Membaca Kitab Ester kali ini, berbeda dengan pembacaan-pembacaan tahun-tahun dulu-dulu lalu. Kali ini saya bisa merasakan debaran yang menakjubkan saat orang Yahudi hendak dibinasakan oleh Haman musuh mereka. Saya juga bisa mengerti mengapa Haman beroleh kedudukan tinggi nomer 2 dalam kerajaan – ia begitu licik, berstrategi, jahat. Ia membeli bangsa Yahudi dengan uang perak yang dipersembahkan dalam perbendaharaan kerajaan sampai raja melepaskan cincin meterai emasnya dan memberinya wewenang penuh untuk melakukan apapun sesuai niat hatinya. Uang perak itu diperkirakan sebesar 10-15 juta dolar dengan kurs saat ini (senilai 200 M).
Saya juga kagum membaca bagaimana Ratu Ester yang sangat bijaksana juga berstrategi untuk membela bangsanya, dan ia rela menyerahkan nyawanya demi bangsanya. Tanpa tindak keberaniannya, maka 500 tahun kemudian mungkin Kristus tidak akan hadir ke dunia. (Entahkah kakek-nenek moyang Anak Daud ini masih ada di Persia atau sudah kembali dari pembuangan di Babel sehingga tidak akan turut dibantai oleh Haman). Saya juga sangat kagum membaca bagaimana Mordekhai mengetahui tujuan didudukkannya Ester menjadi ratu — selain ia berstrategi agar Ester maju demi bangsanya, Mordekhai juga menuruti ajakan Ester untuk berpuasa 3 hari bagi misi besar tak terkira ini. Keduanya bergandengan saling merendahkan hati untuk misi Tuhan yang luar biasa, sekalipun Kitab Ester ini satu-satunya buku yang hampir lolos canonisasi karena tidak mencatat nama Tuhan di sana. Mordekhai yang tidak takut pada Haman atau tunduk kepadanya; ia yang nota bene membuat gara-gara terjadinya kasus besar yang melibatkan terjadinya perencanaan pembunuhan bangsa Yahudi karena ketidakmauannya untuk tunduk kepada Haman. Mereka yang awalnya hanya berdua berhadapan sengit, tetapi Ester maju untuk menjadi pengeksekusi musuh mereka. Pastilah sangat seru dan mendebarkan kisah sesungguhnya!
Bangsa Yahudi yang terancam mati massal dalam sehari yang pada saat mendengarkan pengumuman terjadi ratap tangis luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka terkoyak saat mengetahui plotting rekayasa tindak penghancuran ini. Semuanya terjadi dalam sekejap, bahkan kematian Mordekhai sendiri dipercepat lebih dari perhitungan pembuangan undi tanggal penetapan. Saya juga tidak bisa memikirkan bagaimana doa-doa mereka kepada Yahweh Allah mereka, pastilah bangsa itu meraung-raung, karena tidak pernah sebelumnya hal itu terjadi – siap diadakan pembataian massal remnant seluruh bangsa Yahudi di kota Susan dan kota-kota sekitarnya 120 daerah dari India sampai Etiopia! Peristiwa besar yang melibatkan orang-orang hebat, rekayasa neraka dan turun-tangan Sorga.
Sekarang sang ratu harus muncul on the scene – yang kata Mordekhai (mewakili Tuhan) untuk saat seperti itulah dia didudukkan Tuhan di atas takhta kerajaan. Lalu katanya dalam kebijaksaan tinggi dan penyerahan total: “Sungguh pun melanggar undang-undang, jika terpaksa aku mati, biarlah aku mati!” What an amazing heart and unselfish attitude! Tidak banyak orang yang rela mati demi bangsanya, demi orang lain. Ester masih muda, dia tidak mengenal politik, seorang perempuan biasa, bangsa asing di negeri asing. Mungkin kesehariannya bertani di ladang atau berjualan di pasar untuk menyambung hidupnya dan paman yang membesarkannya. Tetapi Tuhan mempersiapkan seorang perempuan biasa dengan hati baja; mengangkat seorang ratu untuk skenario besar secara khusus. Apakah itu sebuah coincidence? Apakah takdir menentukannya berbuat/menjadi orang yang demikian?
Ratu sudah berpuasa, ia menyerukan agar pamannya dan seluruh orang Yahudi mendukungnya berpuasa. Dan tibalah harinya dimana sang ratu telah memperoleh bekal hikmat untuk menjalankan skenario Sorga. Hari pertama, rupanya Tuhan masih menundanya, Ester sangat peka dan menahan gejolak hatinya. Ini catatan menakjubkan, wahai perempuan dan isteries… jangan nyerobot dan cepat-cepat buka mulut jika ada debaran Roh Kudus. Jika ia tetap saja tidak tunduk pada roh pengendalian diri, maka misinya jelas akan gagal. Now, remember, Ester memiliki roh penurut? Ia tidak tergesa-gesa dan buka mulut, ia menanti. Ia bijak plus intelijen! Hari kedua tiba, ia tahu inilah saatnya:
Ester 7:1-6 – Datanglah raja dengan Haman untuk dijamu oleh Ester, sang ratu.
Pada hari yang kedua itu, sementara minum anggur, bertanyalah pula raja kepada Ester: “Apakah permintaanmu, hai ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan dipenuhi.”
Maka jawab Ester, sang ratu: “Ya raja, jikalau hamba mendapat kasih raja dan jikalau baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba atas permintaan hamba, dan bangsa hamba atas keinginan hamba.
Karena kami, hamba serta bangsa hamba, telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan. Jikalau seandainya kami hanya dijual sebagai budak laki-laki dan perempuan, niscaya hamba akan berdiam diri, tetapi malapetaka ini tiada taranya di antara bencana yang menimpa raja.”
Maka bertanyalah raja Ahasyweros kepada Ester, sang ratu: “Siapakah orang itu dan di manakah dia yang hatinya mengandung niat akan berbuat demikian?”
Lalu jawab Ester: “Penganiaya dan musuh itu, ialah Haman, orang jahat ini!” Maka Haman pun sangatlah ketakutan di hadapan raja dan ratu.
Bukankah ratu muda kita sangat dahsyattttt? Saya masih berpikir, gimana ya Ester kok begitu berani berhadapan dengan musuh dan penganiaya sadis itu? Padahal Haman adalah orang kehormatan, disegani, orang kedua di kerajaan, kepercayaan dan kesayangan raja, orang yang sangat licin, berani, penuh tak-tik dan tipu muslihat. Kenapa Ester tidak duduk berduaan saja dengan raja, ngobrol heart to heart gitu loh…
Ratu kita ini lembut, penurut, penuh pengendalian diri, tetapi tegasnya rek, bukan main! Banyak isteri yang lembut tapi lembek, nurut tapi o’on, takutan, gak beranian, paranoid, sungkanan, gak enakan, gak bisa’an, gak mau’an, gak bisa apa-apa. Not with our queen Ester… dia adalah kombinasi menakjubkan. Coba cermati bahasanya, pembelaannya terhadap bangsanya, ketidakpeduliannya terhadap diri dan nyawanya sendiri – semuanya merupakan tindakan dan kata-kata mulia. (Begitu kagumnya, dalam salah satu perjalanan ke Israel saya mengunjungi nisan sang ratu dan pamannya – tour yang tidak pernah diminati turis sepertinya. Tempatnya tidak fancy, hanya 2 batu nisan kecil, hampir tertutup semak-semak. Walaupun ada kepercayaan umum yang mengatakan bahwa kuburan mereka ada di Hamadan, Iran. Sebagaimana ada dua versi dari kuburan Yesus, tapi kita lebih mempercayai yang empty tomb
Mari kita lanjutkan pelajaran roh penurut dari seorang perempuan asing yang dipilih menjadi ratu, yang ternyata juga memiliki hati penuh pengorbanan terhadap orang lain.
Ester 8:3-6 – Kemudian Ester berkata lagi kepada raja sambil sujud pada kakinya dan menangis memohon karunianya, supaya dibatalkannya maksud jahat Haman, orang Agag itu, serta rancangan yang sudah dibuatnya terhadap orang Yahudi.
Maka raja mengulurkan tongkat emas kepada Ester, lalu bangkitlah Ester dan berdiri di hadapan raja,
serta sembahnya: “Jikalau baik pada pemandangan raja dan jikalau hamba mendapat kasih raja, dan hal ini kiranya dipandang benar oleh raja dan raja berkenan kepada hamba, maka hendaklah dikeluarkan surat titah untuk menarik kembali surat-surat yang berisi rancangan Haman bin Hamedata, orang Agag itu, yang ditulisnya untuk membinasakan orang Yahudi di dalam semua daerah kerajaan.
Karena bagaimana hamba dapat melihat malapetaka yang menimpa bangsa hamba dan bagaimana hamba dapat melihat kebinasaan sanak saudara hamba?”
Hatinya dan airmatanya diberikan untuk bangsanya, ia rela mati lagi menghadap raja untuk mendapatkan karunia hidup. Dengarkanlah bahasanya sebagai ratu: “jikalau baik pada pemandangan raja dan jikalau hamba mendapat kasih raja, dan hal ini kiranya dipandang benar oleh raja dan raja berkenan kepada hamba” – ini adalah bahasa yang tidak menuntut, bahasa yang menyejukkan seorang pria! Isteri-isteri gak harus segimananya like ‘jikalau berkenan pada pemandangan suamiku dan baik pada pemandangan papa…’ tapi belajarlah nurut dulu, gak jawab dulu, belajar lembut dulu, belajar tidak berontak, tidak mengajukan argumen-argumennya, gak minterin suami, mematahkan ide-ide suami yang nampak bodoh dan murahan. Sebab jika belajar bahasa tapi sikapnya buruk juga gak sinkron. (Coba baca sekali lagi kalimat sebelumnya). Jadi silakan menyinkronkan antara hati dan bibir dan ucapan.
Beda dengan sang ratu, kebanyakan isteri-isteri merongrong suami sampe leleh airmata hanya untuk kepentingan sendiri. Dia akan mempertahankan haknya, akan membenarkan diri, akan mengajukan ide-idenya, akan memenangkan argumen hanya untuk her selfishness. Ini tidak ada pada Ester; pada waktu dia diminta pamannya untuk menghadap raja, ia berkata bahwa selama 30 hari ia tidak dipanggil raja. Seorang isteri harus mengikuti peraturan kenegaraan? Yes, ia pun tunduk kepada semua sistem kenegaraan dan tidak melanggarnya atas nama isteri. Tidak seperti isteri-isteri modern, mendobrak kantor suami, maki-maki di depan parkiran, menyerobot dompet suami, mencuri-curi buka hp suami, delete/remove WA/BBM nama cewek-cewek, mencuri uang suami, teriak-teriak di depan karyawan – ‘menelanjangi’ dirinya sendiri. Ester menanti, ia sabar, ia mengerti; jika untuk kepentingan dirinya dia memiliki ROH PENGENDALIAN DIRI. Namun saat ada kaitannya dengan nyawa bangsanya, ia maju dan rela menyerahkan nyawanya. Powerful woman!
Sang ratu mungkin memiliki gentle and quiet spirit and remarkable grace yang sangat nyata sehingga disukai semua orang yang melihatnya. Tapi perbuatan terbesar yang dilakukannya sebagai queen of Persia adalah menyelamatkan orang lain, rela mati demi orang lain – dan itu dilakukannya berdasarkan KETUNDUKANNYA KEPADA PAMANNYA. Ester sendiri awalnya tidak terlalu menyadari tugas dan tujuannya menjadi ratu, tetapi saat diingatkan pamannya, ia yang sudah menjadi ratu tetap hormat dan menurut. Bicara mengenai kualitas… ck ck ck… bertahun-tahun memegang power kerajaan, ia tetap sama, tetap rendah hati, tidak arogan atau congkak terhadap pamannya yang tidak ada kedudukan dan kerjanya cuman duduk di gerbang. Dan, sebagai seorang ratu, apa yang pertama kali ia lakukan untuk misi yang besar? BERPUASA!!! Puasa 3 hari 3 malam tanpa makan-minum ini berarti dia sudah terbiasa puasa. Banyak orang Kristen beralasan gak bisa puasa, maag, sakit perut, kepala puyeng, gak boleh dokter…segudang alasan. Nah, trus kalau memang dokter melarang gimana? Oh, tentu itu ada pembahasan tersendiri 5 karbon penuh. Tapi alasan selalu alasan, bukan? Firman juga adalah Firman. Kalau Tuhan sudah berfirman, tidak ada seorang dokter pun yang bisa menahan! Itu kalau orang Kristen percaya mati, tapi kalau banyak alasannya, apalagi alasan yang tepat, Firman pun pasti kalah. Yang beginian tidak akan bisa berdiri menjalankan visi besar seperti sang ratu yang tunduk walaupun dipenggal kepalanya. Ini bukan lagi bicara soal kalo maag kambuh atau kalau pingsan gimana – ini sudah tidak peduli nyawa. Untuk visi yang besar dibutuhkan pengorbanan yang besar pula.
Seorang isteri akan dikenal dari caranya, Ester sangat rohani dan bersandar kepada Tuhan dalam menjalankan misinya. Dengan penyerahan dan kepercayaan, dengan kerendahan hati dan keberanian, dengan keelokan dan kelembutan, dengan hormat dan kasih ia melakukan tugas Sorga yang merupakan tujuan dari didudukannya ia di takhta menjadi seorang ratu.
Para perempuan Kristen di dunia barat kebanyakan sangat menentang bahwa Kitab Ester ada kaitannya dengan ketundukan, sebab mereka memang penentang ketundukan dan tidak tunduk kepada suami-suami mereka; bahkan mereka membuat slogan-slogan mengenai equality/persamaan hak. Lucu sekali bahwa para perempuan evangelical mengadakan persekutuan yang bernama Feminist Movement dan tidak menerima pernyataan mengenai submission at all. Lalu jika ada seorang perempuan “pintar” mengupas Kitab Ester dan ‘mendapatkan penemuan-penemuan “berarti” yang membahas keabsenan ketundukan’ dalam Kitab Ester, maka perempuan ‘sejenis ini’ lainnya akan berbondong-bondong “like-ing” dan mengirim komentar untuk saling meneguhkan pendapatan itu. Haiya…., sangat duniawi, kesetanan, dan berlawanan dengan Firman. Mereka berkata bahwa ada kemajuan dan perbedaan yang siknifikan antara womanhood di era 1950-an dengan millenium. Berarti ada perbedaan antara penerjemahan Alkitab tahun dulu dan sekarang – aha! intinya Alkitab sudah bergeser arti dan fungsi. Mereka mengabaikan kisah Wasti dan Ester dan menggantikannya dengan versi mereka sendiri.
Pelajaran ketundukan ini memang bukan perubahan sehari-dua. Untuk isteri-isteri yang sudah terbiasa membangun dirinya sebagai ‘pemimpin konyol’ dalam RT, akan memandang pelajaran ketundukan sebagai seri yang tidak mudah dan berkepanjangan; karena ketidaktundukan itu dibangun! Read it again…. Dan telah memperoleh ‘gedung/kedudukan/posisi/kuasa’nya. Tidaklah mudah untuk meruntuhkannya jika tidak atas kemauan dan kesadaran diri sendiri. Contoh ketundukan Ester juga telah dibangun dari waktu ke waktu sampai menjadi lifestyle. Makanya sebenarnya saya tidak akan menyerah jika isteri-isteri masih mau dibimbing, sebab saya tahu bahwa mengubah karakter itu bukan melalui “doa” ‘ubahkan saya Tuhan dan beri roh kesabaran.’ Prosesnya lama, jatuh-bangun, latihan lagi, sakit hati lagi, mengampuni lagi, dicoba lagi, tidak nyalak, tidak kasar, meres ati, menahan diri, tidak membalas,mengendalikan seluruh tubuh, baik mata, tangan, mulut, gesture – ini akan diulang-ulang sampai kebal dan “mati diri,” barulah membiarkan Roh Kudus yang bekerja melalui dirinya. Salah satu murid kami yaitu seorang manager perusahaan, suaminya punya ratusan pegawai. Tapi si isteri nanduk suami, saking merasa kepinteran, karena suaminya pendiam. Lalu saat di kelas, kami berikan latihan ketundukan,…waduh katanya…ini sulit sekali! Lalu dia mendengarkan MP3 khotbah-khotbah saya mengenai pengenalan otoritas ini, dia bilang bahwa dengerinnya harus berulang-ulang, berangkat-pulang kantor berhari-hari sampai nancep-jleb. Akhirnya sekarang dia menuai hasilnya, rumah tangga mereka indah, jarang berantem (saya gak mungkin bilang gak pernah berantem), tapi keduanya menikmati indahnya pernikahan setelah sekian tahun yang adanya cuma adu mulut dan seperti neraka rasanya. Dalam kesaksiannya, dia sendiri heran, “Kok bisa ya saya tunduk keq gini?” Sekarang ia diminta banyak pasangan untuk memberikan kesaksian dan kiat-kiat tunduk kepada suami – rupanya tunduk itu langka, jadi kalau ada isteri ex-Izebel yang bisa tunduk, itu menghebohkan dunia kekristenan. Bukankah ironis? Seharusnya isteri Kristen jadi teladan buat dunia, tapi langka. Saya berdoa kiranya tulisan yang panjang ini bisa mencelikkan mata para ehmm….
Masih ada banyak murid-murid kami yang rumah tangganya tertolong karena dimulai dari isterinya dulu, seperti kesaksian adik saya minggu lalu. Isteri itu sangat punya power, dan power bisa digunakan untuk mempengaruhi dalam kesalahan, juga dalam kebaikan.
Saya baru saja membaca bukunya Ibu Joyce Meyer dengan judul “Reduce me to Love,” di situ beliau menegaskan hal lain dengan bahasa yang sangat pas untuk dimengerti isteri-isteri dan kita-kita semua yang berada di bawah otoritas:
Peperangan Kepatuhan Yoh 5:19
Yesus mempunyai kekuatan terhadap setan karena Ia taat kepada Bapa-Nya.
Dari Yakobus 4:7 banyak orang Kristen mengutip agar “… lawanlah iblis maka ia akan lari dari padamu.” Tapi mereka lupa ada preamblenya untuk iblis bisa lari: “Tunduklah kepada Allah…” tunduklah kepada Firman Allah, perintah Allah, baru saat kita melawan dan mengusir iblis, ia lari dari hadapan kita.
-Selama ini saya (Joyce) mengajar tentang peperangan rohani, tetapi tidak memusatkan diri pada kepatuhan yang sebenarnya. Saya ingin masalah-masalah saya lenyap, saya pikir setan adalah masalah saya; saya tidak menyadari bahwa kekuatan melawan kejahatan berasal dari kepatuhan hidup.
-Sekali lagi saya membuat transisi, tidak semua masalah saya lenyap, dan setan tidak sama sekali berhenti menyerang saya. Namun, memusatkan diri pada kehendak Allah dan bukan bagaimana cara mengetahui musuh saya membuat masalah-masalah saya lebih ringan.
-Saat kita menggosipkan orang lain, atasan, pemimpin, pasangan, mengatakan hal-hal yang tidak baik dan tidak mengasihi mereka, kita tidak akan berhasil saat mempunyai masalah dan mencoba melatih iman untuk menguasai setan. Kita harus ingat bahwa kasih menutupi sejumlah besar dosa; kasih tidak membeberkan kesalahan orang lain. Bergosip, memfitnah, dan menyebarluaskan skandal merupakan masalah-masalah utama bagi mereka yang ingin melatih otoritas rohani, yang seringkali dikeluhkan.
Ini membukakan kepada kita bahwa ada peperangan dalam setiap rumah tangga, dalam bisnis, kantor, gereja, komunitas, institusi, — peperangan dengan iblis, yang mudah sekali memenangkannya, yaitu dengan KEPATUHAN, KETUNDUKKAN, SUBMISSION. Biar doa syafaat, doa keliling, tumpang tangan di kepala suami saat tidur, mendoakan atasan, tapi jika tidak tunduk, maka peperangan dimenangkan oleh pihak musuh.
Pada barisan berikutnya, ada kalimat yang hampir sama yang saya utarakan tadi di atas, hanya Bu Joyce menuturkannya dengan lebih baik: “Mencoba untuk menghindari setan tanpa menghindari pola perilaku yang menyebabkan masalah merupakan hal yang bodoh dan membuang waktu.” Ah, entahkah saya sudah menuliskan kalimat seperti ini di atas atau ‘hasulinasi’ saya karena baru saja menulis goal saya di halaman lain tentang hal ini atau baru saja mengingatkan orang lain mengenai ini. Anyway, thanks for Ibu Joyce sebagai contoh dari perubahan yang nyata. Ah, betapa saya mengaguminya!
Pelajaran besar yang kita dapatkan dari the queen of Persia ini timeless – sejak dulu banyak gadis-gadis yang menginginkan menjadi ratu, permaisuri dari seorang pangeran atau raja. Film Cinderella sangat melekat di hati anak-anak kecil sampai gadis dewasa sebelum memasuki pernikahan. Mereka mendambakan dipersunting seorang pangeran. Isteri-isteri cantik para pangeran di dunia menjadi sorotan massa, pakaian mereka, tas, clutch, sepatu, baju, pembawaan mereka, semua ditiru. Banyak yang berharap menjadi ratu, tetapi tidak banyak ratu-ratu yang memenuhi tujuan Tuhan dalam melaksanakan jabatannya. Isteri-isteri yang tidak dipersunting pangeran atau raja dapat terus belajar memiliki sifat dan sikap seperti ratu – memperlakukan suami-suami seperti raja, bak raja. Menghormati mereka sebagai teman hidup, rekan ahli waris, kepala, pemimpin, imam, raja.
Ester menjalani hidupnya untuk sebuah misi; saya terus berharap para isteri juga demikian – misimu bukan dirimu, atau mendahulukan kepentinganmu, kehendakmu, tetapi bersama suamimu. Engkau harus mendukungnya, mendorongnya, menopangnya – tidak berjalan sendiri, atau berlari sendiri dengan egois dan mengatasnamakan “Tuhan berkata”: “Tuhan berkata aku harus begini….” Dengan kecewa saya harus berkata bahwa saya ragu ada Tuhan yang berani ‘menyeret’ atau menjauhkan dia dari suaminya untuk mengurus visinya sendiri. Jika dibandingkan dengan the queen of Persia, sifat itu sangat jauh dan bertolak belakang. Ester hanya mau membawa apa yang diusulkan; Ester hanya bertindak apa yang diperkenankan raja. Bahasanya bukan bahasa memaksa, mengintimidasi, controlling, dominating, intimidating – bahasanya benar-benar bahasa ratu, indah, manis, sedap didengar dan sedap untuk diterima pendapat dan permintaannya yang tanpa paksaan. Ester tidak sacrificing suaminya seperti kebanyakan isteri-isteri mempemalukan suaminya demi dirinya; tetapi Ester sacrificing dirinya untuk bangsa. Kiranya para isteries berhati lembut, menolong suamimu dan mengasihinya dengan sepenuh hati. Bagi yang belum berpasangan, mulailah belajar menjadi calon ratu yang bijak.
Masih ada lagi kisah Ibu Joyce sebagai penutup:
Suatu hari saat saya bangun untuk membuat kopi, saya merasa Allah menyentuh hati saya untuk membuatkan Dave selada buah, dan Dave benar-benar menikmatinya. Pembantu kami sedang tidak masuk hari itu, saya dapat membawakan Dave pisang dan apel. Saya tidak ingin memotong-motongnya karena saya ingin berdoa dan membaca Alkitab!
Kadang kita membuat kesalahan dengan berpikir bahwa aktivitas rohani menggantikan kepatuhan dan membuat kita rohani, tetapi nyatanya itu tidak benar. Allah berbicara kepada saya bahwa melayani Dave sebenarnya melayani Allah. Tampaknya setiap orang saat ini ingin bebas, dan Yesus sungguh-sungguh membebaskan kita, tetapi Allah tidak membebaskan kita untuk menjadi pribadi yang egois dan ingin dilayani, melainkan melayani orang lain.
Leave A Comment