Meluruhkan Hati Tuhan

||Meluruhkan Hati Tuhan

Meluruhkan Hati Tuhan

Kisah ini merupakan kisah lanjutan dari MARAH yang diharuskan. Saya akan copas sedikit paragraf dari FMH minggu lalu agar pembaca setia dihangatkan kisahnya, setelah itu saya sambung dengan ulasan bagaimana kita bisa meluruhkan hati Tuhan.

1 Samuel 3:11-14, 18 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising kedua telinganya. Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir. Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.”
Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatu pun. Kemudian Eli berkata: “Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.”

Saya tidak tahu dalam hal ini hati Tuhan, apakah masih bisa meleleh jika Imam Eli mau memarahi anak-anaknya, sebab kesempatan masih ada, Tuhan berbicara kepada 2 orang yang berbeda, berarti masih ada sekian kurun waktu sebelum penghakiman itu diturunkan. Tapi, kenapa sang imam hanya bilang “biar kehendak Tuhan yang jadi?”

Saya berpikir mimpi/nubuatan/words of knowledge diberikan agar kita bertobat, bukan hanya nrimo. Sebagai ortu, jika ada anak bandel, ortu udah bilang mau hukum bla bla blah… kalo anaknya jadi baik dan manis, mana tega penghakiman diturunkan? Entahlah, tapi kenapa tidak dicoba,… kenapa Imam Eli tidak memarahi anak-anaknya saat mendapatkan nubuatan itu??? Kenapa, kenapa? Kenapa harus seluruh keturunannya mengalami kematian dini?

Bukan sang imam yang berbuat dosa, tapi hanya karena ia tidak memarahi anak-anaknya, maka seluruh keturunan imam sesudah dia dihukum dan tidak ada seorang kakek lagi dalam keturunannya karena mereka semua mati muda. Ini mengenaskan kekal. Mari kita belajar untuk berani marah kudus, bukan emosi teriak-teriak… Pikirkan dan doakan, mintakan hikmat Tuhan sebelum memberikan pendisiplinan dalam kemarahan, agar yang keluar bukan daging tetapi didikan kudus. Selamat “marah”…:)

Berhubung tidak ada KOREKSI KEMARAHAN yang dilakukan oleh Imam Eli setelah 2x nubuatan penghakiman Tuhan disampaikan kepadanya, maka Tuhan benar-benar melaksanakan niat-Nya (Uggffhhh!!!). Ini bagian yang tidak menyenangkan, tapi kita tetap harus belajar daripadanya. Here is the account of the story:

1 Samuel 4:3-22 (TB) Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.
Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”
Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. Seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya. Ketika ia sampai, Eli sedang duduk di kursi di tepi jalan menunggu-nunggu, sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah itu. Ketika orang itu masuk ke kota dan menceritakan kabar itu, berteriaklah seluruh kota itu.
Ketika Eli mendengar bunyi teriakan itu, bertanyalah ia: “Keributan apakah itu?” Lalu bersegeralah orang itu mendapatkan Eli dan memberitahukannya kepadanya. Eli sudah sembilan puluh delapan tahun umurnya dan matanya sudah bular, sehingga ia tidak dapat melihat lagi.
Kata orang itu kepada Eli: “Aku datang dari medan pertempuran; baru hari ini aku melarikan diri dari medan pertempuran.” Kata Eli: “Bagaimana keadaannya, anakku?” Jawab pembawa kabar itu: “Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas.”
Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.
Adapun menantunya perempuan, isteri Pinehas, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak. Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: “Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki.” Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya. Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: “Telah lenyap kemuliaan dari Israel” — karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya. Katanya: “Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas.”

Mereka berpikir protokol-protokol pelayanan dan bahkan alat-alat suci seperti tabut, kitab, salib, doa-doa bisa jadi mantera dalam peperangan. Tapi saat dosa terjadi di dalam kubu, maka kekalahan tetap terjadi, penghakiman tetap dilaksanakan, dan kemuliaan Tuhan lenyap dari sana. Ini mengerikan sekali!

Apa pun namanya, kita yang masih bersalutkan daging tetap membutuhkan anugerah Tuhan untuk melewati perjalanan panjang iman yang tidak ditahu medannya. Dan dalam menghargai anugerah itu, kita tetap waspada akan kedagingan kita, agar kita tidak jatuh dalam pelanggaran-pelanggaran dan jebakan iblis. Sebab anugerah tidak selamanya mampu menjagai kita jika kita nekad dan terjun di luar anugerah itu. Seperti isteri Lot sudah didatangi malaikat-malaikat, tangannya sudah diseret, tapi saat dia menoleh ke belakang, anugerah itu hilang karena pelanggarannya.

Banyak anak-anak Tuhan ceroboh dan ‘berlindung’ di bawah payung anugerah saat mereka melanggar dan berpikir aman-aman saja. Saya mendengar bagaimana mereka jatuh dalam narkoba dan sakau, dari hari ke hari kerjanya cuman ngobat dan nge-fly, tapi minggu dia melayani di gereja dan berkhotbah. Lainnya tetap sama berpegang pada payung grace, tapi main perempuan dan berani melakukan seks dengan perempuan lain. Juga ada yang menganut grace tapi bisnisnya kotor. Ini semua sama prinsipnya dengan membawa tabut Tuhan dalam medan peperangan dan berharap menang.

Dalam kasih dan anugerah-Nya, Tuhan akan memberikan kita nubuatan-nubuatan jika kita tidak sadar akan dosa dan pelanggaran kita; Dia masih mau memberikan ampun dan kemurahan kepada anak-anak-Nya. Bahkan perempuan Izebel pun diberikan waktu untuk bertobat (Wahyu) – Tuhan mengirimkan nabi-nabi-Nya untuk berbicara kepada kita, itu tanda kasih-Nya.

Ah, seandainya Imam Eli memarahi anak-anaknya dan mendisiplin mereka dari pelayanan jabatan imam; seandainya anak-anaknya menyadari dan berbalik dari dosa-dosa mereka,.. tentulah Israel tidak kalah. Tetapi Israel seolah mempermalukan nama Tuhan, walaupun membawa tabut, tetap saja kalah, bumi sudah bergetar, tetap kalah dengan umat yang tanpa Tuhan. Tuhan juga tidak peduli namanya dipermalukan karena dosa hamba-Nya,… bukankah ini menyakitkan? Ya, jika kita kalah, tidak diberkati, hancur,… kita mempermalukan Tuhan walaupun Tuhan tidak perlu malu atau membela Diri untuk menghajar kita agar menghormati kekudusan-Nya. Oh,… Israel, Ohh… Imam Eli.

Tuhan bisa membela Diri-Nya, Dia bisa “membersihkan” Nama-Nya dengan cara-Nya. Di bawah ini adalah pembelaan Diri-Nya di antara bangsa Filistin yang sudah merampas tabut Tuhan:
1 Samuel 5:6-7, 11-12 (TB) Tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya. Ketika dilihat orang-orang Asdod, bahwa demikian halnya, berkatalah mereka: “Tabut Allah Israel tidak boleh tinggal pada kita, sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon, allah kita.”
Sebab itu mereka memanggil berkumpul semua raja kota orang Filistin itu dan berkata: “Antarkanlah tabut Allah Israel itu; biarlah itu kembali ke tempatnya, supaya jangan dimatikannya kita dan bangsa kita.” Sebab di seluruh kota itu ada kegemparan maut; tangan Allah menekan orang-orang di sana dengan sangat berat:
orang-orang yang tidak mati, dihajar dengan borok-borok, sehingga teriakan kota itu naik ke langit.

1 Samuel 6:2-9 (TB) maka orang Filistin itu memanggil para imam dan para petenung, lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang harus kami lakukan dengan tabut TUHAN itu? Beritahukanlah kepada kami, bagaimana kami harus mengantarkannya kembali ke tempatnya.” Lalu kata mereka: “Apabila kamu mengantarkan tabut Allah Israel itu, maka janganlah kamu mengantarkannya dengan tangan hampa, melainkan haruslah kamu membayar tebusan salah kepada-Nya; maka kamu akan menjadi sembuh dan kamu akan mengetahui, mengapa tangan-Nya tidak undur dari padamu.”
Sesudah itu bertanyalah mereka: “Apakah tebusan salah yang harus kami bayar kepada-Nya?” Jawab mereka: “Menurut jumlah raja-raja kota orang Filistin, lima borok emas dan lima tikus emas, sebab tulah yang sama menimpa kamu sekalian dan raja-raja kotamu. Jadi buatlah gambar borok-borokmu dan gambar tikus yang merusak tanahmu, dan sampaikanlah hormatmu kepada Allah Israel. Mungkin Ia akan mengangkat dari padamu, dari pada allahmu dan dari pada tanahmu tangan-Nya yang menekan dengan berat.
Mengapa kamu berkeras hati, sama seperti orang Mesir dan Firaun berkeras hati? Bukankah mereka membiarkan bangsa itu pergi, ketika Ia mempermain-mainkan mereka? Oleh sebab itu ambillah dan siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi.
Kemudian ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda emas, yang harus kamu bayar kepada-Nya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi. Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tangan-Nya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita.”

Bangsa Filistin mempunyai “imam” sendiri dan petenung, dukun-dukun, yang pada waktu dimintai petunjuk/ramal, mereka menjawab dengan baik dan benar. Mereka tahu bagaimana menghormati “Allah” yang tidak mereka kenal/percayai agar raja-raja memberikan upeti kepada Allah Israel ini dengan emas bongkahan. Mereka tahu kisah Allah ini yang pernah menghukum Firaun dan Mesir karena kekerasan hati pemimpinnya. Dan, bangsa kafir ini melakukan perintah dukun dengan tepat!!!

Sebagaimana kita tahu, dosa seorang pemimpin berpengaruh terhadap umat/bangsanya, seperti saat Firuan mengeraskan hati, seluruh bangsa kena tulah sampai anak sulungnya semua mati. Dosa imam/pendeta sangatlah besar sehingga membahayakan dan mencelakakan seluruh umat. Dalam hal ini seluruh bangsa! Tanggung jawab hamba Tuhan besar sangat berpengaruh terhadap bangsa. Dan saat raja-raja kafir itu menuruti dukun mereka, seluruh bangsanya dilindungi. Aih,… kadang kita malah belajar dari mereka yah… bagaimana meluruhkan hati Tuhan. Isn’t that something?

Yah, kita gak bisa sombong, kita tetap harus tunduk, belajar, terus menyimak, terus memperhatikan, sebab hikmat terus berseru-seru di jalanan, kata Salomo yang sangat berhikmat tapi sempat kesleo. Bersama-sama, kita rendah hati dan tunduk kepada keputusan-keputusan Sorga.

By | 2017-03-16T11:28:04+07:00 January 21st, 2017|From Maq's Heart|0 Comments

Leave A Comment

four × two =