Pemimpin yang tegas menimbulkan pro dan kontra.
Orang tua atau bos yang tegas juga menimbulkan pro dan kontra.
Tetapi jika Anda mempunyai anak atau bawahan atau staff yunior, Anda akan tahu bahwa mereka tidak bisa dibiarkan, tidak bisa tidak ditegasi. Walaupun Anda sendiri tidak menyukai didikan dan ketegasan dan kritikan dan teguran, tapi anehnya Anda suka menegasi, menegur, mengkritik anak/bawahan/yunior Anda. Bukankah itu ironis? Itulah sifat egois manusia.

Pada waktu training para leaders, saya bertanya kepada mereka, kualitas apa yang mereka sukai dari seorang pemimpin? Rata-rata, hampir 85% jawabannya adalah: TEGAS. Ini mengherankan saya, tapi juga tidak terlalu mengherankan jika ditelusuri bahwa seorang pemimpin yang tidak tegas dan hanya mengikuti kemauan anak buah/orang yang dipimpinnya, atau orang tua mengikuti kemauan anak, maka kepemimpinan akan hancur; kedisplinan tidak akan berdiri; rencana/plan A akan berantakan dan gagal.

Jemaat banyak yang tidak suka jika pendetanya tegas dan keras dalam mendidik; murid tidak suka jika ditegur gurunya; anak ngambek jika dimarahi orang tuanya. Padahal pemimpin dapat melihat jauh ke depan dibanding anak buah yang hanya dangkal sepandangan mata saja memandangnya. Anak-anak belum mendapatkan wawasan atau rencana yang luas dan dalam dibanding seorang pemimpin, anak-anak hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan jangka pendek, tetapi pemimpin memikirkan kepentingan perusahaan dan jangka panjang.

Saya dipercaya orang-orang di dalam dan di bawah kepemimpinan yang Tuhan percayakan kepada saya. Saya yang awalnya berkarakter melancholic, memupuk dan belajar menambah dengan choleric bersamaan dengan naiknya kepemimpinan tersebut. Melancholic adalah untuk kecermatan, ketelitian, menulis, mempertimbangkan, tidak terlalu banyak bicara, lebih cenderung menyimpan rencana. Choleric kuat dalam kepemimpinan, commanding, mengarahkan, menjaga teamwork dan memimpin dalam rapat-rapat dan perbincangan. Keduanya melengkapi ‘tampuk’ kepemimpinan yang Tuhan percayakan kepada saya. Ketegasan saya kadang membuat orang tidak bisa terima, sakit hati, dan pergi. Tapi itu sangat sedikit dibanding yang mendengar, bertahan, percaya, dan setia. Saya memandang luas, apalagi dengan kedudukan yang ditaruh agak di atas, saya diberi kemampuan untuk melihat apa yang tidak dilihat oleh orang-orang yang di bawah saya. Karena saya melihat secara global, sedangkan mereka yang agak di bawah saya tidak bisa melihat seluas saya. Begini: saya mendapatkan banyak laporan dari semua kelas-kelas nasional-internasional; saya berbincang dengan facilitator dan alumni, bertukar email dan memberikan jalan keluar; saya mengatur dan merencanakan, membuat strategi dan perpindahan; tetapi orang-orang yang di bawah kepemimpinan saya hanya memimpin salah satu sektor atau satu kelas atau satu gereja. Sehingga kalau seperti menaiki tangga, saya bisa melihat dari atas untuk mengatur yang di bawah, sedangkan yang di bawah-bawah saya masih jauh di bawah dan tidak bisa melihat dari tingkat ketinggian di mana Tuhan taruh saya. Jadi dalam keterbatasan mereka, seringkali bersungut, menyalahkan, menuduh, menuding, membicarakan di belakang, saling menguatkan dalam ketidaksetujuan, terhadap pengaturan yang mereka tidak bisa melihatnya. Padahal mereka pandangannya masih sempit dan belum diberi wawasan luas, jadi judgmentnya sangat dangkal.

Beberapa dari mereka tidak pernah mengerti prinsip kekuasaan dan wakil kekuasaan – khususnya justru orang-orang yang seharusnya mengenal kekuasaan, yaitu mereka yang sudah memimpin dan punya anak didik. Saya menyadari semakin orang diberi kepercayaan, jika tidak rendah hati dia akan semakin memberontak dan berpikir dirinyalah yang benar dan bisa memimpin sekelompok kecil kawanan yang dipimpinnya. Padahal kepercayaan yang diberikan belum apa-apa namun sulit untuk belajar tunduk dan mengenal otoritas dengan total. Selalu saja mempertanyakan: “Kenapa kok ibu bilang begitu? Menurut kalian gimana? Apakah kita harus nurut? Kenapa harus begitu? Emang kalo gini gimana? Kita khan bukan Ibu….” Ini salah kaprah, pengkhamiran ragi dalam kubu. Berikutnya adalah berjalan menurut kehendak masing-masing. Liar, tidak ada pengendalian diri, benih pemberontakan sudah mencemari.

Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa seharusnya mereka banyak latihan keras karena mereka tentara Kristus. Tentara harus dididik secara militer, dan itu penuh kedisplinan, teriakan, hentakan, ketahanan fisik dan mental. Tetapi karena tidak banyak latihan kemiliteran dalam gereja, jemaat loyo, otot manusia rohnya kendor, dan ditegur sedikit langsung kabur ke gereja lain yang lunak dan lembek kepemimpinannya, supaya dia yang memimpin hidupnya tanpa pengajaran yang keras.

Sesampainya saya di Amerika, saya bertemu dengan seorang pembimbing thesis disertasi doktoral saya, yang akhirnya sampai sekarang menjadi ayah angkat saya, selama belasan tahun. Beliau adalah orang yang suka dengan kemiliteran, dia banyak mempelajari Navy Seals, pasukan Kopassusnya Amerika. Di ruang kerjanya gambar dan tulisan mengenai Seals banyak bergelantungan. Menulis buku dan meminta saya mengkoreksi – tetapi sampai saya pulang ke Indonesia dan menulis 9 buku, beliau masih juga belum publish bukunya. Dalam pada itu, saya sudah membangkitkan pasukan Kristus dengan cara setengah militer, mentraining dan mempertontonkan video Navy Seals, membentak, berteriak, mendisiplin. Sampai suatu hari, saya mendapatkan mimpi yang unik:

Saya berada di rumah lama orang tua saya yang masih kecil, atapnya dari seng panas, yang dipakai untuk gereja mula-mula mereka, di daerah Timuran, Solo. Di situ saya melihat ibu saya menyuapi 2 tentara Navy Seals, dan saya duduk di antara mereka ikut disuapi. Ada 1 bangku yang tak terisi, tapi hanya kami bertiga saja. (Mungkin sebenarnya/seharusnya ada 1 anggota lagi yang kalau mau dibimbing bisa jadi “anggota Seals” didikan ibu saya, tapi entah siapa yang gagal).

Aha, tahulah saya, bahwa didikan awal saya (asupan, suapan) adalah didikan ala Navy Seals, walaupun beratap genteng, walaupun dari seorang ibu yang tegas, semuanya membentuk otot manusia rohani saya sampai sekarang menjadi sangat kuat. Orang-orang yang melihat saya sebagai wanita, pembandingnya bukan wanita tetapi pria. Saya memimpin banyak pria dan banyak pemimpin, baik gereja maupun marketplace. Gender saya saja perempuan, tetapi orang dan saya boleh katakan bahwa hati saya alhamdulilah pria. Saya tidak cengeng untuk masalah-masalah hidup, tetapi airmata saya mudah jatuh jika berhubungan dengan jiwa-jiwa dan kesakitan mereka. Itu sisi saya sebagai induk.

Saya bersyukur Ibu saya tetap memilih untuk mendidik saya bertahun-tahun tanpa menyerah, saya bersyukur dia tahan dengan muka saya yang kecut dan tidak bersyukur diajarin. Saya bersyukur tidak ada jalan keluar waktu itu – walaupun sempat saya ingin minggat, tapi saya ngeri jadi gelandangan model apa nantinya; lalu orang-orang menyarankan saya untuk kawin saja agar keluar dari lubang singa. Untung saya waras dan berpikir, ‘iya kalo saya masuk istana, kalo masuk lubang buaya?’ Khan orang pacaran semuanya sugar coated-taik kambing rasa durian, – abis kawin baru keliatan borok-boroknya! Jadi, tawaran-tawaran itu saya tolak mentah-mentah dan terus bertahan sampai pada waktunya.

Saya ingat tentang salah satu pengalaman Navy Seals yang berlatih dengan keras di ambang batas kekuatan mereka, tidur cuman 3-4 jam, berlatih dengan celana pendek di kedinginan air dan udara 8 derajat celcius selama berjam-jam, makan sedikit, saat mereka bilang mau nyerah, mereka ditawarin HOT CHOCOLATE AND BLANKET. Lalu salah satu yang akhirnya menjadi navy handal bilang: “waktu itu tawaran hot chocolate and blanket itu sangat menggiurkan, tapi jika saya ambil kenikmatan dan kehangatan sementara itu, maka bubarlah semua cita-cita dan pelayanan saya sebagai seorang prajurit handal Amerika untuk melayani bangsa dan negaraku. Jadi, saya meneruskan latihan keras saya dan bertahan. Saya menolak kedua kenikmatan menggiurkan sementara itu.” Itu sangat mudah nanti didapat di rumah jika dia selesai training.

Tetapi toch banyak dari mereka gugur karena tawaran kedua hal yang menghangatkan itu – kesenangan sementara yang sia-sia selamanya. Seperti waktu saya berpuasa 40 hari, di hari-hari ke 30 sekian saya sudah hampir mati, saya menimbang-nimbang untuk berbuka, dan akhirnya tercetus; dan waktu akan disiapkan oleh staff saya, saya bertanya ulang kepada diriku sendiri: “apakah saya mau kasih makan diri dan mulut yang gak seberapa rasanya dan nikmatnya dibanding penyelesaian beberapa hari ke depan sebagaimana Tuhan panggil saya untuk berpuasa untuk maksud besar ini? Toch saya sudah tahu bagaimana biasanya kalau habis puasa lalu makan, rasanya juga gak gimana-gimana, dan abis kenyang juga udah gak berasa lagi nikmatnya di lidah.” Tapi kalau batal puasa hanya karena tergiur makanan, nyeselnya kayak apa sih… kecuali kalau orang sudah terbiasa gak pernah bisa komit dengan puasa dan hal-hal berat dalam hidup, maka setelah bobol bertahan, ya rasanya biasa dan gak merasa bersalah, gak ada kecewanya.

Kesemua-muanya ini menegaskan lagi tentang pilihan-pilihan kita: kenyamanan atau didikan dan disiplin. Ketegasan atau pembiaran; tentara atau warga sipil. Kuat atau loyo. Komit atau nyerah. Banyak orang memilih jalan lebar, kemalasan, kehangatan, tidak ada didikan. Tapi untuk Tuhan menghasilkan pasukan elit,
-Dibutuhkan perbudakan, pengkhianatan dan penjara agar Yusuf bisa menjadi pemimpin besar yang menghandle jutaan manusia di dunia. Dibutuhkan berhadapan dengan singa dan beruang yang hendak memangsa domba-dombanya sebelum ia menjadi raja termasyur Israel sampai kekal.
-Dibutuhkan padang gurun 40 tahun dan kerendahan hati pelucutan semua atribut anak raja dan segala hikmat Mesir, sebelum ia menjadi pemimpin besar yang membawa 2 juta pasukan di padang gurun selama 40 tahun!
-Dibutuhkan kekuatan hati atas ejekan dan ketidakpercayaan orang-orang banyak atas pembangunan 100 tahun bahtera yang memerlukan dedikasi hidup dan harta sebelum ia menjadi penyelamat keturunan manusia dan hewan-hewan.

Tuhan melatih, Tuhan mendidik dengan keras mereka-mereka yang siap hati untuk mendapatkan didikan. Dan mereka-mereka yang telah melewati didikan keras itu tahu bagaimana bertahan terhadap hidup yang keras dan menerima upah kekal yang tidak dapat dibandingkan dengan kesengsaraan semasa di dunia yang hanya beberapa tahun saja. Sukai didikan.

karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:14
Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu. Amsal 12:1

Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Roma 8:18