Masih berlanjut topik menarik kita mengenai urapan Tuhan dan kerjasama kita sebagai penerima urapan itu. Saya sangat excited memandang ke depan lewat rahasia-rahasia yang Tuhan bukakan bagi kita bersama yang diurapi. Hidup dalam hari-hari akhir ini tidak bisa tidak disertai urapan; marilah kita terus mengejar, berlari, tanpa lelah sampai melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan.
Tidak banyak orang yang bisa menjadi wadah dari urapan dan memaksimalkan urapan itu sampai tuntas seperti Daud, a young shepherd.
1 Samuel 17:10-11, 17, 20, 22-24, 26, 28, 31-37, 40, 42-47 (TB) Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.” Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan. Isai berkata kepada Daud, anaknya: “Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu.
Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya. Sampailah ia ke perkemahan, ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang.
Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat. Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud mendengarnya. Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan.
Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.”
Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia. Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.” Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”
Tidak banyak orang menyadari bahwa dirinyalah yang menentukan masa depannya, — di luar urapan Tuhan. Sebab sekalipun ada urapan, tapi kalau Saudara diam dan tidak bertindak, hanya menanti dan tidak melakukan practice, maka urapan dahsyat kenabian seperti yang Tuhan pernah percayakan kepada Saul pun juga sia-sia. Saul diurapi tetapi tidak menjaga urapan itu dan hidup dengan kepentingannya sendiri, takut manusia, alasan-alasan yang nampaknya masuk akal, maka Tuhan mencorengnya dari jabatan raja. Akhir hidupnya mempermalukan dirinya dan urapan Tuhan meninggalkannya; dia mencari dukun karena Tuhan sudah menjauh daripadanya, dan ia bunuh diri.
Ada banyak orang yang mengeluhkan orang lain atau atasannya dengan berkata sinis: “Dia gak percaya aku.” “Entah kenapa, dia kok gak percaya aku… padahal….” Ini pernyataan self-pity/mengasihani diri sendiri, dan benar-benar salah alamat. Seharusnya yang dipertanyakan adalah S A U D A R A, kenapa S-a-u-d-a-r-a belum bisa dipercaya LEBIH? Mudah sekali jika Saudara sebagai orang tua yang punya beberapa anak atau bisnismen yang punya beberapa karyawan – Saudara akan mempercayakan tugas-tugas besar perlahan dengan melihat kualitas anak atau karyawan seberapa besar ia dapat dipercaya. Jadi bukanlah tugas anak/karyawan yang mempertanyakan atasan atau orang tua, tetapi tugas Saudara yang menambahkan nilai kepercayaan/kapasitas dirimu untuk sampai ke jenjang bisa mendapatkan kepercayaan utuh/tinggi.
Pernyataan kesedihan, melankolik dan sinister seperti di atas sudahlah jelas salah alamat; dan jika terus menerus dipantunkan hanyalah akan memurukkan suasana dan menjauhkan Saudara dari kebangkitan jiwa dan penerimaan kepercayaan. Sebab orang yang melankolik tidak akan bisa membangkitkan jiwa untuk memberikan cheering kepada dirinya agar naik level. Hanya orang yang pro-active dan yang punya jiwa besarlah yang bisa menepuk dirinya untuk memandang ‘kebelum-totalan kepercayaan itu’ sebagai pecut untuknya mengusahakan kenaikkan nilai kepercayaan.
Melihat banyaknya staff, pelayan gereja, karyawan yang mengeluhkan kenapa gaji tidak naik, kenapa tidak dipercaya ini dan itu seperti yang lain, kenapa belum dikasih mimbar, kenapa gaji seret, — saya suka geleng-geleng. Mereka kalau kerja hanya untuk keuntungan sendiri, egois dan hanya bekerja sesuai job desk, bekerja tanpa hati dan bukan untuk kepentingan kebaikan perusahaan/gerejanya. Bagaimana yang seperti ini mau mendapatkan kenaikan gaji/jabatan/kepercayaan? Sering minta ijin dengan alasan tepat, minta maaf kalau tidak masuk karena alasan-alasan yang dibuat dan semua yang tidak diusahakan membela institusinya. Mereka lupa bahwa maaf maaf itu hanyalah menahannya dari kenaikan levelnya sendiri; alasan-alasan yang dibuatnya hanyalah membuat jarak untuk pengangkatannya. Kesalahan disembunyikan, tidak mengakui dan rendah hati minta maaf, sampai harus dipojokkan dan ditegur barulah dengan terpaksa menguak kesalahan. Mereka tidak sadar sebenarnya sedang mencuri dari kantong masa depannya sendiri – so sad.
Saya ini pekerja keras, selama bertahun-tahun melayani saya tidak digaji, tidak meminta gaji, dan mengembalikan pemberian-pemberian. Saya malah sering menabur besar-besaran – ini bukan kesombongan tetapi untuk menunjukkan bahwa saya diberkati Tuhan dan sering memberi dan berkorban untuk pelayanan. Saya tahu apa namanya kesombongan dan kebanggan sia-sia, dan saya tahu bagaimana securing berkat di Sorga untuk tidak memberitahu tangan kiri saat yang kanan memberi, sesuai Firman Tuhan. Saya bekerja, melayani, memberi, semuanya bertanggung jawab penuh kepada Tuhan – saya menggunakan waktu-waktu kerja saya dengan ketat, saya memperhitungkan semua/setiap pengeluaran waktu dengan hati-hati karena saya bekerja langsung di bawah Bos Besar. Secara kasat mata saya tidak menerima gaji, secara kasat mata account bank saya menggelikan, tapi saya sangat diberkati spiritually, saya bisa memberkati banyak sekali jiwa-jiwa dalam dan luar negeri. Murid-murid diberkati dan hidup mereka diubahkan, pembaca-pembaca sangat dinaikkan imannya dan makin teguh kepercayaannya kepada Tuhan karena membawa email-email saya, From Maq’s Heart yang tak pernah berhenti selama belasan tahun. Saya bekerja tanpa jemu jungkir balik untuk bisa mempersiapkan semua tulisan on schedule, saya menulis dengan hati dan menyajikan bukan yang ecek-ecek, zonder gaji, pembaca jarang sekali bilang terimakasih, tapi kalau karena listrik dan halangan perangkat terlambat tayang saya dikomplen. Kalau ada yang janggal saya dituding. Saya menguatkan murid di seluruh dunia dengan pengabdian, saya melayani tanpa minta imbalan – belasan tahun saya melakukannya dan tidak pernah minta apa pun, karena saya bekerja di bawah Bos Besar langsung.
Jika saya komplen, jika saya ngambek, jika saya membalas beberapa surat pembaca yang nimpukin saya, tentulah saya sendiri yang mencuri dari kantong masa depan saya sendiri. Saya berterimakasih kepada para complainers, mengirimkan doa dan paket-paket kasih, melayani mereka yang tidak tahu HUKUM SORGA. Sebab saya bukan membalas mereka jika saya melakukannya, tapi saya mencoreng masa depan alam roh saya sendiri jika saya emosi dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jarang orang yang mengerti hukum alam roh ini dan berjalan di dalamnya; kebanyakan orang Kristen hidup dengan cara dunia, dengan pembalasan dunia, dengan perlakuan dunia, emosi daging – dan akibatnya mereka sedang mengurangi kepercayaan Sorga untuk bisa menjadi wakil Sorga dengan urapan Sorga.
Kalau saya mengharapkan manusia dan meminta-minta atas jasa tulisan yang diurapi Sorga, maka saya sedang mencuri dari kantong sendiri untuk masa depan dan pengangkatan yang hanya Tuhan yang bisa melakukannya. Orang-orang lupa bahwa pengangkatan hanya datang dari Tuhan, bukan manusia. Sepintarnya manusia/dirinya memanipulasi keadaan, jika tidak murni, pengangkatan juga tidak mungkin terjadi – semua sistem di dunia ini hanya dikelola dari Sorga, dari Ruang Kudus Tuhan dan lewat permusyawaratan petinggi-petinggi kudus di alam roh yang nyata di sana. Itu sebabnya saya geli melihat orang berusaha meninggi-ninggikan diri, memanipulasi keadaan, berakal bulus, melayani untuk kepentingan diri mereka – mereka tidak mengenal sistem Sorga, mereka hidup dengan cara dunia, mereka sudah kalah di bumi, apalagi menerima kepercayaan Sorga untuk hidup di dunia baru seribu tahun damai nanti. Bagaimana bisa dipercaya kuasa kekal jika di bumi saja tidak bisa dipercaya dan melakukan pencurian-pencurian alam roh yang mencoreng dirinya dari kenaikan/kepercayaan kekal Sorga?
Marilah bersama di saat-saat dunia sedang genting-gentingnya ini, kita membawa perbedaan, menjadi terang, hidup dengan menyangkal diri, terus berlatih untuk memaksimalkan urapan. Di akhir jaman ini Tuhan ingin menggandakan lebih dahsyat kuasa-Nya lewat bejana-bejana yang kosong diri, yang hanya siap diisi kehendak-Nya, yang hanya melakukan kehendak Sorga dan bukan kepentingan diri sendiri. Saya rindu Saudara pembaca menjadi orang-orang yang bisa dipercaya Sorga dengan urapan ganda.
Leave A Comment