Selamat “Marah”

||Selamat “Marah”

Selamat “Marah”

Setidak-inginnya saya menyuguhkan penghakiman dan penghukuman Tuhan dibanding anugerah dan kasih setia Tuhan, saya sebagai hamba Tuhan merasa tetap harus menyatakan hal-hal yang tidak enak agar kita bisa hidup ‘enak’ dan berkenan di hadapan Tuhan. Belajar dari banyaknya kesalahan dan kelalaian dan ketidakbanyaknya didikan dalam gereja Tuhan, menyebabkan banyak jemaat tidak berpengertian dan sesat. Itu sebabnya pengajaran dan belajar dari sejarah akan menolong kita agar menghindari kesalahan dan hidup dalam kasih karunia yang tak berkesudahan.

FMH minggu lalu berbicara mengenai pengajaran untuk anak muda. Ini masih menyambung mengenai didikan, sekaligus ‘wejangan’ untuk orang tua yang mendidik anak-anaknya: kecil, muda, tua – selagi namanya masih “anak,” tetap harus ada didikan.

Di bawah ini merupakan kisah Imam Eli keturunan Imam Harun dan anak-anaknya yang dursila bernama Hofni dan Pinehas. Saya masih belum yakin bagaimana membedakan marah dengan marah yang ditulis dalam kalimat yang dilontarkan ayah kepada anak-anaknya di bawah ini.

Begini maksud kebelum-yakinan saya, yang dimaksud Tuhan dengan marah itu gimana, sedangkan Imam Eli di bawah ini juga nampaknya sudah menegur, ataukah teguran itu tanpa disertai “emosi” dalam bentuk nada? Sehingga anaknya menyepelekan teguran itu karena tidak keras dan tidak ada tindakan pendisiplinan? You judge yah.

1 Samuel 2:22-25, 27-31, 34 (TB) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,
berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun?
Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbah-Ku, membakar ukupan dan memakai baju efod di hadapan-Ku; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban api-apian orang Israel.
Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?
Sebab itu — demikianlah firman TUHAN, Allah Israel — sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang — demikianlah firman TUHAN —: Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.
Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu.
Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati.

** Jadi Imam Eli ini sudah memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa dosa demikian menyebabkan tidak adanya perantara yang bisa melakukan penghapusan dosa…karena dosa yang mereka lakukan adalah langsung terhadap Tuhan, yaitu tidak menghormati korban bakaran yang sedang dilakukan kepada Tuhan.

Kita juga belajar dari peristiwa ini dan peristiwa penghakiman Tuhan lainnya bahwa jika salah satu dalam keluarga berdosa, maka dosa itu bisa ditanggung oleh seluruh keluarganya. Contohnya adalah Akhan yang mengambil jarahan, ia beserta anak isterinya semua dihancurkan. Raja Daud saat berdosa membunuh suami Batsyeba, pedang tidak pernah lalu dari keturunannya. Demikian juga sebaliknya, saat seorang diselamatkan, seluruh keluarganya juga bisa diselamatkan.

1 Samuel 3:11-14 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising kedua telinganya.
Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir.
Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!
Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.”

Orang tua sering ‘takut’ memarahi anaknya, sebab mungkin jika dimarahi, anaknya malah makin berontak; atau jika didisiplin anaknya makin berandalan. Banyak ketakutan-kekuatiran ortu dalam memarahi/mendisiplin anak, sehingga anak-anak dibiarkan saja berdosa dan melakukan sekehendak hati mereka tanpa didikan dan pendisiplinan, a/n demi “menjaga” hubungan. Anak-anak Imam Eli jelas-jelas berdosa tetapi tetap saja mereka menduduki posisi sebagai imam – ini jelas menyesatkan rakyat dan menyedihkan rumah Tuhan (Tuhan).

Gereja takut mendisiplin pelayan Tuhan, pemain musik, majelis, hamba Tuhan karena takut mereka kenapa-napa (keluar dan menjelekkan) – mereka lebih takut kepada manusia dibanding kepada Tuhan. Ini penyesatan dalam gereja… saat pembiaran terjadi, maka gereja sudah roboh/bolong/hancur secara rohani/rohnya.

Saya sangat acung jempol terhadap beberapa gereja di Amerika yang bahkan berani mendisiplin gembala seniornya dan seorang nabi karena pelanggaran yang mereka buat dengan kesengajaan berulang kali seolah tidak ada pertobatan (pre-meditated sins, bukan khilaf sesekali). Ini harus terjadi dalam rumah Tuhan agar yang najis dan tidak berkenan kepada Tuhan dapat disucikan – sekiranya dapat dikembalikan pada posisi semula setelah terjadi pertobatan. Karena dengan Tuhan mengatakan bahwa “karena imam Eli tidak memarahi anaknya,” berarti jika sang imam marah, sedianya posisi itu bisa kembali, dan amarah Tuhan/penghakiman Tuhan bisa dibendung/ditarik. Tetapi karena tidak ada kemarahan yang disertai pendisiplinan agar anak-anaknya berhenti melakukan pelanggaran, maka dosa terus terjadi di dalam bait Allah dan Tuhan dihujat serta tidak dihormati.

Dalam pelayanan kami, pendisiplinan merupakan sesuatu yang normal – ada yang mendapatkan pendisiplinan ringan 2 bulan, ada yang 3 bulan, ada yang berbulan-bulan bahkan 1 tahun lewat. Itu tidak menjadi masalah, sebab mereka yang mau dididik akan menerima didikan, mereka yang tidak siap rendah hati akan keluar dan makin liar. Tetapi tugas seorang pemimpin adalah memarahi dan mendisiplin jika harus ditetapkan. Ada yang karena seenaknya di kelas, karena menyepelekan waktu, ada yang karena tidak membuat tugas, ada yang bolong integritasnya, ada yang tidak murni dalam menjawab, ada yang karena melawan, dan sebagainya. Ada berbagai macam pelanggaran yang jika tidak disertai ‘kemarahan’ (pendisiplinan) orang tersebut tidak sadar dan tidak berbalik dari cara pikirnya – itu sebabnya pendisiplinan diharapkan akan membuat mereka mengerti atau jera dan tidak macam-macam di kemudian hari.

Gereja tanpa pendisiplinan kacau dan liar. Dan ini sudah jadi trend, ada gereja-gereja yang tidak pernah mendidik jemaatnya, pelayannya, hamba Tuhannya, pemusiknya – dan percayalah, mereka liar! Pemusik setelah main musik keluar ngobrol-ngobrol atau bahkan merokok, tidak mendengarkan Firman, dan hanya masuk lagi untuk menutup acara. Tidak ada seorang pun berani menegur karena jika ditegur mereka akan pindah gereja lain dengan bayaran yang lebih tinggi. Gereja takut kehilangan mereka, dan gereja hancur! Gereja tidak punya integritas, gereja jadi suam, gereja tidak mengajarkan 100% kebenaran, gereja berkompromi, akhirnya Firman tidak dapat diaplikasikan karena pemimpinnya takut. Tidak tahu bagaimana kesudahan gereja yang seperti ini jika kita belajar dari penghukuman Tuhan kepada keluarga Imam Eli.

1 Samuel 3:11-14, 18 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising kedua telinganya. Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir. Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.”
Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatu pun. Kemudian Eli berkata: “Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.”

Saya tidak tahu dalam hal ini hati Tuhan, apakah masih bisa meleleh jika Imam Eli mau memarahi anak-anaknya, sebab kesempatan masih ada, Tuhan berbicara kepada 2 orang yang berbeda, berarti masih ada sekian kurun waktu sebelum penghakiman itu diturunkan. Tapi, kenapa sang imam hanya bilang “biar kehendak Tuhan yang jadi?”

Saya berpikir mimpi/nubuatan/words of knowledge diberikan agar kita bertobat, bukan hanya nrimo. Sebagai ortu, jika ada anak bandel, ortu udah bilang mau hukum bla bla blah… kalo anaknya jadi baik dan manis, mana tega penghakiman diturunkan? Entahlah, tapi kenapa tidak dicoba,… kenapa Imam Eli tidak memarahi anak-anaknya saat mendapatkan nubuatan itu??? Kenapa, kenapa? Kenapa harus seluruh keturunannya mengalami kematian dini?

Bukan sang imam yang berbuat dosa, tapi hanya karena ia tidak memarahi anak-anaknya, maka seluruh keturunan imam sesudah dia dihukum dan tidak ada seorang kakek lagi dalam keturunannya karena mereka semua mati muda. Ini mengenaskan kekal. Mari kita belajar untuk berani marah kudus, bukan emosi teriak-teriak… sebab yang model begini dikatakan bahwa tidak mendatangkan kebenaran/kebaikan. Pikirkan dan doakan, mintakan hikmat Tuhan sebelum memberikan pendisiplinan dalam kemarahan, agar yang keluar bukan daging tetapi didikan kudus. Selamat “marah”…:)

Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. 2 Samuel 7:14 (TB)

By | 2017-01-14T06:19:17+07:00 January 14th, 2017|From Maq's Heart|0 Comments

Leave A Comment

16 − four =