Hari itu Yusuf masih mengerjakan semua pekerjaan penjara seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi saat utusan raja turun ke ruang bawah tanah dan menjemputnya, selamanya ‘nasib’nya berbeda. Hari ini ia dalam penjara, keesokan harinya ia siap menjadi orang tertinggi kedua di negara adidaya saat itu. Tidak saja ia menjadi pengarti mimpi, tetapi ia menjadi penasihat raja, dan perancang dan ekonomi negara besar super-modern Mesir serta penyelamat bangsa.
Kejadian 41:38-44
Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?”
Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.
Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.”
Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”
Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.
Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: “Hormat!” Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.
Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.”
Jika kita melihat trend yang terjadi saat ini saja, misalnya ada seorang yang mempopulerkan suatu kata seperti “maknyus,” maka orang lain mencoba untuk mengarang kata-kata serupa agar ia dikenal. Atau kata seperti “kasihan deh lu!” atau “sobek-sobek.” Yang saya lihat terakhir waktu itu adalah banyaknya pejabat negara mencoba meniru blusukannya Pak Presiden Jokowi yang waktu itu belum naik. Tidak sedikit juga yang mencoba gaya pakaiannya kotak-kotak dan putih hitam. Tetapi langkah-langkah kedua dan peniruan sudah tidak bisa menandingi keunggulan inisiatif awal yang dikerjakan dalam kemurnian. Mungkin ada banyak orang waktu itu mencoba meniru ingin menjadi interpreter mimpi, tetapi tidak ada satu pun yang bisa naik daun dari penjara ke takhta. Coba-coba untuk suatu upaya daging tidaklah berarti.
Langkah raksasa yang ditempuh Yusuf murni dari Tuhan, tetapi kita juga melihat bagaimana kemanisan sikapnya membuatnya konsisten dalam menjalani ujian hidup yang sangat sulit, berat, dan tidak adil. Tuhan ada di sana saat umat-Nya bekerja sama dalam keadaan sulit dan berani mempercayai Tangan yang tak terlihat itu.
Saya percaya Firaun, selain merasakan perbedaan pengartian mimpi-mimpi para orang-orang berhikmat sebelumnya dibanding Yusuf, ia merasakan kemurnian penyampaian dalam diri anak muda Ibrani ini. Ia beda, ia tidak mengada-ada, ia bersih, ia tidak menjilat dalam memberi jalan keluar. Ia tidak bermimpi akan naik kuasa, ia hanyalah seorang tak berarti yang membantu Firaun dalam memberi pencerahan. Roh disambut roh! Roh terang menyejukkan, tetapi roh gelap menjijikkan. Daging tidak akan melahirkan roh/kebaikan. Upaya-upaya daging akan di kemudian hari menghancurkan. Yusuf disertai Roh Tuhan, ia berjalan dalam roh, ia semangat menantikan discovery baru dalam kehidupan dengan senyuman setiap pagi, dengan sapaan manis, dengan pelayanan excellent. Buah roh belaka yang ia kembangkan walaupun ada dalam tutupan dan ketidakadilan.
Tahun-tahun Yusuf dalam penjara membuatnya menjadi pribadi yang sangat bertanggungjawab dan pemerhati kebutuhan orang lain. Ia menjadi orang kepercayaan karena pekerjaannnya sangat mampu dipertanggungjawabkan. Ia di atas rata-rata, ia tidak mencari kesalahan tetapi menutupi segala celah yang terbuka. Ia penolong, ia gesit, ia penanggungjawab, ia pembersih, ia pemberani. Saat ia berhadapan dengan raja dan para pembesar, kakinya sudah tegak, ia tidak goyah, ia berbicara dengan kepastian, ia tahu apa yang harus dilakukan, ia memberi jalan keluar karena ia terbiasa berada di sana. Ia bisa memikirkan, mempertimbangkan, ia menjadi ‘orangtua’ bagi mereka yang membutuhkan sekalipun ia sangatlah membutuhkan figur itu, tetapi ia dapat mengalahkan keadaan hatinya. Ia tidak cengeng, ia sangat dewasa dalam tindakan dan perkataan.
Tidak heran Firaun mempercayainya lebih dari pengarti mimpi lainnya dalam kepiawaian waktu mereka. Yusuf serius dengan kata-katanya, Firaun melihat Roh yang berbeda dalam diri anak muda asing ini. Telah dikemukakan dari awal, bahwa Allahlah yang mengartikan mimpi – Firaun melihat bahwa this young man tidak meninggikan diri, tidak sombong, tidak mencari keuntungan, mencari nama atau kemuliaan dari hasil kemampuan pengartian mimpinya sekalipun di hadapan raja besar sebuah negara terkemuka. Ini membedakan Yusuf dari orang bijak lainnya yang mungkin mengartikan bahwa Firaun akan memiliki 7 anak perempuan, atau akan diserang oleh 7 negara tetangga.
Seseorang yang mengetahui bahwa dirinya benar serta hati nuraninya tidak menuduhnya, maka ia akan mampu berdiri dengan kepala tegak di hadapan raja-raja. Hatinya terlatih untuk tidak menyembunyikan sesuatu yang mudah ditembus dari mata orang besar/petinggi manapun. Tidak ada satu pun yang dapat menembusnya, ia tidak ‘telanjang’ karena dosa, sebab dosa membuat seseorang menyembunyikan diri dari orang lain; dosa mengejar victim pendosa seperti terkejar-kejar walaupun tidak ada yang mengejar. Yusuf yang bersih dari perbuatan asusila dengan isteri Potifar, Yusuf yang menjaga jubahnya bersih dari kenajian masa muda, pada saat yang ditentukan Tuhan, ia mampu berdiri dan menjadi wakil Sorga untuk menyampaikan arti mimpi yang dititipkan lewat mulutnya. Ia megah di hadapan semua yang melihatnya walaupun ia merasa kecil dalam status tahanannya. Ia mewah bagi telinga yang mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya – tidak ada basa-basi, tidak ada eeehhh anu, uhhhh gitu loh. Ia pasti, ia yakin, ia mantap, ia tegak.
Yusuf, 13 tahun yang lalu dibenci, dibuang, disingkirkan dan dilenyapkan, selama tahun-tahun ‘berharga’ yang bagi semua saudaranya merupakan tahun penghabisan, ia belajar kedewasaan. Ia tidak menyia-nyiakan masa tutupan dalam perbudakan dan dalam tahanan. Yusuf sungguh menakjubkan bagi semua mata yang melihatnya, sosoknya sangat berwibawa dan tidak ada bayangan kepalsuan dalam dirinya.
We wish we all learn from the life of Joseph – seorang yang daripadanya kita dapat menimba segudang pelajaran untuk masa depan kita. Sosok yang riil, yang dapat kita temui nanti di dunia yang baru, tetapi yang sekarang dapat kita pelajari secara detil pemikirannya dan sikapnya menghadapi hidup.
Saya melihat anak-anak muda mencoba naik dengan cara-cara yang kurang pas, meniru yang belum waktunya, mencoba yang tidak aslinya, bergaya yang tidak sepantasnya, meninggikan diri dengan kerendahan hati semu, nampak baik dalam kekurangannya, menutupi yang sangat terlihat jelas. Semuanya adalah upaya sia-sia yang tidak menolong mendudukannya pada tempat yang pas. Adalah baik di masa muda untuk rendah hati dan terus belajar dari kekayaan hikmat yang ada, adalah baik untuk tidak berbuat melebihi yang ada, menampilkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya tanpa harus dibuat-buat seolah something or somebody. Saat Roh Tuhan ada pada kita, tidaklah perlu menolong Dia dalam keterbatasan kita – Dia sendiri tampil melalui kita yang apa adanya menjadi murni, riil dan luar biasa. Bukan gerakan badan, buat suara merdu, bukan ketegasan yang dipaksakan, bukan cara-cara yang ditonjolkan – tetapi Roh Tuhan yang disambut dengan keindahan rendah hati.
Yusuf sudah mempersiapkan diri melewati training pelayanan belakang ‘mimbar,’ saat ia tampil memukau tanpa persiapan atau aba-aba. Ladangnya adalah tempat trainingnya, dapur dan area cuci-cuci serta pemotongan hewan, toilet yang jorok, air seni yang bau, adalah pusat trainingnya. Ia telah berlatih di tempat rendah dengan kemanisan wajah setiap hari saat ketinggian siap mendudukkannya di takhta. Saat Yusuf lulus hanya mencerminkan satu kepribadian dimanapun dia berada, ia siap ditempatkan dimanapun dengan kualitas yang sama. Di dapur, di ladang, di kerumunan, di penjara, dalam kesendirian, kepribadiannya tidak berubah – di tahkta iapun mencerminkan sikap dan kualitas yang sama. Yusuf dapat diandalkan, Yusuf sangat bisa dibanggakan, dan saat Tuhan mempromosikannya menjadi orang nomer 2 di seluruh negeri, Tuhan puas telah mempersiapkan seorang pribadi yang lulus dimanapun ia ditempatkan. Yusuf melewati segalanya! Kini ia siap melayani seluruh dunia.
Leave A Comment