Penulis essay Perancis Michael Eyquem de Montaigne menulis:
“Nilai dari kehidupan tidak terletak dalam panjangnya hari-hari, tetapi dalam cara kita menggunakannya; seorang manusia mungkin hidup lama tetapi terlalu sedikit menjalaninya.”
Penulis Pentateuch berdoa: “Tuhan, ajar kami menghitung hari-hari agar kami beroleh hati yang bijaksana.” Tentunya orang-orang ini adalah pemikir keras yang tidak mau melewatkan hari-hari hidup mereka dengan percuma. Saya memikirkan bagaimana seseorang menjalani hidupnya dengan hanya melakukan tugas rutin pekerjaan yang diharuskan kepada mereka, dan itu sudah dijalaninya bertahun-tahun tanpa menggunakan pemikiran, ide, kecerdasan. Akhirnya orang tersebut hanya seperti robot di pusat penggilingan padi. Seseorang berkata bahwa jika engkau ingin membuat seseorang bodoh dan tumpul, berikan dia pekerjaan yang tidak melibatkan pikirannya. Can you name them (the works)?
Saya bertemu dengan dengan orang yang puas bekerja di pabrik gandum selama 8 tahun mengerjakan pekerjaan yang sama, dan saya rasa dia bisa bekerja sambil tutup mata, dan tidak mau beranjak dari sana karena merasa puas. Orang-orang demikian adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan ide-ide dan luasnya potensi yang Tuhan berikan kepadanya. Ia merasa cukup aman dengan gajinya dari bulan ke tahun dengan bisa diprediksi. Ini adalah apa yang saya sebut ketidakmustahilan di buku Menikmati Kemustahilan.
Tetapi ada juga sebuah kisah mengharukan dari seorang anak kecil yang mungkin umurnya masih di bawah 10 tahun, saat itu ayahnya yang seorang penginjil di Cina ditangkap dan dipekerjakan di camp dan akhirnya mati. Mereka memiliki 4 orang anak yang masih kecil, dan gadis ini adalah yang tertua. Ibunya membawa keluarganya untuk tinggal dekat dengan daerah camp itu, dan waktu mengetahui bahwa suami dan ayah dari anak-anaknya sudah mati, ia berniat untuk bunuh diri. Tetapi si gadis kecil ini berkata bahwa ia akan mencari pekerjaan untuk menghidupi mereka semua. Dan si anak ini menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Kepala camp melihatnya dengan lucu, tetapi kemudian menawarkan suatu pekerjaan membosankan. Hanya memencet tombol merah jika disuruh. Dengan senang hati dia masuk kerja dan mendapatkan gaji pertamanya yang sedikit yang ia serahkan kepada mamanya untuk menghidupi adik-adiknya. Berhari-hari ia hanya menunggu perintah yang tidak datang-datang, ia hanya duduk saja selama itu. Suatu hari, dia mendengar suara keras, “Pencet tombol merah itu!” Si gadis keluar dan mencari arah dari mana suara itu datang, tetapi sampai 3x dia tidak melihat seorang pun. Tetapi karena dia selalu diajar berdoa oleh ayahnya sewaktu hidup, maka ia berpkir kemungkinan itu adalah Tuhan Yesus. Maka anak ini memencet tombol itu, dan semua pekerja tambang berlarian naik dari gua, dan berkumpul di luar. Kepala camp bingung dan hampir marah, ketika tidak lama setelah pekerja tambang terakhir naik ke atas, maka terdengarlah suara menderu yang besar, dan terjadi gempa bumi yang menutup tambang di bawah tanah itu. 3000 pria melihat gadis kecil ini dengan terheran-heran, dan ketua camp bertanya kepadanya, siapa yang menyuruhmu memencet tombol itu? Maka dia bersaksi, dan ke-3000 pria itu tersungkur di hadapan Tuhan dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.
Ini adalah pekerjaan rutin yang jika si anak ini bekerja seolah untuk Tuhan, maka itu tidak menjadikannya pekerja membosankan. Dia bekerja seolah untuk Tuhan tidak peduli apapun resikonya. Tetapi kebanyakan para pekerja benar-benar hanya seperti robot sepanjang hidupnya dan tidak tahu jika Tuhan berbicara kepadanya untuk melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan, sekalipun resikonya mungkin dipecat.
Berapa banyak waktu dalam hidup Saudara yang dipakai dengan bijak? Apakah bahkan dalam pekerjaan Saudara bijak dan menjadi berkat bagi orang banyak? Ataukah tiap hari hanya menemui customer yang menjengkelkan dan menghadapinya dengan cara yang sama yang membuat hati Saudara makin panas dan sebel melihat orang-orang itu? Ini tandanya hari yang tidak bijak, waktu yang terbuang sia-sia.
Apakah Saudara benar-benar “MELAYANI”? Ataukah dalam pekerjaan hidup Saudara mengalir rutin dan merasa bosan? Ini tandanya Saudara belum menggunakan hari dengan bijak seperti doa Musa. Apakah dalam menemui client atau customer Saudara merasa bosan dan ogah-gahan, terpaksa dan enggan?
Dalam waktu-waktu saya dengan Tuhan, ada saja banyak pekerjaan yang tidak ada habisnya, selalu saja setiap hari ada yang dilakukan, melayani orang-orang, memikirkan kebaikan bagi mereka yang sakit, mempersiapkan banyak hal untuk murid-murid, dan semuanya hanya untuk jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan kepada kami. Baru saja dalam kehectican waktu saya, masih saja ada orang yang berusaha untuk menemui saya, kali ini seorang pendeta lagi, sebab hari sebelumnya dan sebelum-belumnya juga pendeta. Kali ini pendeta dari Aceh. Waktu beliau datang, lihat-lihat produk, dan saya memberikannya kepadanya semua yang dia butuhkan untuk memperlengkapi pelayanannya di daerah sana. Lalu kami keluar. Dan saya banyak mendengarkan perbincangan mereka, sampai pada hampir penghujung perbincangan yang waktu itu tidak disangka seru banget dan sampai malam, 00:30, salah satu mengeluarkan hapenya yang canggih. Saya memegangnya dan kagum terhadapnya. Tapi ya sudahlah, saya pikir tidak akan mengeluarkan uang sebesar itu saat ini karena banyaknya pengeluaran untuk rumah Tuhan. Tidak disangka dalam kurun waktu yang singkat, sekitar 3-4 hari, seseorang datang dengan membawa hape idaman yang selama ini saya doakan (jika Saudara mengikuti FMH dengan rutin, Saudara akan menemukan kisahnya di FMH berjudul: Ori vs Plasu). Hape ini bukan dari pendeta tersebut tetapi dari salah satu orang yang menemani yang bersama dengan mereka saat itu. Saya selalu berpikir bahwa ada pertemuan-perteman ilahi yang akan membawa berkat, bukan untuk saya pribadi yang saya pikirkan, tetapi bagaimana bisa memberkati orang yang saya temui, yang ternyata Tuhan juga ingin memberkati orang yang memikirkan memberkati orang lain. Walaupun tentunya kita tidak menerima semua permintaan pertemuan, karena kurangnya waktu dan kebijakan prioritas yang kita berikan kepada orang-orang tertentu yang Tuhan taruh dalam hati.
Berapa banyak waktu yang Saudara prioritaskan untuk hal-hal yang berguna? Sebab saya tidak menyangka bahwa banyak sekali anak Tuhan yang suka dimanjakan oleh televisi berjam-jam dan pada akhir sesi (karena sudah larut dini), mereka merasa bersalah karena menghabiskan waktu dengan percuma dan tidak menghargai waktu yang Tuhan beri. Doanya cuman terimakasih atas perlindungan Tuhan sepanjang hari, berkati anak-anakku dan keluargaku, aku mau tidur, Amin. Banyak juga yang menghabiskan waktu untuk browsing FB, liat-liat wall orang lain dan click youtube yang ada di sana dan waktunya secara tidak disangka habis lagi. Pembacaan Firman terlewatkan, apalagi hafalan ayat, tidak pernah. Buru-buru besok kerja dan pulang mengulangi rutinitas buang waktu yang sama tanpa mengubah pola hidup dengan baik. Berapa banyak orang terbiasa dengan cara yang salah seperti ini dan berdoa kepada Tuhan untuk membukakan peluang baru dan berkat yang lebih besar, lalu tidak mendapatkan jawaban-jawaban doanya dan menyalahkan Tuhan? Tidak menyadari bahwa komoditas berharga yang Tuhan percayakan kepadanya dia lemparkan hanya untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali seumur hidup? Dia berpikir bahwa memberi waktu 2 jam di hari minggu untuk Tuhan dan memberi uang persembahan di kantong kolekte berjalan sudahlah cukup. Ini bukanlah tipe hamba Tuhan yang melakukan tugasnya dengan baik dan setia.
Saya berdoa bahwa ketika Tuhan datang, anak-anak-Nya didapati-Nya sedang melakukan tugasnya, pekerjaannya, yaitu pekerjaan Tuhan. Tidak specifically khotbah di mimbar atau menjadi pendeta, tetapi benar-benar pekerjaan yang berguna bagi Kerajaan Sorga. Ada juga moment-moment dalam kehidupan yangmana kemungkinan seorang diciptakan untuk hal besar itu, dan jika mengenalinya dan membidik sasaran yang tepat, maka ia telah memenuhi tujuan hidupnya, seperti kata Winston Churchill: “Akan datang suatu saat yang istimewa dalam kehidupan setiap orang, suatu saat yang untuknya orang tersebut dilahirkan… Jika ia menangkapnya… itu adalah saat terbaiknya.” Dan ini bukan suatu rutinitas, tetapi ada moment besar, seperti Daniel saat ia diangkat dari gua singa dan memberikan kesaksian tentang hebatnya Tuhannya, seperti Sadrakh Mesakh dan Abednego saat dikeluarkan dari dapur api dan bersaksi di hadapaan jutaan manusia, seperti gadis cilik yang saat 3000 pria sudah keluar dari dalam gua tambang dan menyaksikan gempa yang dahsyat yang tidak jadi menguburkan mereka hidup-hidup.
Tetapi jika orang-orang seperti mereka belum membiasakan diri hidup dalam suatu prioritas untuk melayani dan melakukan pekerjaan bukan untuk diri sendiri, maka kesempatan emas tidak akan terlihat dengan jelas, sebab kesempatan emas bisa jadi datang dengan bungkus yang acak-acakan. Orang yang hanya menarik kesimpulan bahwa memperoleh emas dengan bungkus emas akan kehilangan banyak kesempatan emas. (Nanti akan saya perinci dalam FMH berjudul “Menangkap Kesempatan Emas”).
Ayub adalah orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur (1:3), tetapi kekayaannya tidak menghalangi hubungannya dengan Tuhan. Ia terlalu memiliki waktu untuk berdoa kepada Tuhan dan memintakan ampun atas dosa-dosa anak-anaknya. Ini adalah contoh orang yang hidup di dunia dengan segala berkat dan kekayaan yang ada tetapi hatinya tertuju kepada Tuhannya. Dari kasus yang dicari gara-garanya oleh iblis untuk mempermalukan Tuhan, hamba-Nya, Ayub, membuktikan bahwa ia mencintai Tuhan lebih daripada harta yang dititipkan-Nya kepadanya. Ia berkata, “Dia yang memberi, Dia yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”
Kiranya harta, pekerjaan, tawaran dunia tidak ada satu pun yang dapat menyeret Saudara dari kasih Tuhan. Kiranya saat Saudara dicobai, Tuhan tetap menjadi pilihan apapun dan berapapun harga yang harus Saudara bayar, seperti Ayub.
“The things that we love, tell us who we are.” Thomas Aquinas
Leave A Comment