Dalam Alkitab, perikop ini berjudul: Pemberontakan Miryam dan Harun. Kita sudah hafal kisahnya, tetapi mungkin kurang detil menyelidiki latar belakang pemberontakan Miryam dan Harun.
Sebelum jauh ‘pemberontakan’ itu tertuang/teraplikasi, pastilah ada BENIH dulu untuk menjadikannya AKAR. Dari akar yang menjadi benih, haruslah DIUSAHAKAN pertumbuhannya, sampai ia menjadi BUAH. Dan jika buah itu sudah matang, barulah muncul PERBUATAN.
Membaca ayat-ayat di bawah ini, ada 2 kasus, namun perkataan tepatnya yang disodorkan dan tertuang dalam tanda kutip adalah mengenai KEPEMIMPINAN. Rupanya ada akar IRI HATI dahulu, dan dengan Musa mengawini perempuan Kush, IRI HATI itu mereka boncengkan dalam pemberontakannya, walaupun yang jadi masalah besar bagi mereka adalah pemberontakan dikarenakan iri hati tersebut. Mari kita lihat drama besarnya yang terjadi dan menjadi kehebohan di camp mereka.
Bilangan 12:1-16 – Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.
Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga.
Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.
Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.
Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.
Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?”
Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia.
Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!
Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami.
Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya.”
Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.”
Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.”
Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.
Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.
Yang menarik, ditulis, ” Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” Dengan ditulisnya kalimat mengenai Musa ini, kita bisa menebak bahwa Musa tidak membela diri. Tuhanlah yang maju dan membela Musa.
Dalam hal pemberontakan, jika kita maju maka Tuhan di belakang; tetapi saat kita lembut hati dan membiarkan musuh kita menyerang kita, maka Tuhan yang membela kita. Tidak sampai di situ, kita juga melihat action dari kelembutan hatinya dengan dia mendoakan kesembuhan kakaknya yang telah mengatainya. Ini bukti kelembutan hati Musa yang tiada tara.
Kasus ini tidak dapat disembunyikan sama sekali; ganjaran pemberontakan sangatlah mengerikan. Seluruh camp harus tahu karena penyandang kusta harus disingkirkan. Selamanya Miryam tidak bisa lagi melayani dan dipandang sebagai pemberontak. Pemberontakannya tidak tanggung-tanggung – terhadap pemimpin besar yang Tuhan angkat! I mean… after all the miracles that she saw… seperti Musa membelah laut, mengadakan makanan, minuman, menurunkan semua tulah dan mengcover Israel di tanah Gosyen… Miryam masih memberontak?? Ini tidak masuk akal.
Memang benih iblis itu selalu tidak masuk akal. Saya belajar bahwa orang yang sudah kena benih dan benih itu diusahakan untuk berakar, orang itu jadi tidak bisa diajak bicara dengan logika,… selalu saja ada pemutaran fakta, dibolak-balik menurut versinya, pikirannya gak clear. Ini dikarenakan ada benih dan akar, dan jika tidak sadar dan bertobat, maka segera akan jadi buah dan teruang dalam perbuatan.
Tuhan, dalam kemarahan-ilahi-Nya, membeberkan fakta mengenai Musa, mengenai kespesialan hubungan M(m)ereka, yang sudah tidak bisa masuk akal orang yang sudah tercemar pikirannya dengan benih yang sudah berakar dan cemar itu. Orang yang cemar pikirannya cemar, tidak bisa mikir jernih, semrawut, percuma diajak ngomong, karena gak nyambung, selalu memelintir perkataan dan logic. Jadi, buat orang-orang semacam itu, obat paling manjur adalah hukuman telak – ini justru menolongnya untuk belajar, merenung, dan bertobat. Karena “perkataan” atau Firman, atau pengetahuan baik atau hikmat apapun gagal diterima bagi orang yang sudah dicemarkan benih busuk.
Sebelum dihukum, Miryam masih banyak berargumen, tapi saat Tuhan menurunkan hukuman, dia tidak berkata-kata lagi sepatah kata pun. Itu tanda baik, tanda pengobatan, operasi roh, dibius, dimasukkan ke ruang isolasi. Itu awal menuju kesembuhan dan perbaikan, artinya obatnya manjur, tokcer, cespleng, gambleng.
Tuhan juga menimpakan ini kepada Miryam agar ia dipermalukan sebagai akibat dari upah pemberontakannya. Kepemaluan ini banyak kali alat yang paling ampuh untuk seorang agar kapok.
Entah sudah berapa kali saya menulis dan membahas soal Miryam dalam FMH jika pembacaan tahunan saya sampai di perikop ini, tapi saya masih saja menemukan sisi-sisi yang saya pelajari dari kejadian di sekitar dengan melihat benih-benih dunia yang dikeloni anak-anak Tuhan dan akar yang melilit manusia roh mereka. Banyak akar-akar yang rupanya melilit anak-anak Tuhan, ada yang namanya akar segala kejahatan, akar kepahitan, akar kemiskinan, akar kesombongan, — akar-akar ini mengakar karena ada benih yang jatuh dahulu dan dibina pengembangannya.
Jadi bagaimana caranya agar “akar” ini mati dan tidak membahayakan hidup kita? Saat kita melihat dengan mata, mendengar dengan telinga hal-hal yang tidak baik, yang negatif, yang tidak mulia, langsung ditebas. Langsung ditolak, dibalikkan dan diberkati. Misalnya Anda mendengarnya, katakan: “Devil is a liar, saya tidak percaya bahwa dia begini dan begitu, dia anak Raja, dia dilindungi, dia baik dan semuanya menjadi baik!”
Itu cara menebas akar, mencabut, membuangnya. Jangan mempercayainya. Dalam kaitannya dengan Miryam, dia bisa memberkati adiknya yang menikah dengan perempuan Etiopia, mendoakan kebahagiaan mereka – karena pastilah Musa telah membicarakannya dengan Tuhan dan memang Tuhan sama sekali tidak mempermasalahkan pernikahan mereka, karena mungkin Zipora sudah meninggal.
Akar yang indah adalah yang ditanam di tepi aliran air, yaitu Yesus sendiri sebagai sumber mata air, sumber kehidupan.
Mazmur 1:1-3 (TB) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Yeremia 17:7-8 (TB) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Indahnya saat kita merambatkan akar iman, akar kepercayaan, akar kehidupan kepada Dia Sumber segalanya. Saat kita merendamkan akar kehidupan roh kita kepada Dia, maka kita tidak boleh mempersilakan akar lainnya masuk dan menggeser akar kehidupan yang baik. Semua yang jahat yang seringkali benihnya ditabur iblis pada waktu malam, kita tolak di dalam Nama Yesus Tuhan. Indahnya berendam dalam hadirat-Nya, dalam suasana Sorga, dalam sungai kehidupan… merambatkan akar-akarnya senantiasa dan tidak akan mengalami datangnya panas terik, tidak pernah layu, tidak pernah kuatir, dan terus menghasilkan buah.
Syalom..ibu Maq..trimakasih dan syukur kpd Yesus..sy sungguh diberkati oleh firman yg ibu bagikan..ada yg mo sy tanyakan..itu ttg benih yg ditabur iblis biasanya dilakukan malam hr..maksudnya gmn ya…terimakasih ibu Maq Tuhan Yesus memberkati
Dear Sis Meriana,
benih yang ditabur iblis di waktu malam biasanya tidak kita sadari kitalah yang membuka pintunya/celahnya. Lewat panca indera kita, mata kita terbuka untuk jiwa, sehingga pada malam hari benih itu tumbuh dan besoknya sudah menjadi ‘buah.’ Baik lewat media atau pun buku2, dll.
Atau pendengaran kita, mulut yang mengucapkan kata2 kematian/negatif yang secara tidak disadari telah mematikan peran roh kita, shg benih iblislah yang berkuasa. Akibatnya banyak orang Kristen yang tidak terproteksi oleh Roh krn celah yang dibukanya sendiri. Markus 4:24 menjelaskan mengenai hal itu.
Kiranya kita hidup dipimpin Roh dan tidak memberi diri kepada dunia, daging dan setan2. Bless you