Hidup di dunia dengan mata jasmani yang melihat dan dengan telinga yang mendengar, tidaklah begitu mudah untuk hidup dipimpin Roh. Itu sebabnya berulang kali Firman Tuhan menulis dan memberikan peringatan: Barang siapa bertelinga hendaklah ia mendengar. Rupanya banyak telinga yang tidak mendengar Firman! Juga ada dikatakan, dengan ukuran yang kamu pakai, akan diukurkan kepadamu, barangsiapa mempunyai telinga… ukuran ditentukan dari pendengaran.
Itu sebabnya hanya segelintir pahlawan iman dari generasi ke generasi sampai saat ini, karena untuk melihat dengan mata iman tidaklah mudah. Ini memerlukan latihan terus menerus hidup dalam Roh dan melihat dengan mata rohani. Diperlukan perenungan Firman yang sungguh-sungguh dan menghindarkan diri dari pengaruh dunia dan kecemarannya. Mata dan telinga rohani sangat mudah tercemar ketika kita membiarkan keduanya terbuka terhadap dunia. Dunia akan memberondong memberikan semua informasi sampah yang mengotori manusia roh kita, dan jadinya kalah karena sampah itu bukan pupuk yang baik. Pupuk roh adalah Firman.
Membaca lagi, dengan tidak jemu pelajaran bangsa Israel yang meraung karena mendengar informasi negatif oleh sebagian besar informan dan mata-mata Israel yang hidupnya keduniawian bin kedagingan – ini memberi pelajaran kepada kita bahwa kabar negatif dan pikiran negatif begitu lalu lalang dan mudahnya masuk ke telinga dan hati kita. Mari kita baca dengan jeli sebelum saya melanjutkan dengan keterangan dan aplikasi buat kita yang hidup di generasi sekarang.
Bilangan 13:25-33 – Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu,
dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu.
Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya.
Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.
Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.”
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”
Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”
Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.
Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”
Bilangan 14:1-12 – Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.
Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!
Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”
Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.”
Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.
Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,
dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.
Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”
Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.
TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!
Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka.”
Bukankah raungan mereka mewakili banyaknya anak Tuhan masa kini? Apalagi hari-hari ini semakin marak keduniawiannya dan penyesatannya. Keadaan dunia makin memburuk walaupun secara kasat mata nampaknya makin menggiurkan. Ini penyesatan! Dunia sesat, penuh nafsu, kedagingan, dosa dan kejahatan. Dan jika anak Tuhan melihat dengan mata jasmani, maka mereka mudah tersesat.
Mereka lebih suka diperbudak dunia (Mesir), mereka tidak suka kebebasan dari Tuhan untuk dijadikan bangsa yang mandiri, yang membawa terang kemuliaan dan Tuhan sendiri yang jadi Tuan mereka. Mereka masih juga tidak bisa melihat dengan mata rohani cara pembebasan mereka keluar dibimbing tangan perkasa, dengan ditimpakan 10 tulah dahsyat, dengan membelah laut merah, dengan memberi makan sebegitu banyak umat dan diberi penerangan raksasa ajaib di padang gurun setiap hari. Masih saja mereka melihat dengan mata jasmani!
Mereka tidak siap untuk memasuki level kenaikan roh. Bahasa mereka sangat keduniawian,… mengapa tidak mati saja di sini? Perbudakan dan Kematian adalah bahasa mereka. Persis dengan banyaknya anak Tuhan – perceraian dan kebangkrutan/kegagalan/keluar/menyingkir adalah vocabulary mereka jika merasa tidak ada jalan keluar. Mereka tidak melihat dengan mata rohani! Mereka ditelan mata jasmani, ditelan dunia, ditelan roh-roh setan. Mereka kalah dengan hidup, kalah karena tidak membiasakan diri melihat dengan mata rohani.
Tetapi berbeda dengan Kaleb dan Yosua.
Mari kita selidiki kekuatan apa yang membuat kedua orang ini berbeda rohnya. Yosua tentunya karena banyak menghamba, duduk dengan tuannya, cuman menjagai in case butuh-butuh. Dia setia, tidak neko-neko, tidak punya agenda pribadi, tapi Tuhanlah yang akhirnya membuatkan agenda besar kepadanya! Kosong!!!
Sementara pemimpin-pemimpin lainnya “isi” penuh dengan ambisi, dan mereka menantang-nantang Musa, mereka meninggikan diri, dan akhirnya mereka mati ditelan bumi. Yosua, tenang, duduk-duduk dan doa, “Yes, Sir!” boy, dan Tuhan memilih ini anak jadi orang besar karena berawal dari tempat yang rendah.
Saya banyak mengamati anak muda yang ambisi disertai tinggi hati. Sulit mendengar teguran, sulit diatur, sukanya ngatur diri, meninggikan diri atas nama visi, maunya tampil, tidak senang ‘disenggol’ karena merasa sudah tahu dan sudah bisa, tidak mau terlibat sistem, tidak suka diberi aturan. Semua yang dari otoritas dianggap mengekang, membatasi, pikirannya selalu negatif, gelagat-gelagatnya menghindari. Ini adalah benih yang tidak baik untuk pertumbuhan roh mereka. Roh demikian tidak membawa mereka ke tempat yang tinggi dengan sempurna, karena bahan dasarnya tidak murni, sakit hati, negatif, itu sebabnya dasarnya mudah rapuh.
Yosua percaya kepada tuannya, Yosua tenang dan tidak menggerutu. Ia luar biasa. Bersama Kaleb mereka membela Tuhan dan bangsa, tetapi bangsa yang besar itu mengangkat batu saat mendengar kepositifan mereka. Itu aneh, tapi memang yang lahir dari dunia selalu ingin menghancurkan yang dari roh – itu sangat bisa dimengerti, karena Firman Tuhan mengatakan demikian.
Saya tidak tahu dari mana Kaleb berasal, tetapi roh yang demikian pastilah tidak jauh dari sumbernya, dia pasti dekat dengan Yosua dan Musa. Kita akan mengetahui sikap dan perkataan orang dari tempat mana dia berasal, atau siapa teman-temannya bergaul, buku atau berita apa yang dibacanya, – itu tidak dapat dipungkiri. Deep calls unto deep. Demikian juga dengan kedangkalan,… akan mengundang kedangkalan.
Tetapi, ada juga orang yang bergaul dengan orang bijak tidak juga menjadi bijak,… nah pembahasan ini ada topiknya sendiri. Tetapi ini adalah pengecualian dan kita juga bisa selidiki sumber yang ia ambil dari mana di jam-jam penting dan istirahatnya: apakah dunia, koran, internet secara luas, ataukah Firman.
Kiranya kita diberkati dengan perbedaan melihat dengan pandangan jasmani dan roh; dan marilah kita kuatkan panca indera rohani kita untuk melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan lewat hidup Saudara, untuk bisa memiliki roh Kaleb dan Yosua.
Leave A Comment