Pertobatan merupakan deklarasi di depan umum. Banyak orang berdosa malu mengaku dosanya, mereka maunya sembunyi-sembunyi – itu masih mempertahankan gengsi dan tinggi hati, artinya belum siap bertobat sungguh-sungguh. Di dalam Alkitab banyak kesaksian terbuka yang memperlihatkan kesungguhan petobat-petobat baru yang diselamatkan, dengan pengakuan di muka umum dan dibaptis di sungai terbuka, menandakan pembuangan dari keduniawian dan dosa-dosa.
Dalam Kisah 19:19 ada kisah mengenai pertobatan orang-orang penyihir, lalu ditulis di sana bahwa mereka menyerahkan buku-buku mereka dan membakarnya. Harga buku-buku tersebut sangat besar. Diperkirakan sebesar 25.000 shekel Yahudi, sebanyak upah 50.000 hari kerja. Dan karena banyaknya jumlah bukunya, maka mereka membakarnya dalam waktu yang lama dan dilihat orang banyak. Ini merupakan pembalikan sikap dan kejelasan pertobatan, bukan sekedar fenomena sesaat, sebab jika sudah bertobat dan membakar alat dosanya, maka tidaklah mungkin mereka mendapatkan kesempatan untuk kembali ke dosa lama, sebab semuanya sudah dihabiskan, tidak bisa menoleh ke belakang! Ini namanya pertobatan.
Kisah Para Rasul 19:18-20 Banyak di antara mereka yang telah menjadi percaya, datang dan mengaku di muka umum, bahwa mereka pernah turut melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu.
Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di depan mata semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak.
Dengan jalan ini makin tersiarlah firman Tuhan dan makin berkuasa.
Kalau Yudas Iskariot ada di sana pastilah dia akan mengeluarkan ide untuk orang-orang miskin. Tetapi pertobatan haruslah demikian, barang-barang yang melibatkan kehidupan lamanya harus dibakar atau dibuang, tidak dijadikan uang atau diberikan kepada Tuhan atau orang miskin jika Tuhan menghendaki.
Kalau anak muda jaman sekarang sudah bertobat tapi masih simpan link dosa, games dosa, masih mau pakai barang-barang dosa, bajakan-bajakan, simpan sms cinta lama, nomernya disembunyikan, perhiasannya disembunyikan – itu bukan pertobatan. Hatinya masih nempel di sana!
Saya digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengumpulkan barang-barang tumpasan seperti gambar-gambar disney dan semacamnya yang dipakai dan digemari oleh anak-anak di kelas pemuridan, yang faktanya dalam film-film dan buku-bukunya mengajarkan sihir dan kejahatan, keirian hati, kemarahan, kecurangan, pembodohan. Ada yang menyerang dengan mengatakan bahwa kita ini lebih dari pemenang, kuasa yang ada dalam kita lebih besar dari roh-roh itu sehingga barang tidak perlu dimusnahkan. Tetapi Firman Tuhan memberikan contoh agar kita tidak sayang kepada barang-barang, apalagi buku-buku yang mereka bakar jaman dulu sangat besar nilainya.
Benda-benda lain dari mantan pacar, emas-emasan dan sebagainya yang sekiranya bisa mengikat hati, atau sekalipun kita merasa tidak ada ikatan lagi, tetapi barang itu dahulu pernah attach di hati bersama dengan orangnya, maka saya juga telah menumpasnya, membuangnya, menguburkannya. Saya tidak sayang dengan betapa besar nilainya barang itu dibanding dengan mengosongkan diri hanya untuk tempat kediaman Tuhan saja, menjadi bait-Nya yang kudus, khusus, presented holy for God.
Saudara ingat kisah Zakheus? Pertobatannya disertai dengan tanda pembalikan. Seandainya ia bertobat dan merasa Tuhan sudah mengampuninya dan tidak mengadakan pemberesan secara terbuka, maka mereka yang berusaha untuk diyakinkan imannya untuk percaya Yesus akan keselek cleguk dan ngrasani dengan berkata: “Ah, dia aja hutang dan rampas uang kita kok…” Walaupun Tuhan mengampuni semua dosa masa lalunya, tetapi tanpa pembalikan hidupnya tidak akan menjadi kesaksian.
Bagi Saudara yang belum membaca buku saya True Colors, salah satu kesaksian saya di sana, saya diingatkan adik saya secara tidak sengaja waktu kami bernostalgia bahwa waktu kecil seusai doa pagi, kalau mami nyambung tidur lagi abis doa jam 6, kami menyelinap masuk ke kamarnya dan mengambil uang ratusan rupiah beberapa lembar untuk beli tenogan (jajanan yang dipikul). Ah, waktu mendengarnya, saya heran, dan segera bertindak untuk suatu hari nanti jika kembali ke Solo ke rumah ortu saya akan mengaku dan mengadakan pembalikan sikap. Saya tidak tahu berapa uang curian untuk jajanan pasar itu, tapi saya andaikan 500 ribu (walaupun jaman segitu tidak sampai segitu gede) saya kalikan 4 seperti perhitungan Zakheus, jadi saya membawa uang 2 juta. Deg-degan juga waktu mau ngaku, dan saya deklarasi di hadapan papi mami yang waktu itu berkata, “yah… namanya juga anak-anak…” (tapi uangnya diambil juga hehehe). Tapi kalau pun mereka tolak, saya tidak akan ambil, sebab itu juga merupakan tindakan profetik, penerimaan mengacu kepada pengampunan.
Dengan pembalikan demikian saya selain mengadakan pemberesan di alam roh, saya juga mengambil sikap yang berbeda dalam keluarga, sehingga level roh juga jadi naik, saya juga dihargai dan dianggap punya integritas yang tak dapat dibantah. Mungkin sepele, tetapi jika yang sepele ini tidak dibereskan, maka kita tetap saja tidak dihargai dan yang paling penting adalah bahwa kesaksian kita tidak kuat. Karena orang lain masih mengenal dosa dan tindakan lama kita. Kita bisa saja hanya bergumam doa dan minta ampunnya hanya kepada Tuhan, tetapi selalu pertobatan dibutuhkan pembalikan. Malu? Gengsi? Ya, tetapi itu tindakan kerendahan hati untuk mendapatkan pengampunan dan kepercayaan dari Tuhan dan manusia.
Bertobat tapi belum ada pembalikan sikap? Lakukan secara terbuka, supaya engkau tidak kembali lagi ke dosa lama. Bertobat dan masih menyimpan? Bakar, buang, berikan, dan jangan simpan. Jangan bermain-main dengan iblis yang mencuri sedikit-dikit, dan dengan cepat di kemudian hari akan membinasakanmu dengan permainannya, game-gamenya, gambar-gambar nikmatnya, permainan bebasnya, seks terlarang dan bebasnya. God loves you!
Untuk membeli buku TRUE COLORS, klik link berikut:
http://www.maqdalene.net/product/books/true-colors
Leave A Comment