Orang yang sedang mengejar visinya akan berhati-hati dalam menjalani hidup, memilih, bertindak, dalam mengambil keputusan. Karena ia tahu hidupnya bukan melulu untuk dirinya, tetapi untuk orang banyak dan tanggung jawabnya kepada Tuhan yang memanggilnya, memakainya untuk suatu maksud-maksud mulia. Di bawah ini ada kisah-kisah yang akan menjadikan pelajaran bagi kita agar kita dapat menghindari kecerobohan, tindakan tergesa dan emosional nafsu belaka, yang akhirnya merugikan catatan history kekal kita, baik di dunia maupun sampai ke kekalan.

Dalam Alkitab, berkaitan dengan Batsyeba, seringkali ditulis “bekas isteri Uria.” Terkadang embel-embel seperti itu tidak enak didengar, tapi kenyataan harus diterima karena Daud mengambilnya dengan cara yang tidak benar. Walaupun tidak semua “bekas isteri” pengambilannya tidak benar, sebab Daud mendapatkan dan mengambil bekas isteri Nabal dengan cara yang baik.

2 Samuel 12:15: Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.
Matius 1:6: Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
2 Samuel 2:2: Lalu pergilah Daud ke sana dengan kedua isterinya: Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.
1 Samuel 27:3: Daud dan semua orangnya menetap pada Akhis di Gat, masing-masing dengan rumah tangganya; Daud dengan kedua orang isterinya, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, perempuan Karmel.
1 Samuel 30:5: Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.
2 Samuel 3:3: anaknya yang kedua ialah Kileab, dari Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel; yang ketiga ialah Absalom, anak dari Maakha, anak perempuan Talmai raja Gesur;

Setiap orang mendambakan masa depan indah tanpa gelar-gelar embel-embel yang merisihkan di belakang nama kita. Kita mau agar nama kita bersih dan mau menjaganya dengan baik. Walaupun mungkin kita pikir nama tidaklah terlalu penting daripada menjalani hidup itu sendiri dalam kota kita sendiri, tetapi jika kita sudah sampai di luaran, tetap saja orang akan menyebut kita dengan embel-embel tertentu jika kita menjalaninya sampai menyandangnya.

Dulu waktu saya masih nonton youtube, pernah begitu nangisnya waktu melihat salah satu performance di X-Factor yang melatih anjingnya sampai bisa bicara dan nyanyi; sampai-sampai saya menelusuri kehidupan di judge Simon Cowell yang tentunya seluruh dunia tahu siapakah dia (walaupun bacaan saya tidak ada hubungannya dengan kepandaian anjing tersebut sih). Tidak terlalu lama untuk saya membaca kisah hidupnya yang ternyata dia tidak pernah married sebelumnya sampai di usia 50-an tahun lebih. Dia digelendoti banyak perempuan cantik dan tentunya hanya ingin mendapatkan seorang isteri yang pas di masa depan. Untuk seorang selevel dia, mempertahankan diri untuk tidak mengikatkan diri pada suatu komitmen perkawinan tentunya dia memilih dengan sangat hati-hati dan tidak sembarangan, apalagi judge tajam seperti dia yang dikenal dunia dengan harta berjubel.

Beberapa tahun terakhir dia telah bertunangan dengan seorang wanita bernama Megzhan siapa gitu. Tentunya Mr. Cowell sudah hampir sreg dan melihat kualitas terbaik di antara semua perempuan-perempuan lainnya sehingga dia berani mengikatkan dirinya dengan cewek tersebut. Mereka berdua punya kawan karib suami isteri yang bernama Andrew dan Lauren Silverman, yang bersama-sama ber-empat suka naik yacht dan berlibur di pantai-pantai tertutup. Singkat cerita, entah bagaimana, didapati bahwa Lauren ini hamil dari Simon Cowell. Andrew menggugat cerai dengan alasan ketidaksetiaan isterinya yang dihamili oleh sang judge terkenal, sang judge dituding mencuri isterinya, dan Megzhan sangat marah karena Simon ditelepon tidak pernah menjawab panggilannya dan menutup diri – kisahnya jadi kacau balau dan orang-orang tersakiti dan dunia shock dengan berita ini. Setelah berita itu meledak, mereka sudah didapati berciuman di tempat umum dan sudah tinggal bersama tanpa malu lagi. Saat diwawancarai, Simon berkata, “I’m not proud about it.”

Ia menikahi ‘bekas isteri Silverman.’ Ini tidak membuat Simon Cowell bangga terhadap kehidupannya dan pilihannya, walaupun ia well, ‘mencintai’ Lauren karena kecantikannya yang luar biasa dan figurnya yang melampaui Megzhan tunangannya. Tetapi mengawali sebuah kehidupan pernikahan dengan shocking kejadian yang tidak didambakan membuatnya tidak bangga dengan perlakuannya sendiri. “It just happened,” katanya… sure, kejatuhan-cinta malang seperti itu sangat mudah terjadi dimana-mana, tidak hanya anak muda, tapi anak tua pun tidak immune terhadap cinlok dan ‘falling’ in “lust” tersebut.

Yusuf waktu digoda isteri Potifar yang cantik dari ke hari, ia rela kehilangan posisi dan segalanya, demi integritasnya dan visinya. Dia anak muda yang mengagumkan, tidak mau berkompromi dengan dosa dan pencorengan sejarah. Daud orang besar, raja besar, mencoreng masa lalu dengan beberapa keputusan yang salah, walaupun Tuhan mengampuninya; tetapi ah, seandainya hidup bisa diulang, tentulah kita-kita tidak akan mencorengnya, tetapi masalahnya NAFSU dan EMOSI yang seringkali menyeret seseorang untuk bertindak dengan sembarangan, mengambil keputusan BODOH terlalu cepat.

Saya tahu seorang Kristen yang dalam kebodohannya berselingkuh dan melakukan pernikahan virtual di internet. Ternyata mungkin ia bertobat setelah ketahuan isterinya dan dilaporkan pendetanya. Tapi ‘catatan sipil virtualnya’ tidak bisa hilang, walaupun di situ ada tulisan “remove” tetap saja tidak bisa diremove – catatan pernikahan virtualnya mengudara dalam kekekalan. Dia tidak berpikir bahwa orang bisa melihatnya, membacanya dan geleng-geleng kepala, tapi itulah nafsu, itulah dosa, itulah keputusan tanpa pikir panjang. Orang-orang yang hidup dalam nafsu serta dosa biasanya akan menjadi bodoh, berkata, berjanji, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang disesalinya di kemudian hari. Ada yang bisa dihapus, tapi ada yang tidak.

Ada lagi seorang hamba Tuhan yang buka situs porno, dan secara tidak ia sadari link-nya masuk ke FBnya. Dia sudah menghapusnya, sudah menutup FBnya dan membuka yang baru, tetap saja link dan gambar porno itu tetap terrekam pada namanya. Dia juga bilang bahwa sama sekali tidak menyadari, tidak tahu bagaimana terjadinya, bagaimana hubungannya, tapi semua temannya sudah melihatnya, dan yang ini tidak bisa dihapus dalam ingatan semua teman-temannya. Ya, Tuhan mengampuni kita, tapi sayang sekali ada record catatan sejarah yang tidak dapat hilang. Hal ini ditulis hanya sebagai warning kehati-hatian kita dalam pengambilan keputusan, sebab nafsu dan daging adalah zonanya iblis; jika kita sampai masuk dalam zonanya, kita bisa ‘tercekal’ dengan jerat-jeratnya dan sulit untuk keluar. “Web” adalah seperti jerat, ada jerat baik, ada jerat buruk – anak-anak Tuhan sudah tahu, tapi karena hidup dalam nafsu dan daging, maka banyak yang terjerat.

Baru saja tersiar, seorang WL hebat mendunia, yang telah menikah selama 20 tahun menceraikan isterinya karena ia terlibat scandal, dan 1 bulan setelah bercerai, ia dating dengan cewek yang hot sexy. Entahlah apakah ia menyesali keputusan-keputusan yang didriven oleh daging,… we never know. Tapi banyak orang menyesalnya belakangan – saat mereka masih menikmati indahnya pernikahan barunya, ia tidak akan merasakan kekecewaan, tapi saat nanti ia dihadang dengan masalah yang baru, ia (dan banyak yang telah) akan berpikir kenapa tidak stay faithful dengan pernikahannya dulu?

Saya mendengar seorang artis Kristen terkenal dalam negeri yang menikah dengan pria yang sudah beristeri, memasuki pernikahannya pun nampaknya tidak manis/mulus, berita di surat kabar dan gosip-gosip menyeruak dimana-mana yang tentunya menyakitkan bagi ketiga belah pihak. Entah apa yang terjadi, aneh bin ajaib sang lelaki ini balik ke isteri pertamanya. Auchh…this is so painful! Pernikahan yang berawal dengan menyakitkan banyak kali membawa hidup yang menyakitkan pula – cepat atau lambat buah dari pohon yang tidak baik akan menyeruakkan hasil asli tanamannya/jeroannya. Itu sebabnya berpikirlah dengan matang, jangan cepat-cepat terseret nafsu, ambillah keputusan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi sesaat, karena itu akan mengecewakan seumur hidup.

Kebodohan seringkali menyeret orang untuk mengambil keputusan yang disesalkan seumur hidup. Seandainya seorang mengerti visi Tuhan dan menjalaninya dengan ketat, maka ia akan sangat berhati-hati dalam memutuskan. Orang yang sembarangan dan dituntun oleh nafsunya biasanya mengalirkan hidupnya kemana emosi memimpin. Ini sangat membahayakan dan merugikan. Kenikmatan daging hanya sekejap, tetapi kerugian yang ditanggung bisa seumur hidup dan sampai kekekalan. Ini tidak bisa ‘ditimpakan’ kepada “kehendak Tuhan” atau “Tuhan turut bekerja” – betul Tuhan bisa membuat kebaikan out of any bad thing seperti Salomo lahir dari perkawinan Daud dan bekas isteri Uria itu. Tetapi kesalahan yang Daud tanggung dalam rumah tangganya menuai hal-hal menyakitkan seperti: anaknya memperkosa adiknya dari ibu yang berbeda; anak lainnya memberontak dan hendak menggulingkan pemerintahan Daud; pedang tidak lari dari rumah tangganya.

Untuk menyucikan diri hanya untuk Tuhan rupanya dibutuhkan PENYANGKALAN DIRI dan PEMIKULAN SALIB setiap hari. Yes, setiap hari! Makanya saya selalu berpikir: kenapa pilihan-pilihan saya sulit ya? Kenapa kok nampaknya orang lain begitu mudah memutuskan hidup, memilih dan sebagainya… sedangkan saya kok lain ya? Mungkin tidak ada bedanya, tapi saya memilih jalur yang sulit bagi daging, yang tidak enak, karena saya selalu menghubungkan pilihan dengan visi. Saya tidak sembarangan memimpin hidup dan menetapkan keputusan bagi saya, karena dalam pilihan-pilihan yang diperhadapkan untuk mengambil keputusan, saya “terikat” dengan visi, jiwa-jiwa, panggilan, tanggung jawab kepada Tuhan.

Setelah melewati beberapa seri dan chapter kehidupan yang juga tidak semulus malaikat Gabriel, yang beberapa di antaranya saya menyesalinya dan ‘ah, seandainya hidup diulang pastilah saya tidak akan memilihnya…’ belasan tahun terakhir saya semakin berhati-hati dan bergantung penuh kepada pimpinan Roh. Walaupun daging saya juga kuat untuk mengajak memberontak dari roh, tapi dalam ups and downs saya bersyukur sandaran itu adalah JAMINAN; Dia jangkar, sauh yang kuat. Sekarang saya dapat bersyukur bahwa saya telah melewatinya dan tidak buru-buru mengambil keputusan dalam kebodohan. Nampaknya tahun-tahun yang saya lewati tidaklah mudah, memanglah benar saat beberapa orang berpikir hidup saya sulit, ya, saya menjaganya sedemikian rupa sehingga nampaknya saya gak bisa menikmati hidup. Ya dan tidak – saya ketat dan keras terhadap diri/Maqdalene ini. Saya tidak membiarkan dia mengatur keinginan nafsunya, tetapi saya mengajaknya hidup dalam roh, dalam keterikatan dengan tanggung jawab Sorga. Sounds funny/weird? Maybe so. Kalau ia agak melenceng, saya menundukkannya dengan Firman dan roh. Dia harus ikut pimpinan itu, tidak boleh ikut keinginan dan sekedar untuk kepuasan dan daging dan kesementaraan. Saya menyuruhnya berpikir apa gunanya bagi kekekalan, apa artinya bagi orang lain, apa untungnya bagi roh. Bersyukur banyak menangnya, persentasenya makin menciut, daging-roh 26:74 atau 17:83 mungkin untuk kategori yang berbeda. Yang 26 atau 17 itu kadang sempet kepicu saja kalau denger sesuatu, tapi karena bikin goal, saya tidak langsung eksekusi tindakan yang mentah, tapi lebih ke diam dulu dan minta pimpinan roh. Dagingnya masih ada dan bergolak, tapi tergantung bagaimana saya meng-handle situasi dan hati, itu titik pentingnya untuk menghindari keputusan yang keliru bagi pemenuhan visi. Pikir punya pikir, kalau saya gini pastilah jadinya gak baik, kalau saya gitu, dianya akan anu. Pikiran harus panjang sebelum melahirkan keputusan yang matang.

Khan namanya “matang” berarti ada mentahnya. Kalau masih baru dan emosi biasanya mentah, nah yang itu biasanya kecenderungannya hasilnya tidak sempurna, tidak baik, asal-asalan, tidak memuaskan, jelek, mengecewakan. “Kemenangan yang saya raih” kebanyakan lahir dari selflessness; saat saya memikirkan kebaikan orang lain, saat saya mengarah kepada pelayanan/melayani jiwa-jiwa daripada menyenangkan diri, saat saya rela tidak memperoleh keuntungan, di situlah saya mendapatkan poin kenaikan level rohani. Makin berumur, agaknya makin membaik; tapi saya sadar bahwa faktor U tidak selalu menentukan keberhasilan peraihan, tetapi sandaran kepada Roh Kudus itu tadi, disertai dengan determination to be selfless yang membuat seseorang akan mendapatkan poin-poin kekal. Tapi perjalanan mungkin masih panjang, saya butuh doa, butuh kerendahan hati, butuh ketahanan roh – karena iblis sangat peduli dengan orang-orang yang bergerak dalam visi, dia tidak peduli dengan orang yang mindful about their own business, itu bukan targetnya. Itu sebabnya, please pray for God’s ministers all over the world, kami-kami adalah target incaran iblis. Jika ada hamba Tuhan yang terkena musibah, jangan tuding, tapi doakan. Chapter mereka belum tuntas, masih ada lembar kosong kisah kemenangan yang menjadi klimaks dari sebuah buku yang menarik. Hey, God is in the business of second chances.

Saya berdoa agar Pembaca berani mengambil keputusan yang sulit, bukan jadi orang gampangan dengan dunia dan nafsu, pimpinlah hidupmu dengan integritas, dengan penghargaan/penghormatan yang layak bagi dirimu dan masa depanmu. Jangan membiarkan ‘kebebasan’ dalam daging membodohkanmu, sebab hidup yang nampak bebas dan mudah seperti itu justru membelenggu masa depanmu, memberikan ketakutan, kekuatiran, dan sebagainya. Tapi saat seorang memilih mengambil keputusan yang tidak mudah, yang selfless, pilihan ini akan sangat/jauh menguntungkannya dibanding dengan nafsu sesaat dan kebodohan emosi. Saya berdoa agar anak-anak muda khususnya menghargai pilihan-pilihannya, mencintai hidup yang Tuhan beri, mengambil keputusan yang benar didasarkan visi dan takut akan Tuhan, bukan karena desakan manusia dan daging.

Mazmur 119:9 (TB) Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Amsal 9:6 (TB) buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”
Amsal 13:16 (TB) Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.
1 Petrus 1:14-16 (TB) Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.