Suatu hari saya pingin ganti kosmetik, untuk menghilangkan sedikit flaw di wajah fana ini karena sudah bertahun-tahun mengusahakannya masih juga ada di sana. Mampirlah saya ke satu counter produk Jepang yang saya pikir bisa bertukar pikiran sebelum memutuskan membeli atau tidaknya. Pada awal percakapan saya ditanya biasanya pakai merk apa, dan waktu saya sebutkan, cewek tersebut menjawab dan menyarankan, “Kenapa mau ganti? stay saja di kosmetik itu!”
Bagi saya pernyataannya sangat mengejutkan, tidak sama dengan gereja-gereja lain yang jika ada orang sudah baik-baik menetap di gereja lain, dia akan tarik-tarik dan bawa ke gerejanya dengan menjelek-jelekkan gereja asal orang itu. Bahkan pemusik sudah mapan di gereja lain dibajak dengan tawaran salary yang menggiurkan plus motor. Bahkan hamba-hamba Tuhan kaliber pun jika di televisi mengecam denominasi yang tidak sesuai dengannya dan berpikir bahwa dirinyalah satu-satunya yang paling benar di seluruh jagad raya. What a shame! Ini bukan saja mempermalukan tetapi merugikan diri sendiri. Memperlihatkan kesombongan dan kemiskinan jiwa.
Membandingkan hal ini, yang tentunya cewek tersebut sudahlah ditraining oleh perusahannya, saya jadi kagum dan banyak mikir untuk kalangan kita ini, yang seringnya tidak punya jiwa besar malah mempermalukan ‘perusahaan’ Tuhan kita. Justru karena pernyataan si pramuniaga itulah, saya memutuskan untuk memborong kosmetiknya yang mendekati 2 juta dan kembali lagi serta membawa teman-teman lainnya! Saya pikir poinnya bukan terletak semerta-merta di pernyataannya, tetapi bahwa produknya dan keterangan-keterangannya mewakili pernyataan yang berkualitas, betapa produk tersebut sangat memiliki integritas (baik dalam kata maupun dalam segi kualitas). Betapa diuntungkannya perusahaannya yang malah merekomendasikan kosmetik awal dimana customer memakainya. Dia tidak mempengaruhi tetapi memberikan penjelasan yang saya butuhkan berkaitan dengan flaw di kulit wajah saya. Saya jadi berpikir hal lainnya, bagaimana bisa melatih pramuniaga di mall Plaza Senayan untuk memiliki kualitas selevel produknya? Bagaimana kita sebagai orang-orang percaya bisa mentraining jemaat awam untuk bisa merepresentasikan ‘produk’ Sorga dengan cara tidak menjelekkan ‘produk’ lainnya demi keuntungan kita tetapi demi keuntungan kekekalan mereka?
Selanjutnya ada kisah lain yang tidak berbeda dengan pertanyaan membahayakan di atas. Pertanyaan diajukan kepada saya oleh salah satu murid setia kami yang sudah berkelas sekitar 4 tahun (dari pertanyaan ini Saudara akan tahu bahwa kami tidak pernah meminta atau mengambil keuntungan dari para murid yang Tuhan percayakan kepada kami). Awal bulan Januari lalu waktu kami mengadakan pertemuan selama 7 hari, ada seorang murid kami bertanya kepada saya, “Apakah saya harus memberikan buah sulung saya ke KCC?”Ini dangerous question! Buah sulungnya adalah 1 bulan penuh gajinya, dan itu besar. Selama ini saya tidak pernah meminta uang dari para murid reguler kami yang tersebar di belahan dunia. Kami melayani dengan pengabdian, menyediakan ruang ber-AC, makanan, minuman, meja-meja dan kursi serta peralatan ruang yang dibutuhkan. Pertanyaan demikian sangat menjerat jika saya merasa membutuhkan uangnya dan merasa murid-murid harus bayar utang budi. Sangat tempting mungkin untuk dijawab silakan saja, atau ya, karena beliau sangat innocent dan percaya apapun yang saya katakan.
Jadi saya menjawab, “Tidak, pemberian haruslah dipimpin roh, dengan sukacita, bukan dengan paksaan atau suatu hukum tertentu.” Dan saya bersyukur bahwa tidak hanya menyarankan orang untuk memberi dengan pimpinan Roh, tetapi saya juga menjawabnya dengan pimpinan Roh. Pelayanan ini bukan untuk kepentingan pribadi, sama dengan pramuniaga tadi, service-nya bukan untuk kepentingannya, dia sendiri digaji oleh atasannya, saya juga dapat gaji langsung dari Atasan saya, jadi kami sebagai pramuniaga tidak harus cari untung dan dapet duit dari para ‘customer’ yang kami layani. Melayani mereka dengan baik merupakan tanggung jawab kami kepada bos dan kepada customer, bukan demi keuntungan pribadi.
Beberapa murid kami juga dari berbagai denominasi dan dari Katholik, kami tidak pernah menyarankan satu pun untuk pindah gereja, tapi saat mereka berubah dan menjadi terang bagi sekeliling mereka, maka mereka sendiri yang menentukan kemana arah mereka. Kami juga tidak pernah bicara mengenai doktrin-doktrin tertentu seperti baptisan dan mengemukakan istilah-istilah teologia yang membuat perpecahan dan tidak mengacu kepada perubahan akal budi. Tetapi saat para murid mengenal Kebenaran, mereka sendiri yang minta dibaptis, minta dilayani dan sebagainya. Sebaliknya ada beberapa orang yang mendekati murid-murid kami dan berusaha ‘menculik’ mereka untuk keluar, menjelek-jelekkan ‘produk’ kami dengan membandingkan produk lain dan melecehkan ‘produk’ kami dan hamba Tuhannya. That’s cheap!
Kita-kita diuji dengan pertanyaan-pertanyaan berbahaya yang bisa menjerat kita:
- Demi keuntungan kita atau keuntungan customer?
- Melayani mereka atau melayani diri sendiri?
- Menjelekkan atau mengusahakan yang terbaik tanpa harus menjelekkan ‘lawannya’?
- Berpikir untung atau rugi demi kebaikan orang lain?
Pilihlah “rugi”!
1 Korintus 6:7
“…Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?”
Leave A Comment