Pada saat-saat ini saya tidak memerlukan beberapa HP, jadi saya siap menjual 2 HP untuk digantikan 1 saja. Saya sedang memikir-mikirkan kira-kira HP tipe apakah untuk kepentingan mata saya yang butuh font besar. Cari sana sini, tentunya cari harga yang murah, tapi kok search sana-sini semuanya masih di atas 7 juta. Katanya ada sih yang sedikit di bawah 7 juta, terpaut 99 ribu mungkin. Tapi saya masih tahan nafsu beli dulu sampai kedua HP lama saya terjual supaya ada pemasukan dan tinggal tambah sedikit. Nah, menurut saya, HP-HP dan alat perangkat saya lainnya seperti laptop (alat-alat rumah bahkan sampai baju dan tas!) jika akan dijual selalu dalam keadaan mulus dan prima, pembeli-pembelinya selalu kegirangan sebab semua seperti baru.
Tapi kali ini, karena sudah banyaknya keluar gadget mutakhir, waktu saya tengok ke beberapa lapak, HP saya harganya jadi sepertinya ‘ketinggian’. Bahkan ada yang baru saja dijual dengan harga sangat amat rendah, tapi itu tidak menggoyahkan hati saya. Ada yang sudah menawar di bawah harga, tetap saja saya bertahan. Saya berpikir bahwa HP-HP saya memang tidak bisa dijual murah,… saya tidak tahu alasan mereka yang menjual murah walaupun merk-nya sama, tetapi saya punya alasan tersendiri mengapa harganya kudu segitu.
Waktu team di kantor saya membantu mencarikan, tiba-tiba hari ini saya mendapatkan email darinya dengan ulasan agak panjang. Dia menyarankan agar saya membeli HP/perangkat gadget di tempat resmi (yangmana memang selalu demikian selama ini, ada garansi resmi dan boxnya masih tersimpan rapi). Karena baru saja rekannya membeli HP dengan merk yang sama dengan saya yang harganya jauhhh di bawah harga yang saya tawarkan, ternyata belum sampai beberapa minggu HPnya ngambek, dan waktu dibawa ke pusatnya, didapati bahwa HP tersebut palsu… hehe. Lalu dia juga menceritakan mengenai HP ortunya juga, harganya mungkin hanya terpaut cepek dengan yang ori waktu beli, tapi bukan di counter, dan didapati palsu juga.
Jaman segini dimana-mana udah compete gadget dan kita maunya memburu yang semurah-murahnya, and in the end kita akan kecewa sebab yang murah bisa-bisa (kebanyakan lho) tidak ori. Kita melihat bahwa yang ori biasanya akan tetap mempertahankan harga karena memang mereka punya kualitas. Makanya saya pikir kita tidak bisa terjebak harga yang ‘sedikit’ murah,… tak apalah ‘sedikit’ mahal tapi puas sampai jika nantinya mau ganti yang baru, dan gak kecewa sampai Tuhan datang… hehehe.
Apalagi saat kita mau beli gadget second, saya berpikir betapa bahayanya di luaran sana yang mungkin alat-alatnya sudah dipakai untuk transaksi-transaksi ilegal, sudah dipakai untuk browsing gambar porno, dipakai untuk telpon seks, dan semacamnya. We never know, really. Tapi jika kita beli yang ori, di counter resmi, selain hati kita tenang dan aman, kita juga tidak kecewa di kemudian hari. Atau jika mau beli yang second, kita tahu siapa pemakainya, supaya tidak tersandung di alam roh.
Sejak muda saya belajar prinsip yang “tidak biasa-biasa”, walaupun di sekitar saya sudah banyak degradasi dalam segala hal. Kadang ada cobaan untuk turun level, tapi karena sudah terbiasa dengan yang luar biasa, maka saya tepis keinginan untuk ‘menikmati’ turun level bersama mereka yang dengan sukacita melakukannya. Banyak orang tidak berpikir panjang mengenai jangka panjang dari mempertahankan standar dalam kehidupan. Menurunkan standar sekarang, sedikit, demi sedikit, lama-lama benar-benar hancur. Orang tidak menyadari mencuri sedikit, berbohong sedikit, turun integritas sedikit, main api sedikit, akhirnya benar-benar terjerat tipuan iblis dan dunia! Itulah pekerjaan iblis, mencuri sedikit dulu dengan tawaran menggiurkan, lalu akhirnya membunuh dan in the end membinasakan. Banyak orang tidak berpikir hal yang kecil akan membinasakan, karena yang kecil nikmat, tapi yang nikmat itu yang membahayakan.
Di dalam Korintus Rasul Paulus memberikan gambaran kelak jika kita berhadapan dengan pengadilan Sorga, masing-masing akan berjalan melewati api, pekerjaan masing-masing orang akan diuji dengan api, apakah bertahan atau terbakar. Yang ori akan bertahan, tapi yang palsu tadi akan kebakar angus alias gosong. Orang Kristen tidak berpikir jauh ke depan, mereka hidup di masa sekarang yang dipikir sekarang ini tidak mempengaruhi masa depan. Oh, jangan salah, hal kecil yang membolongi alam roh sendiri adalah pencurian bagi masa depan diri.
Saya sering berpikir kenapa ‘pilihan-pilihan’ saya sulit? Kenapa tidak semudah orang lain? Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa saya selalu memilih yang tidak mudah, saya memilih jalan sempit, memilih yang tidak digemari kebanyakan orang. Saya berpuasa, saya menahan diri, saya banyak berdoa, saya bertahan, mengekang daging, dan melewati banyaknya kesulitan hidup yang lain. Orang berpikir bahwa itu sudah “anugerah khusus” bahwa saya bisa melalui itu. Satu pihak dan pastinya memang tanpa anugerah saya tidak akan mungkin dimampukan untuk melewati semua ini, tapi pilihan selalu ada di tangan saya, bisa saja saya memilih yang mudah karena enak. Tapi saya selalu memilih yang tidak enak dan sulit dan oleh anugerah-Nya Tuhanlah yang memampukan saya. Kalau ngikutin daging, saya tidak akan milih yang sulit! Kenapa harus sulit jika ada yang mudah dan toll ke entah mana…. Tapi yang mudah saya tahu selalu membahayakan.
Semua kita orang percaya diberi anugerah, tetapi bagaimana kita ‘memperlakukan’ anugerah itu? Menurut kehendak daging kita, atau menurut kehendak Roh yangmana itu tidak mudah? Harus menyangkal diri dan memikul salib! Tetapi saat anak-anak Tuhan belajar menyangkal diri dan memikul salib, maka anugerah kekuatan dari Tuhan diberikan kepada mereka yang mau mengikuti kehendak Roh itu. Betapa hebatnya kasih karunia Tuhan kepada mereka yang percaya, yang mengandalkan-Nya, yang mau melakukan kehendak Tuhan sekalipun sukar, karena Ia mempermudah jalannya ketika kita memilih berpihak kepada jalur-Nya.
1 Korintus 3:12-13
Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
Leave A Comment