What do you think?

Saya wondering apa yang ada di pikiran orang lain, pembaca, dan murid-murid KCC yang bergerak dalam pekerjaan sekuler, dan bukan full timer pelayanan? Seringkali saat saya menunjukkan KTP dan di sana tertulis pekerjaan saya sebagai pendeta, atau jika saya ditanya dan dengan senang hati menjawab bahwa saya pendeta, maka orang akan mulai scanning tubuh saya dari kepala-pundak-lutut-kaki. Lalu mereka mulai menyelidik dan mengajukan berbagai pertanyaan lucu seperti: “Apa pendeta boleh kawin?” Masih banyak pertanyaan lainnya, tapi saya jadi agak bingung apa yang ada di benak mereka kenapa waktu mereka tahu kependetaan saya mereka jadi meramu pertanyaan yang aneh dan lucu. Nah, ini yang ingin saya tanyakan kepada Saudara… please give me some feed backs ya.

Bagi saya sebagai pendeta, saya tahu yang membedakan saya yaitu bahwa saya melayani Tuhan dan bukan mammon. Ini juga jadi acuan bagi banyak orang Kristen dan pendeta, tapi prakteknya orang kalah sama kekuatan mammon, yaitu kekayaan. Ketika awal pelayanan, janjinya utuh sepenuhnya, zonder gaji tak apalah asal ada Yesus. Tapi waktu sudah tambah ada berkat, PK, undangan, laku keras, kejar target, sesak undangan dari awal tahun sudah tutup, harus book untuk 2 tahun lagi, maka mammonlah yang beralih kekuasaannya dalam dirinya. Tuhan bilang, yang begitu tidak bertuhankan Yesus tapi sudah jelas yang lain.

Matius 6:24  Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mammon.”

Dari waktu ke waktu saya selalu evaluasi hati, uang tidak boleh menyita hati saya. Jika sudah numpuk sedikit, Tuhan kasih ujian kebutuhan orang lain, kebutuhan kantor, pelayanan, jiwa-jiwa, sehingga saya ditantang untuk mencairkan deposito saya dan meleburnya jadi meja-kursi, AC, makanan murid-murid, makanan staff sehari-hari, bensin mobil, tiket terbang pelayanan, gaji staff, dll.

Sebelum saya lanjutkan kisah saya, saya akan look back dulu, pada awal saya datang ke Indo,

  • Saya cuman menyeret 2 koper.
  • Lalu bersamaan dengan saya pada waktu itu ada beberapa orang yang saya temui yang juga sedang bingung dengan kerjaan.
  • Lalu saya melihat bagaimana Jakarta kota besar yang orang-orangnya berkompetisi cari kerjaan untuk sesuap nasi. Ini saya perhatikan di tengah hiruk pikuknya Jl. Sudirman dan Thamrin Jakarta di gedung-gedung tinggi dan pusat kota.

Dari kesemua itu, saya berpikir-pikir mengenai diri saya, kalau saya compete dengan mereka, apakah saya bisa ya? Lalu saya juga mulai memperhatikan orang-orang golongan kedua tadi yang akhirnya kerja banting tulang cari duit. Kelihatannya semuanya menghasilkan, dan saya tidak! Sebagai “pendeta” saya cuman doa dan puasa, selain nulis buku.

Tapi kemudian setelah saya bangkit dari doa dan puasa panjang saya selama 1,5 tahun, saya diundang di gedung-gedung tinggi Jl. Sudirman dan Thamrin untuk mengkhotbahi para kompetitor dulu itu, di hari-hari Jumat dimana persekutuan doa di gedung-gedung tinggi staff, manager dan direkturnya berkumpul, di sanalah saya berdiri menyampaikan Firman. Saya diundang di hotel-hotel mewah, di rumah pejabat-pejabat besar, di rumah konglomerat, di universitas, di hadapan para doktor dan profesor, para pejabat negara sampai gubernur. Di hadapan para pendeta dari berbagai denominasi, para ketua sinode, para penatua dan kumpulan besar sampai internasional. Saya yang paling kagum ternganga… kok bisa ya?

Lalu beberapa tahun kemudian, dari kelompok golongan kedua, masih saja gak jelas kerjanya dan hidupnya. Saya mendengar salah satu sindiran lucu:“Gimana itu si Maq kalo tua nanti, udah gak ada rumah, gak ada suami… ke panti jompo kali yah…!” Saya sih tidak menjawab, tapi ada orang yang mendengarnya jadi jengkel, membela saya: “Eh, gue kasih tahu, dia baru aja beli rumah, mobil juga ada 2 (mobil pelayanan sih, rumah pelayanan juga). Udah mondar-mandir ke luar negeri, setahun bisa 5-8x ke luar, makan gak kurang, baju dan barang juga keren-keren. Kita-kita masih utang, masih kerja sama orang, masih bingung muterin duit, padahal mulainya bareng, tapi dia udah jauh banget melebihi kita. Lu jangan sembarangan ngomongin hamba Tuhan, pendeta yang diurapi.”

Wah, bela sekaligus mentung. Yang membuat saya heran, sebagai pendeta yang hidupnya sangat sederhana dan masih juga nyantai bisa makan makanan sisa minggu lalu, saya tetap hidup dengan kebebasan dan keberkatan yang ajaib karena saya tidak melayani mammon. Lihat saja orang yang melayani mammon, hidupnya dari dulu juga gak berkembang, kembang-kempis iya. Saya kasihan banget, kenapa untuk hidup saja harus berjuang seperti itu, masih bohong sana-sini, masih diinjak juga, dan banyak sengsaranya.

Sedangkan saya melihat hamba Tuhan lain yang bergabung dengan kami dalam pelayanan ini, mereka hidup nyantai, tidak melayani mammon tapi juga keren, cakep-cakep, dihormati, dihargai keluarga, didengar dan dinantikan kehadirannya. Bukannya waktu kami jadi hamba Tuhan lalu kami kuno dan gaptek, tapi kami mungkin lebih advanced, modis, modern, dari mereka yang melayani mammon. Kalau saya datang dengan gadget saya, bahkan orang-orang atau saudara-saudara saya yang berada pun heran, kok bisa saya pakai peralatan super canggih. Why not! Ini perlengkapan untuk melayani bangsa-bangsa.

Dulu waktu di Korea, saya diajak masuk ke rumah seorang bhiksu, yang kepalanya gundul dan pakaiannya warna kuning ubi pumpkin dan pakai sandal saja. Saya sampai hampir pingsan waktu liat di dalam rumahnya, barangnya canggih-canggih, waktu dibukakan kulkasnya buahnya bukan buah pasar lokal! Saya jadi mikir apakah orang yang liat saya juga berpikir begitu ya? Pendeta tapi canggih? Hehe, entahlah, tolong feed backnya aja.

All in all, yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa pelayanan yang bukan kepada mammon itu output-nya gak kalah sama yang melayani mammon, gitu. Kami bisa keren, bisa canggih, bisa fashionable up to date, bisa ngafe, bisa makan di hotel bintang five – jadi nggak melulu makan ubi rebus, (walaupun itu kesukaan saya, ubi madu bakar cilembu).

Saya masih heran dengan orang golongan kedua yang cari dan bekerja untuk mammon tiada hentinya, mereka masih saja berkeringat dan komplen tiada ujungnya, wajahnya makin layu dan makin tua, gak kemana-mana dan merana; sedangkan saya masih sama kerjanya doa dan puasa, tapi gak makin tua dan malah kemana-mana menikmati hidup. Ironis, bukan? I wish saya bisa ngajak orang-orang untuk melayani Tuhan saja seperti kami, tapi pasti mereka di luaran sana punya alasan bahwa mereka tidak dipanggil, dsb…ufghhh. Saya tahu mereka takut, kuatir, dan sampai Tuhan datang mereka masih akan berkeluh kesah hidup dalam ikatan mammon yang memperbudaknya dan hanya menghasilkan sedikit kesenangan semu.

Saya mendengarkan komplen seorang wanita yang ‘diberkati’ dengan beberapa cafe: “Saya nggak tahu apakah seumur hidup saya akan mikirin restoranku terus ya? Pagi harus urus bahan mentah, dan semua printilan yang lain seperti bumbu dan bahan lainnya seperti minuman dan foam, plastik. Belum suamiku harus ketemu karyawan baru yang tiap hari keluar-masuk banyak menjengkelkannya dan nilep uang kami, kerjanya sembarangan. Tiap hari cuman pusing, perut sakit, bingung muterin duit. Nanti siang udah sangat sibuk bikin bumbu dan bayar ini itu. Malam ngitung pemasukan dan pengeluaran lagi untuk besok. Kapan aku bisa melayani Tuhan?”

Dulu saya datang dengan 2 koper, 10 tahun kemudian waktu kami pindahan, salah satu murid kami yang menyewakan mobil box menghitung berapa kali mobil boxnya angkut barang-barang pelayanan kami dan barang saya, katanya 164 kubik! Barangnya banyak banget, sampai kami harus jual murah, barang pelayanan terjual 20 juta, barang pribadi saya seperti tas, baju, sepatu, entah apa lagi, total 25 juta.

Jadi pendeta kok enjoy banget ya. Padahal saya nggak ambil uang pelayanan, saya juga gak narik kolekte atau perpuluhan seperti di gereja. Pelayanan kami pengabdian, saya banyak memberi dan berkorban. Kalau saya mengumpulkan sih dari dulu saya sudah punya rumah dan mobil pribadi, tapi waktu saya memberikan kepada Tuhan dan jiwa-jiwa, saya dipercaya jauh melebihi jika saya ngumpulin secara pribadi. Itu rahasianya. Akhirnya saya harus akui bahwa jadi pendeta enak banget deh, pol abis tenan. Soponyono hidup menyenangkan keq gini? What d’you think?