Hakim-hakim 14:5-6
Lalu pergilah Simson beserta ayahnya dan ibunya ke Timna. Ketika mereka sampai ke kebun-kebun anggur di Timna, maka seekor singa muda mendatangi Simson dengan mengaum.
Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing — tanpa apa-apa di tangannya. Tetapi tidak diceriterakannya kepada ayahnya atau ibunya apa yang dilakukannya itu.

 

Bilangan 22:25-33
Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula.
Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri.
Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.
Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”
Jawab Bileam kepada keledai itu: “Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”
Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: “Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?” Jawabnya: “Tidak.”
Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.
Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: “Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan.
Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.”

 

1 Raja-raja 13:24-26
Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itu pun berdiri di samping mayat itu.
Orang-orang yang lewat melihat mayat itu tercampak di jalan dan singa berdiri di sampingnya. Dan mereka menceriterakannya di kota tempat kediaman nabi tua itu.
Ketika hal itu kedengaran kepada nabi yang telah membujuk dia berbalik kembali, ia berkata: “Dialah abdi Allah yang telah memberontak terhadap titah TUHAN. TUHAN menyerahkan dia kepada singa, yang mencabik dan membunuhnya sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepadanya.”

 

Yunus 1:17
Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

 

Yunus 4:6-8
Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.
Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.
Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.”

 

Membaca rentetan orang-orang penting di atas dan kisah mereka dan bagaimana Tuhan mengirim binatang-binatang itu sebagai “evangelists” untuk mengingatkan mereka agar bertobat, kita jadi belajar bahwa jika hamba-hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan tidak lagi mempan mendengar seruan pendeta, nabi, firman, hati nurani, maka Tuhan akan menolong menobatkan kita dengan mengirimkan evangelist-evangelista yang lebih rendah kedudukannya. Tuhan bisa memakai apa saja asal kita berbalik kepada Dia, karena begitu kasihnya Dia kepada kita agar kita jangan terus berjalan dalam gelap. Tuhan ingin berkomunikasi dengan anak-anak-Nya, tetapi kerap kali kita tidak bisa mendengarkan bahasa-Nya. Mungkin Tuhan sudah waving hands, berteriak sort of, tetapi karena seperti semut yang jika kita teriakin bahwa di situ ada jurang ada makanan itu beracun ia tidak tahu, maka Tuhan datang dalam rupa manusia, agar kita bisa mengerti bahasa-Nya. Tetapi pun, manusia menolak-Nya dan masih tidak mengerti bahasa kasih-Nya.

Kiranya kita bisa memahami bahasa kasih Tuhan walaupun harus lewat binatang, lewat penyakit, lewat pencuri, lewat kehilangan, kemelaratan, penjara, wabah, murka alam – walaupun itu semua bukan alat terbaik kehendak-Nya tetapi ‘kadang’ Ia harus menggunakan media tersebut agar kita sadar dan kembali kepada-Nya. Di bawah ini merupakan kisah seorang raja yang karena kesombongannya, ia dihalau oleh Tuhan dan lupa dirinya sendiri sehingga ia menjadi seperti binatang selama 7 tahun, sampai akhirnya ia sadar dan mengakui kedaulatan Tuhan.

 

Daniel 4:29-34
sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel,
berkatalah raja: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?”
Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: “Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu;
engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!”
Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung.
Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun.

 

Semua hal yang nampak “buruk” seharusnya dimengerti bahwa itu hanyalah merupakan pembelajaran bagi kita untuk kita kembali kepada Dia, mempercayai Dia, mengasihi Dia secara full dan mengandalkan-Nya dalam segala segi kehidupan. Tuhan bisa “mengirim” air bah, tsunami, badai gempa, angin, laut, kejatuhan/kehilangan pesawat/mobil dll, yang seketika bisa menghanyutkan nyawa tanpa ada pertobatan, tetapi jika masih ada kesempatan untuk hidup, kembali dan bertobat, maka itu suatu GRACE BESAR, double grace untuk kita mempercayai-Nya dan medium yang digunakan-Nya walaupun rendah dan tidak cocok dengan kita. Tetapi Dia menganggapnya cocok untuk pertobatan kita.