Sejak kecil orang tua saya mendidik saya secara “militer.” Jika ibu saya tidak melihat saya berlutut di ruang gereja, ia akan teriak dengan echo memenuhi semua ruangan. Mau tidak mau saya harus turun tangga dengan mata terpejam dan berlutut di gereja. Ayah kami juga tidak membiarkan kami lepas dari kitab saku Perjanjian Baru yang ditarget pencapaian selesai membacanya dalam sekian bulan.

Sejak kecil saya sudah disuruh mengajar anak-anak sekolah minggu, lalu saat beranjak saya harus mengajar remaja. Saat makin besar membawakan renungan bagi youth, ketika tambah besar, disuruh memegang satu gereja satelit di pinggir sungai Bengawa-an Soloooooooo…. riwayatmu kini itu. Jemaat yang dipercayakan kepada saya gak bisa bahasa Indonesia, jadi saya harus kursus bahasa Kromo Inggil Jawa halus, yang mirip bahasa Franchais.

Selain hal-hal rohani yang ‘menjengkelkan’ yang tiada ujungnya secara konsisten sejak kecil sampai besar itu, saya juga dibekali training militer seperti berbelanja, memasak, mencuci baju, piring, sapu-pel rumah, mengatur kursi gereja, menjemput adik ke sekolah, setir motor dan mobil, menjemput jemaat di pos-pos untuk dibawa ke gereja, seminggu 2-3x dalam acara doa semalam suntuk, ibadah tengah minggu/persekutuan, ibadah minggu. Saya juga dididik untuk lawatan jemaat, baik yang sakit, yang koma, yang meninggal, penguburan (ah, balik lagi ke acara gerejaan, saking kami memang hidup di pastori!). Saya kepanasan, kehujanan, kecapaian, kesungutan, kepahitan.

Dalam kesemuanya itu, saya muak dan tidak dapat menahan anfal roh saya sampai saya memuntahkannya keluar dalam manifestasi melarikan diri dari rumah. Saya membenci hidup, benci nasib, benci keluarga, benci Indonesia, benci segalanya!

Saya melarikan diri dan bisa bertahan hidup dari bekal didikan ‘kekuatan dan kekerasan’ di rumah orang tua. Saya bekerja siang-malam untuk memperoleh sesuap nasi di negeri orang, tanah asing kedua yang saya pijaki setelah Australia, dalam pelarian saya yaitu New Zealand. Tuhan tidak menyerah dengan saya, Dia tidak sia-siakan penanaman modal didikan militer-Nya di tempat titipan ilahi Solo itu. Dia cekal saya dan masukan dalam sekolah-sekolah teologi dan melengkapi saya dengan titel master dan doktor.

Saya masih belum faham, walaupun saya sudah kembali ke Indonesia dan berrekonsiliasi dengan orang tua saya. Kami sama-sama belum melihat titik terang dari didikan-sakit hati-ketidakpercayaan di kedua belah pihak, yang merasa disakiti dan satunya tidak dipercaya dan dikhianati.

Kali ini, saya mencari Tuhan karena menyadari Dialah yang menyekolahkan saya dan mendidik saya di luar negeri dengan bekal iman. Waktu saya mulai menjalani skenario kehidupan dengan step-step Sorga, maka saya baru melihat benang merah-Nya mengapa pendidikan awal kemiliteran itu harus ditanamkan, adalah untuk saat-saat yang seperti inilah. Setelah saya dipercaya mengelola gedung-gedung berlantai banyak (masih kontrak sih waktu itu), saya bisa melihat gedung dan sudut-sudutnya dari kacamata ibu saya yang telah mendidik kebersihan kepada saya. Waktu saya harus menyiapkan banyaknya makanan untuk para delegasi yang berdatangan dari seluruh dunia, barulah saya tahu bahwa saya telah belajar mengolah makanan dengan banyaknya bentakan militer: keasinan, kebanyakan minyak, terlalu lembek, jangan dimasukkan duluan sayurnya, terlalu banyak air, harus ditutup, pakai sutil kayu, harus dibuka sedikit biar kena angin, harus tidak boleh diaduk lagi setelah dipanasi; untuk bumbu masak campuran masakan ini bumbunya adalah salam laos, bawang merah, kunir, santan; satunya adalah pakai kunci, bawang merah, salam garam dan gula; satunya lagi hanya bawang putih, merica, garam, tepung maizena, kecap asin, dan lain-lain ilmu yang menakjubkan saya sampai hari ini – saya hafal semua di luar kepala!

Saat saya terhimpit, saat saya tidak punya siapa pun untuk berpaling meminta pertolongan, saya tahu bahwa saya bisa menyelesaikannya lewat doa dan Firman yang sejak kecil sudah dicor bangun jam 5 dan selesai PB dalam kurun sekian bulan. Saat sendirian di luar negeri tanpa dukungan financial dan moral, saya tahu kepada Siapa saya mengadu nasib dan berjalan terus dengan Seorang yang tidak pernah mewujudkan Diri dalam alam nyata.

Sekarang, saat saya sudah dipercaya murid-murid di penjuru dunia, setidaknya saya tahu caranya, walau tidak semua bisa dididik secara militer seperti saya, saya membiarkan mereka dewasa dengan cara mereka. Tetapi saya mengerti bahwa didikan awal saya ternyata menetapkan fondasi yang kuat dan tidak mudah goyah saat saya sendirian dimana-mana dengan badai yang menggelora. Ya, saya bertahun-tahun sendirian, wanita,…ugh, tidak ada yang mengirim uang, tidak ada manusia yang memperhatikan – tapi ada satu Tangan yang kuat yang menjaga dan membuat saya berdiri sampai hari ini.

Seperti karakter manusia pada umumnya, saya tidak suka dididik, tidak suka didikan keras, maunya tidur sampai siang, maunya di rumah tidak kena paparan sinar matahari yang membuat wajah saya item dan berjerawat. Maunya naik mobil dan tidak kepanasan atau kehujanan, karea malu ama cowok-cowok yang naksir saya saat saya cuman naik sepeda dan sepeda motor hijau jelek. Maunya dimanja dan disediakan semua yang ada. Maunya nganggur di kamar dan tidak harus ikut semua acara gerejawi. Ternyata semuanya itu mempersiapkan saya untuk mengetahui seluk beluk kegerejaan dan kepemimpinan, yang sekarang saat pendeta-pendeta dari berbagai denominasi mendengarkan saya yang fasih berbicara mengenai/memberi jalan keluarnya, merupakan karunia yang telah dipersiapkan sejak awal. Pemimpin dan pendeta dari berbagai negara datang untuk mendapatkan jalan keluar – yang kesemuanya saya mendapatkannya dari didikan militer orang tua saya di gedung gereja setiap pagi dimulai dari jam 5 tet, rutinitas doa pagi, baca Firman, perjalanan terik ke pasar naik sepeda jengki, membonceng ibu dengan motor yang sadelnya sudah lepas, menjemput jemaat dengan Colt LT120 yang tidak ada AC dan jendelanya tidak dapat tertutup rapat, bocor jika hujan. Bezoek jemaat yang sakit, yang lama tidak datang ibadah, yang punya anak, yang mati, acara permayatan dari dimasukan rumah mayat, masuk peti sampai masuk kuburan; baptisan air, pernikahan jemaat yang hampir tiap minggu ada, dan… hweleh,… semua deh… ditambah harus mau-tidak-mau bertahan hidup dengan fighting spirit yang dibangun di luar negeri selama bertahun-tahun sendirian tanpa dikirimin uang oleh ortu sepeser pun!

Seperti Yusuf yang berdiri di depan Firaun membeberkan kalkulasi penyediaan gandum untuk seluruh negeri – itu diawali dengan persiapan di dalam tutupan bersama para tahanan raja. Di sana ia mendengarkan keluhan sakit hati mereka dan menanyai kebutuhan kabupaten, kampung, dan luas tanah-tanah di pinggiran kota, sehingga mempersiapkannya untuk hari besar itu – 13 tahun kemudian. Persiapannya tidak enak, lebih dari militer, ada fitnahan, ada rengekan wanita, ada ketidakadilan, ada iri hati – tetapi Yusuf tegar, dia keluar sebagai national and international problem solver.

Zacky01Ini lain topik tapi seirama bahasannya, coba Saudara pembaca rangkum sendiri kesimpulannya. Saya baru saja mengadopsi anak lagi, kali ini saking kecilnya saya kasih nama Zacky dari kepanjangan Zacheus. Dia kencing dan beol di seluruh ruangan, maunya bebas, dicium tidak mau malah mendupak saya. Setiap dengar hembusan nafas hidung saya sekalipun dari belakang pangkal kepala ciliknya itu, dia akan membanting kepalanya agar tidak terkena ciuman saya. Saya mulai ajar dia dengan membentak ala militer, kepalanya saya tekuk untuk belajar mencium poop dan peenya di kamar mandi seperti Joy dulu waktu baru 2 bulan. Hehe, kali ini Joy duduk di belakang kami hanya memperhatikan dalam kedewasaan – pikirnya, aku dulu sudah melaluinya, Zack….

Zacky02Kalau murid-murid melihat Joy, mereka bilang kok pinter banget sih. Kalau diajak jalan (naik mobil dan pergi kemana-mana) selama perjalanan akan diam dan tidak pernah gonggong sama sekali. Diajak kemana-mana tenang. Kalau pee ditahan sampai ada kamar mandi atau di rerumputan. Joy tidak akan membiarkannya keluar crit selain jika kamar mandi dipakai begitu lama. Jika ada dalam mobil, Joy sering bergetar karena menahan kencing, baru jika sampai rumah, dia akan berlarian dan mengeluarkannya banyak sekali! Joy tidak akan makan sebelum berdoa bersama dengan tangan diberikan kepada kami dan dia lepaskan sendiri setelah kalimat sakti terakhir: dalam Nama Tuhan Yesus, A—min! Lahap!

Semua bilang Joy pinter. Mereka tidak melihat didikan militer awal saya terhadap Joy, mereka ‘menuai’ hasilnya saja. Didikan awal adalah fondasi yang tidak mudah dilupakan. Tetapi saat seorang anak tidak menyukai didikan dan orang tuanya membiarkannya (karena kasihnya), maka saat dewasa ia menjadi liar tidak terkendali. Dia tidak akan memiliki fondasi kedisplinan, dia tidak memiliki boundary dalam hati, dia bebas, binal, liar, tidak memiliki panutan hidup dari hati.

Tergantung cara otoritas mendidik, jika ia berhenti dan menyerah karena anak menolak, maka anak di kemudian hari menjadi liar. Tapi saat ia tetap mendidik sekalipun anak sakit hati, maka ia akan memperolehnya di kemudian hari. Orang tua saya ‘memperoleh’ saya setelah melewati perjalanan yang panjang – saya berterimakasih kepada mereka dan mereka bangga atas didikan yang mereka berikan selama tahun-tahun peletakan fondasi. Saat saya diundang untuk berdiri di hadapan seluruh pendeta di denominasi orang tua saya, diminta memberikan ceramah penting pada moment yang penting, orang tua saya duduk di tingkat dua memperhatikan dan mendengarkan anak mereka dengan entahlah bagaimana perasaan mereka yang tidak diungkapkan. Saat gereja besar mereka dan pemimpinnya mengundang lagi dan lagi dan saya bertanya dengan nada berkerut: “kenapa sih papi mami mempromosikan anaknya?” mereka menjawab bahwa mereka-mereka semualah yang mengundangmu berkali-kali tiap tahun. Tapi saya hanya memenuhi 2x undangan mereka saja, untuk memberikan floor kepada orang lain untuk berbicara. Untuk acara-acara besar, orang tua saya mengundang saya untuk berbicara; untuk acara keluarga, untuk rekonsiliasi keluarga besar, untuk menyatukan dan doa bagi Om dan Tante-tante saya, mereka mengundang saya. Untuk penguburan dan pemberkatan keluarga, sayalah yang menjadi wakil Sorga.

Ini semua karena didikan yang keras, karena fondasi kuat yang dibangun dari awal, yang sekarang banyak murid-murid dan jiwa-jiwa mendapatkan manfaatnya lewat pengajaran, khotbah-khotbah-DVD, buku-buku, tulisan seperti ini, training pendeta dan leaders, – dan masih belum terhitung upah kekal yang menanti saat saya terus bertahan sampai akhir. Help me, Lord. Mohon doakan saya, agar setia sampai akhir.