Matius 27:57-60
Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.

Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.

Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

I wish to have this great opportunity to do as Yusuf Arimatea did! Ini orang bener-bener mengambil kesempatan EMAS! Dari dulu saya sangat kagum dengan tindakan, keberanian, kasihnya kepada Tuhannya. Bisa bayangkan gak, bahwa dengan tindakannya dia bisa dibenci seluruh pembunuh Yesus dan golongan ahli agama dan Farisi, Tauraters? Dia bisa jadi musuh semua orang, tapi dia gak peduli, kasih dan pengorbanannya mengalahkan semua alasannya. Perbuatannya tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun, dia mendapatkan karunia sangat amat besar di jajaran pahlawan iman, walaupun tidak tertulis di kitab Ibrani. Ia sejajar dengan Maria Magdalena yang pagi-pagi buta datang sendirian ke kubur Yesus dan siap mengambil mayat Yesus dari ‘tukang kebun’ yang ‘mencuri-Nya.’ Wanita pemberani, pahlawan iman, mendapatkan kesempatan pertama ditemui Yesus yang bangkit dari kubur dengan tubuh kemuliaan. Yusuf Arimatea adalah pahlawan iman yang menjamah tubuh Yesus terakhir kalinya saat ia masih dalam daging. Keduanya mendapatkan kesempatan posisi tak tergantikan. I wish to have an heaven inspirated story of his feeling and write his story narratively like I did about Mary Magdalene.

Mungkinkah dalam kehidupan kita di jaman seperti ini dikaruniai kesempatan-kesempatan yang hanya satu-satu kali saja seperti di zaman mereka? I would not answer since I have none. Tapi banyak kesempatan lain yang Tuhan passing us by di hadapan kita, yang jika kita tidak terbiasa peka dengan kehendak Tuhan dan terus bergulat dengan urusan-urusan pribadi yang tiada hentinya, maka kita akan miss banyak kesempatan dari Tuhan yang luar biasa yang menanti kita – yang sebenarnya dipersembahkan hanya untuk kita, seperti hanya untuk Yusuf Arimatea dan Maria Magdalena. Saya tidak berkata bahwa kesempatan itu diberikan khusus kepada mereka secara ilahi, tetapi merekalah yang peka dan mengambil kesempatan berharga once in a life time, dan akhirnya kepahlawanan diberikan kepada mereka.

Kepahlawanan masih terbuka lebar, kursi-kursi raja-raja dekat dengan takhta Raja segala raja masih banyak yang kosong, sebab mereka yang dipanggil untuk menempati banyak yang kehilangan kesempatan dikarenakan urusan pribadi seperti yang dikatakan dalam Matius mengenai undangan VIP yang ditolak. Itu sebabnya, kisah Yusuf ini kiranya bisa menjadi panutan bagi kita semua, agar jika ada kesempatan emas, jangan tahan-tahan! Kira-kira seperti apakah kesempatan lain yang bisa disejajarkan dengan tindakan Yusuf A ini pada masa kita?

  1. Mengambil resiko terbesar untuk dibunuh dan dibenci banyak orang karena tindakan membahayakan seperti Yusuf A.
  2. Mengeluarkan harta untuk membeli kain lenan termahal dan membeli rempah grade A.
  3. Menyerahkan harta berharganya, yaitu kuburan keluarga.
  4. Mengambil resiko untuk di-ex-communicated oleh bangsa Yahudi.
  5. Mengangkat MAYAT! Membersihkan mayat, mengapaninya, membolak-balik mayat.

Well,… mungkin Saudara berpikir bisa melakukan yang nomer 1-4, but not the five! Belum tentu, sebab yang nomer 1-4 itu sulit sekali jika Saudara selama ini ngeluarin duit aja itungan, kasih persembahan saja milih-milih warna, dimintain bantuan saja masih maki-maki dan ngrasani, kok pendeta UUD, dsb. Apalagi nomer 1+4 itu bicara mengenai PENYANGKALAN DIRI TOTAL! Ini jenis orang kaya yang sudah tidak memikirkan hartanya, ini baru orang kaya type S, Sorga by the way!

Lalu, nomer 5,…eng ing engggg…. bolak-balikin mayat! Ah, tapi kalau mayatnya Yesus aku pasti mau bangetlah… Weleh,…itu jaman sekarang waktu kita tahu bahwa itu Juru Selamat dunia. Tapi jaman dulu semua masih bertanya-tanya “Engkaukah yang dijanjikan itu, ataukah kami harus menantikan orang lain?” Tapi Yusuf A ini benar-benar tidak pakai kalkulator. Kalau pun itu bukan Juru Selamat dunia, dia pun sudah mendapat upah besar di Sorga, apalagi beneran Yesus — ededeh,… entah deh upahnya keq apa dorang di sono.

Takut mayat? Hehe…. small chance untuk berperan jadi Yusuf A. ‘Wah enakan dokter donk, bisa berperan jadi Yusuf A….’ Entahlah, tapi tidak semua dokter punya nyali seperti Yusuf A, dan tidak semua dokter siap berkorban seperti Yusuf A. Masalahnya Saudara ini sudah belajar melewati ujian nomer 1-5 belum? Gak usah harus jadi dokter baru berani pegang mayat dan bolak-balikin mayat kok. Coba kecil-kecilan dulu, pegang mayat dulu… nanti kalau ada kesempatan besar bolak-balikin mayat baru berangkat. Siapa tahu diminta Tuhan untuk bangkitin mayat? “Wah enggaklah, kalo itu sih biar orang lain aja…. aku doa buat bangkitin nafsu makan aja.” Nah, ini sudah tidak taat dan tidak punya hati hamba, sukanya pilih-pilih kerjaan.

Silakan Saudara tentukan mana yang benar, siap disuruh Tuannya apa saja dan nurut, atau pilih-pilih kerjaan dan kehilangan upah besar memperoleh reward kepahlawanan kekal?

 

Efesus 6:5-6,8

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,

Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.