Minggu lalu kita telah belajar bagaimana hal kecil dapat menentukan posisi seseorang; dalam hal Daud yang tetap menghargai musuhnya dengan sebutan “tuanku,” bahkan mengajari anak-anak buahnya agar tidak membunuhnya, ini merupakan pelajaran besar yang akan menuntun kita menjaga urapan yang akan mendudukkan kita ke tempat tinggi yang dipersiapkan Tuhan bagi kita.
Jika Saudara perlu direfresh lagi, kembalilah ke FMH minggu lalu dan bacalah ulang untuk menolong dan menjagai urapan itu.
Di bawah ini, kisah yang sangat mengenaskan dari seorang yang sudah kehilangan urapan dan masih tetap tidak mau mendengarkan Tuhan. Saul, sudah dibebaskan dari kematian oleh musuhnya, sudah menangis dan mengakui bahwa Daud berhati baik, tetap saja tidak mau bertobat dan terus mengejar Daud. Dari fasik keluar kefasikan.
1 Samuel 26:1-2, 5, 7-11 (TB) Datanglah orang Zif kepada Saul di Gibea serta berkata: “Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara.” Lalu berkemaslah Saul dan turun ke padang gurun Zif dengan tiga ribu orang yang terpilih dari orang Israel untuk mencari Daud di padang gurun Zif. Berkemaslah Daud, lalu sampai ke tempat Saul berkemah. Waktu Daud melihat tempat Saul berbaring dengan Abner bin Ner, panglima tentaranya, — Saul berbaring di tengah-tengah perkemahan, sedang rakyat berkemah sekelilingnya —
Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya. Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: “Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali.”
Tetapi kata Daud kepada Abisai: “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?” Lagi kata Daud: “Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi.”
Abisai, pahlawan gagah perkasa, prajurit handal, masih saja berbeda dengan kualitas seorang calon raja yang menjaga urapan. Daud membiarkan musuhnya hidup, sebab dia tahu arti urapan, walaupun urapan Tuhan sudah tidak berlaku atas Saul lagi, tetapi Daud mengerti bagaimana menghormati dan menjaga “tuannya” yang memusuhinya.
Daud juga tahu hukum tabur-tuai – tetapi Saul dan Abisai tidak. Orang yang kehilangan urapan tidak lagi mempedulikan hukum alam, hukum Sorga, yang penting ia melaksanakan niat hatinya yang jahat. Saya melihat banyak sekali orang Kristen yang tidak bekerja sama dengan urapan, yang tidak takut Tuhan, yang bodoh karena tidak pernah berpikir bahwa saat ia “menjamah orang yang diurapi,” ia sedang menjamah biji mata Tuhan. Saat itu terjadi, maka seperti kata Daud, “… sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?”
Jika Saudara membaca kisah selanjutnya, masih saja orang yang sudah kehilangan urapan itu tidak kapok, masih terus mengejar hendak membunuh Daud walaupun ia sudah dibebaskan dari pedang Daud. Saya membaca judul buku atau quote dari Paul Coelho: “A mistake repeated more than once is a decision,” saya pikir betul juga. Seharusnya jika seseorang sudah melakukan suatu tindakan kesalahan atau kebodohan sekali, maka untuk mengulanginya, dia akan teringat dan menjauhi. Perbuatan Saul ini bukan suatu kesalahan, kekhilafan, tapi kesengajaan tindakan kejahatan dari hati; membaca kejahatannya bisa capek ati sendiri, kok orang bisa sedemikian disetir setan? Man,...orang ini sedang berbuat jahat terhadap dirinya sendiri, ia sedang mencelakakan masa depannya!
Dan benar, saat ia mau dipakai sebagai alatnya iblis, maka iblis yang kerjanya sebagai pencuri, pembunuh, dan pembinasa itu segera akan membinasakannya. Hidup orang yang kehilangan urapan serba terjepit, tidak ada enak-enaknya sama sekali. Rancangannya selalu jahat, pikirannya tidak pernah mengarah kepada kebaikan; ia tidak sadar bahwa ia sedang melukai diri sendiri dengan keras. Saul, saat terus melakukan niat jahatnya, iblis segera menjebaknya dengan perangkap kematian, kebinasaan – Tuhan mendatangkan musuhnya, yaitu bangsa Filistin, dan Saul ketakutan. Dia mencari Tuhan lewat semua media, dan Tuhan tidak berkenan ditemui. Maka ia datang ke dukun di Endor – inilah penurunan moral terrendah dari seorang yang kehilangan urapan sebelum ia membunuh dirinya.
Ada suatu saat dimana dalam kebodohan kita bisa saja melakukan kesalahan, walaupun urapan Tuhan ada atas kita. Tetapi saat kita diperhadapkan lagi dengan kasus-kasus yang mirip, seharusnya kita cepat menghindar, jangan merenungkan perbuatan dosa itu, sebab itu akan menyeret ke dalam sebuah tindakan. Dan itulah cara kerja iblis, dia akan membuat kita terngiang-ngiang mengingat betapa nikmatnya dosa, betapa indahnya ada di dalamnya – bohong besar! Kita semua tahu bahwa dosa hanya manis di ‘mulut’ tetapi sampai ke ‘perut’ jadi pahit.
Tetapi saat dengan berani kita melakukan dosa/kesalahan yang sama, maka kita memang sudah memutuskan untuk tinggal di dalamnya, untuk menerima tawaran dosa, untuk bergaul dengan kegelapan. Dengan demikian, pengulangan akan berlanjut untuk menjerat victimnya sampai urapan itu tidak bisa ‘hidup’ bersama dalam aura dosa, dan victim setan itu akan kehilangan urapan. Saat urapan itu sudah pergi, kita tahu rentetan kisah Saul dari A-Z. Kita tidak bisa menganggap enteng perangkap iblis dan berpikir bisa main-main sedikit dengannya tanpa kena akibat besar. Kita berpikir hanya orang bodoh seperti Saullah yang mudah kena tipu sampai mengejar Daud untuk membunuhnya. Orang yang diurapi seperti kita pun bisa jadi victim jika kita tidak menjaga hati dan menolak tipu nikmat iblis. Jangan dipikir bahwa perbuatan maksimal yang iblis lakukan adalah lewat cara-cara seperti pembunuhan; sebab Saul ditipu dengan IRI HATI, sebelum dia membenci, dengki, membalas, kemudian baru digiring untuk membunuh musuhnya, mencari dukun, sampai bunuh diri.
Jadi hal yang nampak kecil seperti iri hati mengandung potensi yang sangat besar sampai kepada pembunuhan seperti Jes-sica sianida; mungkin kalau kalangan orang Kristen gosip, pemburukan nama, menjelekkan, itu sama potensinya di alam roh dengan sianida. Mungkin hanya seperti TERSINGGUNG dengan teguran, Saudara bisa memendam dengki dan pembalasan, dan berpotensi untuk pemburukan nama yang berarti meracun victimnya.
Jagalah hatimu, jangan ada keegoisan diri; sangkallah dirimu, kasihilah musuhmu.
Jaga urapan itu dengan menyalibkan dagingmu.
Jangan merugikan orang lain, jadilah seperti Kristus yang rela mati bagi musuh-musuh-Nya.
Milikilah sifat dan urapan yang ada pada Raja Daud, jagailah urapan itu dengan roh takut akan Tuhan dan roh kasih kepada musuh-musuhmu. Serahkan kepada Tuhan pengkhianatan mereka, pemburukan namamu oleh mereka, fitnahan mereka. Dan jika engkau pelaku dari kejahatan itu, bertobatlah, datanglah dan akuilah kesalahanmu kepada mereka yang telah kau bunuh di alam roh – maka engkau akan sembuh dan Tuhan dapat mengembalikan urapan itu seperti Daud.
Leave A Comment