Membaca urutan kisah Yonatan dan sumpah ayahnya yang hampir membunuhnya, kita akan melihat bagaimana mereka berdua punya jiwa-jiwa ksatria. Yonatan muda yang baru menjadi anak raja, ternyata sudah lama dipersiapkan Tuhan dan mempersiapkan diri menjadi seorang dengan jiwa pahlawan. Dia langsung diangkat ayahnya untuk memimpin 1000 pasukan, padahal dia punya 2 kakak cowok lainnya, tapi Yonatan yang dipilih, karena tentunya dia teruji dan terbukti dalam sikapnya dan kepemimpinannya. Ayahnya membawa 2000 pasukan, Yonatan 1000. Dengan mereka dan bujang asisten, Yonatan memukul kalah tentara Filistin yang sudah terlatih dan membawa pedang. Sedangkan pedang pada orang Israel hanya 2 saja saat itu, Saul dan Yonatan. Praktis pasukan Yonatan ini bergerak tanpa pedang, tapi mereka menang.

Di bawah ini ada kisah ksatria Yonatan yang sangat menyenangkan dan mengagumkan, sifat anak muda ini luar biasa; dia berjiwa besar dan sangat bijaksana. Ia berperang dan kecapaian, ia melihat madu dan mencedoknya, karena ia tidak tahu bahwa ada larangan dan hukuman mati yang menyertainya. Ia tahu sangatlah tidak bijak jika berperang sambil berpuasa,… tentulah tenaga mereka terkuras, apalagi peperangan ini bukan cuman bekerja giling gandum, ini membunuh manusia yang begitu banyak – taruhannya nyawa. Puasa? Well….

1 Samuel 14:26-34 (TB) Ketika rakyat sampai ke hutan itu, tampaklah ada di sana madu meleleh, tetapi tidak ada seorang pun yang mencedoknya ke mulutnya dengan tangan, sebab rakyat takut kepada sumpah itu. Tetapi Yonatan tidak mendengar, bahwa ayahnya telah menyuruh rakyat bersumpah. Ia mengulurkan tongkat yang ada di tangannya dan mencelupkan ujungnya ke dalam sarang madu; kemudian ia mencedoknya ke mulutnya dengan tangan, lalu matanya menjadi terang lagi. Dan seorang dari rakyat berbicara, katanya: “Ayahmu telah menyuruh rakyat bersumpah dengan bersungguh-sungguh, katanya: Terkutuklah orang yang memakan sesuatu pada hari ini; sebab itu rakyat letih lesu.”
Lalu kata Yonatan: “Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini. Apalagi, jika sekiranya rakyat pada hari ini boleh makan dengan bebas dari jarahan musuhnya, yang telah didapatnya! Tetapi sekarang tidaklah besar kekalahan di antara orang Filistin.”
Dan pada hari itu mereka memukul kalah orang Filistin dari Mikhmas sampai ke Ayalon. Rakyat sudah sangat letih lesu, sebab itu rakyat menyambar jarahan; mereka mengambil kambing domba, lembu dan anak lembu, menyembelihnya begitu saja di atas tanah, dan memakannya dengan darahnya.
Lalu diberitahukanlah kepada Saul, demikian: “Lihat, rakyat berdosa terhadap TUHAN dengan memakannya dengan darahnya.” Dan ia berkata: “Kamu berbuat khianat; gulingkanlah sekarang juga sebuah batu besar ke mari.” Kata Saul pula: “Berserak-seraklah di antara rakyat dan katakan kepada mereka: Setiap orang harus membawa lembunya atau dombanya kepadaku; sembelihlah itu di sini, maka kamu boleh memakannya. Tetapi janganlah berdosa terhadap TUHAN dengan memakannya dengan darahnya.” Lalu setiap orang dari seluruh rakyat membawa serta pada malam itu lembunya, dan mereka menyembelihnya di sana.

1 Samuel 14:37-38, 40-45 (TB) Saul bertanya kepada Allah: “Bolehkah aku mengejar orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tangan orang Israel?” Tetapi pada hari itu Ia tidak menjawab Saul. Lalu kata Saul: “Datanglah ke mari, kamu segala pemuka rakyat; berusahalah mengetahui apa sebab dosa ini terjadi pada hari ini. Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: “Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain.” Lalu jawab rakyat kepada Saul: “Perbuatlah apa yang kaupandang baik.”
Lalu berkatalah Saul: “Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim.” Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput. Kata Saul: “Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan.” Lalu didapati Yonatan. Kata Saul kepada Yonatan: “Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat.” Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: “Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati.”
Kata Saul: “Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati.”
Tetapi rakyat berkata kepada Saul: “Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambut pun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini.” Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati.

Waktu Yonatan diam, bukan berarti dia tidak mengaku – dia mungkin masih bingung apakah ke-innocent-annya mencedok madu adalah suatu pelanggaran kepada Tuhan. Tetapi saat didapati bahwa Tuhan memang menetapkan kesalahan itu terhadap Yonatan, dia RELA MATI DIBUNUH. Ini sudah soal Tuhan, penetapan hukuman dari Tuhan. Dia juga TIDAK MEMBELA DIRI DENGAN MENYATAKAN BAHWA DIA TIDAK MENDENGAR PERINTAH AYAHNYA.

Saya masih saja gagal jika diperhadapkan dengan tuduhan yang memang saya benar, saya masih membela diri dan tidak siap “mati.” Kadang ini menyebalkan diri saya sendiri, betapa inginnya saya meletakkan hidup saya sepenuhnya kepada Tuhan untuk “dibunuh” jika saya layak dan ditetapkan untuk “dibunuh.” Pada waktu reuni IAA di Bali saya menyampaikan mengenai anak Yefta yang karena kebodohan nazar ayahnya, ia yang innocent juga harus mati. Saya begitu mengagumi jawaban anak 12 tahun itu yang sama sekali tidak ada nada menyalahkan ayahnya, tapi merelakan dirinya dibunuh walaupun sama sekali tidak bersalah. Walaupun ‘kemajuan’ saya sudah sampai di “rela”nya, tapi jawaban saya masih ada sentilan menyalahkan orang lain. Saya mau terus belajar “kosong” dan “mati” – ini jalan sempit, permintaan Yesus untuk menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri berarti tidak membela diri, kosong dan mati. Memikul salib berarti siap mati, seperti Yesus yang tidak membela Diri-Nya di hadapan para musuh-Nya dan pemerintah dunia. Bisa saja Ia membebaskan Diri dan mengundang bala tentara Sorga untuk datang menolong-Nya, tetapi Ia menyerah.

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku
. Lukas 9:23

Ayat ini berkata SETIAP HARI. Tapi berapa banyak orang Kristen belajar untuk hidup seperti ini? Kesenggol sedikit saja sudah bacokin ‘musuhnya,’ gak seneng ati langsung menyatakan ‘perang;’ kejahatan dibalas dengan kejahatan 12x lipat.

Waktu saya membaca kasus ini bahwa Tuhan ‘harus’ menurunkan penghakiman atas kematian Yonatan, ada 2 hal yang saya pikir ada di benak Tuhan:
1. Karena itu nazar seorang raja, maka Tuhan harus secara rata melaksanakan perjanjian/covenant antara manusia dengan Dia. Sorga memegang surat wasiat untuk menurunkan ketetapan tindakan. Sementara tindakan penghukuman dilaksanakan oleh manusia di bumi yang mengadakan covenant tersebut. Jadi sebaik-baiknya Yonatan dan secinta-cintanya Tuhan terhadapnya, Dia tidak pandang bulu jika itu sudah menyangkut covenant. Tuhan dalam kebaikan-Nya toch bisa membawa kasus kematian tubuh Yonatan dan menggantikannya dengan sukacita hidup dalam kekekalan yang jauh lebih enak dibanding hidup di jaman segitu yang belum ada Uber, FB, Line, Laptop, dan Android.
2. Tuhan juga memandang kepada 2 pahlawan-Nya: Saul dan Yonatan. Saul yang juga berterimakasih atas kepahlawanan Yonatan, jika memang anaknya sendiri yang dikasihinya dan bisa membela bangsanya ini melanggar dan harus mati, apakah dia juga berjiwa ksatria untuk merelakan anaknya dibunuh. Demikian juga Yonatan, apakah saat ia didapati melakukan kesalahan sekalipun dia tidak tahu ada peraturan, apakah jiwanya teruji? Ternyata keduanya teruji – lolos; bahkan keTiganya, bersama dengan Tuhan yang menguji batin mereka, ketiganya berjiwa ksatria. Amazing!

Saat keTiganya didapati “utuh,” maka pembelaan datang dari rakyat. KeTiganya dibebaskan dari penghukuman yang tidak berguna itu. Ternyata keTiganya telah membuat kejadian tersebut menjadi kosong – annul.
1. Karena Saul untuk meminta rakyat puasa pada saat perang tentulah tidak bijak.
2. Yonatan memberikan diri untuk dibunuh karena tidak berpengertian, tentulah juga innocent.
3. Tuhan disuruh mengikat perjanjian bodoh manusia yang… my goodness... stupid itu – ya Dia ikat, tapi ini adalah perjanjian sembarangan yang harus dimeteraikan Sorga.

Misalnya seorang notaris diminta mengesahkan permintaan kebodohan atas perjanjian orang yang gak berpikir panjang di atas materai, dia akan melaksanakan, dan perjanjian itu diikat di atas materai dan sah. Tapi itu akhirnya bisa dibatalkan atas persetujuan orang banyak yang disetujui untuk dirombak kedua belah pihak. Notaris hanya mengikuti saja kehendak orang banyak, jadi perjanjian bisa dibatalkan atas kesepakatan ketiga belah pihak.

Kisah pembatalan perjanjian ini nampak enak dan mudah karena ada Yonatan yang TIDAK MEMBELA DIRI DAN BERJIWA KSATRIA. Tapi bagaimana jika Yonatan membela diri dan teriak-teriak di hadapan ayahnya? Bagaimana jika dia malah menuduh ayahnya yang tidak becus dalam menetapkan nazar?

Saya menyaksikan banyaknya orang yang sudah diajar untuk berjiwa besar tapi masih saja terus membela diri, menyalahkan orang lain, menuduh, tidak mau berubah-ubah, teriak-teriak, nuding-nuding, dan kalap. Mereka jelas-jelas salah, tapi tidak mau belajar untuk berubah malah kalap. Ini tidak ada jiwa ksatrianya sama sekali, apalagi menyerahkan diri untuk mati. Uang sedikit saja langsung disinggung sampai berantem; hal kecil saja sudah emosi. Sampai kapan anak-anak Tuhan bisa MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIB, “kosong dan mati,” menyerahkan nyawa sekalipun dia innocent?

Biarlah kisah Yonatan ini menjadi kesaksian besar dalam batin manusia roh kita, untuk belajar hidup sepertinya, sekalipun ia benar, saat dipersalahkan dia tidak membela diri dan rela mati. Pembelaan datangnya dari Tuhan melalui suara rakyat.