Kuasa datangnya dari Tuhan, itu sebabnya Kekuasaan pastilah datang dari sumber yang sama. Jika kita mengerti prinsip ini, maka kita tidak akan memandang orangnya, tetapi di mana pun kita ditempatkan kita akan mencari kekuasaan, kita akan tunduk di bawah kekuasaan – tidak peduli orangnya sesuai dengan kemauan kita atau tidak. Tidak peduli wakil kekuasaannya menyebalkan, menjengkelkan, tidak menjadi contoh, kata-katanya tidak cocok, kelakuannya tidak pantas, dsb. Sebab kita tidak berurusan dengan orang, tetapi dengan penempatan kekuasaan yang diberikan Tuhan.

Melanjutkan bahasan minggu lalu tentang raja yang otoritas alam rohnya di bawah para hamba Tuhan, kita akan membaca di bawah ini seorang raja yang juga menanyai nabi sebelum maju berperang.

2 Tawarikh 18:3-7 – Berkatalah Ahab, raja Israel, kepada Yosafat, raja Yehuda: “Maukah engkau pergi ke Ramot-Gilead bersama-sama aku?” Jawabnya kepadanya: “Kita sama-sama, aku dan engkau, rakyatmu dan rakyatku, aku akan bersama-sama engkau di dalam perang.”
Tetapi Yosafat berkata kepada raja Israel: “Baiklah tanyakan dahulu firman TUHAN.”
Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, empat ratus orang banyaknya, kemudian bertanyalah ia kepada mereka: “Apakah kami boleh pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?” Jawab mereka: “Majulah! Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.”
Tetapi Yosafat bertanya: “Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?”
Jawab raja Israel kepada Yosafat: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan selalu malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.” Kata Yosafat: “Janganlah raja berkata demikian.”

Ketika seorang tidak menghargai Tuhan, ia juga tidak bisa menghargai kekuasaan dengan benar. Raja Ahab memiliki sikap hati yang sangat berlawanan dengan raja Yosafat. Jika kita membaca kisah hidup mereka, tahulah kita bahwa orang yang tidak menghargai kekuasaan adalah orang yang hidupnya memang tidak menghargai Tuhan. Jadi saat ia bertanya kepada nabi Tuhan tapi tidak cocok dengan kemauannya, ia akan marah dan menjebloskan nabi Tuhan ke dalam penjara, seperti kisah yang kita angkat minggu lalu. Mereka-mereka yang berbuat sesukanya adalah orang yang tidak suka ditegur; mereka tidak mengerti prinsip kekuasaan.

Akhir dari kisah ini sangatlah mengenaskan – karena Ahab tidak mau mendengarkan wakil kekuasaan, dan sudah merencanakan rancangannya sendiri, maka ia mati di medan pertempuran tanpa COVERING/TUDUNG dari Tuhan. Orang yang melawan wakil kekuasaan membuka dirinya terhadap serangan musuh, sebab ia tidak memberikan diri ada di bawah perlindungan Tuhan. Jika kita membaca sejarah raja-raja seperti ini, nampaknya biasa dan mudah disepelekan, sebab kisahnya beruntun dan sudah biasa buat raja-raja mati dalam peperangan. Tetapi tidaklah demikian halnya, sebab kita akan sangat mendapatkan manfaat pelajaran yang berarti, bagaimana mereka yang tidak sungguh-sungguh hatinya kepada Tuhan dan wakil kekuasaan, mereka mati dengan cara yang tidak bijak. Kematiannya ditentukan oleh perbuatannya dan ketidakpercayaan kepada Tuhan dan wakil kekuasaan.

2 Tawarikh 18:25-27, 31-34 – Berkatalah raja Israel: “Tangkaplah Mikha, bawa dia kembali kepada Amon, penguasa kota, dan kepada Yoas, anak raja,
dan katakan: Beginilah titah raja: Masukkan orang ini dalam penjara dan beri dia makan roti dan minum air serba sedikit sampai aku pulang dengan selamat.”
Tetapi jawab Mikha: “Jika benar-benar engkau pulang dengan selamat, tentulah TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku!” Lalu disambungnya: “Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian!”
Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat Yosafat, mereka berkata: “Itu raja Israel!” Lalu mereka mengepung dia, untuk menyerang dia, tetapi Yosafat berteriak dan TUHAN menolongnya. Allah membujuk mereka pergi dari padanya.
Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat, bahwa dia bukanlah raja Israel, maka undurlah mereka dari padanya.
Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja, dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: “Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.”
Tetapi pertempuran itu bertambah seru pada hari itu, dan raja Israel tetap berdiri di dalam kereta berhadapan dengan orang Aram itu sampai petang. Ia mati ketika matahari terbenam.

Pemanah sembarangan? Allah membujuk mereka untuk meninggalkan raja yang mendengarkan wakil kekuasaan, tetapi Dia juga yang mengirimkan pemanah “sembarangan” untuk menancapkan panahnya tepat di stopping point tubuh Ahab – di sanalah ia mati dalam kebebalannya. Seandainya egonya tidak menahannya untuk melawan wakil kekuasaan, seandainya dia mengundurkan diri dari niatnya, seandainya dia merendahkan hati dan berkata, “Baiklah, seburuk-buruknya nasihatmu, aku akan tetap percaya,” pastilah ia tidak mati dengan cara bebal.

Sebab orang yang hatinya buruk biasanya sulit untuk bisa percaya kepada wakil kekuasaan; tetapi sebaliknya, orang yang percaya wakil kekuasaan, perkataan wakil kekuasaan seburuk apa pun, dia tetap percaya dan tidak berpikir itu buruk. Saya menghadapi 2 kelompok orang ini, persis pikiran dan tindakannya seperti yang saya ungkapkan. Yang percaya kepada saya, apa pun yang saya katakan tidak ada unsur negatifnya di telinga dan hati mereka; tetapi kelompok satunya, walaupun tidak ada unsur negatif, tetapi mereka bisa membuatnya sedemikian negatif. This is so sad. Hati mereka sudah dipenuhi dengan unsur ketidakpercayaan, sehingga apa pun perintahnya, apa pun Firmannya, selalu diputarbalikkan dan menjadi kesesatan bagi diri mereka sendiri.

Raja Ahab selalu berpikir bahwa nabi Mikha selalu menubuatkan yang buruk – padahal semuanya adalah Firman dan penjagaan bagi dirinya, sebab sang nabi menjaga jiwanya. Tetapi keburukan hatinya selalu melihat kenegatifan dari Firman dan perintah dan penjagaan. Ia mati dengan ngenas, darahnya dijilati anjing, dia tidak termasuk bilangan raja-raja yang dihormati dalam sejarah israel tetapi sebaliknya, hujatan dan celaan. Namanya selalu dikaitkan dengan pemberontakan.

Satu lagi, kita belajar dari sejarah yang dapat menolong kita terhindar dari penyesatan akhir jaman. Betapa pentingnya mengenal wakil kekuasaan di mana pun kita ditempatkan. Buruk atau negatif kedengarannya di telinga Anda yang memang hatinya masih negatif, belajarlah diam dan berdoa, lalu mencoba melihat dari sisi positif. Anda-Anda yang juga wakil kekuasaan, tentu tidak ingin menuai apa yang Anda tabur dalam kesesatan dan kebodohan. Selesaikan, bereskan hatimu dengan wakil kekuasaanmu, maka berkat Tuhan tidak akan terhambat.