Gossip seperti yang sekarang terjadi secara meluas di hampir tiap mulut, terjadi juga di era Tuhan kita, 2000 lebih tahun yang lalu. Jika kita membaca bagian-bagian percakapan mereka, tahulah kita bahwa mereka tidak suka dengan kedatangan “orang baru” dan “pengajaran baru.” Jelaslah bagi kita bahwa manusia suka dengan keusangan, kebiasaan, keumuman – mereka bingung dan mempertanyakan sesuatu yang baru yang belum dikenal oleh sistem dalam otak mereka. Yang ‘baru,’ mereka pikir sesat – persis dengan manusia sekarang, bukan?
Yohanes 7:11-12, 40-41, 45-52 (TB) Orang-orang Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata: “Di manakah Ia?” Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: “Ia orang baik.” Ada pula yang berkata: “Tidak, Ia menyesatkan rakyat.” Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:
“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”
Membaca perbincangan mereka ini membuat kita berkaca diri: apakah gosip itu pantas diteruskan dan digelembungkan, sedangkan kita tidak tahu kebenaran mutlaknya? Kita hanya mendengar kabarnya dari satu-dua orang, kabar burung, tetapi TIDAK PERNAH MENDENGAR DARI SUMBERNYA LANGSUNG dan DUDUK BERSAMA MENGINTERVIEW? Sebab jaman sekarang ini kisah, clip, rekaman, sudah banyak dipotong dan diganti suaranya bahkan bodynya (hanya kepalanya saja yang foto aslinya).
Orang-orang yang menolak Yesus mentah-mentah dalam kisah di atas itu begitu bodohnya mengutip Firman tetapi tidak menginterview tempat kelahiran Yesus dari mama Yesus atau dari Dia sendiri. Betul mereka berkata bahwa nabi akan datang dari Betlehem, tapi mereka hanya dengar bahwa Yesus datang dari Galilea. Inilah gosip! Sepenggal dan tidak benar, jauh dari akurasi.
Kita banyak berdosa dengan kata-kata dan pikiran kita saat menuding orang lain:
-Membenarkan diri sendiri
-Menghakimi
-Sombong, merasa benar
-Mencemarkan mulut sendiri
-Mencemarkan pikiran dan hati orang lain
-Menyebarkan benih dan dosa
-Merendahkan sesama
-Menghina Tuhan penciptanya
-Menjadi agen iblis
-Kerasukan roh jahat
Orang-orang itu hatinya begitu panas, membela dirinya, membela kesalahan, spiraling negativity, jadi kaki-tangan iblis dan membawa kuasa neraka.
Mari kita bertobat dari gossiping. Mari kita mendisiplin mulut kita agar tidak berdosa. Sebagai anak-anak Kerajaan, sebagai hamba Kerajaan, kita menjadi teladan bagi dunia, bagi mereka yang menantikan pembukaan mulut kita – bukan semburan neraka, tetapi kata-kata mulia yang dari Sorga. Tidaklah pantas hamba Kerajaan menguapkan auman neraka. Campuran kata tentu tidak akan memberkati; mulut orang Kerajaan hanyalah kemurnian titik.
Bersama kita terus vibrating berkat-berkat Sorga, yang manis, yang sedap didengar, yang uplifting, yang patut dipuji, yang disebut kebajikan, yang MULIA – vocabularies Kerajaan.
Mintalah ampun kepada Tuhan akan semua kata-kata neraka yang sudah divibrate di atmosfir, yang masih ada di endapan, minta Roh Kudus membakar habis sampai tidak tersisa, sampai ludes seakar-akarnya. Kita tidak menyadari bahwa dosa ini menimbulkan berbagai penyakit di area mulut, lidah, tenggorokan, kepala, sampai hati. Pertobatan merupakan awal kesembuhan, kemudian kita harus mempertahankannya kesehatan rohani-jiwani, dan jasmani dengan cara MENDISIPLIN MULUT untuk tidak berkata-kata atau mengeluarkan pendapat. Biarlah hanya Roh kemanisan, Roh Kebenaran, Roh kasih yang memenuhi hati kita. Amin.
Leave A Comment