Kisah bangsa Israel di padang gurun memang sangat berliku, apalagi jika Saudara sudah pernah ke Mesir, Yordan, dan Israel dan melihat sepanjang jalanan padang gurun. Kalau kita memakai mobil yang ber-AC, sedangkan mereka harus jalan kaki berdebu dan kepanasan bertahun-tahun! I mean, berpuluh-puluh tahun, beranak pinak di sengatan terik matahari 46-50 derajat!

Jika mereka sampai bersungut dan tidak dapat menahan hati, entahlah apakah saya terlalu toleran sehingga memikirkan seharusnya Tuhan berempati kepada mereka? Tapi jika ditinjau dari mujizat-mujizat menakjubkan yang mereka lihat dengan mata-kepala sendiri, seharusnya mereka tinggal percaya saja. Tapi karena manusia kebanyakan mudah ditipu oleh mata jasmani daripada mempercayai pandangan rohaninya lewat iman, makanya banyak yang tidak percaya dan tidak dapat menahan hati. Mari kita telusuri salah satu kisah pembelajaran besar dari hajaran Tuhan atas hati yang dibiarkan meluap.

Bilangan 21:4-6Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.

Saat seorang tidak bisa menahan hati dan menyemburkan isinya, maka ia sedang dikuasai dosa dan kegelapan. Karena ia tidak dipimpin roh tetapi daging dan nafsunya.

Jika seorang dipimpin roh maka ia akan diam, tenang, tidak membela diri dan menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Memberikan Tuhan tempat atau bagian atau floor untuk menjadi pengacaramu.

Membaca isi hati mereka dan kebanyakan orang Kristen jika tidak dapat menahan hati sangat mudah diketahui isinya, yaitu selfishness, egoism. Tidak ada kandungan selflesness sama sekali.

Seorang yang tidak dapat menahan hatinya adalah orang yang bodoh.
Seorang emosional adalah orang yang bodoh.
Seorang yang tidak dapat menahan nafsu adalah orang bodoh.
Seorang yang tidak dapat mengekang gejolak daging adalah orang yang tidak hidup dalam kepenuhan roh.

Firman Tuhan sering menuliskan mengenai “penuh dengan Roh,” sebagai penunjukkan dari absennya “daging.” Saat seorang dibawa untuk hidup dalam kepenuhan roh, maka ia tidak lagi mengandalkan daging, tidak lagi mengikuti kehendak daging. Ia menyangkal diri dalam berbagai hal dalam kaitannya dengan daging, yang sudah saya tuliskan minggu sebelumnya kisi-kisinya, yaitu:
Pelanggaran ‘kecil’ dalam hati nurani seperti dalam hal:
-uang
-posisi
-nama
-menyombongkan diri
-mencari untung secara egois
-melampiaskan nafsu
-pelampiasan emosi
-pengandalan kepada manusia
-pembohongan demi keuntungan

Seorang yang dipimpin roh akan menjadi tenang dan penuh damai; dalam gejolak hidup dia akan mempercayai Tuhan yang mengambil alih semua perkaranya. “Perkara” tidak harus besar, tetapi perkara kecil yang tidak perlu perlawanan emosi. Bagaimana mengekang diri dan nafsu saat melihat status orang, yang jika dengan tenang, ia tidak harus berpikir bahwa itu ditujukan kepadanya, sehingga sesat/sesak hati dan uring-uringan dan berlanjut kepada sindiran dan pembalasan status. Ini hal/contoh rendah yang jika seorang tidak penuh roh maka ia akan merugikan dirinya dengan mencemari hidup/perjalanan iman digantikan dengan kedagingan.

Emosi yang nampaknya kecil dan harmless, tetaplah harmful.
Saya sedang mengajar soal “pencemaran jasmani dan rohani” dalam salah satu kelas yang saya bimbing, lalu pada kesempatan itu saya minum air putih, dan tiba-tiba ada binatang kecil sekali yang berputar-putar di area gelas. Saya berusaha hush-hush, tetapi dia terkena jari saya, lalu sebagian tubuhnya masuk ke air. Padahal airnya masih banyak, saya yang biasanya cuek dan tetap melahap semut dengan meyakinkan diri sebagai tambahan protein, kali ini berpikir kenapa-napa mengenai binatang kecil terbang ini. Ah, daripada-pada, lebih baik saya buang saja airnya walaupun masih agak banyak.

Pencemaran rohani walaupun nampaknya kecil tetaplah harmful. Makin dewasa kita dibawa Tuhan untuk masuk dalam level kerohanian, makin peka seharusnya kita mewaspadai pencemaran-radioaktif-racun rohani. Jika makin naik level kita tidak makin waspada, maka kita membahayakan diri dengan hal-hal kekal seperti yang saya ungkapkan minggu lalu.

Perenungan “tidak dapat menahan hati” dalam ayat di atas akan sangat menolong kita, khususnya yang masih emosional, yang hidupnya masih dipimpin oleh emosi. Orang demikian biasanya tidak suka ditegur, tidak suka dikritik, tidak senang mendapatkan bimbingan. Ia hidup dalam keinginannya sendiri, hidup dalam daging, tidak bisa ‘disentuh’ dan membiarkan hidupnya dipimpin oleh dagingnya daripada menuruti Roh.

Dalam contoh kasus true-story di atas, mereka-mereka yang “tidak dapat menahan hati” dipagut ular dan mati berserakan di padang gurun. Hidup dalam Perjanjian Baru dengan anugerah kasih sayang yang luas, tentu tidak berarti kita bisa menyingkirkan hal-hal yang nampak sepele seperti “tidak dapat menahan hati,” bukan? Karena semua yang tertulis dalam Firman menjadi pelajaran besar bagi siapa pun yang mau hidup dalam kebenaran.

Terlalu banyak contoh-contoh yang saya amati dan pelajari dalam perjalanan iman – melihat jatuh-bangun orang-orang yang mau belajar hidup dipimpin roh dan berusaha “menahan hati” walaupun bayarannya mahal, saya tahu mereka memperoleh upahnya. Sedangkan lainnya, yang memilih untuk seperti sebagian bangsa Israel yang “tidak dapat menahan hati” mereka pun akan memperoleh ganjarannya.

Ini bukan intimidasi masa depan, tetapi pelajaran masa kini, sebab jika Saudara masih bisa membaca berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki dalam menahan hati. Tentu harus disertai dengan kerendahan hati, permintaan maaf karena telah tidak dapat menahan hati; karena kesombongan dan penahanan hati untuk merendahkan hati juga mendapatkan ganjarannya seperti kerendahan hati mendapatkan upahnya.

Perenungan penting sebagai refleksi hidup:
Hal-hal apakah yang sedang Saudara hadapi saat ini yang membutuhkan “penahanan hati” sekalipun bayarannya ‘nyawa’ (kehendak, kemenangan semu, perolehan-perolehan keuntungan sia-sia)?