1. Bagaimana kita yang hidup di dunia ini menjauhi hal-hal dunia?
  2. Bagaimana orang percaya menerapkan ayat-ayat di bawah ini?
  3. Apa yang dimaksud dengan “mengasihi dunia?” Hal seperti apakah itu? Sejauh mana kasih dalam kaitannya dengan dunia itu?

1 Yohanes 2:15-17
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Semua yang ada di dalam dunia dirangkum dalam 3 hal:

  • keinginan daging
  • keinginan mata
  • keangkuhan hidup

Jika dilihat semuanya berhubungan dengan INGIN, KEINGINAN. Batasnya apa sehingga kita dikategorikan sebagai orang yang TIDAK MENGINGINI DUNIA, agar tidak mengasihinya? Bagaimanakah orang-orang seperti kita yang hidup di metropolitan menjauhi keinginan-keinginan tersebut? Apakah batasannya sebagai pengusaha menjauhi keangkuhan hidup? Juga sebagai hamba Tuhan atau gembala sidang yang membangun sebuah/berbuah-buah gereja ada pada koridor terjaga dari batas dunia tsb? Apakah memungkinkan bagi orang Kristen awam yang tidak menekuni Firman dan hanya seminggu sekali saja ke gereja dan jarang baca Alkitab dan hanya doa makan dan bangun tidur bisa keluar dari kategori mengasihi dunia?

Lalu hamba-hamba Tuhan yang akhirnya tersandung membangun takhta untuk menjulang namanya, kategori keangkuhan hidup. Dipanggil, memenuhi panggilan, diberkati, tetapi masih saja ada godaannya – sepertinya tidak pernah selesai. Minta hidupnya diberkati, sesudah dapat berkat, minta lagi, belum ada rumah doa untuk satu, sudah punya rumah minta yang lebih besar, sudah ada mobil minta yang lebih enak, sudah pakai jam mahal beli beberapa lagi, sudah ada uang giling kerja lembur terus, sudah ke Eropa masih terus mau jalan-jalan ke Asia, ke Amsel, Afrika, tidak ada hentinya keinginannya. Yang satu sudah dituruti, muncul satu lainnya dan terus dia nyandu. Masih belum bicara soal pasangan, sudah dapat isteri yang paling cantik saat itu, sudah beberapa tahun liat cantik lainnya jadi pengen, dan banyak yang gak tahan, kemecer, tergoda, dari bbm-an akhirnya ke tepi ranjang dan…

Makanya kalau saya makan saya suka memikirkan betapa luar biasanya Tuhan kita, begitu banyak makanan dan minuman, tapi saya harus milih satu piring dan satu gelas, sebab lebih dari itu sudah kekenyangan dan jadi obat tidur yang manjur. Sebanyak-banyaknya duit dan keinginan mata kita, perut kita gak bisa nampung. Begitu juga dengan barang, bisa beli banyak kasur dan banyak rumah, tapi cuman dipakai tidur satu saja, satu kali saja, tidak bisa tidur di 2 kasur springbed. Punya banyak jam dan tas, dipakainya satu-satu saja. Punya keinginan seks banyak, tapi cuman bisa satu kali dan itupun ada batasnya kayak makan tadi. Saya tanya yang udah nikah, apakah bisa 2x langsung, katanya cowok gak bisa bu, suami saya harus tidur dulu sebelum anu lagi.

Jadi Tuhan membatasi kita semua, makanya Tuhan bilang asal ada makanan cukup, dan diajarin doa: Berilah hari ini makanan yang SECUKUPNYA. Kita banyaknya ketamakan, maunya semuanya, tapi ternyata semua ada batasnya, cukup. Jadi ini menjagai kita untuk hidup di dunia dan tidak MENGASIHI DUNIA, jika berpedoman untuk hidup dengan hati yang CUKUP.

Sebagai seorang anak pendeta yang sejak kecil hidup di dalam tembok gerejawi dan rohaniawi, saya dulu tidak pernah berpikir bahwa orang di luar sana beda cara pandangnya dari saya. Semakin beranjak, saya menyadari bahwa mereka yang dibesarkan di luar tembok gereja tidak seintens kami-kami dalam hubungannya dengan hal-hal rohani. Lalu saya mulai merenungkan bagaimana mereka yang tidak dipaksa membaca Alkitab seperti saya? Yang tidak disuruh doa tiap jam 5 pagi, yang tidak mendengarkan khotbah-khotbah pendeta (papi saya) seminggu sekian kali? Saya yang tadinya merasa sangat menyesal menjadi anak pendeta tiba-tiba jadi merasa beruntung bahwa sejak kecil dicekokin Firman dan akhirnya hidup dalam Firman. Tetapi, saya juga tidak menyangkal bahwa tidak semua anak-anak pendeta sampai sekarang mensyukuri dan menyadari betapa beruntungnya mereka. Sebab hidup ini tetap pilihan, walaupun ada panggilan. Ini masih satu bagian kecil yang bisa menjadi diskusi panjang. Tapi ada bagian lain yang saya ingin saya kuak bersama.

Dengan singkat kisah bagaimana saya sudah menjadi hamba Tuhan pun, saya tidak jauh dari cobaan. Saya yang fashionable dan dituntut tampil smart, akhirnya harus melihat dunia dan keindahannya. Tidak sering-sering, tapi selalu ada godaan. Alhamdulilah, saya sudah tidak keseret hal-hal seks dan godaan lain. Tidak punya TV puluhan tahun, tidak punya majalah atau novel atau sejenis Nova atau infotainment lainnya. Tapi dulu ada saja bacaan-bacaan di internet yang blink blink menggoda dan akhirnya buang waktu membaca yang gak keruan seperti perkembangan dan pertikaian antar kubu 1 dan 2, berita-berita celeb luar, dan yang gak penting. Mungkin Saudara pencobaannya beda dengan saya, tapi cobaan dan gangguan itu bisa menyeret saya untuk menghabiskan waktu dan ikutan emosi liat komentar-komentar orang di FB, walaupun daya tahan saya untuk tidak menimpali mereka, puji Tuhan kuat. Tetapi, waktu saya dengan Sorga banyak berkurang. Saya sadar saya terjerat untuk beberapa bulan. Sampai akhirnya saya mendengar Tuhan memanggil saya masuk ke secret place bersama-Nya dalam waktu yang cukup lama.

Kembali masuk ke pelataran Tuhan hari-hari, saya merasakan bagaimana makin jauh dari dunia. Indahnya rasanya tidak terkhamir dunia, tidak ada berita, tidak banyak belanja keluar, makan secukupnya, hari-hari bersama Dia. Tapi saya tidak tahu bagaimana orang yang tidak memisahkan diri dari dunia bisa tidak mencintai dunia, sebab dunia godaannya besar sekali. Padahal sepertinya menurut saya mau cari apa sih di dunia? Saya sudah keliling dunia tapi tidak menemukan keindahan yang gimana gitu, kalaupun pemandangan atau gedung, juga cuman segitu aja, hotel mewah dan makanan juga nggak segimana-gimananya. Minuman, seks bebas, rokok, mabuk, ngobat, saya sih nggak tahu. Tapi saya rasa juga batasnya seperti makan jika kenyang begitu. Kami ada rekan pelayanan yang dulunya suka minum dan dugem, tapi katanya jika sudah mabok hatinya bisa sedihhhh gitu. Nyesel dan merasa dosa, tapi besok ulang lagi. Nyandu nyesel nyandu nyesel. Dunia gak ada habisnya, dosa menyeret dengan perasaan senang kecewa senang kecewa. Inilah yang diberikan dunia, bukan kedamaian, bukan keindahan dan ketenangan batin.

Bersyukur kita diberi kuasa untuk mengalahkan dunia: IMAN kita! Jika Saudara mengasihi dunia sampai nyandu internet, games, koran OL, TV, FB, pekerjaan/cari duit, seks, cewek, pelacur, buku-buku, novel, rokok, saham, you name it… kalahkan dengan imanmu. Jangan persembahkan hidup dan waktumu untuk dunia, karena dunia ini milik iblis. Hiduplah untuk Dia yang telah mati bagimu, dedikasikan hidupmu bagi Sorga. Oleh kuasa salib, Dia telah mengalahkan maut dan kelemahan. Berdirilah, kebaslah dunia, menjauhlah, berlarilah tinggalkanlah. Dia lebih berharga dari semuanya.

1 Yohanes 5:4-5
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.
Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

 

 

You are the conqueror!