Kelahiran manusia sampai menuju dewasa cenderung bersikap “untukku dan untukku.” Sikap manusia adalah egois, bahkan kebanyakan orang Kristen sangat pekat memiliki keegoisan jauh dibanding orang Budha atau Muslim. Banyak bos-bos perusahaan Kristen lebih suka punya karyawan dari agama lain daripada orang Kristen sendiri, karena orang Kristen justru sukar diatur, suka melawan, banyak alasan dan pintar berbelit. Memang betul, kebanyakan orang Kristen egois dan jauh dari kata penyangkalan diri atau mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ini sulit dimengerti, sudah dewasa tetapi sikapnya tetap saja kekanak-kanakan.
Anak kecil cenderung “untukku dan untukku.” Maunya menang sendiri. Orang Kristen sudah puluhan tahun sampai tua, masih saja sikapnya egois. Untuk belajar seperti Yesus sangatlah jauh, dewasa rohani juga jauh, apalagi menghasilkan buah roh,… hampir-hampir mustahil untuk nunggu bisa menikmati buah yang manis. Akhirnya banyak pertanyaan yang diajukan: “Apakah memungkinkan menghasilkan buah yang manis dari pohon yang selalu menghasilkan buah yang asam?” Apakah memang jika orang dasarnya begitu maka kita tidak bisa mengharapkan suatu perubahankah? Entah sampai kapan, tetapi selagi ada waktu dan diberi kesempatan, kita akan terus mengusahakannya. Saya seringkali diperhadapkan dengan kebingungan mengenai fakta Firman yang mengatakan bahwa orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya (Lukas 6:45).
Semakin dewasa seharusnya kita belajar untuk bisa makin bijak, makin nunduk seperti padi, makin lembut. Tapi kita juga masih banyak melihat bahwa orang-orang yang keras makin keras,… itu mengherankan. Pastilah dia sudah kejedug-jedug dengan banyak masalah dan dengan banyak orang, tapi kenapa masih saja belum sadar? Entah bagaimana hukumnya, tapi saya melihat juga bahwa mereka tetap selalu merasa benar sendiri sampai kapan-kapan. Orang seperti ini tidak pernah belajar, tidak mau merenung dan tidak mau berubah. Dengan demikian kehidupan bukanlah suatu pembelajaran baginya, tetapi kehidupan selalu keras bagi orang yang demikian. Saya banyak melihat kedua sisi kepribadian yang demikian dan belajar daripadanya, belajar bagaimana jika seorang mau berubah dan apa dampak dari orang yang terus berkeras.
Mungkin saya agak terlambat dalam mempelajarinya, tetapi saya tidak terlambat jika mau belajar dan mengaplikasi yang baik dari kemauan untuk berubah. Saya tahu ayat-ayat yang baik, tapi baru bersyukur dan tercelik saat beraplikasi untuk MENGALAH. Saya pikir jika menang dalam argumentasi, sayalah pemenangnya. Tetapi beberapa waktu/tahun di belakang ini saya berusaha mengalah dan memenangkan orang lain, nyatanya itu mengajar hati saya untuk rendah, untuk nunduk (padi), untuk membahagiakan orang lain (di alam roh, bukan mem-feeding kesalahannya), untuk nyelengin (celengan/simpan/nabung) kemenangan di Sorga/alam roh. ‘Kekalahan’ yang adalah kemenangan di alam roh ini tidak dapat disangkal iblis, karena iblis sangat takut terhadap orang yang rendah hati. Rendah hati adalah bom paling menakutkan bagi iblis dan dikenal oleh semua saksi-saksi awan di Sorga. Orang yang berjubahkan kerendahan hati mendapatkan pangkat tertinggi di Sorga.
Normalnya, ketika kita marah atau sebal terhadap orang lain disebabkan karena kita terluka atau orang itu sengaja melukai kita, seringkali kita mengeluarkan kata-kata yang gantian menyengat orang itu. Dalam beberapa detik kita diperhadapkan kepada pilihan apakah kita akan mengeluarkan kata yang baik, mempertimbangkannya dengan serius ataukah langsung burst out atau nyemprot dengan kata-kata kasar. Keputusan itu ada di tangan kita. Sengaja atau tidak, kata-kata yang kita keluarkan telah menyakitinya selamanya, tertanam di dalam lubuk hati yang sangat dalam atau bahkan terdalam, yang sukar disembuhkan. Bisa, jika orang yang bersangkutan terbuka dan membeberkan isi hatinya, tetapi jarang orang yang siap melakukan itu, kebanyakan dipendam dan ia akan menuai hasil buruk dari kata-kata kita.
Melewati tahun-tahun pembelajaran pembijakan, beberapa kali saya harus menekan kata-kata saya untuk tidak menyakiti lawan bicara yang telah menjatuhkan dan dengan sengaja mempermalukan saya di hadapan orang lain. Tetapi saya harus mendidik mulut dan menggigit lidah saya untuk tidak membalasnya, sebab jika saya harus mengeluarkannya, saya akan menusuk hatinya yang terdalam, ia gantian dipermalukan, dan akhirnya saya tinggi hati karena merasa menang. Saya menyakitinya/melukainya selamanya dan tidak dapat menarik balik kata-kata hujaman yang sudah menggores sepanjang hidupnya. Walaupun mungkin di kemudian hari saya bisa meminta maaf kepadanya, tetapi luka itu akan membekas, apalagi jika kata-kata hujaman saya sesadar-sadarnya menyingkapkan rahasia atau sengaja menyungkil perasaannya – ahh, saya tidak bisa membayangkan bagaimana melukai orang-orang yang saya kasihi. Selain itu, adalah kekalahan bagi saya untuk menyerang orang lain di hadapan orang lain atau secara privat sekalipun. Akhirnya beberapa kali saya memilih posisi kekalahan, ketidakadilan, memenangkan orang lain demi kebaikan orang-orang itu dan demi keuntungan saya di alam roh. Demi orang tersebut tidak dipermalukan dan demi saya untuk tidak meninggikan diri dan memberikan keuntungan kepada iblis. Masih ingat ayat kita 2 minggu lalu? 1 Kor 6:7? Pilihlah rugi!
Kita seringkali diperhadapkan dengan kasus seperti ini, yang memberikan tantangan kepada kita apakah kita mau rendah hati dan membiarkan orang lain menang dalam perbincangan, atau menang diri dalam argumen. Ada banyak kesempatan kita membalas dan menang, semua orang seolah bertepuk tangan menantikan pemenangnya. Tetapi di alam roh pemenang mengalami kerugian karena ia sudah menusuk perasaan orang lain demi kemenangannya sendiri. Itu bukan kasih. Semakin dewasa kita semakin pandai bicara, pandai berargumen. Kemenangan dalam pertikaian hampir menjadi gol utama, dipicu oleh ego. Ini sudah biasa, sehingga menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti perpecahan dan perpisahan.
Lewat perenungan yang panjang, saya menyadari bahwa perlu agar kita meredam diri dalam kerendahan hati, membiarkan orang lain memenangkan perbincangan – winning others in the argument. Dengan menerima ketidakadilan, justru perpecahan terhindari, sakit hati tidak timbul, sejarah keburukan dalam komunikasi dan relationship terhalau. Apalagi jika dalam perbincangan yang meruncing terjadi pembukaan kelemahan dan rahasia, biarkan kemenangan ada di pihak lawan bicara. Engkau sudah menang di alam roh, bukan engkau yang dipermalukan, tetapi engkau sedang belajar rendah hati dengan direndahkan. Diamlah, jangan membalas, jangan membuka rahasianya sekalipun engkau sangat tahu kelemahannya.
Amsal 25:9. Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain.
(Bicarakanlah perkaramu dengan sesamamu, tetapi jangan buka rahasia orang lain)
Hal ini bisa menyangkut mengenai pengkhianatan kepercayaan rahasia yang diberikan kepadanya, yang jika dibuka pada saat berargumentasi/emosi, dapat memberikan reputasi yang tidak baik selamanya bagi orang yang berkhianat, dan penutupan hati bagi yang dikhianati.
Amsal 18:19 dikatakan, “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri daripada kota yang kuat, ….
Roh lemah lembut, roh pengendalian diri, roh kemanisan, menjadi bagian mereka yang berani memberikan kemenangan kepada orang lain dalam perbincangan. Justru kemenangan diperoleh di alam roh dan orang lain menjadi saksi atas kemenanganmu ini. Banyak orang tidak sadar bahwa ada kata-kata penyesalan yang tidak dapat dikembalikan selamanya. Kata-kata jahat yang terilis tidak dapat dihapus sepanjang masa, dengan upaya apa saja. Betapa sedihnya bahwa ternyata sejarah mencatat ketidakbijakan orang-orang seperti Mikhal isteri Daud, anak dari raja Saul. Esau menyesal selamanya karena dengan enteng menjual hak kesulungannya, sekalipun dengan airmatanya ia menangis dan menginginkan berkat, namun dalam kekekalan selamanya tidak dapat dicabut.
Ini pelajaran hidup dan tantangan IMAN yang mengambil proses cukup panjang melewati banyak perendahan dan sakit hati. Tetapi jika Saudara berani menyangkal diri dan memikul salibmu setiap hari, maka engkau akan sampai di sana – seperti Yesus.
Leave A Comment