1 Korintus 7:2-5
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
Kebanyakan perkawinan dipicu dari “keinginan untuk berhubungan badan” – mungkin jika pembaca tidak demikian, jangan cepat-cepat marah, kita akan teruskan dulu duduk perkaranya. Birahi yang meluap-luap yang tidak dapat dibendung membuat dua sejoli yang katanya atas dasar kasih or cinta, malah masuk dalam hubungan terlarang, sampai kepada pernikahan, atau tanpa hubungan terlarang dulu, tetapi masuk dalam pernikahan – entah kudus atau tidak, pokoknya poinnya masuk dalam perkawinan.
Dalam ayat ke 2 di atas disebutkan bahwa mengambil isteri atau suami adalah untuk menghindari bahaya percabulan. Ini ditulis karena dilatarbelakangi itu tadi yang saya sebut “keinginan untuk berhubungan badan.”
Herannya di ayat ke 3, mulai ada nasihat dalam pernikahan: masing-masing pasangan harus “memenuhi kewajibannya.” Inilah yang kemudian terjadi — ternyata dalam pernikahan “keinginan untuk berhubungan badan” bukan lagi menjadi menu utama, buktinya “memenuhi kewajiban” saja harus dinasihati. Ini yang tidak dimengerti banyak anak-anak muda yang masih sarat dengan nafsu birahi. Pasangan yang sudah menikah rupanya akhirnya saling menjauhi dan tidak bernafsu untuk berhubungan badan alias memenuhi kewajiban itu tadi. Makanya banyak seminar-seminar tentang pernikahan, mempertahankan hubungan, supaya tetap hangat, hendaklah saling mencintai, dating again, bikin goal untuk kencan dan menghangatkan ranjang. Kenapa? Ternyata yang dipikirkan saat pacaran dan dirasakan saat melakukan hubungan terlarang beda dengan kenyataan pada saat masuk dalam pernikahan sesungguhnya/ikatan janji/komitmen. Nah, kalau masih pacaran, mana ada nasihat seperti itu? Idealis banget tuh mereka… kayaknya selamanya gak pernah gak nempel deh. Tapi setelah menikah, “menempel” itu justru harus diberitahu bahwa itu: “kewajiban,” tauk!
Di ayat ke 4, ditegaskan lagi, tubuhnya sudah bukan milik yang bawa, tapi milik pasangannya. Jadi terserah pasangannya mau bikin apa sama tubuh situ, ya suka-suka dia, karena itu juga miliknya. Nasihat seperti ini tidak diberikan pada waktu pacaran, sebab kalau masih pacaran maunya begitu-begituan terusss. Tapi baru sudah menikah, yang terjadi malah kebalikannya – untuk ke arah sana aja susahnya bukan main, sampai harus konseling, harus nangis-nangis, harus robek hati, harus ke psikiater, harus minum obat, harus pake alat, pemanasannya lama, males ah, sudahlah, jangan sekarang, tahun depan saja, gak minat, gerah, capek, lagi gak mood, lagi PMS, nggak pas waktunya, weleh banyaknya alasannya.
Di ayat ke 5, sang rasul bilang lagi baik-baik, “jangan saling menjauhi… kecuali atas persetujuan bersama, dan itupun untuk tujuan berdoa.” Jadi bener khan, bahwa nafsu itu kerjanya cuman sebentar, saat kebentur masalah demi masalah, nafsu tiba-tiba entah kemana. Dan yang ada hanyalah perlu dinasihatin kayak gini. Aneh juga ya kalau orang menyebut ini namanya cinta. Jadi entah teori saya di atas bahwa “Kebanyakan perkawinan dipicu dari “keinginan untuk berhubungan badan”” akhirnya benar atau masih salah juga – Saudara yang sudah menikah dan yang menggebu hormonnyalah yang bisa mengetok palu.
Makanya sang rasul di ayat pertama bilang wanti-wanti “1 Korintus 7:1: Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Rupanya beliau ditanya sama anak muda yang mau kawin, gimana sih menurut Bro aku ini, boleh gak sih nikahin dia? Bla bla bleh lah nasihatnya. Tapi di ayat-ayat berikutnya beliau tidak melarang yang mau kawin, monggooooo katane. Tapi engkau akan “ditimpa kesusahan badani,” wantinya sang rasul Kristus. “Uh, oh, really, masak??”
1 Korintus 7:28, 35: Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.
Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.
Saya tidak akan melarang orang untuk kawin karena saya belum atau gak kawin, tapi saya membahas hubungan suami isteri tadi. Jika masuk pernikahannya salah hanya karena nafsu birahi, maka belakang-belakangnya juga akan salah, makanya ada nasihat seperti di atas itu, oleh sang rasul. Tapi lagi-lagi sang rasul berkata bahwa jika engkau kawin engkau tidak berdoa, eh berdosa maksudnya. Apalagi kalau yang nyuruh Tuhan sendiri, seperti nabi Hosea yang malah disuruh ngawinin pelacur – itu malah kehendak Tuhan walaupun ia harus ditimpa kesusahan hati dan badan dan jiwa oleh tingkah laku isterinya yang serong. Tapi namanya kehendak Tuhan ya diterima…sekalipun atitttt. Tapi kalau kehendak sendiri dan tetap juga sakit sih, itu disyukuri saja, belum ada obat lainnya selain bersyukur itu tadi.
Entahkah kalau saya menikah saya masih akan nulis atau memandang dari sudut ini atau tidak, saya tidak tahu. Tapi bukan karena saya tidak menikah seperti sang rasul maka saya bebas meng-explore ayat seperti ini. Karena mereka yang sudah menikah gak akan ada yang berani menampilkan firman seperti ini blak-blakan, karena kebanyakan mereka yang menikah, bahkan pendeta kaliber pun, malah memang menderita kesusahan badani yang tak ada ujungnya kok. Bagaimana mungkin mereka akan menyampaikan Firman kesusahan badani ini? Jadi, jika memang karena saya single atau masih single ini saya bebas explore Firman langka yang baik seperti ini, let it be untuk kepentingan mereka yang mau masuk pernikahan karena “keinginan untuk berhubungan badan” itu tadi. Sebab kalau hanya itu fokusnya, maka seks dalam pernikahan juga akan terbengkalai dan tersakiti, terkhianati. Karena ia berpikir bawa pernikahan adalah untuk itu, dan itulah nantinya yang harus diurus dan dikerjakan selama dalam pernikahan. Sebab bukan lagi seperti masa pacaran rasanya atau keinginannya, sangat berbeda dan berlawanan. Ini dilansir dari banyaknya keluhan dari pasangan-pasangan yang mengawali pernikahan dengan seks dan kesalahan nafsu birahi.
- Trus gimana donk kalau aku udah terlanjur salah dalam pacaran sebelum memasuki pernikahan?
Minta ampun berdua sama Tuhan untuk menyucikan dari semua dosa nafsu birahi, urapi seluruh badan dengan minyak, minta pengudusan darah Yesus. - Berjanji bahwa akan memberikan tubuh hanya kepada Yesus sebagai persembahan yang hidup.
- Tidak menyentuh tubuh (bagian2 terlarang lawan/pacar) selama masa pacaran, sampai hanya masuk pernikahan, sesudah diberkati di rumah Tuhan. Bukan sesudah ‘resmi’ bikin surat nikah pemerintah. Itu cuman catatan sipil saja, tapi belum diteguhkan oleh Tuhan lewat hamba-Nya.
- Membakar semua gambar-gambar porno, novel-novel cabul, film-film/DVD seks, Blue film, semua yang berhubungan dengan nafsu dosa dan birahi.
Gimana kalau pacarku gak mau komit untuk itu?
- Say good bye. Dia tidak menghargai engkau dan kekudusan bait Tuhan, dia juga tidak akan menghargai pernikahan kalian di kemudian hari.
Aku cinta banget tuh..
- Cinta seharusnya tidak tercampur dengan kenajisan. Jika engkau tahu bahwa ia mencintaimu, ia akan menjagamu dan tidak merusakmu. Walaupun engkau juga menyukai permainannya, tetapi percayalah, itu hanya game dosa. Jangan kuatir engkau akan mendapatkan ganti yang lebih baik, tidak yang murahan dalam hal seks. Engkau harus ilahi, mulia.
Lha aku udah terlanjur menyerahkan keperawananku kepadanya, nanti gimana kalau gak ada yang mau sama aku?
- Jangan kuatir, jika engkau sudah mengambil keputusan untuk kekudusan dan menghargai bait Tuhan tersebut untuk kemuliaan Tuhan, maka Tuhan akan memberikan/mengirimkan orang yang tepat kepadamu yang akan menghargaimu seperti ratu.
Gimana kalau aku sendiri yang masih mau begituan atau suka digituin?
- Doa sama Tuhan minta dibebaskan dari nafsu dosa, karena birahi yang demikian hanyalah tipu daya iblis yang menyeretmu kepada kebinasaan, karena itulah modus akhirnya. Dia sanggup memberi kekuatan kepadamu, dan Yesus adalah kekuatanmu.
Akui Dia, percayai Dia. Jangan takut kehilangan orang yang meremehkanmu dengan hal-hal cabul, karena engkau mulia di mata-Nya, engkau berharga dan dipersiapkan untuk maksud-maksud Sorga. Muliakan Tuhan dengan tubuhmu.
Leave A Comment