Orang-orang percaya dan yang beriman kepada Tuhan dalam segala hal, minggu lalu kita telah belajar mengenai bagaimana mempercayai Tuhan dalam segala situasi. Saat kita sudah tahu bahwa ada Tangan perkasa yang menjaga dan Mata yang tidak pernah terlelap, maka kita tidak perlu kuatir dan bersungut akan SEMUA KEADAAN YANG ‘MENIMPA’ kita. Semua ada dalam control Tuhan. Sungutan mengurangi ‘kadar’ pelayanan iman – sebab bagaimana mungkin di satu pihak kita berdoa di pihak lain kita bersungut?
Minggu lalu kita mempelajari sikap positif Kaleb dan Yosua, walaupun belum tuntas, dan bahkan Kaleb kita tidak bisa mempelajari lebih dalam kecuali “persekutuan.” Kita tahu bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, sebaliknya bergaul dengan orang bodoh jadi tambah bodoh. Di Israel yang bijak cuman 3 selain Kaleb, jadi pastilah Kaleb bergaul juga dengan Yosua dan Musa.
Di bawah ini, kita akan mempelajari bagaimana Yosua dipilih dan diangkat menjadi pengganti Musa. Apakah Musa kaget waktu dia meminta kepada Tuhan seorang penggantinya untuk memimpin bangsa yang besar itu, dan rupanya pilihan Tuhan jatuh kepada Yosua? Saya minta Saudara membaca dulu kisahnya.
Bilangan 27:12-23 (TB) TUHAN berfirman kepada Musa: “Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel.
Sesudah engkau memandangnya, maka engkau pun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu.
Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titah-Ku untuk menyatakan kekudusan-Ku di depan mata mereka dengan air itu.” Itulah mata air Meriba dekat Kadesh di padang gurun Zin.
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN:
“Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang
yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.”
Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya,
suruhlah ia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat, lalu berikanlah kepadanya perintahmu di depan mata mereka itu
dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Israel mendengarkan dia.
Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.”
Maka Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Ia memanggil Yosua dan menyuruh dia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat itu,
lalu ia meletakkan tangannya atas Yosua dan memberikan kepadanya perintahnya, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa.
Tuhan mendeklarasi bahwa Yosua ini diangkat dan dipilih karena ia PENUH ROH! Whoah,… dari mana si abang bisa penuh roh, sedangkan dia cuman ‘penunggu’ tuannya? IMPARTASI! Impartasi ini bukan sekedar minta diimpartasikan dengan penumpangan tangan atau minta didoakan, atau minta bajunya.
Yosua muda ini berjalan dan melayani tuannya dalam atmosfir yang bagi kebanyakan orang membosankan selama bertahun-tahun. Jadi, tidaklah jauh bahwa anak muda pilihan Tuhan ini pastilah belajar banyak dari kehidupan mentornya. Ia juga tahu kebiasaan-kebiasaan tuannya, baik rohani maupun jasmani – manusiawi dan supranatural. Dia banyak menyangkal diri untuk tidur-tiduran dengan isteri dan anak-anaknya. Dia banyak bertugas pelayanan di kaki gunung cuman nungguin bos; nggak ngapa-ngapain, kagak khotbah atau diberi bagian sesi. Itu harga sebuah impartasi, not a cheap one.
Tapi orang yang penuh dengan roh, belum tentu berwibawa, itu sebabnya Musa harus mengimpartasikan sebagian kewibawaannya untuk kepemimpinan Yosua, walaupun dengan berjalannya waktu Tuhan sendiri yang memuliakan Yosua saat mujizat-mujizat awal mulai terjadi atas perkenanan Tuhan.
Wah, rasanya seru meniti perjalanan seorang pemimpin besar yang hampir tidak ada salahnya!
Jelas-jelas Yosua mendapatkan karunia yang serupa dengan tuannya. Ini recordnya:
Yosua 1:5 – Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; “seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau;” Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.
Itu dia, IMPARTASI! Get it?
Pada waktu Timotius dimentor oleh Paulus, dia juga mendapatkan karunia yang serupa, ini record berikutnya:
2 Timotius 1:6 (TB) Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
Dalam bahasa Inggrisnya lebih jelas: the gifts of God, which is in thee by the putting on of my hands – maksudnya karunia yang Tuhan taruhkan atasku dan diteruskan kepadamu lewat penumpangan tanganku. Sebab tidaklah Paulus bisa meneruskan apa yang tidak dimilikinya.
Bukankah kita sering melihat para mentee makin lama makin mirip mentornya? Saya melihat kesamaan itu dimana-mana, kesamaan yang baik dan indah.
Ayat-ayat selanjutnya, mengherankan bagi saya, karena Tuhan tidak mengangkat Eleazar atau keponakan-keponakan Musa menjadi penerusnya – mereka tetap menjadi imam Tuhan – bukan menjadi penerus Musa! Walaupun masing-masing mendapatkan bagian atas kesetiaan dan pengabdiannya, tetapi ini di luar kebiasaan warisan takhta seperti yang kita “biasa” tahu mengenai kedudukan.
Dari sini kita boleh belajar bahwa jika Tuhan memilih, Dia punya kriteria yang berbeda dari kebiasaan manusia. Orang bijak akan memilih juga berdasarkan kehendak Tuhan, bukan semerta-merta karena keturunannya. Saudara tahu khan bahwa ada orang kaya yang menitipkan kekayaannya kepada orang kaya, bukan kepada anak-anaknya sendiri? Ini orang kaya yang pinter, karena dia tahu jika hartanya diberikan kepada anak-anaknya yang cuman kerjanya berebut harta dan mengumbarnya dalam hawa nafsunya, uang sebanyak itu akan merusak mentalitas mereka. Justru orang tua yang bijak tidak ‘tega’ melihat anaknya hancur karena uang, itu sebabnya dia harus menegakan diri untuk TIDAK MEMBERI.
Yosua ini memiliki hati hamba – orang yang demikian tidak akan pernah membuat keputusan (major decision) tanpa meminta counsel dan feedback dari mentornya. Ia tidak akan pernah berani hanya memberi info ketika keputusan sudah diresmikan sendiri. Itu bukan mentee terhadap mentor, tetapi attitude ‘atasan’ terhadap bawahan atau bawahan yang meng’atas’i atasannya, sehingga atasannya hanya mau-tidak-mau tinggal menyetujui dan tidak bisa bilang tidak. Sikap yang bossy dan konyol. Mentee yang memiliki hati hamba seperti Yosua akan menyerahkan hidupnya (termasuk keputusan-keputusan pentingnya) kepada mentornya, karena ia mempercayainya sebagai wakil dan alat Tuhan yang ultimate. Mentor yang dipercaya tidak akan pernah menyalahgunakan kepercayaan titipan Tuhan dengan semena-mena sekehendak hatinya.
Saya bisa melihat segelintir murid dan anak-anak rohani titipan Tuhan yang memiliki total hati hamba – yang mempercayai saya tanpa mempertanyakan keputusan dan larangan-larangan sulit saya. Dan bagaimana mungkin saya menzolimi kepercayaan besar yang menyangkut hidup, destiny, dan kekekalan mereka!
Saya membaca kutipan seorang hamba Tuhan yang mengatakan mengenai perbedaan sahabat (S) dan mentor (M):
S: menerima masa lalumu
M: mengarahkan masa depanmu
S: Lebih senang terhadap perayaanmu
M: lebih tertarik kepada kesuksesanmu
S: Mengacuhkan kegagalanmu
M: membuang kelemahanmu
S: adalah cheerleader kamu
M: adalah coach kamu
S: melihat perbuatan benarmu
M: melihat perbuatan salahmu
Mentor melihat musuh sebelum engkau melihatnya. Dia mengetahui kefatalan yang akan terjadi dari kecerobohan yang diperbuatmu saat ini. Saya sering melihat (apa yang saya sebut) -> tembus di alam roh, hal-hal yang dapat menghancurkan masa depan dari murid-murid atau anak-anak rohani, tetapi tidak mudah untuk saya bisa menyampaikannya karena mereka tidak mudah mempercayai bahwa dirinya/yang dilakukannya melukai masa depannya. Berulang kali saya berusaha memakai bahasa-bahasa ringan untuk mengusik hati nurani mereka, karena saya tahu pertahanan itu merugikan kekekalannya. Saya sering menangis dalam doa, karena bahasa saya gagal untuk menembus apa yang seharusnya bisa menolong mereka. Tapi saya tahu saya tidak bisa menolong orang yang merasa bahwa saya tidak qualified untuk membawa kenaikan level rohaninya.
Tetapi ada yang dengan terbuka dan bahkan menanti-nantikan koreksi saya dengan ketulusan yang jelas; ada yang meloncat kegirangan waktu saya koreksi sambil menangis bersyukur. Ah, saya bersyukur dititipi satu-dua anak-anak rohani yang memiliki roh yang berbeda seperti ini, yang langka, yang tinggi nilai rohnya, karena ia menganggap koreksyen lebih dari emas atau permata. Saya yakin sepenuhnya Roh Kudus menolongnya untuk membuka veils/selaput-selaput rohani dan menaikkannya perlahan ke jenjang level yang lebih tinggi.
Membaca perjalanan kenaikan level rohani Yosua yang mendapatkan pengangkatan sangat tinggi oleh Tuhan dan disertai Tuhan, sangatlah mudah ditebak kunci-kuncinya, bukan? Kunci-kunci yang tidak digemari oleh kebanyakan orang, khususnya yang punya ambisi, yang punya roh kompetisi, yang self-righteous, yang mata rohaninya dibutakan oleh ilah jaman, yang terlalu selfish dan egois. Mengejar dan mendaki dalam kesia-siaan.
Kumpulan Korah merupakan contoh yang tepat yang tidak pernah melihat Musa sebagai pilihan Tuhan yang membawa keluar mereka dari perbudakan – dengan sudah jelas mujizat di depan mata-hidung mereka, mereka masih menantang dan mengajukan diri sebagai pemimpin dan minta dihargai. Buta dan picik, arogan dan sesat.
Kiranya message kehidupan Yosua ini menolong kita semua untuk tetap merasa ‘bukan siapa-siapa’ dalam sikap hati, tetapi terus berjuang dalam spirit dan dalam kemurnian dan kekudusan oleh anugerah Salib.
Leave A Comment