Menyambung pembahasan kita minggu lalu, pertanyaan yang cukup menggelitik hati jika berani direnungkan dan memperhadapkan diri dengan kejujuran. Diambil dari:

1 Yohanes 2:15-17
15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

“Dunia dan apa yang ada di dalamnya”

  1. Bagaimana kita yang hidup di dunia ini menjauhi hal-hal dunia?
  2. Bagaimana orang percaya menerapkan ayat-ayat di bawah ini?
  3. Apa yang dimaksud dengan “mengasihi dunia?” Hal seperti apakah itu? Sejauh mana kasih dalam kaitannya dengan dunia itu?

Ada lagu yang mengatakan: “S’lama kuhidup kuhidup bagiMu, hatiku tetap tetap menyembahMu, mataku tetap tetap memandangMu.” Jemaat menyanyikan dengan pilu dan pegang dada…. Saya merenungkan, apakah mungkin bagi generasi ini untuk sepenuhnya menghidupi kerinduan Tuhan dan kerinduan hati mereka sendiri untuk “sepenuhnya” mempersembahkan diri dengan cara demikian kepada Tuhan?

Saya hamba Tuhan yang tadinya bertekad 80% untuk Tuhan dan 20% untuk jiwa-jiwa, akhirnya lambat laun kerinduan persentase saya tergeser sampai bukan hanya 50%-50%, tapi hidup kebalikannya 80% untuk jiwa-jiwa + dunia dan sisanya yang capek dan ngantuk untuk Tuhan. Owh well,… mungkin terlalu banyak saya memberi kredit kepada diri sendiri jika saya menilai memberi waktu kepada Tuhan sekitar 20%.

Apakah masih ada kemungkinan dengan gaya hidup “generasi gadget-lekat-di-tangan; mata-lekat-di-gadget” ini memungkinkan untuk orang bisa hatinya melekat kepada Tuhan? Sedangkan saat kita membaca sesuatu, hati kita sudah condong ke sana! Saat kita mendapatkan kritik dan celotehan di FB atau gambar atau status yang kita pasang, hati jadi sengit dan seharian memikirkan pembalasan dan serangan balik super pedas kepada mereka! Dan iblis paling tahu bagaimana ‘menolong’ kita untuk reaktif dan saling balas membalas, ia akan terus menerus menjerumuskan kita dalam permainan perasaan yang tidak berujung!

Saat saya menyingkirkan semua penghambat saya menghadap kepada Tuhan, saya lepas dari koran OL, lepas dari FB, lepas dari WA, dari BBM, dari internetainment, saya balik lagi menghadap Tuhan, barulah saya jauh dari dunia, kembali mendengar suara-Nya di tengah generasi dan dunia yang sudah gaduh. Saya mau dipakai untuk bisa menyampaikan suara kenabian bagi generasi yang terlalu bising karena membuka semua channel yang meneriaki telinga mereka sehingga tidak dapat mendengarkan “still small voice” seperti yang Dia bisikkan kepada nabi Elia.

Saya tidak berkata bahwa untuk intim dengan Tuhan dan tidak mengasihi dunia kita harus semedi dan tidak pegang gadget atau tidak terhubung dengan dunia luar/maya. Saya juga tidak memberikan metode-metode tertentu untuk pencarian akan Tuhan, karena jika orang percaya mengerti bahwa Tuhannya ada di dalamnya, maka ia sudah memperoleh segala yang dibutuhkannya. Tapi pada kenyataannya sekalipun Tuhan ada di dalam kita, kita di dalam Dia, tapi de facto kita mendua hati, kita ada di dalam dunia dan kita memasukkan dunia di dalam kita.

Kembali lagi ke pertanyaan semula, bagaimana kita bisa tidak mengasihi dunia dan segala isinya selama kita hidup di dalam dunia dan hidup dengan cara dunia? Kiranya ini menjadi perenungan setiap anak Tuhan, sebagaimana menjadi perenungan dalam, dalam hati saya. Bukan karena saya sedang “mencari Tuhan” dan ‘merasa ketemu Tuhan saat masuk dalam doa-doa keintiman,’ no, bukan itu yang saya maksud. Sebab saya tidak sedang membuat formula, tetapi mengembalikan kepada kita masing-masing tanggung jawab rohani atas perkembangan manusia roh kita yang menyerupai Kristus, seperti ada tertulis dalam Galatia 4:19:  Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.

Sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu – bahasa Inggrisnya adalah until Christ formed in you. Jadi saat ini rupa Kristus belum genap, kita masih belum serupa dengan Kristus, baik dalam tutur kata kita, tingkah laku kita, dsb. Tetapi ada harapan, selagi Kristus ada di dalam kita, dan kita terus bergantung kepada-Nya untuk menyerupai Dia, maka rupa Kristus akan nyata (formed – terformasi – terbentuk) di dalam kita. From glory to glory – Indah sekali janji ini. Tetapi tidak begitu banyak anak Tuhan merenungkan kebesaran rahasia dan janji ini, karena sibuk dengan dunia. Itu sebabnya pertanyaan saya kembali lagi: bagaimanakah kita manusia jaman gadget ini hidup di dunia tetapi tidak mengasihi dunia? Walaupun saya tidak ingin memberikan kalkulasi formula kepada pembaca sekian persen banding sekian, Saudaralah yang secara jujur bisa mengerti kadar kasih Saudara kepada Tuhan. Saya juga tidak ingin berargumen bahwa jika kita ‘sedikit’ berdoa maka kadar ketuhanannya juga sedikit. Tapi yang saya rindukan adalah kejujuran Saudara sendiri, dan saya ingin membangunkan Saudara yang sekiranya tertidur dan sudah terlena di dunia yang gelap ini, yang seharusnya menjadi terang dunia dan garam, agar keberadaan Saudara di dunia ini menandakan Kristus dan bukan dunia. Itu saja doa saya.

Kolose 1:9-10 (TB) 
Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,

Christ is in you, the hope of glory!