Dari 8 seri FMH kali ini dengan banyaknya contoh tentang pengenalan otoritas, saya berdoa ini memelekkan mata, bukan hanya celik. Sampai nancep, sampai ngeh, sampai sadar dan berubah, itu luar biasa. Ada pembaca yang sangat jujur dan minta pertolongan karena menamai dirinya sudah AKUT soal sakitnya dalam hal ini, dia butuh pertolongan. Itu yang saya sukai dan Tuhan pun sangat gemar akan hati yang remuk. Jika ada 1 orang yang sadar dan bertobat dari tulisan pengajaran saya yang sudah sampai 7 seri minggu lalu, saya sangat bersyukur dibanding 999 yang tidak bertobat dan meneruskan kebebalan hatinya walaupun setia membaca.

Saya masih mengupas lagi sebagaimana Roh Tuhan menuntun saya untuk topik bahasan otoritas tersebut. Di bawah ini ada contoh wakil kekuasaan yang berbeda, dan bagaimana mereka mempengaruhi rakyatnya. Rakyat dipengaruhi oleh pemimpinnya – jika pemimpin serong, maka rakyat akan serong hati, tetapi jika pemimpin dengan tegas mengarahkan rakyat untuk beribadah kepada Tuhan, maka mereka akan menurut. Dalam topik Mengenal Otoritas kali ini, saya ingin mengetengahkan mengenai KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN, bukan mengenai kesalahan pemimpin yang membawa kepada kedurhakaan yang harus diikuti.

RAJA MANASYE
2 Tawarikh 33:3, 6-7, 9 – Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dirobohkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk para Baal, membuat patung-patung Asyera dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.
Bahkan, ia mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api di Lebak Ben-Hinom; ia melakukan ramal, telaah dan sihir, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya.
Ia menaruh juga patung berhala yang telah dibuatnya dalam rumah Allah, walaupun Allah telah berfirman kepada Daud dan kepada Salomo, anaknya: “Dalam rumah ini dan di Yerusalem, yang telah Kupilih dari antara segala suku Israel, Aku akan menaruh nama-Ku untuk selama-lamanya!
Tetapi Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel.

RAJA YOSIA
2 Tawarikh 34:30-33 – Kemudian pergilah raja ke rumah TUHAN bersama-sama semua orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, para imam, orang-orang Lewi, dan seluruh orang awam, baik yang besar maupun yang masih kecil. Dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah TUHAN itu.
Sesudah itu berdirilah raja pada tempatnya dan diikatnyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan untuk melakukan perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu.
Ia menyuruh semua orang yang berada di Yerusalem dan Benyamin ikut serta dalam perjanjian itu. Dan penduduk Yerusalem berbuat menurut perjanjian Allah, yakni Allah nenek moyang mereka.
Yosia menjauhkan segala dewa kekejian dari semua daerah orang Israel dan menyuruh semua orang yang ada di Israel beribadah kepada TUHAN, Allah mereka. Maka sepanjang hidup Yosia mereka tidak menyimpang mengikuti TUHAN, Allah nenek moyang mereka.

Sekali lagi, saya ingin mengetengahkan mengenai KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN, bukan mengenai kesalahan pemimpin yang membawa kepada kedurhakaan yang harus diikuti. Seorang pemimpin harus tegas untuk mengarahkan umat/rakyat. Lihat saja contoh kepemimpinan Pak Ahok – beda dengan kebanyakan pemimpin-pemimpin sebelumnya, dia berani membongkar apa yang selama ini ditakuti oleh petinggi-petinggi lainnya. Ia menegakkan kebenaran dan keadilan, tetapi kebanyakan lainnya memimpin dengan “halus” karena banyak memikirkan untuk kepentingan diri mereka sendiri. Saya tidak berkata bahwa semua pemimpin sebelum Pak Ahok, mungkin saja ada yang bersih, tapi hanya segelintir dan tidak nampak. Seorang pemimpin yang ketegasannya tidak terlalu nampak juga pengaruhnya tidak terlalu nampak.

Ambillah contoh dari murid-murid dan pengikut Yesus, dari mereka yang nampak ketegasannya adalah Petrus dan Paulus. Walaupun lainnya punya beban dan karunia dan kepribadian masing-masing, tetapi mereka dua ini sangat menonjol dalam kepemimpinan. Suratnya ada dimana-mana, pengaruhnya menjamur. Tentunya pro dan kontra tidak dapat dihindari. Karena kegigihan Paulus, ia didera di luar batas, ia dikejar-kejar untuk dibunuh, ia dipenjarakan, ia dinista. Itulah pemimpin yang tegas. Tetapi pemimpin yang mengambil jalan aman, tidak akan terlalu diambil pusing, karena pengaruhnya juga tidak kentara.

Pemimpin yang tegas memiliki spirit of confrontation – ia tidak takut mengkonfrontasi kesalahan. Tetapi pemimpin yang lemah tidak berani menegur, bermain aman agar orang-orang tidak terluka hatinya, agar orang-orang yang dipimpinnya tidak meninggalkannya, agar uang persembahan mereka tidak berkurang. Ini kemunafikan dan cinta diri sendiri lebih dari cinta kepada mereka. Teguran yang keras menolong orang lain dan bahkan dapat menyelamatkan mereka.

Saya berbicara menggebu-gebu (maksudnya menulis begini), karena saya telah melaluinya, saya tidak akan hanya mengutip tulisan orang lain tanpa mengalami sendiri. Saya menjalankan tugas kepemimpinan saya dengan tegas karena saya tahu saya dititipi orang-orang dan dititipi platform untuk menolong mereka yang adalah titipan Tuhan itu. Walaupun kadang mereka marah dan tidak terima pada mulanya, tetapi di lubuk hati saya tahu ada kasih dari “tongkat” yang saya gunakan. Ada “balutan” dari perkataan keras yang saya lontarkan baik pribadi atau di mimbar. Saya “tidak peduli” dengan sikap mereka saat menerimanya, tetapi saya peduli dengan hasil akhir. Walaupun tidak semua bisa menerima dan resultnya selalu baik, tetapi paling tidak saya mendirikan kepemimpinan dengan tegas dan penuh kasih. Saya memastikan bahwa apa yang saya katakan atau pimpinkan bukan untuk kepentingan saya tetapi untuk kebaikan mereka yang Tuhan titipkan kepada saya.

Taruhlah contoh, Larry King, ia adalah interviewer yang tegas dan mementingkan masyarakat. Ia disukai! Nadjwa siapa itu juga seorang yang berani dan tegas, sehingga acara-acaranya sangat digemari masyarakat. Presiden Jokowi adalah seorang lembut yang tegas dan berani mencopot petinggi-petinggi yang tidak berfungsi dengan baik dalam pelayanan mereka kepada masyarakat. Pemimpin-pemimpin seperti mereka ini pastilah menimbulkan pro dan kontra – pro bagi yang suka kebenaran dan keadilan, tetapi kontra bagi mereka yang negatif dan tidak suka ditegur dan tidak suka pembaharuan. Tetapi mereka menjalankan tugasnya dengan baik, mereka menjadi wakil rakyat dan bersih. Biasanya orang-orang yang bersih tidak takut, tetapi justru mereka yang takut adalah mereka yang menyembunyikan sesuatu di ‘closet’ mereka.

Orang yang tidak suka dipimpin oleh pemimpin yang tegas adalah kebanyakan karena mereka punya kepentingan-kepentingan pribadi, mereka juga sulit tunduk, mereka merasa bisa ‘memimpin dirinya sendiri’ padahal belum saatnya, karena mereka ada di bawah otoritas. Ketegasan pemimpin bisa membuat rakyat mengikutinya (kalau contoh di atas ada 2 perbedaan – tetapi intinya kita membahas ketegasannya saja); tetapi jika seorang pemimpin tidak tegas, takut kepada masyarakat/anak buah, maka kepemimpinannya tidak tegak. Saya tahu banyak pemimpin yang sungkan, takut kepada orang-orang di bawah mereka, kemungkinan karena adanya faktor uang, pemberian, hadiah-hadiah, sehingga mereka seolah sudah ‘terbeli.’ Mereka-mereka ini akhirnya melenceng dari tongkat otoritas yang Tuhan percayakan kepada mereka. Sebab jika kita tahu, bahkan polisi pun adalah hamba Allah, harus menggunakan tongkat kekuasaannya dengan baik dan hanya takut kepada Tuhan.

Intinya kepemimpinan yang lembek kebanyakan gagal. Pemimpin yang sungkan dan takut kepada manusia dan hanya mencari kepentingannya sendiri, kebanyakan gagal dalam kepemimpinan. Jika dalam kepemimpinan hanya ada segelintir orang yang hatinya keras, tidak mau tunduk, memberontak, tidak sebanding dengan banyaknya orang yang siap dipimpin dengan ketegasan untuk kebaikan. Mereka yang memberontak seringkali hanya melihat dari kebiasaan kacamata negatif mereka saja – kalau bawaannya sudah negatif, agaknya sulit untuk bisa memandang dari segi-segi positif, kecuali dia sendiri mau tunduk dan melihat semuanya dari sisi Tuhan, penentuan dan semua yang terjadi hanyalah dari Tuhan saja asalnya.

Saya menuntun Saudara untuk melihat buah dari kepemimpinan, dan lebih lagi untuk kepentingan Saudara sendiri — tunduklah sekalipun engkau berhadapan dengan pemimpin yang jahat/bengis. Karena tunduk kepada pemimpin yang baik dan ramah itu sangat mudah, tetapi dari sisi Saudara sendiri untuk menunjukkan buah kekristenanmu, jika Saudara tunduk dalam hal yang sukar dan tetap menghasilkan buah yang baik, maka Saudaralah yang mendapatkan upah kekal. Ini adalah kasih karunia. Ini bicara sampai kepada keekstriman, BENGIS. Tapi jika pemimpin Saudara hanya menegur dan Saudara sudah ‘berdarah-darah,’ maka ketahuilah, there must be some big wrong in you! Tidak bisa pemimpin mengikuti kemauan anak buah, sebab mereka masih belum diberi wawasan seluas pemimpin, dan tongkat kepemimpinan hanya datang dari Tuhan. Itu sebabnya Tuhan tidak memberikan batasan agar kita tunduk di bawah pemimpin Kristen yang lembut dan manis saja.

1 Petrus 2:18-21 – Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Be the doer of the Word.