2 Timotius 3:1-5
1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
3 Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
4 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Ini merupakan ciri-ciri manusia akhir jaman. Jika Saudara membaca ciri-cirinya perlahan dan menuliskannya secara berurutan, akan sangat mengejutkan sekali bahwa kebanyakan dari orang Kristen didapati memiliki ciri yang demikian. Rasul besar Paulus menasihati Timotius untuk menjauhi mereka! Hmm,… bukankah orang dengan ciri demikian seharusnya ditolong dan dikasihi? Semakin dewasa dalam kerohanian kita akan tahu membedakan bahwa ada orang percaya yang perlu dikasihi dan ditolong, tapi nyatanya ada yang harus dijauhi seperti ini. Mereka yang masih bayi, baru lahir baru, belum tahu membedakan kebenaran dan kejahatan, masih pembelajar baru, perlu ditolong. Tetapi mereka yang sudah dewasa, yang sudah selayaknya jadi pengajar, sudah mengajarkan kebenaran, sudah belajar dan memraktekkan kebenaran tetapi tetap saja tidak mau berubah, Paulus menyatakan hal yang keras ini.

Contoh-contoh orang yang demikian bebal ada di pasal dan surat Paulus sebelumnya, kepada Timotius juga, sebagai anak asuhannya dalam roh yang saat itu masih muda dan perlu bimbingan. 1 Timotius 1:20; 2 Tim 2:17 – ciri-ciri mereka ada dalam urutan ayat kita di atas juga, selain ada dalam ayat-ayat ini. Mereka bahkan secara gamblang diserahkan kepada iblis.

  • Omongannya kosong dan tidak suci, yang dikeluarkan dari mulutnya perkataan yang hanyalah menambah kefasikannya saja.
  • Perkataan mereka seperti kanker yang menjalar.
  • Mereka menolak hati nuraninya.
  • Iman mereka kandas.

Saya tidak mendapati dalam ayat-ayat ini bahwa seorang yang melakukan hal-hal ini memiliki alasan bahwa ia dilahirkan dari keluarga yang demikian atau masa lalunya membuatnya menjadi demikian, sehingga ia bebas dari kesalahannya dan kesalahannya itu ditimpakan kepada keluarga atau masa lalu. Rupanya setiap orang bertanggung jawab atas kelakuannya dan kesalahannya sendiri. Entahkah ia “tidak berpikir panjang”, atau “tidak dapat mengekang diri”, atau “tidak mau berdamai”, “suka menjelekkan orang”, “garang” dll.

Jika seorang sudah menerima Kristus dalam dirinya, seyogyanya ia adalah ciptaan baru, mengenakan pakaian Kristus. Tapi nyatanya banyak yang tidak demikian, tetapi masih saja mengenakan jubah lamanya, yang di antaranya adalah hal-hal yang tertera di atas. Sementara masa semakin sukar, orang-orang Kristen akan diperhadapkan dengan antikris, maka jika ciptaan baru tidak mengenakan jubah baru, maka dengan mudah ia akan kalah terhadap dunia. Ia akan membenci dan saling menyerahkan, tidak dapat mengekang diri, suka menuduh, memfitnah, mengasihani diri sendiri, hawa nafsu tinggi, pekerjaannya jahat semata-mata, egoisme tinggi.

Tetapi ciptaan baru mengenakan pakaian baru, pakaian Kristus, jubah kemuliaan, menjauhkan diri dari kotoran dunia, hal yang mencemarkan dirinya sendiri. Ini bukan hal yang mudah, karena dari awal manusia diberi kehendak bebas dan secara alamiah sudah memilih kehendak dagingnya dan ingin memuliakan dirinya daripada Penciptanya. Itu sebabnya, waktu kita sudah bersatu dengan Kristus sekalipun, kita masih dengan mudah terjerumus ke dalam cobaan-cobaan daging dan hawa nafsu. Itu sebabnya belajar dari hal kecil untuk menyangkal diri akan membiasakan kita untuk berani menyerahkan nyawa jika sudah terlatih. Tetapi sangat sulit jika kita selama hidup egois, kemudian waktu diperhadapkan dengan antikris tiba-tiba rela memberikan nyawa, karena kecenderungan daging sudah kuat mengarah ke egoisme dan penyelamatan nyawa.

Di ayat terakhir dikatakan bahwa orang-orang demikian walaupun ada di dalam jemaat/gereja/komunitas dan kelihatannya melakukan tata cara kerohanian tetapi mereka memungkiri kekuatannya. Berarti kita tetap dituntut untuk mengusahakannya dengan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita, atau dengan kekuatan Tuhan yang ada dalam diri kita. Jika diperhadapkan dengan cobaan, kita tidak bisa lagi berkata bahwa kita tidak mampu menguasai diri karena masa lalu dan lain-lain alasan, kita tetap harus mengekang diri, harus berpikir panjang sebelum memutuskan untuk marah/damprat/balas/pasang status/kirim email, dll. Jangan sampai kita memungkiri kekuatan yang Tuhan beri di dalam kita dan menyerahkan diri kepada iblis. Kita tetap akan dituntut pertanggungan jawab, bukan iblis. Seperti pada waktu Hawa dan Adam memakan buah itu, ya betul pencobanya kena hukuman, tetapi mereka pun tidak luput, jadi bukan melulu sekitar yang disalahkan karena mempengaruhi.

Di alinea terakhir sang Rasul dengan tegas menyerukan: Jauhilah mereka! Ini agak sulit bagi gereja/kelompok yang selama berkomunitas tidak pernah menjalankan pendisiplinan selain berazaskan kasih-kasih-kasih tanpa didikan. Kasih tanpa didikan tidak berimbang. Individu yang salah dan yang menerima didikan pendisiplinan seringkali akan menuding dengan tuduhan tidak adanya kasih. Karena mereka tidak mau menerima pendisiplinan. Kepincangan yang terjadi membuat jemaat tinggi hati, malas, tidak tahu diri, tidak tahu malu, semena-mena. Apa yang terjadi jika dalam sebuah keluarga anak-anak dibiarkan melakukan apapun juga dan azasnya hanya kasih tanpa rotan didikan? Tidak akan seimbang.

Ibrani 12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

Jaman sekarang agak langka kita mendapati gereja/kelompok yang mengajarkan seperti Paulus. Bahkan dia menyerahkan beberapa orang kepada iblis agar rohnya diselamatkan. Itu merupakan didikan kasih untuk orang-orang yang sudah mengenal Tuhan tetapi tetap hidup dalam dosa. Kita banyak membaca pembunuhan, lalu pada waktu sang hakim mengetok palu memberikan vonis sekian tahun, coba tebak siapa yang paling tidak setuju dan berkata bahwa hakim kebangetan? Lalu bagaimana jika pembunuh itu dibebaskan karena azas kasih terhadap sesama dan masa depan sang pembunuh yang masih panjang dan muda dan selayaknya diberikan kesempatan kedua dalam waktu 7 hari saja? Yang bersalah seringkali menuntut kasih, tetapi ia tidak menyadari bahwa perbuatannya telah merugikan dan akan lebih merugikan lagi jika ia tidak menyadari kesalahannya dan dibebaskan dalam waktu singkat sebelum ia menyadari dan berpikir bahwa tindakannya sangatlah tidak dapat dibenarkan. Yang bersalah SELALU merasa tidak salah, diperlakukan tidak adil, menuntut pembebasan, mata mereka dibutakan terhadap kesalahannya sendiri.

Kata “jauhilah mereka!” hampir tidak ada lagi penerapannya di gereja-gereja, sehingga membuat pelaku kejahatan tidak jera dari perbuatan dosanya karena merasa diayomi oleh pemimpin. Tetapi jika kita membaca surat-surat Paulus, kita bisa merasakan kasih seorang bapa yang demikian dalam, tetapi ketegasannya juga tidak main-main. Pemimpin jaman sekarang memiliki roh sungkan, sehingga di kemudian hari ia akan dituntut tidak menjadi pelaku Firman sepenuhnya. Memang sulit jika berbicara keras dan tegas, alangkah enaknya jika semuanya berdasarkan kasih mungkin, tetapi juga kasih yang keliru karena tidak murni dan hanya takut manusia dan sungkan serta memikirkan kemungkinan-kemungkinan jasmani. Ini kasih yang menjerat pelakunya karena tidak berdiri di atas kebenaran seutuhnya.

Saya berdoa kiranya tulisan Paulus yang diilhami lewat Roh Kudus akan bergaung dengan keras di hati para pemimpin dan anak Tuhan yang dipimpin Roh, sehingga dapat menolong banyak umat Tuhan yang dititipkan kepada mereka, agar mereka bercahaya dalam kegelapan dunia yang carut marut dengan ketidakbenaran, yang timpang, yang tidak murni.

1 Tim 1:20 di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.
2 Tim 2:16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.
2 Tim 2:17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,