Bilangan 22:9-11 (TB) Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: “Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?” Dan berkatalah Bileam kepada Allah: “Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka.”

Saya mempelajari bahwa jika kita dipimpin Roh, sejalan dengan kehendak-Nya, maka tidak akan ada teguran. Tetapi ketika kita mulai melenceng, maka Tuhan akan mengirim evangelists, atau berbicara lewat mimpi agar kita tidak tersandung.

Tuhan mengirim nabi Nathan sehabis Daud berbuat dosa. Tidak ditulis di sana bahwa Tuhan memberikan mimpi atau ada peringatan nabi sebelum kelakuan dosa itu. Tetapi jika Daud mau belajar, Uria itu sendiri adalah peringatan Tuhan terhadap Daud waktu dia tidak mau pulang, waktu dia menyatakan kesetiaannya kepada Daud. Sebenarnya Daud masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kelakuannya dan tidak menambah dosa pembunuhan di atas perjinahan.

Tetapi peringatan sebelum perjinahan tidak ada tertulis di sana kecuali bahwa kita diberi clue mengenai hati nurani Daud yang sangat peka waktu dia memotong punca jubah tuannya dan berdebar. Kita tidak diberi info di sini apakah dia masih mempertahankan kinerja debaran itu ataukah makin tua makin mengendur.

Lalu ketika Tuhan bertanya kepada Adam ‘dimanakah dia,’ bukan berarti Tuhan gak tau posisi mereka. Pertanyaan Tuhan kepada Bileam ‘mereka itu siapa’ juga tidak perlu dijawab leterlek. Ini adalah menanyai sikap hati kita tentunya… kenapa kita sampai di posisi yang demikian (salah/melenceng)?

Ada kesempatan luar biasa ketika Tuhan memberikan kita peringatan atau mimpi atau teguran, karena Dia tidak membiarkan kita terperangkap dalam kejatuhan dan dosa beruntun. Dosa nabi Bileam ini akhirnya beruntun. Dosa Daud juga. Betapa mengerikannya jika kita mengabaikan hati nurani dan peringatan-peringatan yang bagi orang yang niatan hatinya sudah membuahkan maut… karena upah dari kebebasan hati nurani membuahkan kebinasaan.

Bilangan 22:15-22 (TB) Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: “Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku, sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apa pun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.”

Tetapi Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: “Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. Oleh sebab itu, baiklah kamu pun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.”

Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: “Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.” Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.

Kebanyakan kita suka minta KONFIRMASI untuk hal-hal yang kita sudah tahu bukan kehendak Tuhan. Saat Tuhan sudah menjawab tidak, kita masih keliling mencari konfirmasi yang hanya maunya menyenangkan kita dan bukan menyenangkan Tuhan. Kita akan menyelidiki semua Firman yang mendukung kehendak kita. Lalu kita berusaha menolak Tuhan dengan cara halus lewat konfirmasi yang disesuaikan dengan keinginan hati. Kita mulai menghindari dan mengabaikan orang-orang yang mengingatkan kebenaran terhadap kita. Kita cenderung nyaman dengan mereka yang mendukung kehendak daging kita. This is a real trap and real danger!

Saya tidak tau apakah karena upah Bileam meminta konfirmasi ulang, walaupun di sana dikatakan bahwa seisi istana pun dia tidak akan menerimanya jika Tuhan melarangnya pergi. Tapi di PB ditulis bahwa ia menyukai upah. Apakah prestige? Entahlah dan tidak penting semua kebutuhan kebutuhan manusia jika dibanding dengan larangan Tuhan; tidak berarti dan tak berguna juga semua pekerjaan/pelayanan yang kita pikir untuk Tuhan jika Tuhan melarangnya.

Saya bisa mengerti mengapa Tuhan akhirnya menjadi lawannya ketika Bilean akhirnya pergi walaupun Tuhan menyuruhnya karena 2x dia tanya dan minta konfirmasi itu tadi. Ini menyebalkan sekali. Sama seperti Musa ketika beberapa kali menolak Tuhan dan walaupun akhirnya dia pergi, di tengah jalan Tuhan hendak membunuhnya. Ah, jika kita mau belajar menelusuri hatinya Tuhan… tentulah kita tidak kena celaka!

Bilangan 22:27-29, 31, 33 (TB) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?” Jawab Bileam kepada keledai itu: “Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”
Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.”

Lihat, orang yang melakukan kehendaknya sendiri selalu jadi emosian jika ada yang berusaha menghalangi perjalanannya (yang padahal) menuju kebinasaan. Ia jadi dungu dan tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang dalam kebaikannya masih ingin menyadarkan dan mencelikkan matanya terhadap jurang kebinasaan.

Nabi pun bisa emosional dan tidak peka terhadap ranjau-ranjau Tuhan. Bagaimana kita terhindar jika kita tidak senantiasa heed on the Word of God, on His will? Kita harus terus peka dan terhubung erat dengan sinyal Sorga.

Saya ingat suatu hari dalam perjalanan seusai pelayanan saya diminta untuk ugh… ‘sekedar’ khotbah ulang tahun orang tuanya teman saya. Tapi saya tahu di hati Tuhan melarang. Teman saya merengek dan berkali-kali meyakinkan bahwa cuman sebentar dan hanya kekeluargaan. Waktu kami tiba dengan bis dan saya masuk rumahnya, ternyata semua sudah di-set sedemikian rupa, dan para tamu undangan sudah datang cukup banyak beserta keluarga besar dan pendeta-pendeta setempat.

Saya ditolong sedemikian rupa agar keluar saat waktu khotbah agar tidak kecapaian karena kami baru menempuh jalan darat yang cukup panjang. Berulang kali saya nego dengan teman tetapi semua sudah terlanjur di-set. Antara melayani, menyenangkan hati keluarga teman, tetapi saya tahu saya melanggar Atasan.

Saya berkhotbah sebentar, makan, menyalami semua tamu, kemudian masuk kamar dan… bang! Saya berhadapan dengan Tuhan. Tidak ada suara apa pun yang saya dengar, tetapi saya tau saya diadili. Saya telah melanggar Tuhan lewat hati nurani. Saya meraung malam itu sampai jam 3 pagi. I don’t know if you know what I feel. Air mata dan ingus saya keluar seperti aliran sumur sepanjang 5-6 jam — never been like that before and don’t want to repeat ever!

Yang keluar dari mulut saya cuman: “Ampunnnnnn Tuhan, ampunnnnnn…” saya meraung dan melolong sampai pagi. Saya merasa seperti tidak ada ampun, seperti melakukan dosa pembunuhan yang sangat keji. Nyatanya “sekedar” yang mungkin kebanyakan pelayan Tuhan gak sadar bahwa hal yang nampaknya suatu kehormatan tetapi jika bukan Tuhan yang menyuruhnya menjadi suatu kekejian… it’s only khotbah, you know! Bukankah itu memberkati, melayani, kasih, tidak menyakiti hati keluarga teman…?

Hitungannya beda dengan Tuhan – ini soal ketidaktaatan. Keesokan pagi itu acaranya sangat penuh, tetapi saya memasang note di depan pintu ‘hotel’ saya bahwa saya tidak bisa diganggu sampai sore. Saya berpuasa dan meminta perkenan Tuhan.

Bagaimana saya peduli dengan urusan-urusan lain yang lebih rendah daripada tersungkur di kaki Tuhan untuk memohon perkenanan-Nya sekali lagi?

Seperti Bileam, bernubuat bisa menjadi suatu kekejian, dan berkhotbah yang bukan utusan Tuhan bisa menjadi jerat bagi saya!

Andaikan saya bisa selalu ingat dan belajar peka, belajar taat total, belajar heeding on His voice daripada menyenangkan manusia atau sungkan kepada mereka. Saya sudah belajar untuk hidup dalam ketidaksungkanan untuk sekedar memperoleh perkenanan manusia. Saya hidup hanya memperkenankan Tuhan, sekalipun beberapa banyak kali diguyur celaan, nistaan, saya tidak berurusan dengan manusia, tetapi saya melayani Tuhan saja.

Saudara dan saya mungkin tidak akan bisa selalu ingat peristiwa demi peristiwa masa lalu dimana kita bisa belajar agar tidak tersandung saat diperhadapkan dengan ujian-ujian yang baru lagi, tetapi heed this:
-ikuti pimpinan Roh
-Jangan takut kepada manusia
-Jangan mengingini harta, upah, untung, prestige
-Jangan minta konfirmasi jika Tuhan sudah bilang “no”
-Atau jangan semaunya jika Tuhan sudah bilang “yes”

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Galatia 1:10

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 1 Samuel 15:22