Ini merupakan kisah lanjutan mengenai bangsa Israel beserta kapling-kapling yang sudah mereka miliki sesuai janji Tuhan. Walapun mereka tidak taat secara total menghalau warga asli Kanaan, yang olehnya mereka mengikuti perbuatan mereka dan tidak menghiraukan Tuhan lagi. Inilah kisahnya yang menyedihkan, tetapi kita dapat pelajaran berharga daripadanya.
Hakim-hakim 2:8-23 (TB) Dan Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun;
ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas.
Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.
Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.
Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.
Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka.
Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak.
Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu.
Tetapi juga para hakim itu tidak mereka hiraukan, karena mereka berzinah dengan mengikuti allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Mereka segera menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh nenek moyangnya yang mendengarkan perintah TUHAN; mereka melakukan yang tidak patut.
Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka.
Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apa pun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.
Apabila murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel, berfirmanlah Ia: “Karena bangsa ini melanggar perjanjian yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyang mereka, dan tidak mendengarkan firman-Ku,
maka Aku pun tidak mau menghalau lagi dari depan mereka satu pun dari bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua pada waktu matinya,
supaya dengan perantaraan bangsa-bangsa itu Aku mencobai orang Israel, apakah mereka tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, atau tidak.”
Demikianlah TUHAN membiarkan bangsa-bangsa itu tinggal dengan tidak segera menghalau mereka; mereka tidak diserahkan-Nya ke dalam tangan Yosua.
Jangan berkata “cuman ngobrol kok, cuman gaul, cuman duduk-duduk dengan mereka, cuman sebentar, cuman sekilas, cuman kirim email, cuman chatting bentar…” sebab jika kita membuka diri “sedikit” kepada dunia atau dosa, maka mereka akan menerobos bak air bah.
Membaca kisah panjang bangsa Israel yang dibimbing Tuhan step-by-step tetapi mereka berkompromi dengan bangsa di sekitarnya, maka Tuhan sudah tahu bagaimana kesudahan dari kisah perjalanan anak bangsa pilihan-Nya itu. Mereka diserahkan kepada musuh-musuh mereka, dan mereka ditaklukkan, dikalahkan, tidak dapat berdiri menghadapi musuh mereka, ditindas dan dinista.
Aihhh, sedihnya membaca kisah perjalanan ketidaktaatan. Bangsa yang sebanyak itu, dengan janji yang sekuat itu, tetapi masih saja mereka berkompromi. Lalu, bagaimana dengan kita yang kadang sendiri dalam menghadapi kerasnya dan liku-likunya hidup dalam tawaran dosa dan kompromi, apakah kita berani stand alone?
Apakah “penindasan, alfanya berkat, hutang-piutang, kekurangan, dll” merupakan hasil dari pemberontakan kita kepada Tuhan dikarenakan kompromi yang kita buat?
Dari cuplikan kisah di atas, kita melihat bagaimana Tuhan dalam ke’diam’an Nya (in His quietness) mengirimkan musuh-musuh Israel agar bangsa itu kembali kepada-Nya. Bahkan dalam kegeraman-Nya pun Ia masih terus berbelas kasih kepada bangsa yang tidak taat itu untuk mengirimkan hakim-hakim untuk menginsafkan mereka. Betapa kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya.
Jika diaplikasikan kepada kehidupan kita sekarang, dalam menghadapi keadaan yang nampak buruk pun, Tuhan memperhatikan kita dan selalu memberikan tanda-tanda bagi kita sebagai jalan keluar. Asal hati kita percaya, berpaut kepada-Nya, menjauhkan diri dari dosa-dosa.
Bahkan saat Tuhan membangkitkan hamba-hamba Tuhan di jaman sekarang yang vokal, yang berani menegur keras dosa-dosa kita, seharusnya kita tidak membungkam mereka dengan uang, atau mengintimidasi mereka dengan keluar dari gereja atau komunitas hanya karena kita tidak suka ditegur, sakit hati, dan terus mau sekehendak hatinya.
Melihat hakim-hakim yang contoh besarnya seperti Simson, yang malah keduniawian dan jatuh dalam dosa perjinahan, jaman sekarang kita menudingnya dan keluar dari gerejanya. Sebenarnya maksud Tuhan bukan soal dosa para pendeta, tetapi mereka diangkat Tuhan untuk membela umat Tuhan, mengeluarkan mereka dari tekanan musuh, dari penindasan. Jadi inti dari pengangkatan hakim-hakim merupakan jalan keluar yang Tuhan sediakan. Entahlah hakimnya melacur, itu urusan dia dengan Tuhan, yang pada akhirnya tetaplah ada kesadaran dari sang hakim juga dan dia bertobat.
Nah, kita?
Jangan sampai sudah menghakimi pendeta yang diutus Tuhan mengeluarkan kita dari perbudakan dunia, kita sendiri tetap berdosa dan tidak bertobat. Sementara pendetanya bertobat dan diselamatkan, kita masih melacur dengan dunia. Ini harus disadari dengan kerendahan hati. Saya melihat banyak orang sakit hati karena ditegur pemimpin, lalu keluar dengan sakit hati dan kepahitan yang ia sebarkan dimana-mana. Mulutnya membawa racun, hatinya tercemar dengan kenajisan lebih dari pemimpin yang ia cemarkan itu sendiri. Sementara mungkin pemimpinnya sudah bertobat, ia masih berkeliling menyesatkan orang baik.
Tuhan menyediakan kapling bagi bangsa Israel, tetapi karena mereka mencemarkan diri dengan bangsa yang tidak bersunat, maka Tuhan masih menahan berkat-berkat-Nya, agar mereka berlatih dan hidup benar, tidak hanya menerima berkat-berkatnya saja. Saat Tuhan masih ‘menahan’ kapling dan janji-janji berkat yang seyogyanya diberikan kepada Saudara, teruslah hidup benar di hadapan Tuhan. Tetaplah percaya janji-janji-Nya, sambil mengevaluasi diri mana-mana yang menghalangi perolehan janji itu. Saat Tuhan ‘membangkitkan hakim’ dan menuding hidung Saudara, terimalah dan bertobatlah dalam kerendahan hati.
Tuhan takkan pernah meninggalkanmu, Dia takkan lalai dengan janji-janji-Nya. Dia sangat mengasihi Saudara, Dia memikirkanmu, Dia sangat dekat denganmu. Seperti Bapa Dia ingin mendewasakan Saudara, ingin melihat kebaikan-kebaikan terjadi dalam kehidupan anak-anak-Nya. Percayai Dia dalam kesetiaan-Nya.
Amin