Ketika bunga-bunga mulai bermekaran, dan harumnya sampai ke dalam istana, Daud memilih untuk menikmati kenyamanan musim semi daripada berangkat berperang. Mungkin pikirnya aroma seperti ini belum tentu terulang lagi tahun depan. Walaupun Daud tidak ingin melirik rumah Uria yang kosong, ia juga mungkin tidak bermaksud mengintip isteri panglimanya yang maha cantik dengan berbodi menggiurkan.
Mengapa Daud saat dalam hidupnya bertahun-tahun dikejar Saul dan hidup dalam pengasingan justru mempertahankannya dari perbuatan dosa? Lagu-lagu yang digubahnya dari jerat pedang, dari tangan musuh, gunung batu tempat persembunyiannya mendapatkan bidikan dari syair-syairnya. Saat ia tidak berganti pakaian selama berhari-hari, menjaga domba-domba Nabal di padang dan menahan rasa lapar, menari dan mengais seperti orang gila, lari terus menerus dalam pengejaran, kebingungan dimana menitipkan bapa ibunya, berlindung di dalam gua tanpa air. Semua perjalanan sulit dalam hidupnya menjaganya dari dosa dan kejatuhan, tetapi nampaknya kenyamanan yang melonggarkan dirinya dari kesesakan justru membuatnya jatuh. Rancangan-rancangan busuk mulai menggerogoti hatinya dan kelicikan mulai menjalar seperti ular.
Bagaimana mungkin seorang dalam kesesakan sekaligus bisa berpikir untuk menikmati kenyamanan? Hal yang berlawanan! Seseorang dapat bersantai dan merancang perbuatan licik saat ia berada di puncak. Rupanya kejayaan, kemapanan, martabat, posisi membuat banyak orang lupa diri dan menjadi tuhan dalam menentukan langkah-langkahnya. Mereka berpikir adalah suatu keharusan yang dituruti jika sudah ada kemauan apapun itu, sekalipun melanggar norma, tatanan, garis, hukum, etika, atau firman. Kehendaknya harus jadi.
2 Sam 12:10 – “dan pedang tidak akan pernah luput dari keluargamu,” merupakan upah dari pelanggaran moral pada posisi tertinggi Daud sebagai raja. Pedangnya tidak pernah menghukumnya saat ia bertahun-tahun berperang, tetapi saat ia dalam kenyamanan, pedang terhadap Uria membumerang keluarganya turun temurun.
Mengapa Tuhan membiarkan Daud sendirian dan terus menerobos jalur hati nuraninya? Mengapa ia tidak menjauhkan tangannya dari pedang dan mengikuti alarm debar hati yang begitu menghentak seperti pada waktu Saul hanya sesabetan pedang saja? Mengapa kali ini ia tega merenggut isteri panglima setianya sekaligus memarang pemiliknya? Mengapa ia rela menodai hidupnya dengan kejahatan yang demikian besar? Apakah jika saat ia mengintip, dan tiba-tiba nabi Nathan mengetuk pintu kamarnya dan menuding hidungnya ia akan sadar dan terlepas dari dosa yang begitu dahsyat?
Karena kekerasan hati manusia, Tuhan akhirnya menyerahkan mereka kepada pertimbangannya sendiri. Tuhan memberikan ranjau-ranjau di sepanjang koridor, tetapi Ia tidak harus selalu mengirimkan “nabi-nabi Nathan” karena percumalah orang yang hatinya sudah sesat. Ia tidak akan mendengarkan suara Tuhan lewat apapun dan siapapun. Itu sebabnya mudah bagi orang yang terjepit untuk tidak melakukan dosa daripada orang yang sudah berada dalam kenyamanan. Mudah bagi seseorang untuk rendah hati saat ia kekurangan daripada mereka yang sudah ‘diberkati’ dan hidup dalam istana kenyamanannya dan ketinggian posisinya. Mudah bagi seseorang yang belum apa-apa untuk rendah hati dibanding jika ia sudah dikenal atau ada pengikut.
Mengapa Tuhan seringkali membiarkan kita berrencana sendiri dan “tidak melibatkan Diri-Nya” ada dalam setiap pertimbangan dosa? Apakah jika Tuhan mengirimkan guru atau mentor yang menegur dengan keras ‘sebelum ia berbuat dosa’ membuat seorang murid sadar dan berterimakasih karena lepas dari cengkeraman iblis yang menahan hatinya dan dapat menjebloskannya dengan reputasi kekal dan hukuman turun menurun seperti Daud? Apakah Daud akan berterimakasih jika nabi Nathan menudingkan telunjuknya sebelum ia berbuat dosa keji itu daripada sesudah ia bertindak seperti penulisan sejarah? Tuhan mengirimkan nabi Nathan karena Daud pada posisi sekarang seperti itu hanya akan menyadari kesalahannya jika ia disadarkan dari analogi perumpamaan yang masuk akal dan Daud dengan emosinya berkata, “Orang itu harus mati!” Tetapi seperti kebanyakan kita, pada posisi tertentu masih saja merasionalisasi dosa dengan alasan-alasan stratejik, menolak teguran, marah terhadap nasihat – sampai suatu pembiaran terjadi dan manusia harus menyangkali hati nuraniya dan berbuat sesuka hatinya, kemudian hati nuraninya berlumuran dengan rasa bersalah, nabi-nabi Nathan datang barulah ada pengakuan “Aku telah berdosa kepada Tuhan….” Tetapi dalam kasih anugerah yang besar, betapa Tuhan masih mengulurkan tangan kepada orang yang menuding pendosa berat itu dengan amukan: “Orang itu harus mati!” dan berjanji: “Engkau tidak akan mati!”
Renungan dan Refleksi:
*Seberapa rendah hatikah saat seseorang memberikan teguran, nasihat, warning keras sebelum Anda jatuh dalam dosa, merasa bahwa Anda kuat dan ada kecenderungan berbalik menuding ‘Nabi Nathan’ dan menjauhinya lalu berjalan dalam rencana-rencana kejatuhan itu?
**Mengapa dalam ketinggian hati orang masih saja meresikokan diri untuk menerima penghakiman besar turun temurun daripada ditolong pada masa meditasi kelicikan hati itu dalam bentuk embrio?
Leave A Comment