Minggu lalu dalam perjalanan naik pesawat, ada delay sekitar 20 menit. Saya tahu pastilah pengumumannya seperti biasa “alasan operasional.” Tetapi pikiran saya kali ini tidak senaif dulu-dulu, dan saya sudah merenungkannya beberapa tahun terakhir, bahwa penumpang tidak perlu diberi alasan detil mengenai ban yang hampir copot, baut yang melayang satu ketika di udara, atau kipas pengatur pergerakan apanya itu keropos dan harus diganti oleh teknisinya, atau saluran air di toiletnya ngucur kemana-mana, atau pintu di sebelah pilot sudah karatan dan gak bisa ditutup – well, untuk bicara sampai keekstrimannya, tho! Yang saya tahu pokoknya kami harus sampai dengan selamat, sekalipun terlambat. Itu pasti pedoman perusahaan penerbangan, sumpah pilot, dan penjagaan nyawa penumpang, serta penjunjungan kedaulatan negara yang beradab. Jangan sampai gara-gara mengikuti rengekan semua penumpang yang wajahnya sudah seperti durian, maka dengan alasan operasional yang masih belum beres kami semua diterbangkan dan sama-sama menukik di gunung batu Tentena Selatan dekat Beteleme dan nyebrang lagi ke arah jajaran pegunungan Kolonodale.

Kita hidup di bawah, di antara, di tengah-tengah otoritas di manapun kita berada. Mereka memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan yang kita tidak mengerti dan buta – ambil saja contoh pesawat, mana saya tahu istilah-istilah yang dipakai dalam penerbangan. Tetapi jika sebagai penumpang saya naif dan mempertanyakan kenapa selalu saja dari dulu pesawat delay dan alasannya operasional melulu sih, lalu serudug meja counter check-in dengan kepala duluan seperti kambing Ramadhan dan teriak-teriak dengan cara saya dan pikiran saya sendiri, tentulah saya diperhitungkan sebagai orang bodoh bin gilak yang mempermalukan diri sendiri atau tidak punya malu.

Akhirnya saya juga berpikir bahwa Tuhan punya otoritas atas kehidupan kita dan saat Dia tidak menjawab kita menurut waktu deadline kita, atau tidak memberikan alasan-alasan detil selain “alasan operasional” itu, kita tidak perlu mempertanyakan kedaulatan Tuhan YME. Membaca dari ayat-ayat di bawah ini, saya agak bingung juga dulunya kenapa tuan itu tidak mengkoreksi hamba yang malas dan jahat itu selain langsung melemparkannya ke tempat yang layak baginya?

Matius 25:24-30

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Seorang atasan akan tahu mengapa penjelasan detil tidak perlu diberikan kepada hamba yang malas dan tak berguna itu, karena apapun yang diberikan kepadanya, ia akan selalu bersikap negatif terhadap tuannya. Pada akhirnya adalah tidak penting untuk menjelaskan apapun kepada hanya satu ini, sebab yang lain juga tidak perlu penjelasan tetapi hanya modal percaya. Tetapi yang terus menerus negatif biasanya berbuntutkan negatif, sebagaimana Daud mengatakan bahwa dari yang fasik keluar kefasikan. Juga Tuhan pernah bilang sama Nabi Selvaraj bahwa tidaklah mungkin mengharapkan buah yang manis dari pohon yang selalu menghasilkan buah yang asam. Ini sama dengan perkataan Yesus mengenai pohon tertentu itu.

Saya berpikir bahwa anak Tuhan banyak kali mempertanyakan kedaulatan Tuhan sampai dia menimbun celakanya sendiri dengan tidak mengerjakan tugas-tugas panggilan yang Tuhan berikan kepadanya. Padahal setiap kita diberikan “talenta” sangat mahal dan mulia untuk tugas-tugas besar, tetapi kita menyembunyikannya dan mengerjakan tugas-tugas lain yang lebih ringan yang menurut kita aman dan tidak harus melibatkan Tuhan yang tidak memberikan uraian detil sesuai kemauan kita. Entahlah sudah berapa banyak kali saya meratap jika melihat anak Tuhan yang selalu merengek dan tidak mempercayai Tuhan atau membangkitkan iman dan hanya bermain di “kolam dangkal” saja. Mereka tidak mempercayai suara Tuhan lewat otoritasnya dan maunya Tuhan sendiri yang langsung berbicara – padahal Tuhan pun memakai sistem otorisasi.

Pada saat saya mempertanyakan orang tua saya atas nama kakak-adik saya (walaupun di dalamnya saya juga punya kepentingan tinggi), ayah saya menjawab sambil melayangkan pandangan kosongnya ke langit-langit dan berkata: “Kami sebagai orang tua sudah melakukan yang terbaik menurut kekuatan kami untuk membesarkan kalian selama bertahun-tahun sampai kalian sudah keluar semua dan sukses, tapi hanya karena kesalahan kami yang di pandangan mata kalian salah, kalian menghapus semua kebaikan dan usaha yang telah kami lakukan dengan jerih payah kepada kalian….” Mendengar pernyataan ayah saya itu, saya seperti ditampar wajan panas sekaligus disambar geledek bertubi-tubi – betapa durhakanya saya ini sebagai anak. Penilaian saya atas “kesalahan/kekeliruan” mereka belum tentu benar, karena itu hanyalah menurut ukuran dan penghakiman saya yang tidak mengerti sejauh apa orang tua telah memperhitungkan.

Otoritas adalah payung rohani yang kelihatannya tidak nampak tetapi bekerjanya sangat kuat. Jika kita keluar dari payung itu, maka kita kehujanan – walaupun banyak orang yang tidak taat berpikir bahwa kehujanan tidaklah parah waktu kena air, sampai besoknya ia merasakan badan panas, menggigil, tulang ngilu, tidak bisa bekerja, tidak pingin makan, muntah-muntah dsb. Ketaatan adalah prinsip Tuhan, sedangkan pemberontakan adalah prinsip iblis (Watchman Nee) – baik berontak terang-terangan, atau dalam hati, atau dengan berbagai tipu dan alasan yang nampak kudus (seperti Saul dengan menyisihkan lembu dan domba jantan untuk korban bakaran.) Sehingga dengan mudah kita memberikan akses kepada iblis untuk menghancurkan hidup kita, karena kita berada di sisi prinsip-prinsipnya.

Yeh 36:26 memberikan remedy untuk berbalik dari hati yang berontak. Di bawah ini beberapa steps agar kita diberkati dan berada dalam payung rohani yang benar:

1. Meminta roh ketaatan (dan ketenangan serta kepercayaan untuk menyertainya)
2. Belajar tunduk
2. Belajar menjadi wakil kekuasaan

Dengan benar-benar menerima keputusan otoritas di bandara dan menyadari bahwa pengetahuan saya mengenai alasan operasional itu sama sekali belum sampai, maka saya akan tenang. Tetapi saat saya berusaha untuk melawan dan memberikan alasan jam keberangkatan saya sendiri, maka saya gagal untuk mengenal otoritas. Sekalipun saya tidak mengerti mengapa dan kenapa bahkan otoritas tidak pernah muncul tapi selalu menggunakan anak buahnya untuk pakai mikrofon, saya tidak harus melawan anak buah, karena dia juga tidak mendapatkan detail di balik alasan operasional – bodohlah saya jika saya menendang si anak buah dan memaki-makinya, seperti yang pernah saya lihat di bandara.

Saat saya tunduk dan tenang, saya membaca buku, membuka laptop, mengerjakan pekerjaan yang masih menjulang, membuka Sabda, saya mendapatkan banyak hal dan menyelesaikan beberapa hal. Saya tetap pada urusan saya sementara mendoakan dan menanti agar otoritas menyelesaikan “alasan operasional” dengan sempurna, sampai kami semua diberangkatkan dan tiba dengan aman. Saya mengurangi tingkat stress, saya damai dengan semua organ tubuh dan manusia roh saya, saya sehat dan bersukacita sepanjang penerbangan kembali ke Jakarta. Itulah sekilas pengenalan otoritas dan ketundukan saya terhadap “alasan operasional” yang mungkin sampai akhir jaman saya tidak perlu tahu dan tidak harus mempertanyakan dan tidak akan dibukakan. Kebaikannya hanyalah untuk saya – sebab saya tahu bahwa terhadap semua bidang apapun di dunia ini, pengenalan akan otoritas akan memampukan kita untuk berjalan dalam damai dan berkat ilahi, dan mungkin berkat-berkat lainnya yang akan dibukakan saat kita telah melewati pengenalan baik akan “alasan-alasan operasional” yang bahkan tidak masuk akal sekalipun.

Enjoy every “alasan operasional” yang diberikan kepadamu oleh otoritas-otoritasmu.
Catatan untuk para pemegang otoritas: Jangan mempergunakan tulisan ini sebagai alat agar mereka yang di bawahmu tunduk kepadamu. Jaga kemurnian hati, hindari manipulasi.