Mujizat Kepepet – 2

||Mujizat Kepepet – 2

Mujizat Kepepet – 2

Matius 16:5-8  Pada waktu murid-murid Yesus menyeberang danau, mereka lupa membawa roti.
Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”
Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti.”

Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!

Dalam kisah di ayat-ayat ini tidak dikatakan bahwa karena mereka lupa membawa roti maka Tuhan mengadakan mujizat. Di situ juga dikatakan bahwa mereka hanya “lupa,” bukan tidak punya uang untuk membeli roti. Mereka juga bukannya ditulis sudah tidak makan beberapa hari sehingga bisa pingsan waktu kelupaan bawa roti, jadi Tuhan tidak harus mengadakan mujizat.

Jadi intinya, hidup Tuhan dan murid-murid-Nya dalam keseharian tidak bergantung kepada mujizat, mereka mengikuti “hukum alam” juga dalam kadar-kadar tertentu, seperti kita semua. Tetapi pada saat mujizat memang diperlukan dan kita sudah kepepet, maka Tuhan akan ada di sana menolong kita semua. Pada waktu mereka lupa membawa roti pun Tuhan tidak memanjakan mereka langsung bikin mujizat lagi seperti kepada ribuan orang. Ia membiarkan mereka semua menahan lapar, termasuk Diri-Nya.

Ingat khan waktu murid-murid menggiling bulir gandum karena lapar? Ingat gak Tuhan mencari buah ara tapi pohonnya gak berbuah? Mereka lapar, tapi tidak selalu bikin mujizat selain kepepet dan harus. Jadi mujizat selalu untuk kepentingan Sorga, Bapa yang dipermuliakan, bukan untuk kepentingan lapar… tiba-tiba, Tada… muncul roti dan keju di depan mata. Not like that.

Matius 16:1, 4  Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.
Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.

Tuh khan, ditantang pun Tuhan gak suka. Waktu di salib, disindir pun Dia tidak bergeming. Tuhan tidak suka orang yang datang kepada-Nya hanya untuk meminta mujizat sedangkan mereka masih punya semua resources keuangan dan barang yang bisa ditukarkan dengan permintaan doa mereka. Tuhan bukanlah Tuhan yang dengan mudah minta dipermainkan, direngek-rengekin, Dia tidak perlu menunjukkan Diri dengan mujizat dan kebesaran-Nya sementara anak-anak-Nya tidak menjadi dewasa. Dia tidak takut dituduh tidak mau bikin mujizat atau tidak hidup. Dia Tuhan kok, kitalah yang harus mengikuti sistim-Nya.

Beberapa kali saat saya berdoa dan meminta berkat lewat mujizat, saya tidak mendapatkannya. Saya juga tidak mendapatkan jawaban-jawaban tertentu, sampai saya membaca perempuan berdosa yang datang dengan buli-buli pualam minyak narwastu. Saya pelajari bahwa ia tidak mendengar Tuhan berkata atau menyuruhnya, ia hanya melakukan berdasarkan cintanya kepada Tuhannya. Saya masih ada kok ‘minyak narwastu’ untuk ‘diberikan’ kepada Tuhan. Jadi saya ‘pecahkan botolnya’ dan memberikannya kepada Tuhan, sampai saya betul-betul kepepet dan siap mati, begitu istilahnya (jika Saudara belum membaca seri pertama minggu lalu tentang mujizat kepepet ini, silakan membaca. Dan jika Saudara lupa sistimnya walau sudah membaca minggu lalu, silakan baca ulang agar nancep). Saat saya sendiri memecahkannya, maka Tuhan membawa orang-orang lain dengan ‘narwastu’ mereka untuk dibawa kepada kami. Transfer demi transfer uang masuk ke account kami untuk kami persembahkan kepada Tuhan. Semuanya dilakukan karena cinta mereka kepada Tuhan – dan saya harus memulainya, menunjukkan jalannya, memberikan keteladanan. Walaupun sedikit membingungkan bahwa saya sebenarnya tidak mau orang tahu, tetapi bagaimana mereka bisa belajar jika tidak ada teladan? Saya hanya menceritakan, tetapi hanya Tuhan yang tahu seberapa nilai ‘narwastu’ yang dipecahkan, apakah hasil dari setahun penuh kerja, atau dua atau sepuluh tahun.

Dan saya melihat mujizat lagi, dan lagi-lagi saya melihat mujizat, dan mujizat-mujizat lagi-lagi saya lihat, dan saya dan mujizat lihat-lihatan lagi. Entahlah membahasakannya, pokoknya ada saya ada mujizat, ada lagi-lagi, ada tiba-tiba terusssss deh. Ingin lihat mujizat tiba-tiba Saudara lagi-lagi? Pernah kepepet? Coba dulu ya, percaya bahwa Dia ada dalam pepetan.

By | 2015-08-13T18:02:08+07:00 June 27th, 2015|From Maq's Heart|0 Comments

Leave A Comment

nineteen + 15 =