So, this is Christmas… and what have you done over the year?
Pertanyaan ini akan menjadi PR buat kita untuk meninggalkan jejak ilahi di bumi ini sebelum mengakhiri tahun 2016 dan memikirkan bagaimana menjalani tahun 2017 dengan suatu pembaharuan. Mari kita buka link youtube di bawah ini dulu sebelum melanjutkan pesan penting di akhir tahun.
So this is Christmas
And what have you done
Another year over
And a new one just begun
And so this is Christmas
I hope you have fun
The near and the dear one
The old and the young
A very Merry Christmas
And a happy New Year
Let’s hope it’s a good one
Without any fear
And so this is Christmas (war is over)
For weak and for strong (if you want it)
For rich and the poor ones (war is over)
The world is so wrong (if you want it)
And so happy Christmas (war is over)
For black and for white (if you want it)
For yellow and red ones (war is over)
Let’s stop all the fight (now)
Ucapan selamat Natal mengalir lagi dengan hati yang tulus dari Kingdom Team kepada seluruh Pembaca setia From Maq’s Heart. Seperti tulisan saya yang berjudul SPIRITUAL STAMPS di kolom Events di web ini, kerinduan dan doa saya adalah Saudara dapat meninggalkan jejak-jejak ilahi yang bernilai kekal. Have the merriest and blessiest Christmas ever.
Kali ini saya ingin memberikan 3 poin penting bagaimana kita bisa mengambil bagian lewat diri kita dulu di hadapan Tuhan dan manusia, yang akan memberi dampak kekal, spiritual stamps bagi kita yang menjalaninya dengan segenap hati dan kekuatan. Di bawah ini ada contoh luar biasa, yang dimulai dari diri sendiri, tetapi dampaknya kepada orang banyak. Let’s explore the life of our beloved King David and his spiritual stamps he left behind.
Penghargaan Daud kepada Tuhan sangat tinggi, ia menari dengan sekuat tenaga. Ia menyuruh rakyat dan tua-tua untuk menghargai Tuhan yang Maha tinggi. Tidak heran Tuhan percaya padanya dan mengaruniakan jabatan raja sampai kekal bagi bangsa Israel. Tidak ada seorang raja pun yang memiliki hati seperti Daud, tidak ada yang memiliki cinta sehebat dan sepanas Daud. Isi hatinya semua tertuang dalam servicenya kepada Tuhan dan rakyatnya, lewat tulisannya, lewat kemenangan dan pergumulannya, dan lewat kepemimpinannya yang luar biasa. Tak ayal, manusia dan Tuhan mempercayainya sampai kekekalan! The amazing man of God.
2 Samuel 6:12-23 (TB) Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: “TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.” Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.
Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.
Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya.
Tabut TUHAN itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN.
Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam.
Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya.
Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: “Betapa raja orang Israel, yang menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak-budak perempuan para hambanya, merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak malu-malu menelanjangi dirinya!”
Tetapi berkatalah Daud kepada Mikhal: “Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, — di hadapan TUHAN aku menari-nari,
bahkan aku akan menghinakan diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama-sama budak-budak perempuan yang kaukatakan itu, bersama-sama merekalah aku mau dihormati.”
Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.
- Ketidakpedulian terhadap Reputasi
Raja yang rendah hati, raja yang tidak menjaga reputasi, tidak gengsi untuk melompat di depan rakyatnya dan di hadapan Tuhan. Dengan sekuat tenaga Daud melayani Tuhan, menghormati Tuhan, dan tentulah dalam mencintai Tuhan. Ia menunjukkannya tanpa malu dan tanpa ditahan-tahan. Ia tidak peduli pandangan manusia, persepsi manusia – ia hanya mempersembahkan kepada Tuhan seluruh jiwa raganya. Pribadi yang layak mendapatkan timbal balik kepercayaan Sorga di bumi untuk memimpin umat yang besar, untuk meneruskannya kepada seluruh keturunan Israel, untuk menjadi teladan kekal, untuk dipercaya takhta selamanya bagi seluruh umat Israel yang ditebus.Bagaimana kita bisa mempelajari sikap dan hati Daud ini untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita tanpa juga harus menjaga reputasi atau pandangan orang yang mungkin dapat merendahkan kita seperti Mihkal, anak Saul? Bagaimana kita bisa berkenan kepada Tuhan dengan ketidakpedulian reputasi kita di hadapan manusia? Sebab Daud “menelanjangi dirinya” di hadapan rakyat (orang yang lebih rendah dari dirinya), ia sangat rendah hati.Bagaimana kita bisa belajar mengekspresikan diri dan tidak peduli mereka mengatai kita sesat atau kurang se-ons? Hanya orang-orang yang tidak mempedulikan dirinya di hadapan manusialah yang berkenan sepenuhnya di hadapan Tuhan.
- Persembahan korban menunjukkan isi hati
Daud juga membawa persembahan kepada Tuhan dengan tidak main-main – persembahannya sangat berharga dan mahal. Tidak hanya ia saja yang melakukannya, tetapi tindakan Daud meninggalkan keteladanan besar bagi rakyat agar mencintai Tuhan dengan hati yang berkorban. Ia meninggalkan cap ilahi bagi keturunannya dan rakyat yang dipimpinnya, bangsa Israel turun temurun.
-Daud juga menghormati Tuhan dan dirinya dengan memakai “kain lenan.” Ini kain yang mahal, melayani Tuhan dengan baju yang mahal bukan untuk penonjolan diri, tetapi lebih kepada penghargaan kepada Tuhan. Daud memberikan teladan yang luar biasa dalam hal pelayanan, tidak ecek-ecek, tidak sebarangan, tidak beleke.
- Daud mengasihi dan menggembalakan rakyat dengan hati, ia membagikan makanan kepada mereka, ia peduli, ia tidak membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa. Padahal sepanjang jalan ia mempersembahkan lembu sudah berapa ratus atau ribu ekor, masih lagi ia harus menggorok sapi untuk dibagikan kepada rakyat yang mengiringi arak-arakan tabut Tuhan ini. Ia rela berkorban, ia tidak egois, ia raja yang penuh kasih, raja yang bisa mewakili hati Tuhan untuk umat-Nya.
Masih banyak lagi keteladanan Daud yang bisa on and on saya tuliskan di sini, tapi 3 ini saja bukankah PR besar buat kita semua? Kiranya tahun baru ini ada pergerakan baru yang menolong kita untuk meninggalkan Spiritual Stamps bagi dunia, bagi bangsa kita, bagi komunitas, bagi rekan, bagi keluarga kita.
Have a full blessed New Year 2017
The Kingdom Ministry
Maqdalene Kawotjo & Kingdom Team
Leave A Comment