Mewaspadai kejatuhan generasi muda

||Mewaspadai kejatuhan generasi muda

Mewaspadai kejatuhan generasi muda

Pelajaran ini sangat besar, saya berharap semua anak-anak muda, generasi penerus kami-kami akan mempelajarinya, memperhatikannya, dan menjadi berhikmat karenanya.

2 Samuel 10:1-7 (TB) Sesudah itu matilah raja bani Amon; dan Hanun, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Lalu berkatalah Daud: “Aku akan menunjukkan persahabatan kepada Hanun bin Nahas, sama seperti ayahnya telah menunjukkan persahabatan kepadaku.” Sebab itu Daud menyuruh menyampaikan pesan turut berdukacita kepadanya dengan perantaraan pegawai-pegawainya karena kematian ayahnya. Tetapi ketika pegawai-pegawai Daud sampai ke negeri bani Amon itu, berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun, tuan mereka: “Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik kota ini, untuk mengintainya dan menghancurkannya maka Daud mengutus pegawai-pegawainya itu kepadamu?”
Lalu Hanun menyuruh menangkap pegawai-pegawai Daud itu, disuruhnya mencukur setengah dari janggut mereka dan memotong pakaian mereka pada bagian tengah sampai pantat mereka, kemudian dilepasnya mereka. Hal ini diberitahukan kepada Daud, lalu disuruhnya orang menemui mereka, sebab orang-orang itu sangat dipermalukan. Raja berkata: “Tinggallah di Yerikho sampai janggutmu itu tumbuh, kemudian datanglah kembali.”
Setelah dilihat bani Amon, bahwa mereka dibenci Daud, maka bani Amon itu menyuruh orang menyewa dari orang Aram-Bet-Rehob dan orang Aram dari Zoba dua puluh ribu orang pasukan berjalan kaki, dari raja negeri Maakha seribu orang dan dari orang-orang Tob dua belas ribu orang. Ketika Daud mendengar hal itu, disuruhnyalah Yoab maju dengan segenap pasukan pahlawan.

Hanun adalah anak muda bodoh, tidak bijak dan hanya menerima ide tanpa pertimbangan matang dengan sok dan ketinggian hati. Dia ini sama dengan Rehabeam, anaknya Salomo yang setelah papanya meninggal, meminta nasihat bodoh dari orang-orang muda pongah yang bodoh yang membodohi anak tidak berpengalaman seperti dirinya.

1 Raja-raja 12:4-11, 14-20 (TB“Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu.” Tetapi ia menjawab mereka: “Pergilah sampai lusa, kemudian kembalilah kepadaku.” Lalu pergilah rakyat itu. Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: “Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?” Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.” Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya, katanya kepada mereka: “Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?” Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: “Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami — beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku! Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.” Ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: “Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambah tanggunganmu itu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.” Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat. Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja: “Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!” Maka pergilah orang Israel ke kemahnya, sehingga Rehabeam menjadi raja hanya atas orang Israel yang diam di kota-kota Yehuda.
Kemudian raja Rehabeam mengutus Adoram yang menjadi kepala rodi, tetapi seluruh Israel melontari dia dengan batu, sehingga mati, bahkan raja Rehabeam hampir-hampir tidak dapat menaiki keretanya untuk melarikan diri ke Yerusalem. Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini. Segera sesudah seluruh Israel mendengar, bahwa Yerobeam sudah pulang, maka mereka menyuruh memanggil dia ke pertemuan jemaah, lalu mereka menobatkan dia menjadi raja atas seluruh Israel. Tidak ada lagi yang mengikuti keluarga Daud selain dari suku Yehuda saja.

Banyak kali anak-anak muda penerus takhta yang belum berpengalaman merasa dirinya pandai pada usianya dan menganggap orang tua sudah tidak relevant dibanding ‘hikmat’ bodohnya. Mereka mengakhiri ‘pemerintahan’ mereka dengan cepat dalam kejatuhan. Padahal bapa-bapa mereka adalah orang-orang berhikmat yang telah dengan hati-hati dan susah payah mendirikan kerajaan mereka sampai ke seluruh dunia, tetapi dihancurkan dalam hitungan beberapa hari atau minggu saja karena kebodohan anak-anak muda yang sombong tak terkendali ini.

Kepongahan sedikit menghancurkan pemerintahan yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun, bahkan 2 generasi, kakeknya dan ayahnya (Daud dan Salomo). Betapa naifnya pikiran anak muda yang sombong, yang merasa bijak, merasa tidak perlu nasihat orang tua, pendahulunya, pendiri kerajaan itu.

Saya membaca buku tulisan Ibu Iin Tjipto mengenai ini, beliau menuliskan jauh lebih baik daripada saya dalam bukunya yang berjudul Deception and Illusion. Pada saat itu beliau sedang berada di Israel, tiba-tiba ditemui oleh Rehabeam yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia itu seperti dia, yang tidak pernah menghargai apa pun yang dipunyai oleh nenek moyangnya. Rehabeam tidak mengenal orang-orang di sekitarnya yang sangat berpengaruh, tidak mencintai didikan, membuang yang baik, dan mengambil yang negatif.

Ibu Iin menyambung dengan kisah PM. Lee Kuan Yew yang luar biasa saat beliau mengatakan mengenai kepemimpinannya terhadap rakyat Singapore di TV: “Kita ini negara kecil, kalau kita tidak hitung dan atur dengan sangat efektif, kita akan habis. Karena itu saya minta kalian bekerja keras, lebih jujur, saling mendukung satu dengan yang lain. Kalau kita terpisah, habislah kita. Kalau engkau mau jadi rakyatku di Singapore, biarkan aku mendidikmu, menentukan sampai hal-hal yang terkecil dalam hidupmu. Sampai dimana kamu meludah, buang sampah, sampai buang air kecil sekalipun, aku tentukan supaya kamu menjadi bangsa yang besar.” Dia keras dan tegas, bukan karena membenci rakyatnya tapi untuk mendidik bangsanya yang tidak punya aturan dan hukum sebagai negara kecil. Dan kita sekarang tahu hasilnya, Singapore menjadi negara yang diperhitungkan dunia, padahal hanya secuil kota kecil dibanding kota Jakarta yang begitu luas dan sangat besar penduduknya; namun Indonesia yang begitu besar dan kaya raya masih jauh tingkat kemajuannya dibanding dengan Singapore.

Rehabeam tidak bisa mengerti atau membedakan didikan Salomo dalam kekerasan, seperti yang kita baca dari “cara duduk, cara berjalan, cara melayani, cara berpakaian,” semuanya diaturnya sampai membuat Ratu Sheba ternganga. Rehabeam mungkin hanya melihat ayahnya teriak-teriak, marah kepada bawahannya. Rehabeam tidak mewarisi kebaikan dan kemuliaan pemerintahan ayahnya.
1 Raja-raja 10:4-5 (TB)  Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.

Lalu Rehabeam berkata kepada Ibu Iin: “Ayahku adalah seorang yang paling berhikmat, paling pandai, tapi aku menjadi orang yang paling bodoh di hadapan Tuhan dan iblis. Kakekku seorang yang paling dicintai dan mengenal Tuhan, aku seorang yang paling dibenci rakyat dan tidak mengenal Tuhan. Kakekku sekarang di tingkat tertinggi di Sorga, aku di tingkat terrendah dari Sorga yang bisa dicapai manusia. Aku ini makan dengan mereka lebih dari 40 tahun, tapi aku tidak pernah bisa menangkap apa pun. Buat aku ayahku adalah pria yang beristeri banyak. Bagiku kakek dan ayahku adalah pria tua yang tinggal di kamarnya. Aku kehilangan segalanya dengan memandang remeh mereka, sampai aku masuk ke dalam masa yang fana. Aku berharap jangan ada yang seperti aku. Kalian generasi akhir, di tangan kalian ada otoritas, warisan sebesar aku, hargai apa yang ada, yang diwariskan lewat pendahulu kalian.”

Rehabeam datang dengan menangis sambil begging kepada Ibu Iin sambil memegang tangannya,  katanya: “Ceritakan kesalahanku kepada generasimu, sebab ini juga akan sedikit menghapus sakitku  karena kebodohanku. Tongkat otoritas ada di generasi kalian, kalian harus lebih besar dari ayahku.”

Mungkin ada beberapa orang yang berpikir bahwa apa yang dialami oleh Ibu Iin adalah ilusi atau kebohongan, tetapi saya mempercayainya, karena banyak saksi-saksi awan yang berbicara kepada orang-orang di sekitar kita di akhir jaman ini untuk menguatkan kita agar kita tidak terjatuh pada kebodohan yang mereka buat. Tuhan begitu mengasihi kita sampai Dia mengirimkan saksi-saksi awan, membawa roh manusia untuk melihat sorga dan neraka untuk mewaspadai kita dan memberi pengharapan kepada kita. Dia penuh kasih dan rindu agar tidak seorang pun binasa; lebih dari itu agar kita mencapai garis akhir dengan kesempurnaan tanpa cacat dan kerut.

Kiranya mengawali tahun baru ini, kita meminta hikmat Tuhan, dan dalam kerendahan hati mendengar pengajaran dari pendahulu-pendahulu kita, meminta nasihat mereka, menjalin hubungan yang baik dan percaya. Legacy yang mereka tinggalkan dapat kita kembangkan bahkan lebih dari dua kali lipat saat mereka memberikan berkat dan urapannya kepada kita.

Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah
supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Efesus 5:17

By | 2017-01-07T13:32:27+07:00 January 7th, 2017|From Maq's Heart|0 Comments

Leave A Comment

1 × 3 =