Ribka ibu Yakub pernah berkata bahwa jika anaknya disuruhnya melakukan kebohongan demi satu-satunya berkat Tuhan, dialah yang akan menanggungnya! nyatanya, kita tahu bahwa Yakublah yang menuai kebohongan dalam hidupnya berulang kali oleh Laban, paman yang menjadi mertuanya. Tetapi, sebelum menghakimi Laban, marilah kita mempelajari kisah penyerahan Lea dan siapa Lea di mata Allah.

Dari dulu saya menyukai Lea. Saya telah mengkhotbahkannya sekitar 10 tahun yang lalu dalam khotbah anak muda dengan judul TRAGEDI CINTA. Bagi anak muda, khotbah ini merupakan suatu pelajaran keharusan, bukan karena saya ingin menjual VCD ini, tetapi pengetahuan yang terdapat di dalamnya merupakan suatu pewahyuan ilahi yang jarang didengar. Tentu saya tidak ingin mengulanginya di sini karena itu merupakan perikop panjang tersendiri yang harus dibedah dengan rencana-rencana Tuhan bagi perkawinan Yakub dengan Lea.

Tetapi dalam bahasan, kita ini lagi menyelidiki Lea dari segi bangsa Yahudi dan keterlibatannya dalam melahirkan anak-anak yang menjadikan suku bangsa Israel merupakan suatu anugerah besar baik dalam kehidupan saya dan para pembaca. Ini tidak jauh dari rencana besar bagi hidup saudara semua para pencari jodoh, untuk mengerti rencana apa di balik perkawinan kudus. Sebab perkawinan bukanlah sekedar aku cinta kamu, kamu cakep dan pantes jadi pasanganku, kamu ok banget dilihat dari semua sisi dan dari monas; atau daripada gak ada temen, so tua, atau gara-gara status; atau nanti siapa yang urus aku atau kamu – no, perkawinan is far from those shallow reasons. Perkawinan menurut versi Allah pada pemilihan jodoh lewat tuntunan ilahi dahulu adalah untuk menurunkan keturunan-keturunan ilahi yang Tuhan maksudkan. Itu sebabnya jodoh tidak boleh meleset, tetapi harus tanya Tuhan betul-betul.

Yakub ingin menikahi Rachel karena CINTA, dan di Alkitab tidak pernah saya temukan bahwa ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan apakah Rakhel adalah pasangan yang Tuhan sediakan baginya untuk menurunkan keturunan-keturunan ilahi sebagaimana yang digariskan Tuhan lewat janji-Nya kepada Abraham. Yakub mencintainya pada pandangan pertama dan akhirnya ia tidak mau bergeser dari perasaan cinta itu ataupun disibukkan menanyai Tuhan segala. WRONG. Masih ingat menurut versi Alkitab cinta itu dinyatakan kapan?

Ia bekerja 7 tahun seolah 7 hari, itu yang dirasakannya karena cinta itu. Boy, that cinta thing was somethin’ to him uh? Saya tidak tahu apakah ia sempat mempelajari sifat Rakhel selama masa 7 tahun itu, walaupun dikatakan bahwa Rakhel itu elok sikapnya dan cantik parasnya. Saya tidak ingin mengeksplor Rakhel di sini, tetapi saya tahu dan telah mempelajari bahwa Rakhel memiliki peran luar biasa nantinya dalam membantu melaksanakan rencana Tuhan yang begitu besar lewat keturunan ilahi 12 suku bangsa Israel.

Kejadian 29:16-17

Laban mempunyai dua anak perempuan; yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel. Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya.

Telah saya katakan bahwa saya sangat tertarik menyelidiki Lea. Dalam Alkitab bahasa aslinya mata Lea ini ditulis dengan arti yang sangat berbeda dari bahasa kita yang kurang menguntungkan Lea. Terjemahan lain dikatakan bahwa mata Lea redup, lembut, — jadi mungkin semacam tidak melotot, tidak ada penghakiman, teduh, tidak menuduh, tidak membuat takut, tidak tajam begitulah menurut pemikiran yang saya jabarkan. Penulisan mengenai “mata” ini tidak ada hubungannya dengan sikap kenampakan luar, yang para pakar Talmud bangsa Yahudi menyelidiki bahwa selain ini adalah buatan Tuhan yang sangat disyukuri, tetapi juga merupakan ungkapan hati yang tersembunyi yang merupakan tangisan terdalam. Why, oh, this is so interesting. Para pakar Yahudi menyatakan bahwa karena Hukum Taurat selalu berhubungan dengan dosa, kesalahan, tindakan, maka mata Lea ini tidak termasuk dalam kategori yang dinilai, karena bukan termasuk di dalamnya. Justru dari Midrash buku kepercayaan orang Yahudi yang menuliskan rincian dari Kitab Torah, dikatakan bahwa mata Lea redup karena ia banyak menangis, sehubungan dengan tidak dikawininya ia oleh Esau. Ishak memiliki 2 anak, yaitu Esau dan Yakub, Esau seharusnya mengawini Lea untuk menurunkan 6 keturunan bangsa Israel, dan Yakub bersama Rakhel seharusnya menikah untuk menurunkan 6 keturunan selebihnya. Tetapi Esau memilih wanita-wanita Kanaan dan malah mengawini satu lagi anak Ismael keturunan Abraham dari gundiknya, budak Sara.

Dengan kegagalan Esau mengawini Lea, dan Lea tetap bertahan untuk tidak menikah dalam kehendak Allah, maka ia disusupkan pada malam perkawinan Yakub dan Rakhel agar rencana Allah tetap berjalan lewat benih dari keturunan Lea. Amazing wasn’t it?

Nah, sekarang saya akan sedikit menyinggung peran Rakhel. Saat ayahnya membuat planning licik malam itu untuk memasukkan Lea instead of Rakhel, mungkin ia menangis sebentar, tetapi ia melepaskan hak kepada kakaknya dan Rakhel harus bersembunyi malam itu dan tidak gedor-gedor atau menggunting kemah pengantin baru kayak wanita kerasukan. Dan bahwa Lea dipaksa ayahnya untuk mengambil peran di sana dan dia tidak menolak atau harus berantem dulu, menyiratkan bahwa Lea mempercayai tangan Tuhan atas taktik ayahnya yang tidak masuk akal. Dan bahwa Rakhel tidak menimbulkan kericuhan dengan bermodus sesenggukan di hadapan para tamu undangan, ini menyiratkan bahwa mereka berdua mempercayai Jehovah akan peran yang harus mereka ambil secara paksa, di bawah otoritas ayah mereka yang nampaknya licik dan otoriter atau tunduk hukum kebudayaan.

Lea, yang harus menanggung membawa keturunan yang seharusnya diperankan oleh Esau, kini berhadapan dengan Yakub yang pagi itu kaget bahwa pengantinnya adalah perempuan yang tidak diinginkannya. Tentunya Yakub yang juga mengambil dobel porsi yang seharusnya dijalankan setengah oleh Esau sekarang harus berhadapan dengan ibu pemegang peran yang seharusnya menurunkan setengah dari 2 patriach Israel di kemudian hari. (Saya harap ini tidak membingungkan pembaca muda yang seharusnya belajar mengerti peran dan ketepatan dalam menurunkan keturunan).

Lea telah mengambil peran dalam mengusung bangkitnya bangsa besar Israel, yang karena kegagalan Esau yang seharusnya mengawininya, (terpaksalah) dengan kebijakan dan kerendahan hati, ia rela diperlakukan demikian, sekalipun harus compete dengan Rakhel yang “lebih dicintai” Yakub, suaminya. Kisah ini bukanlah merupakan perkawinan poligami, tetapi kisah kerinduan bersama untuk menjalankan peran Allah bagi terjadinya bangsa pilihan Tuhan lewat janji-Nya kepada kakek mereka Abraham dan ayah mereka Ishak, dan dari mereka, Yakub. Akhirnya kesimpulan mengenai mata, yang mungkin pada jaman ini diartikan pakai kacamata tebal, mungkin tidaklah terlalu tepat, tetapi bahwa matanya mengandung suatu tangisan untuk menggenapi kerinduan Elohim, agar melaluinya, ia menurunkan keturunan-keturunan ilahi.

Dalam bahasa aslinya kata “lebih dicintai” tidak ada, artinya Yakub sama sekali tidak mencintai Lea. Tetapi Tuhan mencintainya dan membuka kandungannya, tanda suatu anugerah dari Atas, Yang Maha Tinggi. Sementara Rakhel yang mandul pada jaman itu diartikan sebaliknya.
Kejadian 29:30-31

Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi.
Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul.

Yakub menginginkan super model, tetapi dalam keterbatasan mata Lea, ia memandang kepada Tuhan dan berseru siang malam. Sedangkan Rakhel berharap kepada patung ayahnya. Dari tahun ke tahun kehidupan mereka penuh dengan kecemburuan dan gejolak yang dahsyat dalam hati. Tetapi Tuhan mengaruniakan 6 anak laki-laki dan seorang anak perempuan, bahkan kelahiran Yehuda yang Lea tahu dari Tuhan adalah anak yang tidak dipikirkannya akan diberikan kepadanya, dan dari keturunannyalah Messias lahir. Lea bersyukur kepada Tuhan dan dari waktu ke waktu ia bergantung kepada Tuhan dalam sakit hatinya karena tidak dicintai.

Rakhel mati muda, dan Yakub dalam umurnya yang sudah lanjut, kita semua yakin bahwa the patriach makin mengerti panggilan Tuhan menempatkan Lea malam itu di kemah perkawinan yang tak diinginkannya. Tuhan mempunyai “misi” dalam menyelundupkan Lea di ranjang sebagai pengantin pertamanya. Dialah yang menemaninya sampai suntuk, memberikan cintanya, karena Yakublah yang inginkannya dalam seruan dan tangisannya kepada Yahweh Elohim. Akhirnya, Yakub dalam kisahnya menyatakan:

Kejadian 49:31-32

Di situlah dikuburkan Abraham beserta Sara, isterinya; di situlah dikuburkan Ishak beserta Ribka, isterinya, dan di situlah juga kukuburkan Lea; ladang dengan gua yang ada di sana telah dibeli dari orang Het.”

Young people, Tuhan memiliki misi dalam setiap perkawinan. This is not about cinta cintaan, not about cinlok dan jatuh pada pandangan pertama, getar-getar tak henti-henti atau gejolak kimiawi. Bukan karena kalian malu sudah makin umur dan ditanya-tanya terus kapan kawinnya. Marriage is God’s mission untuk menyatukan orang-orang terpilih bagi kehendak-Nya, untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Misi-misi tertentu harus dikerjakan oleh pasangan-pasangan ilahi yang jika bukan Tuhan yang menentukan akan pincang dan tidak tercapai. Tetapi dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan selalu merekayasa dengan cara-cara-Nya yang tidak kita mengerti bahwa Ia seringkali harus mendatangkan kebaikan, karena sudah banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Ada banyak pengorbanan dari orang-orang yang Tuhan pakai seperti Lea, dan ada banyak sakit hati dari Rakhel yang harus berbagi, dan Yakub yang bingung menempatkan diri karena selalu diperebutkan. Hati mereka remuk, tahun yang mereka lalui tidak mudah, sebagaimana ungkapan Yakub di depan Firaun bahwa tahun-tahunnya sedikit dan tidak seperti yang ia harapkan.

Note untuk bapa Yakub, ibu Lea dan ibu Rakhel:
Ah, Rakhel, Lea, Yakub…. Seandainya hidup bisa diulang… dan kalian melihat buku skenario Sorga tentang peran kalian, tentulah pilihan-pilihan kalian akan tepat dan tidak harus jatuh pada pilihan daging. Tentulah kalian tidak akan saling sakit hati dan berebut suami tiap malam. Tetapi kami bersyukur dapat mempelajari hidup kalian, jika ada yang disebut pelajaran atau mungkin kesalahan, pastilah kalian tidak keberatan kegagalan/kesalahan kalian didisplay agar menolong anak-anak muda jaman ini, agar kami terjagai dan tidak hidup dengan kebebasan, kegalauan, kemiskinan roh dan iman. Tetapi mempercayai rancangan Ilahi dan rela berjalan dalam jalan-jalan yang bukan kehendak kami sendiri, tetapi kehendak Dia yang telah menyelamatkan kami. Doakan kami.

 

 

Untuk mendapatkan VCD TRAGEDI CINTA, silakan klik di bawah ini:
Maqdalene Online Store – VCD Tragedi Cinta