Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman, itu nyata dari kejadian-kejadian dalam hidupnya dan tantangan berat yang Tuhan tawarkan kepadanya untuk memegang posisi tinggi itu dalam kekekalan.
1. Saat ia disuruh meninggalkan Ur Kasdim dan keluar dari rumah orang tuanya. Dalam kenyamanan orang-orang jaman dahulu selalu berkumpul sampai beranak-cucu, tetapi Abraham dipisahkan dan ia taat walaupun ia belum terlalu mengenal Siapa yang berkata-kata kepadanya dan belum ada barter upah/janji dari panggilan itu. Bahkan ketika ia dijanjikan seorang anak, itupun sangat lama penepatan janjinya (25 tahun), tetapi percayanya menempatkannya pada posisi terkenal selamanya yang tidak dapat dialihkan kepada siapapun!
2. Ketika ia disuruh mengusir anak sulungnya, Ismael yang dilahirkan dari budaknya. Ia taat kepada Tuhan walaupun berpikir bahwa dari Ismaellah Tuhan bisa menurunkan keturunan-keturunan seperti yang dijanjikan-Nya.
3. Bagaimana dengan ketaatan Abraham menyerahkan Ishak yang menjadi poin akhir dari ketaatannya. Ia mempercayai Allahnya, ia dapat dipercaya, ia tidak lagi mempercayai dirinya sendiri dengan semua kekayaan dan harapan-harapan dari kepemilikannya.
Saat seseorang sudah ‘lepas dari dirinya,’ barulah Tuhan dapat memakainya dengan luar biasa dan menempatkan posisi kekal di Kerajaan yang akan datang.
Namun demikian, dari pencapaian-pencapaian iman besar ini, kita tahu bahwa dalam kedagingannya, Abraham sempat juga melakukan tindakan-tindakan dis-faith atau yang berlawanan dengan iman ketika dia membiarkan isterinya diambil raja kafir untuk melindungi dirinya sendiri. Untung Tuhan datang merescue isteri berharga ini! Herannya, Abraham mengulangi kesalahan besarnya ini sampai dua kali! Apakah karena ia berhadapan dengan raja-raja sehingga hal itu membuat hatinya ciut dan tidak mempercayai penyertaan Tuhan?
Dari sini kita mengerti bahwa dalam iman dan kepercayaan, kedagingan dan dosa akan terus mendesak melawan kita. Artinya, kita tidak kebal dengan pencobaan, kita harus tetap mawas, harus tetap bersandar kepada Tuhan. Saya mempelajari bahwa kata “pikirku” sangatlah merupakan ancaman besar yang sanggup melawan/menggugurkan iman. Si “pikirku” inilah yang selalu menggeser kehendak Tuhan dan akhirnya kita sering terjebak dengan ketakutan, kekuatiran, mengandalkan diri sendiri, dan semacamnya.
Lagi-lagi dalam perjalanan menjabat sebagai bapa orang beriman secara kekal nantinya, bapak kita sempat kesandung dan berdaging. Daging selalu melawan roh, dan ada banyak alasan mengapa manusia tersandung kepada daging. Kita pelajari alasan Abraham jatuh dalam daging:
– Umurnya yang sudah lanjut sehingga ia ‘berpikir’ ‘merasa’ ‘harus’ ‘punya anak’ ‘atas usaha sendiri’ ‘karena pertolongan Tuhan lama datangnya.’
– Karena ia dianjurkan Sara dan disodorkan perempuan oleh isterinya sendiri. Langka!
– Karena mungkin ia tidak rela seluruh kekayaannya diwariskan kepada hambanya.
– Karena ia tidak sabar menanti janji dan waktu Tuhan.
Ada banyak alasan-alasan daging yang akan menyandung pekerjaan roh, yang memberikan kepada kita ‘floor’ untuk membuat serentetan alasan yang dapat dimengerti dan masuk akal, apalagi jika jalan-jalannya nampak ‘mulus’ seperti bapa kita ini. Iman kita (manusia roh kita, perjalanan roh kita) akan terus dan selalu ditantang oleh daging, nikmatnya daging. Jika kita terbiasa menyenangkan daging dan sulit untuk mengekangnya, maka mudah bagi kita untuk menyerah.
Saya tidak berkata bahwa puasa adalah this and that, tetapi puasa memang merupakan salah satu cara untuk mengekang daging, melumpuhkan hawa nafsu. Selain kekuatan untuk berpuasa mencerminkan pertahanan daging dan nafsu manusia, puasa juga memberikan kekuatan rohani. Puasa melumpuhkan daging yang selalu berjuang melawan roh. Tetapi saat berpuasa, kita seharusnya dalam roh, menundukkan daging dan segala hawa nafsunya. Tetapi banyak orang beralasan tidak kuat puasa karena ini dan itu – membenarkan diri dan melumpuhkan roh.
Puasa tidak hanya pengekangan soal perut, mulut, makanan, nafsu, tapi itu semua menolong untuk mengekang area-area lain yang belum bisa ditaklukkan. Puasa berbicara juga sangat penting agar kita menghindar dari banyaknya kesalahan dan dosa. Puasa FB, puasa ganti status atau foto, puasa liat foto dan status orang, puasa internet, puasa baca koran OL, puasa nonton TV, puasa keluar duit, puasa belanja, puasa pakai kartu kredit, puasa seks, puasa banyak hal akan menolong kita untuk mencapai iman.
Jikalau kita tidak memperhatikan hidup dan los (lepas kontrol) dalam segala bidang segi kehidupan, maka hilanglah banyak kesempatan dalam hidup dan tidak mencapai tujuan yang Tuhan tetapkan dalam hidup yang singkat ini. Untuk bisa menjadi dokter spesialis seorang harus mengkhususkan diri menekuni bidangnya dan memberikan waktunya untuk satu tujuan tersebut. Untuk menjadi pemenang Olimpiade dan menyabet medali emas seorang harus menyingkirkan diri dari kesenangan mudanya yang dilakukan oleh teman-temannya dan ia harus mengabdikan diri untuk negaranya. Untuk menjadi penyanyi, pelukis, penulis, arranger, petinju, pemain sepak bola, kontraktor, pianis, gitaris, drummer, dan semua yang the best mereka harus mengkhususkan diri untuk mengekang hawa nafsu liar yang bergejolak melawan dagingnya setiap saat. Karena mereka punya tujuan, karena mereka tidak menyerah kepada kesenangan sementara. Orang-orang seperti mereka, kebanyakan tahu bagaimana mengendalikan diri dengan baik dalam satu atau lebih bidang. Walaupun ada yang jatuh di kelemahan daging lainnya, paling tidak mereka tahu caranya mengendalikan diri daripada orang yang lepas kontrol dan tidak pernah mencapai suatu pencapaian apapun dan tidak peduli dengan apapun.
Abraham, sekalipun jatuh beberapa kali, tetapi akhirnya belajar dari kesalahan, dia rela mengusir anak sulungnya dan wanita pemberian isterinya. Ia juga rela menyerahkan anaknya yang tunggal dari isterinya yang sah, yang dijanjikan sebagai ahli waris. Itu poin tertinggi bapa beriman kita, yang akhirnya mengekang dirinya, kepemilikannya, nafsu masa depan/nama/prestige/apa kata orang/warisan dan mempercayai hanya TUHAN saja, titik. I wish and pray that we all could learn from this great faith hero – like all of us, kita punya kesalahan dan kebodohan masa lalu yang tidak mungkin terhapus walaupun sudah diampuni, tapi kita masih punya hari ini untuk memperbaiki dan mendapatkan kesempatan untuk mempercayai Tuhan berapapun harganya untuk beriman dan taat pada panggilan. Panggilan untuk mengerat daging, mengekang hawa nafsu, membunuh keinginan dan kepemilikan. Untuk menjadi pahlawan-pahlawan iman yang namanya akan digantung di the wall of faith dan dibacakan di bawah Ibrani 11.
Leave A Comment