Ayat-ayat di bawah ini menceritakan tentang kalau jaman sekarang disebut sebagai pendeta. Jaman itu imam, karena dia dari suku Lewi, keturunan imam Harun. Pendeta Lewi ini diangkat oleh seorang bernama Mikha untuk menjadi imamnya saat dia berkeliling mencari ‘kehendak Tuhan.’ Dia ditawarkan untuk menjadi imam dalam keluarga Mikha dengan uang pengganti 10 perak setahun dan sepasang baju. Tapi suatu hari bani Dan datang dan merampas barang dan patung-patung dari rumah Mikha di mana di pendeta ini diam. Inilah percakapan konyol mereka:

Hakim-hakim 18:15-20 (TB) Kemudian mereka menuju ke tempat itu, lalu sampai di rumah orang muda suku Lewi itu, di rumah Mikha, dan menanyakan apakah ia selamat.
Sementara keenam ratus orang dari bani Dan yang diperlengkapi dengan senjata itu tinggal berdiri di pintu gerbang,
maka kelima orang yang telah pergi mengintai negeri itu berjalan terus, masuk ke dalam lalu mengambil patung pahatan, efod, terafim dan patung tuangan itu. Adapun imam itu berdiri di pintu gerbang bersama-sama dengan keenam ratus orang yang diperlengkapi dengan senjata itu.
Tetapi, setelah yang lain-lain itu masuk ke dalam rumah Mikha dan mengambil patung pahatan, efod, terafim dan patung tuangan itu, berkatalah imam itu kepada mereka: “Berbuat apakah kamu ini?”
Tetapi jawab mereka kepadanya: “Diamlah, tutup mulut, ikutlah kami dan jadilah bapak dan imam kami. Apakah yang lebih baik bagimu: menjadi imam untuk seisi rumah satu orang atau menjadi imam untuk suatu suku dan kaum di antara orang Israel?”
Maka gembiralah hati imam itu, diambilnyalah efod, terafim dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak.

Yang lucu adalah ayat terakhir: “Maka gembiralah hati imam itu” —
Karena apa? Karena dia diangkat menjadi imam banyak orang dibanding imam hanya untuk satu keluarga. Tapi si pendeta ini rupanya bisa dibeli statusnya, posisinya, upahnya, dan apa lagi yang sisa jika ia gembira karena tawaran-giuran jasmani begitu? Padahal jemaatnya adalah perampok, jadi persembahannya pastilah hasil-hasil rampokan. Mana lagi, mereka mampu membelinya, pastilah si pendeta gak bisa menggelontorkan total Firman kebenaran, karena ia akan takut, dan karena ia sudah melanggar hati nuraninya sendiri, tak mungkinlah dia akan bicara kebenaran, karena dia juga sudah tidak benar dan berkolaborasi dengan kegelapan.

Tanpa kita sadari seringkali kita diperhadapkan dengan tawaran jasmani yang mampu membeli integritas kita dengan pengganti uang, harta, kekayaan, keadaan yang lebih mapan, posisi yang nampak lebih tinggi dan baik, dsb.
Kisah ini mengingatkan kita pada nabi Bileam yang karena upah ia menanyakan Tuhan lagi apakah mengutuk bangsa pilihan Tuhan itu baik. Ini juga mirip dengan Yudas yang karena kebutuhan uang berani menjual Gurunya! Ini juga mirip dengan Ananias dan Safira yang demi prestige berani bersumpah bohong di depan pendeta Petrus yang diurapi.

Saya pernah diundang untuk melayani, yang akhirnya mereka meminta saya untuk “menjadi imam” mereka (this is leterlek, mereka benar-benar bilang begitu, yaitu jadi imam mereka). Saya berkata bahwa tidak perlu pakai judul imam, yang penting saya mengajar mereka, mendidik mereka. Dan karena mereka menawarkan begitu, pastilah mereka seperti Mikha atau suku Dan yang memilki uang berkarung-karung. Di sinilah ujian saya dan ujian mereka. Saya selalu terbang dengan uang saya, hotel pesan sendiri, uang PK saya tidak terima atau saya cemplungkan ke pelayanan bersama kami. Saya menyuarakan kebenaran total tanpa diskon, saya marahin mereka, saya didik mereka, saya bongkar mereka. Bertahun-tahun mereka menyadari saya tidak bisa dibeli dengan apa pun, dan mereka berkata: “Dia ini beda, gak ijo matanya.”

Itu dikatakan karena mereka sudah membeli banyak imam-imam yang akhirnya tidak bisa menyuarakan kebenaran, tetapi saat mereka bertemu dengan saya yang tidak bisa dibeli, barulah mereka siap dididik, diajar, dan saya tidak menahan kebenaran apa pun yang harus diajarkan kepada mereka. Mereka-mereka adalah konglomerat, orang-orang nomer satu di kotanya yang memegang bisnis utama.

Walaupun gereja besar dan memenangkan banyak jiwa merupakan salah satu tanda buah yang dihasilkan, tetapi itu bukanlah pertanda perkenanan Tuhan Justru buah Rohlah yang merupakan pertanda perkenanan Tuhan, sebab apalah artinya orang bisa memenangkan banyak jiwa tetapi jiwanya tidak diperbaharui untuk menjadi serupa Kristus? Tujuh gereja-gereja di Asia yang ditulis di Kitab Wahyu bukanlah gereja-gereja besar, dan Tuhan justru menghargai mereka di gereja kecil yang perjuangannya dengan kesungguhan hati.

Jadi jika kita hanya mau kelihatan wah dan nampak melayani banyak jiwa dibanding dengan integritas kita setia dalam melayani 1 keluarga seperti si imam yang bisa kebeli itu, maka kita sudah mati di dunia ini! Iman kita, roh kita terjual oleh dunia, kita sudah mati secara rohani. Itu adalah cara cepat/jalan toll untuk langsung mematikan pertumbuhan rohani di alam roh. Sebab imam ini menerima giuran dunia, menerima ‘posisi’ manusia, menerima imbalan yang lebih besar – dia bukan lagi melayani Tuhan tapi melayani manusia, dia mudah terbeli oleh uang.
Banyak sekali kejadian dan kasus seperti ini yang diperhadapkan kepada kita, walaupun dalam setting yang berbeda. Tetapi intinya apakah kita melanggar hati nurani kita saat kita bersedia untuk naik tingkat tapi menjatuhkan, membuang, menginjak orang lain?

Marilah kita menjaga hati nurani kita bersih di hadapan Tuhan; tidak goyah oleh giuran apa pun. Jaga hati dari keinginan akan posisi, ketamakan, pertukaran-pertukaran fana, ketidakmurnian dalam bekerja dan pelayanan. Kiranya kita berjalan dalam kebenaran dan kekudusan.

Tuhan Yesus memberkati rohmu.