Nabi Nuh, diberi mandat satu-satunya yang belum pernah terjadi dan takkan terulang lagi, untuk membangun bahtera yang sangat besar. Dengan alat teknologi yang sangat minim, dengan cemoohan orang-orang di jamannya, dan ketidakpercayaan mereka, sangat bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang memberikan kelingkingnya untuk membantu Nuh. Pekerjaan itu dengan sabar dinanti Tuhan dalam kurun waktu yang cukup lama, 100 tahun. Apakah kita bisa membayangkan bagaimana Tuhan yang penuh kesabaran memperhatikan dan turut ‘berjuang’ bersama orang kepercayaan-Nya ini, walaupun ditolak sana-sini bahkan oleh keluarga besar kedua belah pihak, isteri dan keluarga besarnya sendiri dari sisi saudara dan ayah ibu mereka?
Tidak dapat dibayangkan, seseorang mengemban proyek miliaran rupiah tanpa dukungan moril dari keluarga manapun. Betapa sedihnya,… apakah dalam perjalanannya ia sempat berpikir ‘benar-tidaknya dalam mendengar dan yakin diteruskan atau berhentinya?’ Sebab manusia sering berpikir bahwa massa merupakan indikasi perkenanan Tuhan! Sedangkan Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa barangsiapa banyak dipuji justru membahayakan diri.
Menyelesaikan bahtera yang begitu besar membutuhkan uang yang besar pula. Tidak dapat disangkali bahwa Nuh mengerahkan semua hartanya untuk memenuhi mimpi Tuhan bagi penyelamatan umat manusia dan binatang, yang ternyata hanya ditanggapi oleh keluarga kecilnya sendiri. Apakah Nuh berpikir bahwa proyek visinya gagal dengan tidak terkumpulnya massa? Betapa seringnya kita mengandalkan dukungan orang, perkenanan manusia, aminan jemaat dengan paksaan dan pertanyaan yang diulang-ulang menggaung di gedung “ada amin?”
Nuh, menghabiskan hartanya untuk sebuah visi yang tercatat dalam keabadian. Nuh ‘mati’ untuk visinya. Kita seringkali takut kehilangan nyawa untuk memperoleh nyawa, kita tidak mau melepaskan kepemilikan tetapi mengharapkan berkat besar. Seperti seorang anak muda kaya, ingin masuk ke sorga tetapi balik badan saat ditantang untuk membagikan hartanya kepada orang-orang miskin. Tidak disadari banyak orang-orang di gereja datang untuk terus menerus mencari berkat dan perkenanan dari Tuhan – hanya untuk mengumpulkan bagi dirinya sendiri. Ego, ketamakan, kebutuhan yang terus merongrong jiwanya. Gereja merupakan perkumpulan needy, peminta berkat, dan jika diajar menyangkal diri dan dikasih pengajaran keras akan lari dari gereja dan mencari gereja aman yang tidak ngutik-utik ego dan cara-cara ilegal mencari uangnya. Tentunya kita semua butuh uang dan bukan cinta uang, tapi seperti anak muda kaya itu, saat diminta uangnya kita sulit untuk menyerahkannya – jaman sekarang diminta bisnisnya, diminta segalanya untuk ditukar dengan Sorga, itu hal yang hampir tidak mungkin, walapun ada segelintir orang yang seperti dalam perumpamaan mendapatkan mutiara berharga. Maunya sih, kalau bisa berjalan berdampingan, bisnis diberkati, juga melayani Tuhan, jadi setengah-setengahlah gitu. Itu sangat bisa dan sudah terjadi.
Bisnismen adalah hamba Tuhan di dunia market, jadi kepentingan menjadi bisnismen adalah bukan soal bisnisnya tetapi mengemukakan hidup ketuhanannya di sana untuk menjadi terang. Tetapi kebanyakan keadaannya terbalik, sehingga yang diharapkan Tuhan kepada para bisnismen jadi terang malah tergelapi. Jika bisnismen adalah hambanya Tuhan, bisnisnya juga harus menanti Tuhan, dari Tuhan dan untuk Tuhan. Saya mendengar banyak keluhan anak-anak Tuhan di dunia market bahwa mereka saking sibuknya sulit untuk berdoa, sulit untuk punya waktu intim dengan Tuhan, sulit untuk fokus kepada Tuhan. Hari-harinya sibuk melulu, pikirannya muter di duitttt melulu. Hari demi hari, akhirnya terbelit dengan dunia kesibukan dan pengembangan mammon sampai Tuhan jadi makin jauh, sementara hati nuraninya menggedor tiap malam…. Saya sedih mendengar seorang Kristen dengan kapasitas yang sangat besar yang seharusnya bisa membela Kerajaan Sorga denegan sangat gigih, tetapi tiap harinya hanya bergelut di duit dan menyerukan kesedihan manusia rohnya yang terdalam: “Apakah sampai akhir hayat kerjaku terikat begini melulu? Pagi urusan supplier, malam hitung duit masuk, besoknya mikir harus dimasukin bank pagi-pagi, bangun udah masuk laporan soal karyawan yang keluar-masuk, siang muter ke semua tempat kerja dan malam sudah capai tapi masih harus liat semua laporan hasil dari mana-mana…?”
Apakah Tuhan masih menemukan nuh-nuh modern yang rela untuk memikul beban-Nya, yang bagi manusia duniawi sekalipun Kristen ini berat dan sulit? Visi untuk menjadi perwakilan Sorga di bumi untuk memperlebar teritori Kerajaan-Nya. Tuhan menantikan orang Kristen yang peduli dengan urusan kekal, sebab mudah sekali bagi Dia untuk “semuanya itu ditambahkan kepadamu,” jika yang pertama didahulukan. Banyak orang merasa “tidak terpanggil” dan tidak pernah berurusan dengan visi dan tujuan hidup, tetapi menurut saya itu hanyalah respon dan sikap hati, sebab Tuhan mempunyai pekerjaan yang Dia persiapkan bagi kita sejak dunia dijadikan. Jadi ada banyak sekali dan masih terus dibutuhkan pekerja-pekerja ladang anggur yang dinantikan untuk mengemban tugas Kerajaan saat ini, dan bukan segelintir orang tertentu seperti pendeta dan mereka-mereka yang ‘dituduh’ dipanggil secara khusus dengan panggilan spesifik. Saya percaya karena kita yang dipanggil sangatlah spesial, pastilah ada pekerjaan-pekerjaan spesifik yang luar biasa jika orang-orang tersebut berani menanyakan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mencari wajah-Nya.
Tuhan datang untuk memberi upah kepada mereka yang didapati sedang melakukan pekerjaannya. Pekerjaan apa? Bisniskah? Pekerjaan panggilan masing-masing yang ditetapkan bagi dia selama ia hidup: tujuan hidupnya, satu-satunya tujuan atau visi Tuhan dalam hidupnya – seperti Daud untuk menjadi raja Israel, Musa menjadi pengeluar bangsa Israel dari Mesir, Yusuf penyelamat bangsa-bangsa dari kelaparan, Ester penyelamat bangsa Israel di negeri asing, Mother Theresa pengasih dan perawat orang-orang kusta dan miskin di India. Beberapa orang yang membuka rumahnya untuk orang miskin, ‘menggembalakan’ mereka dalam kelemahan dan kelaparan mereka. Angelo yang dalam kisah yang ditulis oleh Rick Joyner memberikan 50% dari miliknya/hasil pemulungannya untuk membeli dan membagikan traktat. Pencetus Colgate yang memberikan 90% dari hasilnya untuk pekerjaan misi. Mereka-mereka yang meninggalkan negaranya untuk menjadi misionaris di pedalaman, mereka-mereka yang seluruh hidupnya diabdikan untuk menerjemahkan kitab dalam bahasa primitive agar orang suku bisa mengenal Yesus. Panggilan satu-satunya, pekerjaan Sorga yang kudu dilakukan selama kita hidup di dunia. Dan Dia datang untuk memberi upah kepada mereka yang sedang melakukan pekerjaannya.
Apa itu baik dalam Efesus 2:10? Tidak ada pekerjaan yang baik satu pun kecuali Tuhan, sebab hanya Tuhan yang baik. Jika kita di dalam Dia, Dia memberikan kepada kita pekerjaan itu, yaitu pekerjaan-Nya, sebab yang baik ialah Dia. Dia akan menuntun, membimbing dan memberikan suatu pekerjaan yang sesuai dengan keinginan terdalam hati kita yang selama ini dengan susah payah kita cari dan geluti. Dulu saya ingin kerja jadi pramugari dan jadi model dan jadi penginjil keliling dunia. Saya berupaya jadi pramugari, tetapi ayah saya tidak mau merestui. Saya sudah modelling jadi foto model dan peragawati beberapa saat, tetapi akhirnya harus keluar karena aktivitas kebanyakan di hari gerejawi, sulit untuk curi-curi alasan jika hidupnya di gereja. Tetapi saat saya menyerah akan panggilan Tuhan, saya mendapatkan semua kesukaan saya dalam covering ilahi: jadi modelnya Tuhan, keliling dunia tanpa harus menjadi pelayan di pesawat, plus memberitakan injil kepada manusia. Semua yang dirindukan hati atau Tuhan taruh di hati terpenuhi, tetapi harus ada penyerahan total, kepercayaan kepada Dia. Banyak orang menyangka bahwa mengikut Tuhan harus berdiri di gereja jadi usher dan pelayanan komsel selamanya…not so! Itu hanya awalnya saja, tetapi melayani Tuhan can be very excited even though not without “problems.” Tapi ada sukacita tersendiri dan kepuasan roh yang tidak dapat dibandingkan dengan melayani apapun juga yang dunia bisa tawarkan.
Banyak orang melihat saya sebagai produk jadi, tetapi saya telah melewati struggle yang cukup banyak sampai memutuskan untuk mengubur semua harapan ‘manusia normal’ saya sebelum Tuhan akhirnya memproses saya untuk sampai di tahap yang masih setengah jadi sekarang ini, yang orang hanya liat nampak luarnya saja. Manusia normal yang dilahirkan dan hidup dengan naluri normal selalu menginginkan prestige, kemewahan, dan semua! Saat saya memutuskan untuk membelakangi keinginan manusia normal itu, saya memperoleh’nya’ (dengan versi lain) bahkan lebih lagi: jiwa-jiwa, kekekalan, upah abadi, kepuasan roh, kemantapan jiwa, kedamaian tidak semu, kebutuhan manusia umumnya – you name it! Semua yang dicari orang dunia yang bergelut dengan peluh untuk mencari semuanya itu,…saya memperolehnya sesuai dengan janji Tuhan dalam Matius 6:33. Walaupun tidak harus foya-foya dengan barang mahal dan pesiar di tempat-tempat memukau seperti orang dunia. Bukan pula kepuasan seks, karena itu semu dan daging di luar pernikahan kudus, dan akhirnya dalam pernikahan pun seks ternyata bukanlah segalanya, tetapi itu berkat Tuhan untuk menurunkan keturunan dan kesatuan tubuh yang indah yang tidak selalu terus menerus menjadi fokus dalam pernikahan. Tetapi secara garis besar hidup dalam berkat, saya menikmatinya, apa yang orang dunia cari, saya mendapatkannya dalam penyerahan dan pengiringan saya terhadap Tuhan.
Tidak sampai seperti Nuh yang tidak dipercayai seluruh dunia, tetapi saya mendapatkan kecaman, cibiran, olokan, makian penyesatan, penyingkiran. Tetapi saya bersyukur melewati itu semua yang masih terus berlangsung dan bergulir dari mulut para hamba-hamba Tuhan khususnya,… For I know whom I have believed, and am persuaded that He is able to keep that which I’ve committed, unto Him against that day … I’m convinced that God is powerful enough to protect what he has placed in my trust until that day.
And oh by the way, tulisan ini belum rampung, sebab masih ada kelanjutan setelah selesai meninggalkan dunia ini, yaitu kerajaan 1000 tahun! Masa depan, tetapi kemungkinan tidak terlalu depan, dimana di sana dijanjikan kepada mereka yang di sini setia dan melayani, di sana akan diangkat/didudukkan menjadi “imam dan raja” bersama dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Tawaran kedudukan yang sangat mulia bagi orang percaya untuk berbagi ‘beban’ bersama Penebus Hidup yang sudah menyerahkan Diri-Nya bagi kita agar bebas dari maut selamanya dan memerintah bersama Dia selama di sini dan di kerajaan damai 1000 tahun dan dalam KEABADIAN.
Doa saya sebelum meninggalkan tahun ini untuk memasuki tahun yang fresh new for you, jika Saudara belum benar-benar menemukan PEKERJAAN BAIK itu, menyendirilah, carilah wajah Tuhan. Lupakan pesiar dan holiday yang biasa dilakukan, berdiam-dirilah dengan Tuhan untuk satu hal penting ini. Anda adalah salah satu “nuh” modern yang akan melakukan perkara besar untuk kekal, masa depan kekal di bumi baru, Yerusalem baru nanti. Ini bukan hal yang simple/sepele, ini hal kekal, upah kekal, walaupun bukan upah fokus kita dalam mengasihi Tuhan, tetapi pengabdian, ketaatan, penyerahan hidup. Doa saya kiranya saat memasuki tahun baru Saudara sudah ngantongi bekal visi jawaban dari Tuhan, agar hidup Saudara di dunia fulfilled, maksimal, dipersembahkan untuk Tuhan yang telah menebus Saudara.
Have a Merry Christmas and a bright NEW Year with a NEW sharp vision.
Sangat menginspirasi luar biasa Sis Maq teruslah berkarya untuk KerajaanNya God bless.