Di dalam Alkitab ada 2 jenis kemarahan, atau mungkin lebih.
1. Tidak boleh marah.
2. Harus marah.
Alkitab banyak menuliskan hal-hal yang jika kita jeli, maka bisa bingung, sebagaimana banyak orang Kedar memelintir ayat-ayat dan menggunakannya untuk menyerang kekristenan kita.
Misalnya mengenai orang bebal, jangan menjawab orang bebal menurut kebebalannya, tapi ayat lain mengatakan jawablah orang bebal menurut kebebalannya… ada lagi ayat lainnya yang mengatakan jangan mengharapkan manusia, tetapi ada yang memilih/berpegang kepada ayat meminta pinjaman kepada manusia, karena Firman Tuhan bilang bahwa jika saudaramu mau meminjam dan engkau tidak memberikan sementara yang dibutuhkannya ada padamu,… nah itu jika tidak dibaca baik-baik konteksnya dan lanjutan kalimatnya, kita akan berpikir penulisnya yang bingung atau kita yang perlu ganti kacamata. Tergantung hati dan kepercayaan kita kepada Tuhan sekuat apa, mau beriman dan berharap kepada Tuhan saja atau tetap mau pinjam kepada manusia dan terus punya mental pengemis?
Kali ini saya ingin membahas kata penting dalam Firman Tuhan, yang jika tidak dipelajari kita akan masuk dalam perangkap dan tidak sampai pada tujuan panggilan.
1. Kita tidak boleh marah melebihi matahari terbenam. Ini aturan kemarahan yang baik. Maksudnya tidak boleh menyimpan kemarahan atau bermarah-marah seharian atau sebulanan. Sebab ditemukan bahwa marah 5 menit melumpuhkan sistem kerja syaraf selama 6 jam! Kalau marahnya seharian, jadinya berapa hari donk sistem kekebalan tubuh lumpuh? Makanya banyak orang sakit dan stress gara-gara marah, dan karena sakit, tambah stress dan marah… itu gak berujung! Pendeknya, amarah itu menyengsarakan dan menumpuk penyakit.
1. Tidak boleh marah dalam keadaan marah. Hmm,… well, sebab jika kita sedang emosi dan melampiaskannya dalam bentuk kemarahan, maka:
-Kata-kata kita akan ceroboh.
-Akan mengambil keputusan yang kita sesali selamanya.
-Tidak masuk “tanah perjanjian” seperti Musa.
Saat Musa marah (walaupun marah adalah wajar), tetapi saat maah dan melampiaskan kemarahan, maka Musa menjadi berdosa di hadapan Tuhan karena ia melanggar kekudusan Tuhan.
Bilangan 20:2-12
Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun,
dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!
Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?
Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?”
Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.
TUHAN berfirman kepada Musa:
“Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”
Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”
Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”
Marah yang demikian ini biasanya karena menghadapi pekerjaan atau perbuatan orang-orang dengan jenis yang sama dan kesalahan yang serupa. Saya menulis ini karena juga mengingatkan diriku untuk tidak mengungkapkan kemarahan disaat marah. Musa pastinya jengkel dan kesal hati menghadapi bangsa Israel yang merengek dan banyak sungutannya, sehingga hari demi hari dia marah dan jengkel. Sampai pada akhirnya, saat sudah numpuk, dia punya alasan untuk benar-benar melampiaskan amarahnya, dan kemarahannya merupakan dosa amarah yang berkaitan dengan pelanggaran perintah Tuhan. Ini jadinya fatal.
Mungkin hal-hal tersebut tidak disangka tidak bisa dihindari, karena setiap hari tentunya berhadapan dengan banyaknya sungutan orang, pastilah ada saja yang harus dimarahi. Tetapi bagaimana belajar dari kemarahan Musa yang tidak diperbolehkan ini agar kita sampai ke ‘tanah perjanjian’ tanpa harus terperangkap orang-orang di sekitar kita yang kerjaannya kacau dan bisa bikin kita memuncak?!
Lalu kira-kira kiat apakah untuk menghindari luapan amarah saat marah dan tidak boleh diluapkan?
1. Berdiam diri
2. Tenang supaya bisa berdoa
3. Dan mendapatkan jawaban hikmat bagaimana menjawab masalah, bagaimana menghadapi atau menyelesaikan masalah tsb.
4. Tidak bicara/marah saat keadaan masih memuncak panas. Tunggu cool down.
5. Tunggu lagi sampai mendapatkan jawaban yang baik, (sekalipun harus mendisiplin tetapi dengan kepala dingin); kemudian luncurkan ‘kemarahan’ tanpa emosi.
2. Harus marah.
Waktu Imam Eli mendengar kabar mengenai anak-anaknya yang berandalan, mereka tidur dengan penjaga bait suci, mereka menyuruh bujangnya untuk mengambil daging saat ada persembahan yang dibakar dan belum selesai… maka Imam Eli ini hanya bicara “baik-baik” tanpa marah. Sehingga ini dipandang sangat buruk di hadapan Tuhan, dan Tuhan menegurnya dengan keras karena Imam Eli TIDAK MEMARAHI ANAKNYA! Teguran Tuhan sangat keras, sehingga anak-anaknya mati, ia sendiri mati, menantunya mati, kemuliaan Tuhan hilang bersamaan dengan dirampasnya tabut Tuhan oleh orang Filistin.
1 Samuel 2:22-25
Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,
berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu?
Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.
Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.
Jadi, jika kita ini berusaha jadi ‘orang baik’ dan tidak memarahi anak-anak kita, maka kita akan menanggung akibat dari ketidakmarahan bin kebaikan kita itu. Ternyata kedua sangsi kemarahan dan ketidakmarahan sangatlah membahayakan!
Lalu, bagaimana seharusnya marah yang benar? Lagi, jawabannya adalah idem dengan jawaban sebelumnya. Sebab jika kita marah saat marah, maka emosilah yang ‘berbicara’ dan akibatnya fatal juga. Jadi, boleh dan harus marah, tetapi setelah:
1. Berdiam diri
2. Tenang supaya bisa berdoa
3. Dan mendapatkan jawaban hikmat bagaimana menjawab masalah, bagaimana menghadapi atau menyelesaikan masalah tsb.
4. Tidak bicara/marah saat keadaan masih memuncak panas. Tunggu cool down.
5. Tunggu lagi sampai mendapatkan jawaban yang baik, (sekalipun harus mendisiplin tetapi dengan kepala dingin); kemudian luncurkan ‘kemarahan’ tanpa emosi.
Seringkali saya berkata dalam sesi-sesi seminar atau khotbah saya bahwa setan tidak bisa keluarkan setan. Saat emosi melanda, bisa jadi ada ‘setannya’, jadi saat ‘kesetanan’ kita gak bisa marah dan ngusir orang yang kesetanan juga. Jadi kita harus cool down, tenang sampai kita dapat hikmat Tuhan bagaimana seharusnya marah ilahi.
Ini sekelumit pelajaran berharga agar kita marah pada tempat dan waktunya. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan fatal. Karena setiap hari kita diperhadapkan dengan hal-hal yang bisa membuat kita esmos, itu sebabnya berhati-hatilah saat engkau marah, jadilah tenang dan berdoalah sebelum marah.
Hidup marah ilahi!!!
Mantap bu.. Salam kenal.. Gbu :)