Maq: Ya udah, silakan ambil tempat itu, yang terbaik.
Some1: Kalo gak bisa gimana Maq?
Maq: Seharusnya kamu gak mikir kemungkinan gak bisanya, kamu harus bertahan dengan iman mendapatkan yang terbaik.

Some1 else: Kalo saya pamit bos saya dan gak boleh gimana, Bu?
Maq: Nah, kamu sudah mikir GAK BOLEHNYA dulu sih, seharusnya waktu kamu mau maju ketemu bos, di hatimu tetapkan dulu PASTI DISETUJUI. Sebab tindakanmu itu baik, kenapa memikirkan kendala negatif?
S: Karena bos saya biasanya sulit, Bu.
Maq: Itu khan biasanya, sekarang kamu mau melangkah pakai iman dan bergerak dalam kemustahilan, seharusnya mulai angkat iman, naikin level kepercayaan bahwa gak ada yang sulit, semuanya akan berubah, bos akan tidak seperti biasanya. Jika di benak kamu sudah ada reservasi “bos biasanya begitu,” ya itu akan mempersulit dan membatasi imanmu.

RESERVASI kegagalan, kesulitan, negatif…itu yang seringkali menjadi kendala langkah iman. Hidup menurut kebiasaan, menurut apa yang dilihat dengan mata jasmani. Kalau sudah beriman harusnya teguh, jangan goyah hati, jangan keseret diajak otak mikir yang negatif. Trus kalo mikir negatif gimana? Ditengking roh negatif dan tidak percaya di otaknya, sebab itu roh, selalu mempengaruhi negatif dan kegagalan. Itulah Setan, kalau mau tahu namanya. Kita seringkali berpikir bahwa itu normal, manusiawi, dan kita senang sekali terbiasa hidup dalam kenormal-manusiawian. Seharusnya anak Raja tidak begitu sikapnya dan cara pikirnya, anak Raja punya semua akses. Saya tidak mengatakan bahwa dengan akses iman maka semua keinginan kita bisa dipenuhi. Itu langkah awal sampai kita sebagai anak makin beranjak dewasa dan berpikir bukan lagi untukku, maka Tuhan akan memberikan kepada kita apa yang kita minta untuk KEMULIAAN BAPA.

Sudah dicoba belum? Sudah berapa kali mencobanya? Sudah mentok cari jalan sana-sini belum? Kalau semua yang diperjuangkan baik dan benar, Tuhan akan bantu dan untuk kemuliaan Nama-Nyalah itu akan terjadi. Tapi masalahnya banyak anak Tuhan berhenti baru di tahap pertama, udah ngeri duluan, udah ciut ati duluan, tidak siap terjang. Padahal iblis cuma ngaum-ngaum dengan gigi ompong, kok kita takut…takut itu justru musuh besar iman. Heheh…kayaknya saya nulis ini sambil geregetan karena percakapan yang saya dapatkan berulang kali dengan murid-murid yang modelnya seperti di atas. Saya ingin bangkitin iman, seriously! Saya gak mau anak Tuhan loyo dan mudah mundur digertak iblis.

Ada yang bilang berarti kalau kita begitu artinya ‘memaksakan kehendak.’ Saya bilang, apakah kita mau ‘nrimo’ dengan keadaan buruk yang diperhadapkan kepada kita tiap kali? Sebab iblis pasti ngasihnya buruk, ecek-ecek, yang terjelek dan tidak layak supaya anak-anak Tuhan tidak jadi kesaksian. Firman Tuhan bilang agar kita MEMINTA, MENCARI, MENGETOK, jadi kita yang melakukan dan Tuhan yang melihat iman kita akan menganugerahi upaya kesungguhan kita dengan berkat-berkat lewat iman kepada-Nya.

Tuhan juga berkata dengan kesedihan, “Jika Aku datang kedua kalinya nanti akankah Kudapati iman di bumi?” Ini bagi saya merupakan tantangan, kita kudu beriman, kita kudu percaya kepada-Nya. Lalu jika kita hanya ‘nrimo’ apa gunanya Tuhan nanya begituan? Apa fungsi iman, then? Iman khan bukti dari segala sesuatu yang kita harapkan dan yang belum kita lihat,… Apakah kita mengharapkan yang buruk? Kalau ‘nrimo’ berarti sudah ada di depan mata, gak usah diIMANi, dang.

Bertahun-tahun saya berjalan dengan iman kepada Tuhan yang sangat bisa saya percayai. Saya tidak mau menyerah sampai mentok dan tahu bahwa ada yang bukan kehendak Tuhan. Tapi sebelum saya mencobanya, saya akan terus fight. Ada yang saya tahu bukan bagian saya, ada yang saya tahu bisa dicapai walaupun mustahil. Semua kisah sudah saya bukukan dengan detil, dan orang membaca, terheran-heran, belajar, tapi masih saja kalah saat diperhadapkan dengan perjuangan, mudah menyerah, mudah ngeluh, letoy.

Dunia selalu mengajarkan: Menjagai KEMUNGKINAN TERBURUKNYA.

Markus 11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

“Telah menerimanya!” Jadi saat berdoa, imagining dalam roh bahwa engkau “telah menerimanya,” maka itu AKAN diberikan kepadamu. You have to imagine in your mind and receive in your heart. Kata AKAN juga harus diperhatikan. Kata tersebut menuntut kita untuk BERHARAP DENGAN KEYAKINAN bahwa kita sudah-akan menerimanya. Seperti jika Saudara ke dokter, dikasih resep, diminum, meyakini obat anjuran dokter tokcer tersebut pasti nantinya akan menyembuhkan. Tapi khan Saudara harus nunggu proses obat tersebut merasuk menunaikan tugasnya dulu. Dokter Yesus dan ayatnya tokcer, tapi proses kesaktian itu ditentukan oleh kepercayaan iman Saudara. Get it?!

Go and have faith in Jesus.