Doa dan Dosa

||Doa dan Dosa

Doa dan Dosa

Kenabian jaman dulu agak bisa disamakan dengan kependetaan jaman sekarang, karena gereja hampir tidak mengakui jawatan nabi atau rasul dalam kepemimpinan di tengah jemaat, sehingga pendetalah yang ‘menguasai’ ‘office’ gereja. Memang ini disayangkan karena sudah merosot penempatan atau aplikasi jawatan-jawatan dalam kerohanian. Banyak sekali alasan-alasan yang melatar-belakangi degradasi adanya 5 jawatan tersebut yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu kita para rohaniawan/wati sampai membentuk kepemimpinan ‘office’ gereja pada saat ini.

Meskipun dalam koridor yang masih sempit saya sedang mengganti ‘prosneling’ dan mengajarkan dan menyerukan dari mimbar saya yang masih kecil ini, karena gereja sudah sedemikiannya terpola dengan sistem kependetaan, maka untuk merombak dan mengembalikan kepada ajaran gereja mula-mula agaknya masih dibutuhkan “birokrasi” sampai bangkitnya seorang Jokowi dan Ahok yang merombak sistem kepemimpinan dalam kenegaraan.

Berbelit mengisahkan sejarah gereja, membaca ayat-ayat di bawah ini agak mix sedih dan senang – pendeta Samuel, yang saya umpamakan hidup di jaman sekarang ini, rupanya sama juga dengan jadoelnya di era beliau. Seluruh bangsa mengakui kenabian beliau, keakuratannya dalam mendengar dan menyampaikan suara Tuhan, tapi bangsa itu selama 20 tahun tetap dalam belenggu kekalahan dan penginjak-injakan bangsa kafir. Apakah keberadaan seorang nabi Tuhan sekaliber Samuel tidak mampu menolong mengeluarkan seluruh bangsa dari penistaan tetangga? Not true! Dia sudah melaksanakan tugasnya untuk menyerukan suara kenabian, alhasil bangsa itu sendiri yang tidak mau berbalik dari dosa-dosa mereka. Itu sebabnya, angkanya sampai mencapai 20 tahun… mereka mulai MENGELUH KEPADA TUHAN. Let’s read the account:

1 Samuel 7:2-14 (TB) Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN.
Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: “Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.”
Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.” Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.
Ketika didengar orang Filistin, bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. Serta didengar orang Israel demikian, maka ketakutanlah mereka terhadap orang Filistin.
Lalu kata orang Israel kepada Samuel: “Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.” Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia. Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.
Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar. Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.”
Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.

Saat mereka berbalik dari dosa-dosa mereka, Tuhan langsung mengadakan perkara atau bahasa yang sering saya sampaikan adalah “Tuhan memunculkan kasus.” Kasus dari Tuhan selalu baik, walaupun awalnya nampak kejepit, like all our experience – tapi endingnya happy selalu always.

Yang ingin saya ketengahkan dari atas adalah gini lho, kita-kita khan juga ada pendeta Samuel, pendeta Daniel, Zakaria, Gideon,… anggaplah nabi, sebab mungkin juga mereka nabi tapi karena jaman ini belum diterima jawatan kenabian, maka fungsi kenabian mereka bisa jadi bersembunyi di balik kependetaan dan mereka tidak berani berbicara “Thus saith the Lord.” Pendeta-nabi tersebut mungkin sudah acap kali menggunturkan suara Tuhan dalam kesederhanaan mimbar khotbah mingguan, tapi jika ini tidak didengar sebagai suara Tuhan, maka jemaat yang kalahan ya akan tetap kalahan, terbelenggu, terikat (hutang, sakit penyakit, kutuk, kematian dini, dsb) — sampaiiiiiiiiiii… mereka berbalik dari dosa-dosa dan jalan-jalannya yang sudah jauh menceng.

Seperti di atas, bangsa Israel membuang berhalanya dan hanya beribadah kepada Tuhan saja. Kalau diterjemahkan kepada bahasa kita, mungkin kita gak jualan barang palsu lagi, gak nyuap lagi, gak keluarin bon kosong, gak lakuin illegal deeds, membuang game, membuang DVD dan software bajakan, menghapus semua gambar syur, link pornografi, menumpas barang-barang najis, lalu sungguh-sungguh memautkan (berpaut) hati kepada Tuhan saja.

Sebab jika jemaat memiliki hidup ganda, seperti yang saya sampaikan di FMH sebelumnya dengan judul “”Urapan” Campuran,” maka Saudara mau beribadah selama 20 tahun, 30-50 tahun, tetap saja hidup dalam penganiayaan iblis. Saudara bertanya dan berdoa terus kenapa Tuhan gak jawab-jawab doa dan puasa Saudara. Udah kesetiaan tahunan ke gereja seminggu 3x, tetap saja hidup penuh sungutan karena harus bayar hutang yang bunganya makin naik. Saya tahu seorang yang kaya raya tapi tetap saja stress, tetap saja hari-harinya kepala sakit sampai membentur-benturkannya ke tembok. Udah di-MRI, di-scan di mana-mana tetap saja tidak ditemukan symptomenya, malah makin parah. Punya semua barang yang mahal dan beberapa mobil dan rumah, tetap saja hidupnya seperti dikejar polisi karena dia tidak bayar pajak dengan benar. Umpetin uangnya di sana sini, bohong lagi sana sini, dan memberkati gereja sana-sini. Ini urapan campuran yang tidak akan menyelesaikan/mendudukkan hati nurani yang bersih di hadapan Tuhan.

Tuhan sering mendatangkan ‘filistin-filistin’ demikian agar kita duduk tenang sama Tuhan, coba dengar suara Tuhan, kemudian memilah-milah urusan hidup yang gak bener dan membuangnya, lalu memulai dari nol, agar berkat Tuhan yang sesungguhnya turun. Sebab berkat dari Tuhan tidak disertai stress, sakit, payah, tidak tenang, dikejar-kejar, dan semacamnya yang tidak membawa damai di hati.

Kiranya suara kenabian Samuel ini masih didengar oleh rakyat pembaca.

 

By | 2017-03-16T11:28:04+07:00 January 28th, 2017|From Maq's Heart|2 Comments

2 Comments

  1. Nataly 31 January, 2017 at 2:28 pm - Reply

    Amin

  2. Arjun Toraya 4 February, 2017 at 12:40 am - Reply

    Makasih kak maq, Saya seorang anak muda, yang telah membaca buku-buku kak maq dan saya percaya itu jalan Yesus membawa saya lebih dekat padaNya. Kiranya kasih Yesus selalu beserta engkau saudariku

Leave A Comment

six + 1 =