYA,
Saya diciptakan dalam YESUS.
Saya belajar untuk melakukkan pekerjaan baik.
Saya Sudah disiapkan Sebelumnya
Saya belajar hidup di dalam YESUS
Semakin saya renungkan bahkan saya amin kan, semakin saya tidak mengerti karena berbeda dengan kenyataan/realita hidup saya.
Apa artinya Firman YESUS itu jika tidak sama di dalam realita hidup ini…?!
Saya bukan Samuel yang luarbiasa itu… tapi bagaimanapun juga saya buatan YESUS… ?!
Firman YESUS itu begitu sempurna sehingga saya tidak mengerti…
Pengabdian seorang Samuel begitu luarbiasa… Begitupula pengabdian Paulus..
Begitu sempurnanya kuasa TUHAN, hadirat TUHAN saat Samuel membawa korban persembahan sehingga TUHAN yang berperang untuk Israel.
Belum pernah terjadi lagi….
Mungkin saya harus belajar taat walaupun saya tidak mengerti, walaupun….walaupun ya…walaupun..
Terimakasih sudah membaca walaupun tidak di jawab…
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Salam hormat saya,
Terry
Yang kekasih Terry,
terimakasih untuk respon Terry terhadap Firman Tuhan dalam setiap artikel FMH, didukung dengan kemauan untuk belajar yang sangat besar. Kami menganjurkan Terry untuk bergabung di kelas pemuridan yang sekiranya dapat menolong Terry untuk bertumbuh dan akan mendapat pembukaan-pembukaan yang baru dalam setiap pertemuan di kelas bersama murid lainnya. Roh Kudus akan menolong setiap orang yang mau percaya dan mengenal-Nya lebih dalam lagi. Tuhan Yesus memberkati