Menyambung pelajaran kita minggu lalu mengenai pelayanan hospitality Stefanus dan Filipus yang ternyata ketika mereka setia ditempatkan di tempat tertutup dan pasar becek, ternyata mereka diangkat Tuhan membangkitkan Kuasa-Nya, mungkin Saudara berpikir bahwa pelayanan/pekerjaan tidak berguna Saudara saat ini tidak akan pernah membawa Saudara kemana-mana seperti saya dulu berpikir bahwa pelayanan saya di dapur selamanya sampai Tuhan datang tidak akan berubah. Tetapi ketika seseorang setia dalam hal yang nampaknya kecil di mata manusia, Tuhan sanggup mengubahnya menjadi suatu pekerjaan yang memuliakan Nama-Nya. Sebab mereka melakukannya semuanya untuk Tuhan – baik kecil maupun tidak nampak. Maka Tuhan yang melihat dari Ruang Maha Kudus-Nya sanggup mempercayakan hal yang besar untuk kemuliaan Nama-Nya sendiri lewat vessel/alat yang tidak berguna.
Lawatan Tuhan tidak dapat diduga. Jika Saudara dipenuhi Roh Kudus sama seperti mereka, Saudara bisa dilawat kapan saja dan dipakai menjadi alat yang dahsyat. Setialah dalam pekerjaan dan pelayanan yang nampaknya kecil yang sekarang dipercayakan kepadamu. Jika Tuhan melihatmu setia di sana, Ia pun tahu bahwa engkau bisa setia dimana-mana.
Saudara ingat contoh lainnya yaitu Yosua? Dia hanya ‘ngangkat kopernya’ Om Musa. Ia masih muda, ia bisa nunggu di tengah gunung selama 46 hari tanpa makanan dan tanpa komplen. Gak ada gadget dan gak ada hiburan, sepi cuman dingin dan angin. Binatang buas dan kelaparan puluhan hari, masih pp naik turun gunung yang entah berantah gak kira-kira kapan bos turunnya, pokoknya nunggu bengong aja. Ia kemudian berkeluarga, tetapi tidak pernah kita baca komplenan urusan keluarga yang mau didahulukan, anak panas, isteri kesepian, kuali melompong. Dia sungguh-sungguh berdedikasi tinggi, penuh urapan! Siapa sih yang mikir bahwa suatu hari dia akan menggantikan orang luar biasa sekaliber Musa? Not a chance! Tapi rupanya Tuhan senang kalo liat anak-anak muda yang tidak ambisius, yang nrimo dan cuman jadi seperti jongos saja. Coba bayangkan Stefanus dan Filipus, mereka saksi kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus, layak jadi penatua atau soko guru gereja mula-mula, tapi mereka malah ditempatkan sebagai tim hospitality perdapuran, ngurus urusan makanan janda-janda, pembagian sembako,… ya ampunnnn! Tapi mereka hanya “Yes, Sir” saja.
Saya paling kagum melhat akhir hidup Stefanus! Melihat akhir hidupnya sebagai monumen kesaksian sepanjang sejarah, kita bisa belajar tanda orang yang penuh dengan Roh Kudus. Ketika mereka melemparinya dengan batu, ia berseru: “Tuhan, janganlah kiranya dosa ini ditanggungkan atas mereka…” Orang yang penuh Roh Kudus juga penuh KASIH. Orang yang penuh Roh Kudus akan menghadapi test berat, dan jika ia sudah siap, Tuhan melayakkannya untuk menjadi saksi Sorga yang memuliakan Nama Tuhan besar-besaran. Tuhan paling tahu siapa yang sudah layak menerima anugerah martyr, anugerah kemuliaan yang sangat besar, mungkin terbesar di Sorga. Martyr bagi Kebenaran, bagi Kristus – tidak menyayangkan nyawa, bahkan mengampuni pembunuh-pembunuhnya. Orang ini benar-benar Penuh Roh Kudus = dan ia juga penuh Kasih. Sebab Kasih lahir dari Roh Kudus.
“Except the seed fall to the ground and die, it abides alone.”
Yohanes 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Kehidupan dimulai dari kematian – jika seseorang mematikan keinginan dagingnya yang berambisi, maka ia akan bertumbuh. Kematian ini adalah kematian daging, dan kehidupan selanjutnya adalah kehidupan Roh. Jika seseorang mati secara daging maka yang tumbuh dan hidup adalah roh. Tetapi banyak orang Kristen yang sudah dibaptis yang seharusnya mati masih juga tidak mematikan dagingnya. Daging tidak akan pernah menghasilkan roh, perbuatan daging tidak akan dapat mempengaruhi roh manusia lain, ia hanya ngambang di permukaan – nampak ‘hidup’ tapi sesungguhnya ‘mati.’ Mereka yang hidup adalah mereka yang sudah mati. Stefanus dan Yosua adalah orang-orang yang sudah mati saat mereka hidup di dunia, sehingga Tuhan mampu memberikan kuasa-Nya kepada bejana yang kosong dan mati. Mati artinya tidak lagi punya kehendak diri, tidak ada daging yang tinggal, sebab daging sama sekali tidak mendapatkan tempat di Sorga.
Saya berdoa para pembaca setia FMH yang selama ini terus rindu belajar dan dipenuhi Roh Kudus akan terus belajar untuk menyerahkan nyawa. Mematikan ego setiap hari, itu artinya menyangkal diri dan memikul salibnya. Jangan berkeras hati, jangan ingin menonjol, jangan memaksakan kehendak, nrimo, mengasihi orang lain, tidak mengasihani diri sendiri, cinta berkorban, tidak memikirkan hal-hal yang tinggi-tinggi. Maka saat Tuhan melihat daging yang mati, Ia akan memberikan benih-Nya lewat Roh Kudus dan menghidupkan Saudara kembali dalam kuasa-Nya yang tak terbatas.
*Cuplikan kisah Stefanus disadur dari tulisan Wigglesworth. Penuh Roh Kudus.
Judul DVD yang direkomendasikan:
http://www.maqdalene.org/store/product/qualitas-kekristenan-zejati/
Leave A Comment