Dalam perjalanan hidup saya, saya pernah belajar secara tidak sengaja dari adik rohani saya yang seorang hamba Tuhan diurapi. Dia memang mau menikah dan sejak dulu sudah dikenalkan sana-sini dengan para pria, dari yang ganteng sampai yang kurang bijak. Dari yang gentleman sampai yang egois. Dari yang setia sampai yang ditolak. Dikenalkan sana-sini, sampai akhirnya ketemu yang akan jadi calon suaminya. Pria ini bukan hamba Tuhan pelayan mimbar, dia pekerja biasa saja, dan mencoba membidik hamba Tuhan luar biasa ini, dia tahu bahwa dia bisa saja ditolak karena dia tahu siapa yang dia hadapi – tapi tetap saja dia ‘gambling,’ dan nyatanya berhasil. Tadinya mereka melakukan komunikasi jarak jauh, sampai akhirnya sang calon pria ini datang dan melamar setelah saling telepon dan membicarakan masa depan.
Adik saya ini menceritakan kepada saya prosesnya dari awal sampai mereka masuk dalam pernikahan dan sampai punya anak. Dia sangat mempercayai saya dan saya banyak memberikan nasihat sekalipun saya tidak ada jalur ke sana, tetapi saya punya Firman yang kami percayai bersama, itulah dasar kami. Saya mencarikannya gaun pertunangannya dan mengirimkannya kepadanya. Dia nampak cantik saat hari tunangan yang mewah itu. Lalu mereka mulai mempersiapkan hari pernikahan yang sudah direncanakan sejak lamaran. Mereka mulai menjajaki berduaan, dan kalau sempat, sesudah pelayanan mereka makan keluar berdua. Adik saya bercerita bahwa malam ini sesudah makan malam, calonnya/tunangannya ini membawanya ke tepi pantai dan tunangannya ini memegang tangannya lalu mencium punggung tangannya. Adik saya langsung kebaskan dan marah. Dia benar-benar tidak mau ‘diperlakukan’ begitu sebelum resmi diberkati Tuhan dalam pernikahan. What a lesson!
Saya saja kaget, apalagi tunangannya yang merasa memang sudah dipertunangkan, kenapa cium tangan saja sampai dimarah begitu rupa. Dan adik saya yang pendeta luar biasa ini langsung mengadakan sesi di tepi pantai… heheh. Calonnya hanya bilang, “Sulitnya dan bedanya menikah dengan ibu pendeta…,” katanya. Sejak saat itu sampai hari pernikahannya, sang calon benar-benar menjaga dan sama sekali tidak menyentuhnya sampai mereka mendapatkan blessing dari pendeta yang lebih tinggi lagi yang memberkati pernikahan mereka. Dan saat masuk dalam pernikahan, sang suami berkata, “Memang beda menikah dengan seorang pendeta, saya sangat bersyukur dan diberkati hidup dalam kekudusan.”
Di zaman ini pernikahan yang demikian sudah sangat langka, maksudnya bukan menikahi pendetanya dan kelangkaan menikah dengan pendeta, tetapi langkanya kekudusan di antara calon pengantin dan anak-anak muda yang berpacaran. Dengan banyaknya film dan drama di TV yang mengajarkan seks sebagai sesuatu yang biasa, hidup bersama, curi-curi, berboncengan dan saling pepet-pepet badan, french kiss, berpelukan dan samen leven secara bebas, maka hampir semua anak muda Kristen menganggap hal demikian bukan lagi sebagai hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Gambar-gambar dan film-film yang menggiurkan nafsu bertebaran dimana-mana sehingga orang yang tidak menjaga diri dengan mudah akan terjerat dan jatuh ke dalamnya.
Saya tidak ceritakan ini karena dia adik rohani saya, tetapi bahkan hubungan antar pendeta pun di luaran sana sudah sangat bobrok sekali, hidup bersama dan tragedi hamil sebelum nikah menjadi sesuatu yang sangat umum. Banyak hal yang ditutupi, seperti aborsi dan hidup bersama tanpa menikah/sebelum menikah, itu sudah jadi trend yang lumrah di hati mereka, hanya saja tidak diekspos bin diam-diam.
Saya pernah melihat seorang hamba Tuhan pria, dia digandrungi oleh wanita dan ibu-ibu. Khotbahnya mempesona, kalau berdiri di mimbar kharismanya cling cling. Tapi kemudian mengalirlah berita bahwa dia suka ke hotel-hotel dengan para janda dan para wanita. Waktu seorang janda ditanya sudah berapa kali, dia ngaku 3x dengan dia di hotel. Masih belum yang lainnya, dan beraninya dia berdiri di mimbar berkhotbah. Zaman sudah mengerikan, orang berdiri di mimbar tanpa takut Tuhan sama sekali, tapi hanya tebar pesona.
Di suatu kota lain juga ada seorang pendeta pria yang luar biasa berkharisma, gerejanya sampai ditingkat 5 lantai, dan tiap kali ibadah banyak sekali bis-bis datang dari daerah-daerah. Orang-orang begitu terpananya dengan ‘urapan’ khotbahnya sampai jauh-jauh dari berbagai kota datang untuk mendengarkan hanya 2 jam sajian ibadah saja! Tapi kemudian ada seorang perempuan single sampai sakit jiwa karena telah di’pakai’ oleh pendeta ini tetapi tidak berani bilang apa-apa kepada siapa-siapa. Saat perempuan ini jalan-jalan di atap rumah, dan kadang berlaku tidak waras, muncullah pengakuan dari mulut yang sudah goyang jiwanya itu bahwa dia telah disetubuhi oleh sang pendeta ini. Orang hampir tidak percaya, karena mana mungkin dia yang ‘diurapi’ melakukan hal demikian hina…. Tak lama kemudian bermunculanlah juga pengakuan dari beberapa gelintir wanita muda lainnya bahwa mereka juga adalah korban. Sekarang mulai mereka berani mengaku secara terang-terangan karena ada temannya. Di masa jaya-jayanya, saat pendeta ini sedang menyetir mobil barunya dari pelayanan di luar kota, dia mungkin mengantuk, menabrak pohon dan meninggal.
Ada lagi pendeta pria di Amerika yang juga disinyalir ‘bermain’ dengan beberapa anak muda pria, mengajak mereka pelayanan, memberikan gifts dan mengajak mereka ke hotel-hotel mewah. Ternyata akhirnya kebuka bahwa pendeta ini suka kirim foto selfie dirinya tanpa baju, hanya celana saja, dan memperlihatkan tubuhnya yang berotot. Sekarang foto-foto selfienya sudah menyebar di dunia maya, dan buku-buku terlarisnya hancur, namanya tercoreng.
Upaya Setan menggunakan trik kuno masih saja laku di dunia kekristenan yang sedemikian sudah advance. Begitu banyaknya tersedia contoh-contoh kejatuhan dan jerat iblis, tapi orang Kristen dan pendeta tetap saja bisa dibujuk, ditipu dan jatuh ke dalam lubang yang tak memberi ampun. Dunia seks dan kegelapan ini sangat mengikat, Amsal berkata, “Malunya tidak terhapuskan.”
Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan. Karena cemburu adalah geram seorang laki- laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam; ia tidak akan mau menerima tebusan suatupun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyakpun pemberianmu. Amsal 6:32-25.
Saya tidak menulis ini karena saya kuat, tetapi tulisan ini berbicara juga kepada saya sendiri agar saya berhati-hati dan menjaga diri, menguasai pikiran dan tubuh sepenuhnya agar tidak terjerat dosa yang sedemikian membuat malunya tak terhapuskan. Dosanya terhapuskan tetapi kecemaran tidak terhapuskan dari ingatan orang. Berapa banyak Saudara ingat bahwa orang ini hamil duluan sebelum nikah, bahwa orang ini pernah menjalin hubungan terlarang dengan isteri orang, bahwa dia berbuat zinah, bahwa dia kedapatan cabul, bahwa dia pernah aborsi, bahwa dia dicela karena hal-hal yang berbau najis?
Tuhan mengampuni semua orang berdosa yang mau mengaku kepada-Nya dan meminta ampun serta mengakui Yesus sebagai Juru Selamat. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Tetapi perjalanan kita masih beberapa miles ke depan, marilah kita menjaga kehidupan kita agar didapati tidak bercacat kerut dan bernoda. Baik bagi yang sudah menikah agar menjaga kekudusan ranjangnya, dan bagi yang belum menikah agar menjaga kekudusan tubuhnya dan hanya dipersembahkan kepada pasangannya sesudah diberkati oleh hamba Tuhan. Agar kehidupan pernikahan kalian sungguh diberkati dan tidak ada noda yang menggantung di belakang.
Leave A Comment