Galatia 3:24-27
24: Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
25: Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
26: Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
27: Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
Jika Saudara membaca dengan teliti, kita mendapati di ayat 24-25 bahwa iman adalah Yesus sendiri. Iman telah datang –> Yesus telah datang. Ayat 26: iman dalam Yesus, mengenakan Yesus, mengenakan iman. Iman=Yesus. Jadi jika Saudara berjalan dalam Yesus, Saudara berjalan dalam iman; jika Saudara berhasil karena iman, Saudara tentunya Berhasil karena Yesus.
Jika Saudara menelaah semua ayat-ayat Alkitab dari awal sampai akhir, di sana Saudara hanyalah mendapati bahwa semuanya berbicara tentang Yesus. Nubuatan juga tentang Yesus, para nabi berbicara melulu tentang Yesus dan kedatangan-Nya. Semua mengarah kepada Yesus. Hal-hal sulit, semuanya harus pandang kepada Yesus. Dia sumber segala hidup. Yesus sendiri adalah Tuhan yang melakukan segala sesuatu yang mustahil. Ia sendiri adalah kemustahilan itu. Menikmati Kemustahilan=Menikmati Yesus. Saya senang sekali dengann quotation dari Dr. Jonathan David yang berkata:
Make possible the impossible
All things are possible
Nothing is impossible
Impossible is possible
So, do the impossible
Itu merupakan pemikiran yang bertumpu kepada Yesus, sebab Yesus adalah Pemrakarsa dan Pemilik “the impossible” menurut dunia. Dialah Tuhan Pelaku Kemustahilan, Dialah Yang “Tidak-ada-yang-mustahil.” Saat Saudara hidup bersama Yesus, Saudara berhasil karena iman dan menikmati kemustahilan. Ini konklusi dari hidup saya yang saya tuangkan dalam kedua judul buku saya tersebut. Semuanya adalah melulu tentang Yesus yang ingin menyatakan Diri lewat vessel tak berdaya ini, tetapi diberdayakan karena kuasa-Nya, kuasa Iman, kuasa Kemustahilan di dalam Dia. Jika saya bermegah, saya bermegah tentang Dia, saya memperkenalkan Yesus kepada dunia, itu thema central buku saya.
Saat saya menulis kedua buku tersebut, ada erangan di hati saya bahwa semua orang yang membacanya harus mengenal Dia, menerima lawatan Tuhan dan ingin menikmati-Nya, itu yang pertama. Selanjutnya mereka harus berjalan dalam iman dan kemustahilan – karena Dialah itu-itu! Saya tahu buku-buku tersebut harus muncul di dunia untuk membangkitkan iman dan kesadaran bahwa jika kita berjalan dengan Yesus maka kita akan berhasil dan menikmati kemustahilan. Walaupun perwujudan dari iman dan Yesus itu sendiri tidak harus selalu dimanifestasikan dalam bentuk keberhasilan menurut standar dunia atau secara kasat mata dan well financially. Tetapi terkadang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Dia Tuhan yang maha sanggup, Ia akan memanifestasikan lewat kuasa, tetapi itu bukan suatu show off, karena Tuhan sudah dengan sendirinya maha dalam segala hal, dan tidak perlu harus membuktikan Diri-Nya dengan kuasa/kemahaan-Nya. Dia sudah Tuhan!
Semua isi Alkitab is all about Jesus. Itu sebabnya, saat seseorang mulai percaya Yesus dan menerima-Nya sebagai juru Selamatnya, maka ia akan bergerak ke arah Yesus, ke arah pendewasaan iman yang akan menjadi serupa dengan Dia. Apapun yang dilakukannya berputar sekitar Yesus. Ia harus mempercayai Firman, karena Firman adalah Yesus, percaya Firman=mempercayai Yesus. Hidup dalam Firman=hidup dalam Yesus. Jika seseorang tidak bergerak ke arah Yesus, kita harus bertanya tentang imannya/percayanya/hatinya, apakah ia benar-benar sudah bertobat, apakah ia sungguh-sungguh mengenal Dia.
IMAN=KASIH
IMAN=YESUS
YESUS=KASIH
Galatia 5:6, 13-14
6: Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
13: Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
14: Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
Jadi, bebas dari hukum Taurat membuat mereka bebas dari tekanan, tetapi kebebasan itu bukan untuk diri sendiri, kebebasan itu justru untuk melayani orang lain dengan kasih. Sebab kasih itu adalah Yesus, Yesus adalah Kasih. Kita harus mengasihi karena Yesus juga mengasihi, semuanya bergerak ke arah Yesus. Itu sebabnya saya katakan di atas bahwa semua yang di dalam Dia harus mengarah kepada karakter Yesus. Yang berbeda dari itu, mungkin ada kendala-kendala dalam hidupnya selama ia masih belum tahu bahwa dia ada di dalam Yesus, ada sakit hati masa lalu yang belum terselesaikan, ada kubu-kubu yang dipertahankan sehingga membuat orang tidak menyerupai Kristus walaupun sudah tahunan ikut Tuhan dan ke gereja, nota bene. Sebab orang ke gereja tahunan tidak menjamin bahwa hidupnya serupa dengan Kristus, tetapi pelaku Jesus-like itulah yang disebut orang kristen – artinya Kristus-Kristus kecil.
Topik ini sangat dalam dan detil, tidak dapat saya tuliskan semua di sini, karena banyaknya problem orang percaya yang mungkin bantet rohani (seperti istilah roti yang tidak mekar saat dioven), bonzai, sakit dalam yang tidak kelihatan berupa borok tapi menggerogoti di dalam, dan jelas ada masalah di dalamnya (selayaknya pohon tidak berbuah walaupun sudah disirami bertahun-tahun setiap hari, pastilah ada penyebabnya), itu sebabnya paling tepat adalah mengenali akar permasalahan kenapa rohnya terhambat berkembang. (Pengembangan manusia roh dalam pemuridan kami di KCC menolong masalah-masalah seperti ini)
Dalam pelayanan kami, kami menemukan banyaknya masalah mengapa anak Tuhan tidak maksimal dan jatuh-bangun dalam pengiringannya dan pertumbuhan rohaninya, di antaranya adalah ikatan nenek moyang, kebiasaan dosa, ikatan-ikatan yang didapat dari dunia (lewat mata, pendengaran, dll), kebiasaan buruk kecil yang menghambat, dll. Ada yang dengan mudah dilepaskan lewat pengakuan/confession/renounciation, ada yang harus melewati pengusiran roh jahat, ada yang lewat kesadaran dan pembalikan akal budi/metanoia/pertobatan. Ada yang mudah dilakukan sendiri, tetapi banyak yang harus ditolong, karena namanya “terikat”, ia tidak dapat melepaskan diri, harus ditolong mereka-mereka yang telah bergelut di medan rohani untuk melepaskan ikatan roh dan kuasa-kuasa kegelapan.
Saya tidak berbicara jauh mengenai hal ini, tetapi cara yang paling mudah adalah tinggal di dalam Yesus, fokus kepada hal yang di atas, menjauhkan diri dari dunia dan segala keinginan mata.
Jesus is all the world to me and to you – make Him the center of your life. He is all in all.
Lift Him up!
Leave A Comment