1 Samuel 24:6-7 (TB)  (24-7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” (24-8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

Peristiwa ini terjadi ketika Saul mengejar Daud, tetapi karena ia kebelet poop, dia masuk ke dalam gua, dimana Daud dan orang kepercayaannya berada. Saul yang tidak menyadari ada orang banyak di situ, orang-orang Daud menyuruh Daud membunuhnya, tetapi Daud menolak. Jika Saudara membaca dengan teliti jawaban Daud di sini, dia tetap refer kepada orang-orangnya bahwa Saul itu “tuannya,” walaupun sudah menjadi musuh dan mengejarnya sebagai pembunuh. Rasa hormat Daud keluar dari hatinya, di hatinya tidak ada permusuhan dan kebencian, tidak ada durhaka atau laknat. Bagi saya ini merupakan kualitas seorang yang layak dipakai Tuhan menjadi orang besar dalam tangan-Nya.

Sebab persoalan hati itu tidak ada hubungannya dengan urapan; Saul juga diurapi, tapi hatinya buruk, kebalikan dari isi hati Daud. Sombong, penuh dengan kemunafikan, kebencian, dan full of segala kejahatan. Makanya Daud berkata “dari yang fasik keluar kefasikan,” sebab biar pun Saul sudah diurapi, kalau fasik ya akan terus fasik, jika ia tidak mau bekerja sama dengan urapan Tuhan untuk menolongnya berubah.

Di ayat kedua di atas, kita melihat betapa besar jiwa Daud, ia mencegah anak buahnya untuk bangkit menyerang Saul, tuan mereka. Dengan referring Saul dengan sebutan “tuanku,” Daud mengajarkan kepada mereka juga agar tetap menghormatinya sebagai tuan mereka. Betapa mulia hatinya!

Banyak orang jika tidak senang hati, menyebut orang itu dengan “orang itu,” “dia” “perempuan itu” “kuntilanak” “si jelek” dan sebutan-sebutan jelek lainnya yang melecehkan. Tidak pakai embel-embel penghargaan seperti sebelumnya, “ibu” atau “bapak” bla and bla. Sangat mudah untuk melihat hati seseorang dari kata-kata dan tulisannya, kalau pun ada urusan atau laporan, tidak disertai penghormatan atau bahkan basa-basi, tidak ada flow kemanisan dan kelembutan yang mengalir dari bahasanya. Flat, tidak dengan hati. Ini menandakan hati yang buruk, hati yang tinggi, arogan, tidak bekerja sama dengan urapan, tidak siap dipakai dalam skala besar seperti Daud.

Hati yang demikian hanya bertahan sebentar saja jika dia mengangkat diri/diangkat Tuhan, sebab hati yang tinggi tidak tahan dengan ketinggian, ia akan pongah, akan mendongak, akan mudah jatuh. Saya melihat orang-orang yang tidak menyandang hati yang manis dan lembut, berada di “ketinggian” kebohongan. Sebab semua orang mudah melihat ketinggian hati dan kecongkakan; bahkan mata dunia pun sangat mudah melihatnya, – karena itu bahasa mereka bahasa dunia. Tetapi dunia akan melihat kerendahan hati juga, walaupun mereka tidak bisa mencapainya – ada yang secara natural begitu, tetapi berbeda dengan kerendahan hati dalam urapan. Kerendahan hati dalam urapan akan mendapatkan promosi dan pengangkatan, tetapi kerendahan hati natural tidak akan membawa seorang kemana-mana (selain mungkin imbalan uang dan kepercayaan di pekerjaan dan masyarakat).

Saya pun tahu, bahwa orang yang paling membutuhkan revelation tentang ini pun tidak akan mudah berubah, karena orang yang sombong sulit menemukan/mengakui kesombongan dalam dirinya, apalagi membuatnya menjadi rendah hati! Saya sudah melihat dan mengajar orang-orang yang demikian dan kadang mentok tidak tahu bagaimana menolongnya selain berserah kepada Tuhan dan mengcover mereka dalam kasih dan doa. Sulit mengajar orang picik yang berpikir bahwa dirinya sudah benar dan tidak memerlukan perubahan; bahkan urapan Tuhan pun tidak bisa menembus kerasnya batok kepala Saul yang sudah didudukkan-Nya sendiri menjadi raja umat-Nya. Sudah berapa kali Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat, tetapi hati yang keras tetap berkeras, dan rupanya ketinggian justru mencelakakan orang yang tinggi hati.

Tidak dengan Daud, hati yang lembut dan penuh kasih menolongnya/menjaganya berada di ketinggian. Pengajaran dan pendisiplinan menolongnya menjadi orang yang lebih mapan dalam bersikap. Saat kita membaca sikap hati Daud, ahh… bagaimana mungkin Tuhan melewatkan seorang anak muda di padang domba? Ia yang dibedakan dari kakak-kakaknya, ia yang tidak masuk dalam hitungan ayahnya waktu diadakan audisi pemilihan seorang raja – tapi Tuhan menemukan hati seorang Daud yang LEMBUT, PENUH PENGHORMATAN, PENUH BELAS KASIH, PENUH KEBAIKAN, dan Ia mengurapinya untuk persiapan menjadi raja yang besar sepanjang masa. Namanya selalu berkumandang dimana-mana sampai kekal, sedang nama Saul sama sekali dihindari orang, tidak ada keluarga yang ingin menamai bayi yang baru lahir dengan nama Saul. Ia fasik dan tetap fasik walaupun sudah menyandang urapan yang luar biasa, urapan nabi, urapan raja, urapan pemenang, pembela Israel – sama saja, semua urapan tidak berguna di atas kepala orang fasik.

Ini memang mencengangkan, but it’s so true. Saya melihat banyaknya orang yang maunya dipakai Tuhan dengan luar biasa, dia juga belajar banyak Firman dan mengajar, tapi saat masuk dalam ujian kerendahan hati, dia menolak. Dari tahun ke tahun Tuhan memberikannya kesempatan, tapi ia memilih jalan keras seperti Saul: jika ditegur malah menyalak dan menyalahkan penegurnya, jika mendapatkan pernyataan peringatan/mimpi malah dibalik jadi orang lain sebagai pelaku kejahatan; jika kedapatan benar-benar bersalah tidak pernah minta maaf, atau ada yang minta maaf dan kelihatan menyesal sementara, tapi sehabis itu menyerang penegurnya di balik punggung otoritasnya. Itulah spirit saul, setelah ia menangis karena disadarkan Daud (kisah di ayat-ayat berikut ini), besoknya ia mengejar hendak membunuh Daud lagi. Tidak ada kekecewaan dan rasa takut Tuhan dalam hati mereka; ini fatal, karena ini jalan Saul, jalan menjauhi urapan.

Orang yang bekerja sama dengan urapan, tetap menghormati musuh-musuhnya, tidak berbuat kejahatan kepada musuhnya, melindungi musuhnya. Di bawah ini kisah mengagumkan dari orang yang bekerja sama dengan urapan itu, saat ia tidak berani menjamah otoritasnya, melindunginya, dan tetap mengasihinya, sayang padanya dengan tetap memanggilnya “tuanku” dan “ayahku” (di ayat lain):

1 Samuel 24:10-11, 17-20 (TB):
(24-10) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.
(24-11) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.
(24-17) Katanya kepada Daud: “Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.
(24-18) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.
(24-19) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.
(24-20) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.

Orang yang sudah kehilangan urapan pun mengerti bahwa hati baik seperti Daud akan diangkat Tuhan untuk menggantikannya. Hati sebaik Daud layak memimpin umat yang begitu besar untuk menggantikannya; dan bahwa jabatan raja akan KOKOH, artinya berbeda dengan dia sendiri yang tidak kokoh karena kefasikan hatinya. Orang yang bekerja sama dengan urapan sangat mudah dilihat, sangat nyolok mata roh.

Hal kecil dapat menyiratkan hati seseorang, bahkan lebih dari itu dapat me-reveal akhir hidup seseorang:
-posisinya, kepercayaan/ketidakpercayaan Tuhan terhadapnya,
-menetapnya/berlalunya urapan Tuhan atasnya,
-kebaikan-kebaikan Sorga/upah neraka yang menyertai sikap hati yang luar biasa/yang jahat.

Marilah belajar membuang kejahatan kecil dalam hati, yang mungkin selama ini lolos dalam penghargaan kepada otoritas, kepada “tuan-tuan” dunia Saudara. Lewat tulisan, lewat kata, lewat gosip, perbincangan dengan sesama rekan, murid, anggota gereja, keluarga, pasangan – jangan sampai ini membahayakan diri sendiri dan membuat urapan Tuhan ngacir dari hidupmu karena sakit hati yang dipertahankan itu. Hormatilah mereka yang layak mendapatkan penghormatan, bukan untuk kepentingan mereka, tetapi untuk kepentingan hatimu. Benahi hatimu agar urapan Tuhan bertahan menjagamu sampai garis akhir dengan sempurna.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman,
begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Mazmur 1:1-6